
Adnan tiba-tiba saja teringat dengan Mila.
Dan tidak ada yang bisa menandingi masakan Mila. Masakan Mila, jauh lebih enak dari masakan ibu dan Sulis. Bahkan rasanya bisa menyaingi restoran bintang lima, puji Adnan dalam hati.
Entah kenapa, akhir-akhir ini Adnan selalu teringat dengan Mila. Dia juga selalu teringat dengan Aluna.
Seandainya Adnan masih kerja dan belum di PHK, mungkin Adnan akan menyusul Aluna dan mengajak Aluna untuk kembali tinggal di rumahnya. Tapi kondisi Adnan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Begitu juga dengan kondisi ekonominya.
"Sayang, dari kemarin aku lihatin kamu, jadi nggak nafsu makan begitu. Jangan begitu terus sayang, nanti kamu bisa sakit. Kamu perhatikan juga kondisi calon bayi kita. Dia juga butuh asupan nutrisi yang banyak. Kalau kamu nggak makan, bayi kita yang ada di dalam perut kamu, nanti juga ikutan nggak makan." Adnan sejak tadi masih mencoba untuk membujuk istrinya agar dia mau makan masakannya.
"Mas, jangan paksa aku untuk makan masakan kamu. Aku kan sudah bilang, masakan kamu itu nggak enak, nggak ada rasanya sama sekali. Kamu beri bumbu nggak sih tadi masakan kamu?" tanya Monika
"Aku bumbuin kok tadi. Cuma mungkin garamnya kurang. Kalau kebanyakan garam, nanti kata kamu keasinan. Jadi serba salah aku," ucap Adnan tampak sedikit kecewa.
"Aku pengin sekali-kali pesan makanan di luar. Biar ada rasanya gitu Mas."
Adnan diam dan tampak berfikir. Sebenarnya, uang simpanan Adnan juga masih ada walau sedikit. Mungkin uang itu juga lebih dari cukup untuk membeli makanan enak di luar.
"Dari pada kamu pesan makanan di online, biar aku aja nanti yang cari makanan enak di luar. Biar lebih murah nggak ada ongkirnya," ucap Adnan.
"Terserah kamu kalau itu Mas. Yang penting aku pengin makan enak."
Adnan bangkit dari duduknya. Tanpa butuh waktu lama, Adnan pergi untuk mengambil kunci mobil dan jaketnya. Setelah siap, dia kembali ke ruang makan untuk berpamitan pada istrinya.
"Kamu pengin beli apa sayang?" tanya Adnan.
"Terserah kamu. Yang penting makanan yang enak ya. Yang ada rasanya. Jangan seperti masakan kamu ini," ucap Monika.
"Siap sayang."
Tanpa banyak berfikir, Adnan akhirnya pergi untuk membeli makanan enak di luar.
Setelah Adnan pergi, suara ketukan keras tiba-tiba saja terdengar dari luar rumah. Monika terkejut saat mendengar suara ketukan itu.
"Duh, siapa sih itu. Kok ngetuk pintu kenceng banget. Nggak mungkin itu Mas Adnan. Mas Adnan nggak akan ketuk-ketuk pintu seperti itu."
Tok tok tok.
Lagi-lagi suara ketukan pintu itu terdengar.
__ADS_1
"Adnan...! Adnan...!" seruan seorang lelaki terdengar dari luar rumah.
Monika yang penasaran, segera berjalan ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.
Sebelum membuka pintu, Monika mengintip sedikit dari balik jendela. Monika terkejut saat melihat kedatangan tiga orang lelaki di depan rumahnya.
"Mereka itu kan dua lelaki yang kemarin nanya alamat di depan rumah Mas Adnan. Kenapa mereka bisa datang ke sini. Sebenarnya, apa hubungan mereka dengan Mas Adnan. Duh, kenapa perasaan aku jadi nggak enak begini ya," ucap Monika sembari memegangi dadanya.
Jantung Monika sudah berdetak lebih kencang dari biasanya. Tampaknya dia takut dengan ke tiga lelaki itu. Monika tidak tahu apa maksud kedatangan tiga lelaki itu ke rumahnya.
