Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Ancaman untuk Adnan


__ADS_3

Pagi ini, Adnan sudah bangun dari tidurnya. Sementara Monika, dia masih tampak berbaring di atas ranjangnya sembari menatap layar ponselnya.


Adnan melangkah ke jendela kamarnya untuk membuka korden jendela. Sinar mentari saat ini sudah memancar sempurna. Sinarnya sudah menelusup masuk ke celah-celah jendela kamar Adnan.


Pandangan Adnan tiba-tiba saja terfokus pada dua lelaki anak buah Wira yang saat ini sudah berdiri di depan gerbang rumah Adnan.


"Pagi-pagi, mereka sudah datang ke sini," gumam Adnan.


Monika yang mendengar gumaman Adnan menatap Adnan lekat. Dia kemudian beringsut duduk.


"Mas, siapa Mas yang datang ke sini?" tanya Monika.


"Anak buah Wira," jawab Adnan singkat.


"Dua lelaki itu lagi?"


"Iya Mon."


Monika masih teringat kata-kata Wira semalam. Sebelum pergi, Wira sempat berkata kalau dia besok akan datang ke rumahnya lagi untuk menemui Adnan.


"Pasti itu lelaki yang datang ke sini semalam kan Mas," ucap Monika.


"Iya benar Mon. Mereka ke sini, pasti mau nagih hutang lagi."


"Terus kamu mau bayar hutang kamu pakai apa Mas? dua puluh juta itu bukan uang yang sedikit lho Mas. Keadaan kita lagi sulit begini, kita mau dapat uang 20 juta dari mana..." ucap Monika.


"Entah lah Mon. Aku bingung. Aku mau temuin mereka dulu di depan."


Tanpa banyak waktu lama, Adnan keluar dari kamarnya dan meninggalkan Monika.


Dia berjalan ke depan rumah untuk menemui ke dua anak buah Wira itu.


"Kalian mau ngapain ke sini?" tanya Adnan pada ke dua lelaki itu.


"Masih nanya lagi. Kami ke sini jelas saja mau nagih hutang anda. Hutang anda sekarang sudah 20 juta. Kalau sampai bulan ini anda belum juga melunasi hutang anda, bulan depan hutang anda akan menjadi 25 juta," ucap salah satu dari dua lelaki itu.


Adnan terkejut saat mendengar ucapan anak buah Wira.


Gila bener bunganya. Ini sih bukan rentenir lagi, tapi pemerasan. Masa satu bulan bunga lima juta, batin Adnan.


"Anda sudah janji kan akan bayar hutang anda kemarin. Dan sekarang, anda sudah telat satu hari dari hari yang anda janjikan kemarin. Dan sekarang kami minta anda harus melunasi hutang anda sekarang," ucap lelaki satunya lagi.


"Maaf, saya belum ada uang untuk melunasi hutang saya. Mungkin besok atau lusa saya akan cari uang itu."

__ADS_1


"Jangan main-main ya anda dengan kami. Kami tidak suka dipermainkan. Awas saja kalau sampai besok anda tidak segera melunasi hutang anda. Kami bisa sita semua barang-barang anda yang ada di dalam rumah anda." Ancaman anak buah Wira tidak membuat Adnan lantas takut.


"Iya. Besok atau lusa saya pasti akan bayar hutang saya. Bilang sama Wira, lusa suruh dia datang ke sini. Saya pasti akan melunasi hutang-hutang saya," ucap Adnan menegaskan.


"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu. Permisi."


Ke dua lelaki itu kemudian pergi meninggalkan rumah Adnan. Sementara Adnan, kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Mas, bagaimana Mas? kamu sudah berhasil usir mereka?" tanya Monika setelah Adnan sampai di ruang tengah.


Adnan hanya diam. Dia menghempaskan tubuhnya dan duduk di sofa ruang tengah dengan wajah tertunduk lesu. Tampaknya Adnan bingung, dia akan mendapatkan uang dari mana secepat itu. Jalan satu-satunya hanya menjual barang-barang berharganya seperti mobil dan rumah.


