Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Kejutan


__ADS_3

Mentari pagi ini sudah bersinar cerah. Sinar cahayanya sudah merambat sampai ke teras samping rumah Zaki.


Bu Suci masih tampak duduk di atas kursi rodanya. Hampir setiap pagi dia berjemur di sisi kolam renang.


Sejak kecelakaan dua bulan yang lalu, Bu Suci hanya bisa duduk di atas kursi roda. Karena kakinya belum sembuh dan belum bisa untuk berjalan normal kembali.


Untunglah ada Mila yang dengan telaten mau mengurus dan merawat Bu Suci. Mila melakukan semua itu, karena dia ingin membalas budi pada Bu Suci. Karena selama ini, Bu Suci sudah banyak membantunya.


"Bu. Udah waktunya ibu makan dan minum obat," ucap Mila.


Bu Suci menoleh ke arah Mila.


"Zaki mana? hari ini dia libur kan nggak ke kantor?"


"Iya. Mas Zaki hari ini libur Bu. Tapi tadi dia pergi."


"Pergi ke mana?"


"Nggak tahu sih. Katanya mau pergi sebentar. Mungkin dia mau beli sesuatu."


"Oh... antar ibu ke dalam Mila."


"Iya Bu.


Mila kemudian mendorong kursi roda bu Suci masuk ke dalam rumah. Dia mendorong kursi roda itu sampai ke ruang makan.


Seperti rutinitas Bu Suci setiap hari. Setelah berjemur, dia makan dan minum obat.


"Makan dulu ya bu. Aku ambilin nasinya."


"Iya Mil."


Mila mengambilkan nasi dan lauk untuk Bu Suci makan. Setelah itu dia meletakan piring itu di depan Bu Suci.


"Kamu nggak makan Mil?" tanya Bu Suci.


"Nanti saja Bu, nunggu Mas Zaki. Ibu aja dulu yang makan."


"Kenapa makan aja harus nunggu Zaki pulang. Gimana kalau Zaki pulangnya lama."


"Nggak apa-apa Bu. Aku biasa makan bareng dia soalnya."


"Ah, kamu ini. Ada-ada saja. Tapi ibu seneng Mila, akhirnya kamu dan Zaki jadian juga. Ibu pengin cepat-cepat lihat kalian menikah."


"Iya Bu. Doain aja ya, agar hubungan kita lancar sampai pernikahan."


"Amin."


Di sela-sela Bu Suci makan, deru mobil dari luar rumah terdengar. Zaki turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucap Zaki


"Wa'alakiumsalam," ucap Mila dan Bu Suci bersamaan.


"Mas Zaki, kamu dari mana aja sih. Kok cepat banget perginya. Aku fikir, kamu mau lama," ucap Mila.


"Nggak lah Mil. Perginya juga dekat kok tadi."


"Zaki, Mila udah nungguin kamu dari tadi lho. Dia mau sarapan bareng kamu katanya. Kamu dari mana aja sih?" tanya Bu Suci.


Zaki menarik kursi dan duduk di dekat Mila.


"Kenapa harus nungguin aku. Kalau kamu lapar, kamu tinggal makan aja Mil."


Mila tersenyum.


"Tapi aku udah biasa makan sama kamu Mas. Kalau nggak ada kamu, rasanya gimana gitu ya. Seperti ada yang kurang."


"Itu artinya, hati kalian udah menyatu. Ibu seneng lihat kalian bersatu. Apalagi nanti kalau kalian sudah menikah dan punya anak, kalian akan menjadi pasangan yang sangat serasi." Bu Suci tampak bahagia melihat kedekatan Mila dan Zaki.


"Mas Zaki mau aku ambilkan nasi?"


"Boleh deh Mil."

__ADS_1


Mila mengambil piring. Setelah itu dia mencedokan nasi dan lauk di atas piring itu dan memberikannya ke Zaki.


"Ini Mas."


"Iya. Makasih ya sayang," ucap Zaki.


"Iya Mas. Sama-sama."


Mila, Zaki dan Bu Suci kemudian makan bersama di ruang makan.


Setelah menghabiskan makanannya, Bu Suci menatap Mila.


"Mil, ibu mau ke kamar. Mau minum obat dan istirahat."


"Oh iya Bu."


"Tolong antar ibu ke kamar ya "


"Iya Bu."


Mila bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendorong kursi roda bu Suci sampai ke kamar Bu Suci.


Setelah beberapa lama Zaki menunggu Mila, akhirnya Mila kembali juga ke ruang makan.


"Gimana Mil? Mama sudah minum obat?" tanya Zaki.


"Sudah Mas. Mama kamu, juga sudah istirahat di kamarnya. Biarkan saja dia istirahat dulu."


"Iya Mil."


"Aku mau beresin makanan-makanan ini dulu ya Mas."


"Iya."


Mila kemudian membereskan meja makan. Dia membawa sisa-sisa makanan itu dan menyimpannya di dapur. Mila juga membawa piring-piring kotor ke dapur untuk dia cuci.


"Kasihan Mila. Dia harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Aku harus bantu dia."


Zaki bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah ke dapur untuk membantu Mila.


"Aku mau bantuin kamu sayang."