"Duh, bukain nggak ya. Kalau di buka, Mas Adnan lagi nggak ada di rumah sekarang. Kalau mereka macam-macam sama aku gimana ya. Kalau nggak di bukain, mereka pasti akan gedor-gedor pintu terus. Apa aku panggil ibu aja ya," ucap Monika.
"Nggak lah, aku nggak mau panggil ibu. Kasihan ibu sudah tidur. Aku buka aja deh."
Dengan penuh rasa takut, Monika kemudian membuka pintu rumahnya dengan perlahan.
"Maaf, bapak-bapak. Kalian semua cari siapa ya?" tanya Monika.
"Mana Adnan! Adnan harus melunasi hutangnya sekarang. Kemarin dia sudah janji kalau dia akan melunasi hutangnya hari ini," ucap Wira tampak marah pada Adnan, karena Adnan sudah telat membayar hutangnya.
Monika terkejut saat mendengar ucapan seorang lelaki bernama Wira. Pasalnya, Adnan belum pernah menceritakan apapun ke Monika soal hutangnya.
"Ya, tiga bulan yang lalu, Adnan meminjam uang 15 juta padaku. Dan sekarang dia harus melunasinya 20 juta," ucap Wira menjelaskan.
"Apa! kok gitu?"
"Ya, karena itu sudah kesepakatan kami. Kalau Adnan tidak segera melunasi hutangnya, setiap bulan bunganya akan semakin membengkak," lanjut Wira.
Astaghfirullahaladzim. Mas Adnan, ternyata punya hutang pada rentenir. Tiga bulan yang lalu kan Mas Adnan masih kerja. Untuk apa dia pinjam uang sebanyak itu, batin Monika.
"Di mana Adnan sekarang! Adnan...! keluar kamu...!" Wira masih terus berteriak memanggil Adnan.
"Mas Adnan sedang tidak ada di rumah."
"Jangan bohong. Kamu pasti bohong kan," Wira sudah menatap tajam Monika.
"Mas Adnan memang tidak ada di dalam. Barusan dia pergi keluar."
"Apa dia akan lama perginya?"
__ADS_1
Monika mengedikan bahunya. "Mana aku tahu."
"Sebenarnya siapa sih kamu?" tanya Wira yang tampak tidak mengenali Monika.
"Saya istrinya Mas Adnan," jawab Monika.
Wira terkejut saat mendengar ucapan Monika.
"Kamu istrinya Adnan? bukankah istrinya Adnan itu Mila. Dan Mila kan pakai hijab."
"Mila sekarang sudah bukan istrinya Mas Adnan lagi. Mereka sudah lama bercerai. Sekarang yang istrinya Mas Adnan itu aku."
Wira manggut-manggut mengerti.
"Ya sudahlah, besok saya akan ke sini lagi untuk bertemu dengan Adnan. Saya akan menagih hutang saya pada Adnan. Permisi."
Wira dan ke dua anak buahnya kemudian pergi meninggalkan rumah Adnan. Setelah kepergian ke tiga lelaki itu, Monika bisa bernafas lega.
"Ih serem banget sih orang-orang itu. Ternyata dua lelaki yang kemarin aku lihat itu, mereka ternyata mau nagih hutang. Kenapa sih, Mas Adnan nggak pernah bilang ini sama aku. Benar-benar keterlaluan kamu Mas. Bisa-bisanya kamu punya hutang sama rentenir," ucap Monika.
Setelah itu Monika masuk kembali ke dalam rumah dan mengunci pintunya.
"Monika, tadi ibu dengar, ada ribut-ribut di luar. Siapa tadi yang datang?" tanya Bu Retno yang tiba-tiba saja sudah ada di ruang tamu.
"Itu Bu, orang nagih hutang."
"Hutang? siapa yang berhutang? kamu?" terka Bu Retno.
"Ih, kok aku sih. Tanya aja sendiri sama anak ibu. Ternyata selama ini dia punya banyak hutang. Hutangnya ke rentenir lagi yang pakai bunga."
"Apa!" Bu Retno terkejut saat mendengar penjelasan Monika.
"Kamu serius Mon?"
"Ya serius lah untuk apa aku bohong."
"Terus Adnannya kemana?"
"Dia sedang keluar, lagi beli makanan."
__ADS_1