
Di sela-sela Zaki, Bu Suci dan Mila ngobrol, ketukan pintu depan terdengar dari luar rumah.
"Aku buka pintu dulu ya Mas, Bu," ucap Mila.
"Iya Mil," ucap Bu Suci.
Mila bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ke ruang tamu untuk membuka pintu depan. Di depan pintu sudah berdiri seorang wanita sepantaran Bu Suci. Dia membawa tas baju dan beberapa bungkus plastik yang entah apa isinya.
"Assalamualaikum," ucap wanita itu.
"Wa'alakiumsalam. Cari siapa ya Bu?" tanya Mila pada wanita itu.
"Bu Suci dan Mas Zakinya ada?"
"Oh, mereka ada di dalam."
"Tolong panggilkan mereka ya. Bilang kalau Bik Inah sudah datang."
"Oh. Jadi ibu ini Bik Inah? ibu ini yang akan kerja di sini?"
Bik Inah mengangguk. Dia kemudian menatap lekat wajah Mila.
"Kalau Neng siapa?" tanya Bik Inah.
"Nama saya Mila. Saya temannya Mas Zaki," jawab Mila.
"Oh..." Bik Inah manggut-manggut mengerti.
"Tunggu sebentar ya. Saya panggilkan Mas Zaki dan Bu Suci dulu."
"Iya. Saya tunggu di sini."
Mila buru-buru masuk ke dalam rumah untuk memanggil Zaki dan Bu Suci.
"Mas Zaki, Bu Suci, Bik Inah sudah datang." Mila menuturkan.
Zaki dan Bu Suci saling menatap. Mereka berdua kemudian mengalihkan pandangannya ke Mila.
"Suruh dia langsung masuk aja Mil!" pinta Bu Suci.
"Iya Bu."
Mila kembali lagi ke depan untuk menemui Bik Inah.
"Bik Inah, Mas Zaki dan Bu Suci lagi sarapan. Katanya bibik di suruh masuk aja ke dalam."
"Oh iya Neng. Makasih."
"Aku bantu bawa barang-barang bibik ya?"
__ADS_1
"Oh iya. Makasih Neng. Yang ada di plastik-plastik itu oleh-oleh dari bibi untuk Bu Suci."
Mila tersenyum. Dia kemudian mengambil barang-barang bawaan Bik Inah masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di ruang makan, Bik Inah dan Mila menghentikan langkahnya.
"Ya Allah pagi-pagi sekali sudah sampai ke sini Bik Inah," ucap Bu Suci.
"Dari rumah jam berapa pagi-pagi udah nyampe Bik?" tanya Zaki.
Bik Inah hanya tersenyum.
"Eh, Mas Zaki, Bu Suci. Udah lama ya kita nggak ketemu. Maaf kalau pagi-pagi saya sudah datang ke sini. Jadi ganggu kalian sarapan."
"Oh, nggak. Sama sekali nggak ganggu. Kalau bibik mau ikut sarapan, silahkan gabung sini Bik!" ucap Bu Suci. Tampaknya Bik Inah sudah akrab dengan keluarga Bu Suci. Mungkin karena dia dulu pernah kerja di rumah Bu Suci cukup lama.
Bik Inah kemudian mengajak Bu Suci dan Zaki bersalaman. Setelah itu dia melirik ke arah Mila.
"Neng cantik ini siapa Bu Suci?" tanya Bik Inah.
Bu Suci tersenyum.
"Itu calon menantu saya Bik."
Bik Inah terkejut saat mendengar ucapan Bu Suci.
"Oh. Cantik sekali calon menantunya Bu Suci. Nggak bahaya toh Mas Zaki dan calon istrinya tinggal satu atap. Kan mereka belum menikah."
"Oh..."
****
Sore ini, Adnan sudah sampai di depan rumahnya. Setelah dia memarkirkan mobilnya di garasi, Adnan turun dari mobilnya. Setelah itu Adnan pun melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Dia tidak langsung ke kamarnya melainkan mampir dulu ke kamar Aluna untuk melihat kondisi Aluna.
Adnan menghentikan langkahnya saat dia melihat Aluna masih memejamkan matanya dengan kain kompres yang masih menempel di keningnya.
Adnan mendekati tempat tidur anaknya. Setelah itu dia pun duduk di sisi ranjang Aluna.
Beberapa saat kemudian, Mbak Sulis datang dengan membawa air hangat untuk minum Aluna.
