Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Kondisi yang memprihatinkan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Setelah Adnan di PHK dari pekerjaannya, kehidupan Adnan dan keluarganya berubah drastis. Setelah menjual dua mobilnya, Adnan juga menjual rumahnya untuk melunasi hutang-hutangnya yang lain. Karena selain hutang pada Wira, Adnan juga punya cicilan hutang di bank yang belum lunas.


Monika dan Bu Retno mau tidak mau, terpaksa harus mengikuti kemana Adnan pergi. Karena cuma Adnan yang saat ini menjadi tulang punggung mereka.


Setelah menjual rumahnya, Adnan kemudian mengajak ibu dan istrinya untuk tinggal di rumah kontrakan. Bu Retno dan Monika yang biasa hidup enak pun, sekarang harus menerima keadaan menjadi orang miskin, karena penghasilan Adnan saat ini hanya pas-pasan saja untuk makan.


Kehamilan Monika saat ini sudah menginjak sembilan bulan. Monika dan Adnan tinggal menghitung hari saja untuk menyambut kelahiran anak mereka.


Monika sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Untuk mengembalikan keadaan ekonominya seperti dulu lagi itu pun sangat sulit untuk keluarga mereka.


Monika tidak bisa membantu Adnan mencari uang, karena sekarang dia sedang hamil besar. Seandainya Monika tidak sedang hamil besar, mungkin Monika sudah membantu Adnan bekerja. Atau mungkin, Monika akan pergi dari kehidupan Adnan dan lari dari kemiskinan.


Setelah pergi meninggalkan rumah mewahnya, Adnan sekarang kerja di pasar, menjadi kuli panggul dan tukang parkir. Itu pun karena bantuan dari tetangga sebelah kontrakannya.


Dia iba saat melihat keluarga Adnan yang kesusahan. Sehingga dia mengajak Adnan untuk ikut kerja dengannya di pasar menjadi tukang parkir dan kuli panggul.


Pekerjaan itu sekarang menjadi pekerjaan pokok Adnan untuk menafkahi istri dan ibunya. Walau hanya dapat uang sedikit, namun Adnan selalu bersyukur. Karena dari pekerjaan itu Adnan bisa menafkahi keluarganya.


Siang ini, Bu Retno dan Monika masih duduk santai di ruang tengah. Suara salam dari luar tiba-tiba saja terdengar.


"Assalamualaikum," ucap Adnan.


"Wa'alakiumsalam," ucap Bu Retno dan Monika bersamaan.


Adnan menghentikan langkahnya setelah dia sampai di ruang tengah. Adnan kemudian duduk berbaur bersama ibu dan istrinya.

__ADS_1


"Gimana Mas. Kamu dapat uang berapa hari ini?" tanya Monika.


"Aku cuma dapat seratus ribu," jawab Adnan.


Monika terkejut saat mendengar ucapan Adnan. Adnan mengambil uang receh dari sakunya dan meletakannya di atas meja.


"Seratus ribu? kamu cuma dapat uang seratus ribu setiap hari? seratus ribu itu cukup untuk apa Mas? Semua sudah serba mahal sekarang. Kebutuhan aku dan ibu saja lebih dari seratus ribu sehari, kamu malah cuma ngasih seratusan ribu," ucap Monika dengan nada tinggi.


Monika tampak marah pada suaminya karena hari ini Adnan hanya membawa pulang uang seratus ribu saja.


"Segitu juga udah lumayan Mon, masih bisa untuk beli beras dan lauk pauk," ucap Bu Retno.


"Itu sih kata ibu. Tapi bagaimana dengan biaya persalinanku nanti. Saat ini saja kita tidak punya uang tabungan sedikit pun Bu," sahut Monika.


Monika kembali menatap suaminya tajam.


"Masak kamu cari uang cuma untuk makan-makan doang Mas. Payah sekali kamu ini." Monika tampak kecewa dengan Adnan.


"Sabar, sabar, kamu suruh aku untuk sabar terus Mas? Seandainya aku nggak lagi hamil besar, pasti aku akan cari pekerjaan lagi. Susah kalau cuma ngandelin suami model kamu kayak gini," ejek Monika.


