Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Menantu tak tahu diri


__ADS_3

Prang...


Suara pecahan piring dari dapur terdengar. Monika buru-buru melangkah ke dapur untuk melihat apa yang terjadi di sana.


"Ibu, ibu kenapa?" tanya Monika.


Monika terkejut saat melihat pecahan piring berceceran di dapur.


"Ibu, ibu yang mecahin piring ini?"


"Aduh, kepala ibu sakit banget Mon. Ibu seperti sudah nggak kuat berdiri," ucap Bu Retno sembari memegangi kepalanya.


"Aduh Bu, ibu gimana sih. Masih banyak lho pekerjaan yang belum ibu selesaikan. Tuh, cucian piring masih numpuk. Ini lagi mecahin piring. Makanya kalau kerja itu hati-hati Bu. Jangan banyak mengeluh," tegas Monika.


Bu Retno menatap Monika lekat.


"Apa kamu nggak bisa bantuin ibu nyuci piring Mon?" tanya Bu Retno


"Ih, kok ibu nyuruh aku sih. Aku kan sedang hamil muda Bu. Aku nggak boleh kecapean. Apa ibu mau, nanti calon cucu ibu keguguran gara-gara kelelahan."


"Duh, Mon. Jangan bicara seperti itu. Ucapan adalah doa. Doa yang baik-baik saja. Ibu juga nggak mau terjadi apa-apa sama calon bayi kamu."


"Ya udah kalau gitu. Jangan manja dong. Kerjain lagi tuh pekerjaan yang belum selesai. Jangan sedikit-sedikit ngeluh, sedikit-sedikit ngeluh. Kapan bisa kelarnya tuh kerjaan Bu. Kerjaan itu setiap hari nggak akan ada habisnya Bu. Sama kayak kerjaan di kantor juga gitu. Makanya jadi orang itu harus pinter-pinter aja membagi waktu," ucap Monika panjang lebar.


Setelah bicara seperti itu, Monika pun berlalu pergi meninggalkan ibu mertuanya.


Bu Retno hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat sikap menantunya.


"Perasaan dulu, waktu Mila hamil muda, Mila nggak gini-gini amat. Kenapa aku punya menantu kayak gini banget ya sikapnya. Nggak ada sopan-sopannya sama orang tua. Kenapa si Adnan harus menikahi model wanita begitu," geram Bu Retno.


Bu Retno berjongkok untuk memungut dan membersihkan pecahan-pecahan piring itu. Setelah itu dia kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya.


Sejak Monika resign dari kantor, Bu Retno semakin menumpuk saja pekerjaan rumahnya. Karena Monika yang suka ngemil dan banyak mengotori piring-piring dan gelas-gelas yang ada di rumah itu.


Lantai juga cepat kotor karena Monika cuma bisa bolak-balik makan, tidur, tanpa membantu mengerjakan pekerjaan ibu mertuanya.


Sejak awal Monika tinggal di rumah Bu Retno juga sudah seperti itu. Monika tidak pernah mau membantu ibu mertuanya dengan alasan capek karena setiap hari kerja.


Dan sekarang kehamilannya juga menjadi alasan untuk dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Entah sampai kapan hal itu akan terjadi. Dan sepertinya Adnan tidak pernah menyadari kalau ibunya sudah dijadikan pembantu oleh Monika.


Sesampainya di depan rumah, Adnan dan Aluna turun dari mobilnya. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum..." ucap Aluna dan Adnan bersamaan.

__ADS_1


Aluna dan Adnan yang sudah membawa makanan, berjalan menuju dapur. Mereka terkejut saat melihat Bu Retno sedang menangis di dapur.


"Ibu, ibu kenapa?" tanya Adnan sembari menghampiri ibunya.


Bu Retno mengusap-usap pipinya yang basah. Dia kemudian menatap Adnan dan Aluna.


"Nenek, nenek kenapa nangis?" tanya Aluna.


"Nenek nggak apa-apa," jawab Bu Retno.


Adnan diam dan tampak berfikir. Tidak mungkin Bu Retno menangis kalau tidak ada penyebabnya.


"Bu, apa yang sudah terjadi sama ibu? apa Monika sudah melakukan sesuatu?" tanya Adnan.


"Nggak Adnan. Ini nggak ada hubungannya sama Monika. Sebenarnya dari tadi pagi kepala ibu sakit. Tapi ibu paksakan untuk masak, beres-beres rumah dan cuci piring. Ibu sebenarnya udah nggak kuat Adnan, ibu tadi juga sudah keluar keringat dingin."


"Ya Allah. Kenapa ibu nggak minta bantuin Monika saja Bu."


"Nggak usah Adnan. Percuma minta bantuan dia. Dia nggak akan mau bantuin ibu. Ibu bisa ngerjain pekerjaan rumah sendiri. Monika juga sedang hamil muda, kasihan dia kalau kita suruh beres-beres rumah, nyuci piring, dan masak. Nanti dia kelelahan."


"Tapi kan kalau cuma untuk cuci piring saja, nggak akan membahayakan kandungannya Bu. Dulu Mila aja waktu hamil Aluna selalu bantu-bantu ibu menyapu, mengepel, mencuci, dan masak. Dia malah rajin bantu-bantu ibu."


