Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Kedatangan dua lelaki asing


__ADS_3

Gemericik air sudah terdengar dari dalam kamar mandi. Monika masih berada di dalam kamar mandi, sementara Adnan sang suami masih terlelap di atas tempat tidurnya.


Selesai mandi, Monika ganti baju. Setelah itu Monika membuka korden jendela kamarnya. Tampak di luar mentari sudah bersinar cerah. Cahayanya sudah memancar sampai masuk ke celah-celah jendela kamar Adnan.


"Mau sampai kapan Mas kamu tidur ...! udah siang ini Mas," ucap Monika dengan nada tinggi.


Tampaknya Monika kesal dengan suaminya yang setiap hari bangun siang. Setelah di PHK, Adnan sering sekali bangun siang. Di rumah dia juga sering bermalas-malasan.


Monika mendekat ke arah tempat tidur. Setelah itu dia menarik selimut Adnan.


"Mas. Kamu nggak bisa dong Mas, enak-enakan seperti ini. Kamu sekarang sudah di PHK, tapi kamu malah santai-santai seperti ini," gerutu Monika.


Adnan mengerjapkan matanya. Setelah itu dia beringsut duduk dan menatap Monika lekat.


"Ada apa sih sayang, pagi-pagi sudah berisik sekali. Nggak tahu kalau aku masih ngantuk."


"Sayang, sayang. Nggak usah panggil-panggil aku sayang. Kamu sudah satu minggu Mas, nganggur. Setelah kamu di PHK, kita sudah tidak bisa lagi mengandalkan gaji bulanan kamu. Kamu usaha kek Mas, cari kerjaan lagi. Jangan malas-malasan terus seperti ini," ucap Monika mengusulkan.


"Iya sayang. Hari ini aku juga mau keluar cari kerja."


"Jangan iya-iya aja Mas. Cepat cari kerja. Kamu tahu kan, kebutuhan kita itu masih sangat banyak. Bulan ini kita harus bayar Sulis. Dan sebentar lagi kita juga harus mempersiapkan kelahiran anak kita. Emang orang lahiran nggak butuh biaya besar."


"Iya sayang. Aku tahu itu. Tapi kamu yang sabar dong. "


"Sabar, sabar. Mau sampai kapan aku bisa sabar Mas, kalau keadaan kita seperti ini terus."


"Ya terus mau gimana lagi Monika. Semuanya sudah seperti ini."


"Ya kamu usaha dong Mas. Cari kerjaan lainnya kek. Jangan cuma makan tidur doang di rumah. Lama-lama kalau seperti ini terus, kita bisa banyak hutang Mas."


"Iya iya. Ini juga aku mau keluar kok cari kerjaan. Kamu doain aja semoga hari ini aku bisa langsung dapat kerjaan."


"Iya. Sana cepat...!"


Adnan turun dari ranjangnya. Dia mengambil handuk dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Monika, keluar dari kamarnya.


Selesai mandi, seperti biasa Adnan mengganti bajunya dengan kemeja dan celana yang biasa dia pakai untuk ke kantor.


Hari ini dia akan mencoba untuk melamar kerja. Dengan pengalaman kerja yang dia miliki, Adnan harap masih ada kantor yang mau menerimanya.


Adnan mengambil berkas-berkas yang sudah dia siapkan semalam.

__ADS_1


"Mudah-mudahan saja, ada kantor yang mau menerima aku. Nggak apa-apa deh, aku jadi karyawan paling bawah dan mulai dari nol lagi. Yang penting aku bisa kerja dan mendapatkan gaji bulanan untuk ngasih nafkah istri dan ibuku," gumam Adnan.


Adnan keluar dari kamarnya. Setelah itu dia berjalan ke ruang makan untuk menemui ibu dan istrinya.


"Adnan, kamu mau ke mana?" tanya Bu Retno yang melihat Adnan sudah tampak rapi.


"Mas Adnan itu mau cari kerja Bu. Dia itu kan kepala keluarga di rumah kita, dia nggak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan. Dia harus dapat kerjaan yang bagus lagi Bu, seperti kerjaan kemarin. Kalau Mas Adnan nggak kerja dan nggak dapat gaji, kita mau bayar Sulis pakai apa bulan ini. Dan uang dari mana kita untuk makan sehari-hari, kalau Mas Adnan kelamaan nganggur." ucap Monika panjang lebar.


Sulis yang sejak tadi masih berada di dapur terkejut saat mendengar ucapan Monika.


