Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Emosi


__ADS_3

Adnan sejak tadi masih mengurut-urut keningnya. Setelah menikahi Monika, pengeluaran Adnan setiap bulan jadi semakin banyak. Belum lagi dia harus bayar Sulis.


Mungkin karena Monika yang terlalu boros dalam mengolah keuangan suaminya. Dan Monika juga yang sering menghabiskan uang Adnan untuk jalan-jalan dan pergi untuk perawatan ke salon kecantikan.


Adnan sudah lelah, untuk menasihati istrinya. Karena jika Adnan menasihati Monika, pasti Monika punya banyak alasan untuk menjawab pertanyaan dari Adnan. Dan ujung-ujungnya mereka akan berantem.


"Duh, kenapa tabungan aku jadi menipis begini ya," ucap Adnan sembari menatap kartu tabunganya.


Uang Adnan habis terkuras oleh Monika untuk jalan-jalan dan untuk mencukupi kebutuhan Monika yang tidak bermanfaat.


"Ini semua gara-gara Monika. Dia terlalu boros dalam memakai uang aku. Seandainya, dia masih kerja. Aku pasti akan suruh dia untuk pakai uang gajinya sendiri saja. Jangan pakai uang aku. Aku pegangin dia kartu kredit, malah habis semua saldo aku seperti ini," gerutu Adnan di kesendiriannya.


Di sela-sela Adnan melamun, tiba-tiba seorang lelaki datang menghampiri ruang kerja Adnan.


"Kamu nggak ke kantin?" tanya Marko rekan kerja Adnan.


"Aku lagi malas ke kantin. Aku sudah bawa bekal makan sendiri," jawab Adnan


"Bagus dong kalau begitu. Mau aku temani ngobrol di sini?"


"Boleh, silahkan." Adnan mempersilahkan Marko untuk duduk. Setelah itu Marko pun duduk di dekat Adnan.


"Gimana kabar istri baru kamu si Monika? katanya dia sudah hamil. Pasti udah besar dong, kehamilannya sekarang?" tanya Marko.


"Iya. Kehamilan Monika sudah memasuki usia empat bulan sekarang."


"Kamu itu memang hebat, waktu kamu sama istri kamu yang dulu, dia juga langsung isi. Sekarang Monika juga langsung isi, tajam sekali ckckck..."


"Kamu bicara apa sih? apanya yang tajam?"


"Pisaunya."


Hahahha...


Marko tergelak. Gelak tawa Marko sudah memenuhi seisi ruangan. Namun tampaknya Adnan sedang malas untuk bercanda. Sejak tadi dia hanya diam.


"Kenapa mukanya di tekuk gitu. Seharusnya kamu bahagia dong, udah mendapatkan wanita cantik seperti Monika. Dan sekarang dia lagi hamil. Sebentar lagi kamu mau punya anak dari dia."


"Nggak. Aku nggak pernah bahagia menikah dengan Monika," ucap Adnan tiba-tiba.

__ADS_1


Marko memincingkan matanya. "Kenapa?"


"Karena Monika itu tidak lebih baik dari istri pertamaku Mila," jawab Adnan.


"Tapi menurutku, lebih baik Monika lah. Dia wanita modern, pandai merawat diri, dan selalu tampil cantik. Sementara istri yang kamu ceraikan itu, nggak ada menarik-menariknya. Dia kampungan. Penampilanya juga nggak banget deh. Usia masih muda, tapi udah kelihatan nenek-nenek. Kalau Monika kan masih kinclong."


Adnan terkejut saat mendengar ucapan Marko. Tampaknya Adnan tidak suka Marko menjelek-jelekkan Mila di depannya.


Marko terkejut saat tiba-tiba saja Adnan mencengkeram kerah bajunya.


"Jaga bicaramu Marko!" geram Adnan sembari mengepalkan salah satu tangannya.


"Woi, apa-apaan ini," ucap Marko sembari melepas cengkeraman Adnan.


"Jangan pernah hina Mila di depan ku. Mila itu wanita yang baik. Dia tidak seperti apa yang kamu bicarakan. Kamu belum kenal dengan Mila Marko. Jadi kamu jangan ngata-ngatain dia sembarangan. Walau penampilannya kampungan, tapi dia mempunyai hati yang baik dan dia berbeda dari wanita lainnya," ucap Adnan.


Marko tersenyum kecut dan menatap Adnan tajam.


"Apa-apaan kamu ini. Kemarin kan bukannya kamu yang bilang, kalau Monika jauh lebih baik dari mantan istri kamu. Tapi kenapa kamu sekarang malah marah, aku jelekin mantan istri kamu. Pada kenyataannya, memang mantan istri kamu itu udah pernah selingkuh kan dengan lelaki lain."


