Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Melahirkan


__ADS_3

Sore ini, Monika hanya sendiri di rumah. Sementara Adnan sang suami sedang mengantar Bu Retno pergi ke dokter.


Monika sejak tadi masih duduk di teras depan rumahnya sembari memegangi sapu. Sejak tadi Monika menyapu, namun dia hentikan aktivitasnya saat perutnya merasa sakit. Sepertinya Monika sudah mulai merasakan yang namanya kontraksi. Karena kehamilan Monika saat ini juga sudah memasuki usia sembilan bulan.


"Aduh, perut aku kenapa tiba-tiba jadi sakit begini ya," ucap Monika sembari memegangi perutnya.


Monika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mengambil ponselnya yang ada di ruang tengah.


"Aku harus telpon Mas Adnan. Kenapa ngantar ibu periksa lama banget begini sih," ucap Monika.


Monika menekan nomer Adnan untuk menelponnya. Beberapa saat kemudian, suara Adnan sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo..."


"Halo Mas. Kenapa kamu lama banget sih Mas?"


"Mon. Ini aku masih ngantri Mon."


"Mas, jangan lama-lama dong. Perut aku sakit banget ini."


"Perut kamu sakit? jangan-jangan, kamu kontraksi Mon."


"Iya. Mungkin aku mau melahirkan kali ya Mas. Makanya kamu cepat pulang dong. Perut aku sakit banget tahu."


"Iya. Kamu sabar ya. Kamu tunggu dulu di rumah. Nanti setelah aku dan ibu pulang, kita langsung ke klinik bersalin ya."


"Iya Mas. Cepat ya. Aku udah nggak tahan nih."


"Iya iya."


Setelah menelpon suaminya, Monika kemudian melangkah untuk ke kamarnya. Dia naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.


Setelah beberapa saat menunggu, Bu Retno dan Adnan akhirnya sampai juga ke rumah. Mereka buru-buru masuk ke dalam rumah untuk melihat Monika.


"Mana Monika." Adnan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Mungkin dia ada di kamarnya Adnan," ucap Bu Retno.


"Iya. Aku temui dia dulu ya Bu. Ibu duduk dulu di sini!" pinta Adnan.


"Iya Adnan."


Bu Retno duduk di ruang tengah. Sementara Adnan masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di kamar, Adnan terkejut saat melihat Monika menangis.


"Aduh...perut aku sakit banget Mas. Aku nggak kuat lagi Mas .." ucap Monika di sela-sela tangisannya.


Adnan mendekati Monika dan duduk di sisi Monika.

__ADS_1


"Sabar ya. Aku mau minta bantuan dulu ke tetangga. Aku nggak bisa bawa kamu pakai motor. Kamu harus ke klinik bersalin pakai mobil. Mungkin aku mau ke rumah ibu kontrakan dulu untuk meminjam mobil," ucap Adnan.


"Iya Mas. Cepat ya. Aku udah nggak kuat lagi Mas. Jangan lama-lama ambil pinjam mobilnya."


"Iya Mon."


Adnan buru-buru keluar dari kamarnya. Dia akan meminjam mobil pada tetangganya untuk membawa Monika ke klinik bersalin.


"Adnan kamu mau ke mana?" tanya Bu Retno.


"Aku mau pinjam mobil dulu Bu, sama ibu kontrakan. Aku harus bawa Monika pakai mobil," jelas Adnan.


"Ya udah, sana cepat. Jangan lama-lama."


"Iya Bu."


Adnan kemudian keluar dari rumah untuk meminjam mobil pada ibu kontrakan.


Beberapa saat kemudian, Adnan datang dengan membawa sebuah mobil. Dia buru-buru masuk ke dalam rumah.


"Bu, ibu sendirian aja di rumah nggak apa-apa kan? sepertinya Monika mau melahirkan sekarang. Aku harus bawa Monika ke klinik bersalin."


Bu Retno bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah anaknya.


"Ibu boleh ikut Adnan?" tanya Bu Retno.


"Jangan bu. Ibu kan lagi sakit."