"Mas, kamu kenapa lagi Mas?" tanya Monika.


Adnan menatap Monika lekat.


"Mon, kita harus jual salah satu mobil kita Mon, untuk melunasi hutang kita pada rentenir itu," ucap Adnan.


Monika terkejut saat mendengar ucapan Adnan.


"Apa! dijual? Hutang dua puluh juta saja harus jual mobil segala Mas?"


"Ya nggak apa-apa Mon. Selebihnya kan bisa kita simpan untuk kebutuhan hidup kita sehari-hari."


"Gila ya kamu Mas. Untuk kebutuhan sehari-hari masak kita harus jual mobil. Mobil kan penting untuk kita Mas. Emang nggak ada cara lain apa Mas selain jual mobil untuk melunasi hutang kamu sama Wira."


"Hah, terserah kamu lah Mas. Yang penting kamu jangan jual mobil aku."


"Aku akan jual mobil aku Mon, bukan mobil kamu. Aku akan tawarkan ke Marko. Siapa tahu Marko mau membeli mobil aku. Atau aku akan suruh Marko untuk mencari orang yang butuh mobil."


"Terserah kamu lah Mas. Yang penting hutang kita sama rentenir itu lunas. Biar kita nggak dikejar-kejar terus oleh mereka."


Setelah mendapatkan persetujuan dari Monika, Adnan kemudian mengambil ponselnya untuk menelpon Marko. Dia akan meminta bantuan Marko untuk menjualkan mobilnya.


"Halo..."


"Halo Ko. Kamu lagi di kantor ya sekarang?"


"Iya Nan. Kenapa Nan?"


"Kamu lagi sibuk nggak?"


"Nggak begitu sibuk sih."

__ADS_1


"Aku boleh bicara sebentar sama kamu?"


"Boleh. Silahkan Nan. Kamu mau bicara apa?"


"Begini Ko, aku rencananya mau jual mobil aku."


"Jual mobil? kenapa mobilnya mau di jual?"


"Iya Ko, karena ini sangat mendesak banget. Lusa aku harus bisa mendapatkan uang dua puluh juta untuk melunasi hutangku. Satu-satunya cara aku harus jual mobil aku. Kamu bisa kan bantuin aku Ko. Carikan orang yang butuh mobil Ko. Aku mau jual mobilku."


"Ya udah. Kita bicarakan ini nanti saja ya, setelah aku pulang dari kantor. Kalau bicara di telpon seperti ini, rasanya nggak enak banget Nan."


"Iya Ko. Kamu mau ke rumah ku?"


"Iya. Sepulang kantor nanti aku ke rumah kamu. Biar kita bicaranya lebih enak."


Setelah menutup saluran telponnya, Adnan menatap Monika lekat.


"Bagaimana Mas? apa kata Marko?" tanya Monika.


"Nanti sore sepulang kerja, Marko mau datang ke sini."


"Oh. Jadi dia mau bantuin kamu jual mobil?"


"Iya."


Monika turun dari ranjangnya.


"Kamu mau ke mana Mon?" tanya Adnan pada istrinya.


"Aku mau mandi Mas."


Monika mengambil handuk, setelah itu dia melangkah pergi ke kamar mandi. Sementara Adnan keluar dari kamarnya dan melangkah untuk menghampiri Bu Retno di lantai bawah.


"Bu...! ibu...!" seru Adnan sembari menuruni anak tangga.


Adnan berjalan sampai ke dapur. Tampak Bu Retno sudah berkutat di dapur.


"Bu, ibu lagi ngapain di sini?"


"Ibu mau masak Adnan."


"Masak? ibu nggak usah masak. Biar aku aja nanti yang masak. Ibu kan masih sakit."

__ADS_1


"Ibu udah nggak apa-apa kok Adnan. Ibu juga jenuh kalau harus berpangku tangan terus. Biarkan ibu yang masak. Kalau ibu yang masak sih, istri kamu pasti doyan masakan ibu."


"Ya udah, terserah ibu saja."


__ADS_2