Duh, kasihan sekali Bu Monika dan Pak Adnan. Kalau aku nggak dibayar bulan ini gimana ya. Tapi nggak apa-apa deh, aku ngerti kondisi mereka. Terserah mereka saja, masih mau mempertahankan aku atau nggak untuk kerja di sini. Yang penting sekarang aku ikhlas bantu-bantu Bu Retno di sini, apalagi Bu Retno itu kan lagi sakit, batin Sulis.


"Adnan, kamu nggak mau sarapan dulu?" tanya Bu Retno pada anaknya.


"Nggak Bu, aku mau langsung pergi aja. Udah siang ini Bu."


"Ya udah, hati-hati di jalan ya."


"Iya Bu."


Setelah berpamitan pada istri dan ibunya, Adnan kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Dia berjalan ke garasi untuk mengambil mobilnya.


Sebelum masuk ke dalam mobil, pandangan Adnan tertuju pada dua orang bertubuh kekar yang sudah berdiri di depan pagar rumahnya.


Adnan buru-buru berjalan menghampiri ke dua lelaki itu.


"Ada apa ya Pak?"


"Benar anda yang bernama Adnan?"


"Iya benar. Kalian siapa?"


"Pak Adnan, kami ke sini di suruh bos kami untuk menagih hutang bapak."


"Bos kalian siapa?"


"Jangan pura-pura lupa, bukankah Anda kenal dengan Pak Wiratama?"


Adnan terkejut saat mendengar nama Wiratama disebut. Wiratama adalah teman Adnan yang tempo lalu meminjami Adnan uang dengan bunga yang cukup besar.


Adnan meminjam uang ke temannya itu untuk biaya rawat inap ibunya waktu di rumah sakit. Karena waktu itu Adnan memang sedang kekurangan uang.

__ADS_1


"Iya. Saya masih ingat. Kan baru kemarin saya pinjam ke dia."


"Sekarang bos kami, meminta anda untuk membayar hutang anda berikut bunganya."


Adnan tampak bingung, dia sudah janji, kalau bulan ini dia akan membayar hutangnya pada Wira. Tapi saat ini Adnan tidak punya uang untuk membayar hutangnya pada Wira.


"Maaf, kalau untuk saat ini, saya belum punya uang untuk membayar hutang saya. Saya baru di PHK dari kantor saya. Dan sekarang saya mau pergi untuk mencari pekerjaan lagi."


"Kami nggak ada urusan dengan pekerjaan anda. Tapi bagi kami, anda harus segera melunasi hutang-hutang anda dan bunganya juga."


Adnan menatap ke dua orang itu lekat. Sepertinya Adnan telah meminjam pada orang yang salah. Karena teman baik Adnan ternyata seorang rentenir.


"Pokoknya anda harus segera bayar hutang anda, sebelum si bos marah."


"Kalian tenang saja. Saya akan lunasi semua hutang saya pada Wira. Tapi tidak sekarang. Tolong kasih saya waktu ya, bapak-bapak. Saya mau cari uang dulu," ucap Adnan memohon.


"Kami kasih waktu satu minggu ya Pak Adnan. Minggu depan, kami akan datang ke sini lagi."


"Iya Pak. Saya pasti akan melunasi hutang saya secepatnya."


Monika sejak tadi masih memperhatikan suaminya dari kejauhan. Monika tampak penasaran dengan dua orang lelaki yang sedang ngobrol dengan suaminya di depan gerbang rumahnya.


Setelah ke dua lelaki itu pergi, Monika kemudian mendekat ke arah suaminya.


"Mas, siapa mereka?" tanya Monika


Adnan menoleh ke arah Monika.


"Bukan siapa-siapa Mon. Tadi cuma orang nanya alamat aja," bohong Adnan.


"Kamu yakin Mas?"


"Iya. Mereka memang lagi tanya alamat."


"Ya udah, kenapa kamu masih di sini. Cepat dong, sana berangkat."


"Iya."


Setelah ke dua orang lelaki itu pergi, Adnan kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


"Siapa ya, ke dua orang itu. Nggak mungkin mereka tanya alamat. Tadi aku perhatiin mereka ngobrol lama sekali dengan Mas Adnan. Apa sebenarnya yang sedang mereka obrolkan," gumam Monika.

__ADS_1


Monika tidak mau terlalu banyak memikirkan ke dua orang itu. Dia lantas masuk kembali ke dalam rumahnya.


***


__ADS_2