"Ya terserah ibu saja. Tapi aku siap-siap dulu Bu. Aku mau menyiapkan keperluan melahirkan dulu."


"Iya Adnan."


Setelah semua siap, Adnan kemudian membawa Monika masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Bu Retno. Dia juga tidak mau ditinggal sendiri di rumah. Dia lebih memilih untuk ikut ke klinik bersalin bersama anak dan menantunya.


***


Jam sebelas malam, Adnan dan Bu Retno masih menunggui Monika di depan ruang persalinan.


"Kenapa lama sekali ya Bu," ucap Adnan.


"Tidak apa-apa Adnan. Yang penting Monika melahirkan secara normal. Jangan sampai sesar. Karena sesar itu harus ke rumah sakit. Dan biayanya juga mahal. Kamu juga kan nggak punya pegangan uang banyak kan."


"Iya Bu."


Oek...oek...oek...


Suara bayi tiba-tiba saja terdengar. Bu Retno dan Adnan saling menatap.


"Apa jangan-jangan itu bayi kamu Adnan."

__ADS_1


"Iya Bu. Sepertinya itu bayi aku yang lahir."


Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang persalinan. Dia tersenyum saat melihat Adnan dan Bu Retno.


"Selamat ya Pak Adnan. Istri bapak sudah melahirkan secara normal. Dan bayinya laki-laki dengan berat 3,5 kg."


"Alhamdulillah," ucap Bu Retno dan Adnan secara bersamaan.


"Apakah saya boleh masuk ke dalam Dok?" tanya Adnan.


"Maaf Pak Adnan, Bu Monika masih pingsan. Dan kami masih harus melakukan penanganan intensif untuk Bu Monika. Dan bayinya masih ada sama Bu Bidan."


"Oh. Begitu ya Dok. Ya sudah saya tunggu di sini saja" ucap Adnan yang agak kecewa pada dokter. Karena dia belum diperbolehkan melihat bayinya.


****


Pagi ini Monika masih berada di klinik bersalin. Setelah melahirkan semalam, kondisi Monika masih sangat lemah. Adnan sejak tadi masih menimang-nimang bayi laki-lakinya.


Rasanya Adnan sangat bahagia dengan kelahiran putranya. Begitu juga dengan Bu Retno. Dia juga sangat bahagia dengan kelahiran cucu keduanya.


"Monika, kamu mau beri nama siapa anak kamu?" tanya Bu Retno.


Monika yang ditanya hanya diam. Tampaknya Monika tidak suka dengan kelahiran anak itu.


Kenapa kamu lahir di saat yang tidak tepat Nak, kamu akan membawa beban dan masalah untuk mama dan papa. Karena sekarang Papa kamu sudah miskin. Kamu pasti tidak akan bahagia punya Papa seperti Adnan. Beruntung sekali Aluna, dia lahir waktu Mas Adnan masih kaya. Dan sekarang, Aluna juga hidup di tengah-tengah keluarga kaya raya. Hidupnya bahagia terus. Sementara anak ku, entahlah bagaimana nanti nasibnya punya ayah miskin seperti Adnan, batin monika.


"Monika, kamu kenapa sih dari tadi diam aja?' tanya Bu Retno lagi.


"Terserah Mas Adnan saja mau kasih nama dia siapa."


Bu Retno menatap Adnan lekat.


"Kamu mau kasih dia nama siapa Adnan?" tanya Bu Retno.


Adnan diam dan tampak berfikir.


"Aku akan kasih nama dia Yusuf."


Monika dan Bu Retno saling menatap.


"Yusuf?"


"Iya. Aku akan kasih nama Yusuf, karena anakku ini sangat tampan. Aku ambil nama Yusuf dari nama nabi. Dan nabi Yusuf kan nabi yang paling tampan."


Monika hanya menghela nafas dalam.


"Percuma tampan kalau masa depannya aja suram," gumam Monika.


Adnan dan Bu Retno terkejut saat mendengar gumaman Monika.

__ADS_1


"Kamu bicara apa Mon?" tanya Adnan.


"Nggak. Aku nggak bicara apa-apa. Kamu salah dengar kali," elak Monika.


__ADS_2