Adnan diam. Tampaknya dia merasa bersalah pada Mila, karena Adnan sudah pernah menjelek-jelekkan Mila di depan rekan-rekan kerjanya.


Nama Mila sudah jelek di depan rekan-rekan kerja Adnan, karena mulut Adnan sendiri yang tidak bisa menjaga aib keluarganya. Dan sekarang Adnan menyesal dengan semua perbuatannya.


"Kenapa kamu diam? apa aku salah bicara? aku kan bicara fakta. Fakta yang kamu ceritakan waktu itu, kalau mantan kamu itu selingkuh dengan lelaki lain," lanjut Marko.


"Kamu salah Ko. Ternyata selama ini Mila nggak pernah selingkuh dengan lelaki lain. Waktu itu aku cuma salah paham aja sama dia."


Marko terkejut saat mendengar ucapan Adnan.


"Apa! jadi selama ini mantan istri kamu itu nggak pernah selingkuhin kamu? kamu cuma salah paham aja sama dia?"


"Iya. Aku cuma salah paham aja sama dia."


"Ya ampun, jadi selama ini mantan istri kamu itu nggak pernah salah. Gara-gara kesalahpahaman kalian bercerai?"


"Iya. Dan sekarang aku nyesel Ko, karena aku udah ninggalin wanita sebaik Mila," ucap Adnan.


"Memang ya, penyesalan itu selalu datang terlambat. Jadikanlah pelajaran, masa lalu kamu untuk kehidupan kamu ke depan. Agar di kehidupan rumah tangga kamu yang sekarang, tidak ada hal-hal seperti itu lagi. Jaga rumah tangga kamu baik-baik agar tidak ada lagi yang namanya perceraian."

__ADS_1


"Entahlah kalau itu. Karena jodoh nggak ada yang tahu Ko. Hanya Tuhan yang tahu."


****


Malam ini, Adnan sudah pulang dari kantornya. Dia masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sisi ranjangnya.


Adnan menundukkan kepalanya dengan wajah lesu. Tampaknya dia sedang mempunyai beban masalah yang sangat berat. Namun Monika istrinya, tidak pernah mau perduli dengan kondisi suaminya. Semakin hari, dia semakin banyak menuntut saja.


Gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar. Sepertinya saat ini Monika sedang berada di dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Monika keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum saat melihat suaminya sudah pulang.


"Mas Adnan." Monika mendekat ke arah Adnan dan duduk di sisi Adnan.


"Kamu kenapa Mas? lesu banget kelihatannya? kamu capek ya?" tanya Monika pada suaminya.


Adnan menatap Monika lekat.


"Mon, mulai sekarang kita harus berhemat Mon."


"Berhemat gimana maksud kamu?" tanya Monika tidak mengerti.


"Uang tabunganku semakin menipis Mon. Dan ini semua gara-gara kamu." Adnan sudah menatap tajam istrinya.


"Lho, kok gara-gara aku. Apa salah aku Mas?"


"Kamu udah terlalu boros dalam memakai uangku. Entah berapa kali dalam satu bulan, kamu minta jalan-jalan dan makan di luar. Menurutku, itu yang membuat pengeluaran kita menjadi banyak Mon."


"Belum juga, kamu setiap minggu ke salon untuk perawatan. Dan yang harus kamu tahu Mon. Kita itu sekarang setiap bulan harus bayar Mbak Sulis. Berhemat sedikit dong, karena sekarang cuma aku yang kerja," ucap Adnan panjang lebar.


"Boros gimana? perasaan aku nggak boros-boros amat kok."


"Tapi akhir-akhir ini, pemasukan dan pengeluaran kita lebih banyak pengeluaran kita Mon. Kalau seperti ini terus, uang tabunganku bisa habis terpakai."


Monika tampak marah saat suaminya menyalahkannya.


"Jangan salahkan aku dong Mas. Aku nggak pernah pakai uang kamu banyak-banyak. Sebelum kamu menyalahkan aku, seharusnya kamu lihat dulu ibu kamu yang sakit-sakitan. Udah berapa kali dia pergi ke rumah sakit dalam satu bulan. Apa ke rumah sakit nggak pakai uang. Pakai uang kan Mas. Kenapa kamu cuma bisa nyalahin aku aja. Harusnya kamu salahin juga ibu kamu."


Adnan terkejut saat mendengar ucapan Monika. Adnan menghela nafas dalam. Dari dulu Monika itu memang susah untuk di nasihatin. Namun selama ini, Adnan selalu sabar menghadapi sikap Monika.

__ADS_1


"Kalau ibu itu memang lagi sakit, dan sangat butuh untuk berobat. Kalau kamu, apa manfaatnya ke salon, jalan-jalan, dan makan-makan di luar."


.


__ADS_2