Monika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Adnan dan Bu Retno. Monika tampak marah dengan suaminya karena selama ini, suaminya hanya memberikan nafkah pas-pasan saja pada Monika.


Beda dari sebelum Adnan di PHK. Adnan selalu memanjakan Monika dengan mengajaknya jalan-jalan, shoping-shoping, makan di restoran mahal dan ke salon. Karena dulu, gaji Adnan lebih dari lima belas juta satu bulanya. Sekarang, Adnan hanya punya penghasilan seratus ribu per hari. Jelas itu membuat Bu Retno dan Monika syok untuk menjalani kehidupan baru mereka.


Adnan dan Bu Retno saling menatap.


"Adnan, sabar ya. Kamu harus sabar untuk menghadapi istri kamu. Kamu tahu kan istri kamu memang begitu. Monika itu beda dari Mila."

__ADS_1


"Iya Bu. Aku juga lagi berusaha Bu. Berusaha untuk membahagiakan ibu dan Monika. Kita tidak tahu rezeki orang. Mungkin setelah cobaan ini berakhir, aku akan bisa kembali lagi seperti dulu."


"Amin. Seandainya kamu masih sama Mila, kamu tidak akan di marahin terus seperti ini Adnan. Karena Mila itu wanita penyabar. Dia juga dari kecil sudah terbiasa hidup susah,"


"Beda dari Monika. Dari kecil kan dia nggak pernah ngerasain hidup susah. Monika itu maunya seneng terus. Mana ada, hidup akan senang terus. Hidup itu pasang surut."


"Iya Bu. Tapi namanya jodoh, dan rezeki sudah ada yang ngatur Bu. Aku dan Mila bercerai, mungkin karena jodoh kami memang cuma sampai situ. Dan percuma menyesali apa yang sudah terjadi. Tidak akan pernah merubah semuanya Bu."


"Iya Adnan. Ibu akan selalu doakan yang terbaik untuk kamu dan istri kamu. Walau ibu kurang suka dengan istri kamu itu."


Sesampainya di kamar, Monika menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi ranjangnya. Dia menangis sembari mengusap-usap perutnya.


"Nak, kenapa hidup mama jadi seperti ini sekarang. Lama-lama Mama nggak sanggup bertahan dengan papa kamu Nak. Bisa gila Mama kalau terus-terusan tinggal dengan Papa kamu," ucap Monika di sela-sela tangisannya.


Monika tampak menyesal dengan semua yang sudah terjadi.


Seandainya aku tahu, Mas Adnan akan hidup miskin seperti ini, mana mau aku


menikah dengan dia. Mendingan aku cari saja lelaki yang bujangan. Masih banyak kok, lelaki yang lebih segala-galanya dari Mas Adnan. Yang penting nggak miskin seperti Mas Adnan. Kerja aja cuma jadi tukang parkir dan tukang panggul, mau di kasih makan apa aku dan anaknya nanti kalau seperti ini terus. Belum juga ibu, yang selalu numpang hidup sama kami, batin Monika.


Di sela-sela lamunannya, Adnan tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya. Dia berjalan mendekati Monika.


"Stop! kamu mau ngapain Mas? jangan dekat-dekat aku. Kamu itu bau matahari. Kamu habis dari pasarkan? pasti kamu juga bawa banyak bakteri. Malas banget aku Mas, harus punya suami dekil macam kamu."


Deg.


Adnan terkejut saat mendengar ucapan Monika. Entah kenapa, baru kali ini Adnan merasa sakit hati, saat istrinya sendiri tidak mau dia dekati karena dia dekil, kotor dan bau.

__ADS_1


"Mon, aku seperti ini juga untuk kamu. Aku rela banting tulang, panas-panasan, kotor-kotoran, hanya untuk kamu dan ibu. Agar kalian bisa makan. Seharusnya kamu bersyukur Mon, karena kita masih punya tempat untuk berteduh, dan yang penting pekerjaan aku itu halal. Aku nggak sampai ngemis dan nyuri."


"Terserah kamu Mas. Capek aku bicara sama kamu."


__ADS_2