"Jangan bandingkan istri kamu yang dulu dengan istri kamu yang sekarang Adnan. Mereka itu sangat berbeda. Monika dengan Mila itu sangat berbanding terbalik sikap dan sifatnya. Perilakunya saja sudah berbeda. Seharusnya sebelum kamu menikahi seorang wanita, kamu harus bisa memilih wanita yang baik akhlak dan budi pekertinya Adnan," ucap Bu Retno yang merasa kecewa dengan wanita pilihan Adnan.


"Bu, aku sudah terlanjur menikahi Monika. Dan sekarang dia sedang hamil anak aku. Aku nggak bisa ninggalin dia. Dan namanya jodoh, sudah ada yang mengatur Bu."


"Iya Bu. Ibu tenang aja ya. Nanti aku akan bicara sama Monika agar dia mau bantuin ibu. Dia nggak bisa seenaknya seperti ini sama ibu. Kalau ibu sakit, ibu istirahat aja. Biar Monika saja nanti yang nyuci piring, dan beres-beres rumah."


"Iya Adnan."


Aluna menatap Adnan lekat.


"Papa, kenapa dengan nenek Pa?" tanya Aluna.


"Nenek lagi sakit." jawab Adnan. "Aluna mau kan antar nenek ke kamar?"


"Iya Pa."


Aluna meraih tangan Bu Retno. Dia kemudian menurut untuk mengantarkan neneknya ke kamar.


Sementara Adnan melangkah pergi ke kamarnya untuk menemui Monika.


"Monika," ucap Adnan setelah sampai di dalam kamarnya.

__ADS_1


Monika yang masih berbaring di atas ranjang tersenyum. Dia turun dari ranjangnya dan langsung menghampiri suaminya.


"Lho, siang-siang gini kamu kok udah pulang Mas. Kamu jemput Aluna, nggak langsung balik ke kantor lagi?" tanya Monika.


"Kamu ini, ibu lagi sakit bukannya bantuin. Malah enak-enak santai-santai di sini," geram Adnan.


"Lho, kok kamu jadi nyalahin aku Mas. Aku itu kan lagi hamil muda. Kalau aku kebanyakan kerja, kalau aku kelelahan, bagaimana nanti dengan kandungan aku. Kamu ingat kan kata dokter, kalau kandungan aku itu lemah. Aku harus banyak istirahat dan nggak boleh kecapean."


"Tapi nggak seperti ini juga caranya Monika. Ibu itu lagi sakit. Seharusnya kamu bantuin ibu cuci piring nyapu atau apa kek."


"Mas, aku terpaksa resign karena aku sedang hamil muda. Aku nggak mau bayi aku kenapa-kenapa karena aku kelelahan kerja . Aku udah resign kok kamu malah nyuruh aku ngerjain pekerjaan rumah. Biarkan aku istirahat dong."


"Waktu Mila hamil Aluna, perasaan Mila nggak gini-gini amat. Dia nggak manja seperti ini."


Monika terkejut saat mendengar ucapan Adnan. Tidak sekali dua kali, Adnan membanding-bandingkan Monika dengan Mila. Membuat Monika geram pada suaminya.


"Mas, jangan sebut nama wanita itu lagi di depanku. Karena aku sangat muak sama dia. Seharusnya kamu itu sudah bisa melupakan dia. Kenapa sih, kamu harus bandingkan aku sama dia. Aku nggak suka itu Mas. Kalau kamu mau ibu kamu ada yang bantuin, kenapa kamu nggak cari pembantu saja. Gaji kamu kan gede, cukuplah untuk bayar pembantu."


Adnan jadi serba salah sekarang. Bingung dengan apa yang akan dia lakukan sekarang


Di satu sisi, Adnan sayang dengan ibunya. Dia tidak tega kalau ibunya yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dan di sisi yang lain, Monika juga susah untuk dibilangin. Dia malah lebih menyarankan Adnan punya pembantu.


Adnan tidak mau berlama-lama di dalam kamar. Karena Adnan sudah tidak mau meladeni ucapan-ucapan istrinya. Jika Adnan meladeni Monika, pasti akan ada pertengkaran di antara mereka.


Tanpa banyak bicara, Adnan kemudian pergi meninggalkan Monika di kamarnya.


"Ih, nyebelin banget sih Mas Adnan. Apa hebatnya sih wanita itu, sampai-sampai Mas Adnan selalu banding-bandingkan aku dengan mantan istrinya. Aku nggak terima dengan semua ini."


Adnan menghentikan langkahnya saat Aluna memanggilnya.


"Papa..."


Adnan menoleh ke arah Aluna.


"Ada apa Lun?" tanya Adnan menatap Aluna lekat.


"Papa mau kemana?"


"Papa mau ke kantor lagi. Kamu di sini aja ya, jagain nenek Retno. Dia lagi sakit. Kalau kamu mau baksonya, kamu makan aja ya. Papa taruh di meja makan tadi."


"Iya Pa, aku akan temani nenek. Papa hati-hati ya di jalan."


"Iya sayang."

__ADS_1


Tanpa butuh waktu lama, Adnan kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Dia pergi untuk kembali ke kantornya. Karena dia pulang cuma mau jemput Aluna saja ke sekolah.


****


__ADS_2