"Nggak usah Mas. Aku bisa sendiri kok."


"Nggak apa-apa lah Mil, aku bantuin kamu. Biar kita lebih mesra aja gitu."


Mila tersenyum.


"Terserah kamu lah Mas."


Zaki kemudian membantu Mila mencuci piring.


Setelah selesai mencuci piring, Zaki meraih tangan Mila.


"Tangan kamu jadi kasar gini, karena setiap hari kamu nggak pernah berhenti mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Zaki sembari mengusap-usap telapak tangan Mila.


"Untuk apa sih Mas, kamu harus ngurusin tangan aku. Resikonya seorang wanita ya seperti ini Mas. Kalau bukan aku yang mengerjakan pekerjaan rumah, lalu siapa. Nggak ada orang lain lagi di sini."


"Mil, aku punya rencana."


"Rencana apa?"


"Aku mau ngambil jasa asisten rumah tangga Mil di yayasan."


"Apa! kamu serius Mas?"


"Iya. Aku nggak tega melihat kamu, membersihkan rumah segede ini sendiri. Udah gitu, kamu harus masak, nyuci baju, nyuci piring, aku nggak tega Mil."


"Tapi kan ini sudah tugas aku Mas."


"Kamu itu bukan pembantu, tapi kamu sekarang calon istri aku. Dan mana ada sih, istri seorang pengusaha mengerjakan pekerjaan rumah sendiri."


Mila diam. Sebegitu perhatiannya kah Zaki pada Mila. Beda dari Adnan dulu, Adnan tidak pernah pakai pembantu. Dia selalu mengandalkan ibu dan istrinya untuk mengurus rumahnya. Padahal gajinya juga cukup untuk membayar pembantu.

__ADS_1


"Oh iya Mil. Ikut aku yuk! aku punya kejutan buat kamu," ucap Zaki.


"Kejutan apa Mas?" tanya Mila penasaran.


Zaki meraih tangan Mila dan menggandengnya sampai ke tepi kolam renang.


"Duduk sayang."


"Iya."


Mila kemudian menurut duduk.


"Sekarang, kamu pejamkan mata kamu."


Mila tersenyum. "Untuk apa?"


"Sudah deh, pejamin aja mata kamu."


"Iya."


Mila kemudian memejamkan matanya.


"Tunggu di sini ya. Tapi ingat, jangan buka mata. Sebelum aku menyuruhmu membuka mata."


"Iya Mas."


Zaki masuk ke dalam rumah dan mengambil sebuah kotak perhiasan. Setelah itu dia membawa kotak itu keluar.


Zaki membuka kotak itu perlahan. Setelah itu dia mengambil liontin yang ada di dalam kotak itu. Tanpa banyak bicara, Zaki melingkarkan liontin itu ke leher Mila.


"Sekarang, kamu boleh buka mata."


Mila terkejut saat melihat liontin cantik sudah melingkar di lehernya.


"Ya ampun Mas, cantik banget. Ini buat aku?"


"Iya sayang. Itu buat kamu."


Zaki kemudian duduk di dekat Mila.


"Kamu baik banget sih Mas. Liontin ini pasti harganya mahal ya."


"Aku memang sengaja memberikan liontin itu untuk kamu pakai, agar di mana pun kamu berada, kamu akan selalu teringat sama aku. Apalagi di bandul liontin itu, sudah tertulis nama aku dan nama kamu."


"Ya ampun, romantis banget sih Mas kamu. Makasih banget ya."


"Iya sayang. Dan aku hanya mau memberikan liontin itu untuk calon istriku."


Mila meneteskan air matanya. Dia terharu dengan kejutan yang sudah Zaki berikan padanya.


"Aku akan memikirkan untuk pesta pertunangan kita," ucap Zaki tiba-tiba.


"Mas, kenapa kita nggak langsung nikah aja sih. Kalau ada acara tunangan segala lama Mas. Aku pengin langsung nikah aja. Nggak usah ada acara tunangan-tunangan segala lah. Dan pesta pernikahan kita juga tidak usah terlalu mewah-mewah Mas. Cukup yang sederhana aja."


"Iya sayang. Nanti aku akan fikirkan lagi bagaimana rencana ke depannya. Aku akan turutin semua keinginan kamu. Kalau keinginan kamu seperti itu ya nggak apa-apa. Aku akan turutin."


***


Siang ini, Monika, Bu Retno, Adnan dan Aluna masih tampak bersantai-santai di ruang tengah rumah mereka.


Beberapa saat kemudian, ketukan pintu terdengar dari luar rumah.


Monika dan Adnan saling menatap.


"Siapa ya, yang siang-siang gini bertamu," ucap Adnan.


"Biar aku aja Mas, yang bukain," ucap Monika.


Monika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun melangkah keluar untuk membuka pintu depan.


Monika terkejut saat melihat dua orang wanita tak dikenalnya bertamu ke rumahnya. Wanita yang satu sudah tampak setengah abad usianya, dan wanita yang satunya lagi, tampak masih muda.


"Selamat siang, benarkah ini rumahnya Bu Monika?"

__ADS_1


"Iya. Saya Monika. Kalian berdua siapa?" tanya Monika sembari menatap ke dua wanita itu.


__ADS_2