"Eh, ada Pak Adnan. Sudah dari tadi di sini Pak?" tanya Mbak Sulis.
"Aku baru pulang Mbak Sulis. Bagaimana kondisi Aluna?"
"Masih sama Pak Adnan. Belum ada perubahan apapun. Dari tadi Aluna cuma bisa ngiggau manggil-manggil mamanya."
"Ya ampun, kasihan sekali kamu Nak," ucap Adnan sembari memijit-mijit ke dua kaki anaknya.
__ADS_1
"Tadi Aluna kedinginan Pak Adnan, jadi aku ambilkan dia air hangat," ucap Mbak Sulis sembari meletakan segelas air hangat di atas nakas.
"Mbak, kamu temani dulu Aluna di sini. Saya mau mandi dan ganti baju dulu."
"Iya Pak."
Adnan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun melangkah pergi meninggalkan kamar anaknya. Adnan berjalan ke lantai atas untuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar, lagi-lagi dia melihat Monika bersantai-santai sembari mendengarkan musik.
Astaghfirullah, kenapa dengan Monika. Dia nggak ada rasa perduli sedikitpun dengan anakku. Nggak pernah aku melihat Monika ada di kamar Aluna. Apa dia selama ini memang nggak pernah peduli sama Aluna, batin Adnan.
Monika tersenyum saat melihat Adnan. Dia kemudian melangkah menghampiri Adnan untuk membantu Adnan membuka dasinya.
"Kamu sudah pulang Mas."
Adnan diam. Setelah membuka jas dan dasinya dia duduk di tepi ranjang.
"Kenapa Mas?" tanya Monika yang melihat Adnan tampak sedih.
"Aluna, panasnya belum turun-turun juga. Kalau sampai besok pagi panasnya nggak turun-turun juga, aku akan bawa dia ke rumah sakit. Biar dia di rawat di sana."
"Untuk apa kamu bawa anak kamu ke rumah sakit. Orang dia baik-baik aja kok. Cuma demam biasa Mas," ucap Monika yang kurang setuju Adnan membawa Aluna ke rumah sakit.
"Aluna sudah aku periksakan ke dokter, tapi kondisinya masih tetap sama. Makanya aku akan bawa dia ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang terbaik."
"Sabar aja lah Mas, lama-lama dia juga sembuh sendiri kok."
Adnan tampak geram dengan Monika. Di saat Adnan sedang panik memikirkan kondisi Aluna, justru Monika tampak santai melihat kondisi Aluna. Sepertinya Monika lebih senang Aluna sakit.
Adnan bangkit dari duduknya. Dia kemudian mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi.
"Mau sembuh, mau nggak itu bukan urusan aku. Anak juga bukan anak aku, tapi anaknya Mila. Biar tahu rasa lah si Aluna itu. Siapa suruh nakal dan sering buat aku kesal," gumam Monika setelah kepergian Adnan.
Selesai mandi, Adnan keluar dari kamar mandi. Dia berjalan mendekati lemari bajunya untuk mengambil baju. Setelah ganti baju, Adan kembali ke kamar Aluna untuk melihat kondisi Aluna.
"Bagaimana Mbak Sulis kondisinya Aluna?" tanya Adnan.
"Masih sama Pak. Malah panasnya semakin tinggi aja. Padahal sudah aku kompres berkali-kali."
"Mama... Mama...mama... Mama Mila aku kangen sama mama..."
Adnan terkejut saat Aluna mengigau menyebut nama mamanya.
"Aluna memang sering mengiggau dan menyebut-nyebut mamanya Pak," jelas Mbak Sulis.
"Ya sudahlah, biarkan saja. Namanya juga orang sakit."
"Kalau menurut saya sih, kalau bisa pertemukan Aluna dengan ibunya Pak. Siapa tahu nanti Aluna bisa sembuh. Siapa tahu, Aluna sakit karena dia kangen sama ibunya."
"Jangan sok tahu kamu Sulis. Aku nggak akan pernah membiarkan Aluna ikut dengan Mila. Karena aku nggak biasa hidup tanpa Aluna. Aku nggak bisa hidup tanpa anak aku," ucap Adnan.
__ADS_1
"Sekarang kamu pergilah. Udah ada aku, yang akan nungguin Aluna di sini. Kamu kerjakan saja pekerjaan kamu yang belum kamu selesaikan."
"Iya Pak."