
Pagi yang cerah, secerah hati Aluna dan Mila saat ini. Minggu pagi, Mila dan Aluna sudah berada di teras depan rumah Bu Suci.
Mereka sejak tadi masih menatap ke arah Zaki yang sedang main basket di halaman depan rumahnya.
Sesekali Aluna dan Mila bertepuk tangan saat Zaki berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Zaki menghentikan aktifitasnya dan menatap ke arah Mila dan Aluna. Setelah itu dia berjalan menghampiri mereka.
"Mas, kamu haus ya. Ini aku udah ambilin kamu air putih dingin," ucap Mila sembari menyodorkan botol minuman ke arah Zaki.
Zaki meraih botol itu dan menenggak air putih itu.
"Makasih ya," ucap Zaki sembari mengusap keringatnya dengan handuk kecilnya.
"Om Zaki hebat banget tahu main basketnya. Aku sampai lupa udah berapa kali Om Zaki memasukan bola ke ring."
Zaki tersenyum.
"Kita masuk yuk! Om Zaki udah lapar, pengin makan. Bik Inah sudah selesai belum ya masaknya?"
"Nggak tahu Mas. Kita lihat yuk ke dalam."
Zaki, Mila dan Aluna masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian melangkah sampai ke ruang makan. Bu Suci sudah tampak duduk sendiri di ruang makan. Dia tersenyum saat melihat Aluna, Zaki dan Mila.
"Kalian dari mana aja sih? dari tadi Oma nungguin kalian sendiri di sini," ucap Bu Suci.
Aluna tersenyum. Dia kemudian mendekat ke arah Bu Suci dan duduk di dekat Bu Suci.
"Oma nungguin ya. Tadi aku ada di teras Oma. Lagi nonton Om Zaki main basket," jelas Aluna.
"Oh... Coba kalau Oma bisa jalan, Oma pasti akan susulin kalian ke luar."
"Sabar ya Oma. Oma sebentar lagi pasti akan bisa jalan kok."
Bu Suci tersenyum. Dia kemudian mengusap-usap rambut Aluna dengan penuh rasa sayang. Setelah itu Bu Suci menatap Mila dan Zaki lekat.
"Kalian kenapa berdiri aja di situ. Kalian nggak mau ikut sarapan bareng ibu?"
Mila dan Zaki saling menatap. Tanpa butuh waktu lama, mereka pun melangkah dan duduk berbaur bersama Bu Suci.
Setelah masakan matang, Bik Inah kemudian menata nasi dan lauk pauk itu di atas meja makan.
"Makasih ya Bik," ucap Bu Suci.
"Iya Bu."
"Maaf ya Bik. Aku nggak bisa bantuin. Soalnya aku tadi lagi ngajak Aluna main di depan," ucap Mila.
Bik Inah tersenyum.
"Nggak apa-apa Mbak Mila."
__ADS_1
Setelah menyiapkan makanan di atas meja, Bik Inah kemudian melangkah pergi untuk kembali ke dapur.
"Aku ambilkan nasi ya, pertama buat ibu dulu," ucap Mila. Dia mengambil piring dan mencedokan nasi dan lauk pauk ke atas piring itu. Setelah itu dia meletakan piring itu di depan Bu Suci.
"Makasih ya Mil."
"Iya Bu. Sama-sama."
Mila juga melakukan hal yang sama, mengambil kan nasi dan lauk untuk Zaki dan Aluna.
Setelah itu mereka bertiga pun sarapan bersama pagi ini. Tampaknya Aluna sangat bahagia bisa makan bareng Oma Suci, Om Zaki, dan Mama Mila.
Di sela-sela kunyahannya, Zaki menatap Mila lekat.
"Mil," ucap Zaki.
"Iya Mas."
"Aku mau ke kampung kamu Mil," ucap Zaki tiba-tiba.
"Apa ! mau ke kampung aku? mau ngapain Mas?" Mila terkejut saat mendengar ucapan Zaki.
"Aku mau minta restu sama orang tua dan keluarga kamu, sekalian aku mau kenalan sama orang tua dan saudara-saudara kamu di kampung."
Deg.
Mila terkejut saat mendengar ucapan Zaki.
Karena Mila tidak mau membuat orang tuanya kefikiran. Apalagi ibunya Mila yang punya riwayat penyakit jantung. Bisa syok berat kalau dia tahu kabar perceraian Mila dengan Adnan.
Keluarga Mila di kampung, sampai sekarang masih berfikir kalau Mila itu masih sama Adnan.
"Kapan kamu mau ke sana Mas?" tanya Mila.
"Gimana kalau minggu ini. Mumpung kerjaan di kantor lagi nggak banyak."
"Duh, Mas. Mendingan nanti aja ya. Aku belum siap pulang kampung Mas."
"Kenapa?"
"Pokoknya, aku belum siap aja Mas, ajak kamu ke kampung aku. Ibu kamu aja, masih belum bisa jalan Mas. Nanti aja ya, nunggu ibu kamu sembuh dulu."
"Kelamaan Mil. Aku pengin cepat-cepat kenal keluarga kamu." Zaki masih ngotot ingin pergi ke kampung Mila.
"Iya. Aku tahu Mas. Tapi sabar dulu dong. Kasih kesempatan aku untuk menjelaskan pada ke dua orang tuaku."
"Menjelaskan apa Mil?" tanya Zaki.
"Sebenarnya aku belum cerita ke ibu dan bapak ku kalau aku udah cerai dari Mas Adnan. Nggak mungkin, tiba-tiba aku bawa kamu dan kenalkan kamu ke orang tuaku. Mereka bisa syok Mas. Karena sampai sekarang saja, mereka tahunya aku ini masih istrinya Mas Adnan. Karena aku belum cerita ke mereka kalau aku sudah bercerai dari Mas Adnan."
Bu Suci dan Zaki terkejut saat mendengar penjelasan Mila.
__ADS_1
"Apa! jadi selama ini, kamu belum cerita apa-apa sama ke dua orang tua kamu? kok bisa sih Mil," ucap Bu Suci.
"Aku masih punya banyak pertimbangan Bu untuk cerita ke kampung. Pertama, karena ibu aku sakit jantung. Dia bisa syok dan kefikiran kalau aku cerita masalah yang sebenarnya sama dia."
"Tapi Mil, kamu nggak mungkin dong, menyembunyikan status kamu terus dari keluarga kamu. Dan kita nikah juga harus ada walinya. Otomatis, ayah kamu juga harus hadir di acara pernikahan kita."
"Iya mas. Tapi sabar dulu dong. Aku janji, aku akan secepatnya kasih tahu orang tua aku tentang masalah ini. Aku akan bicara pelan-pelan sama ibu aku."
"Mila, masalah sebesar ini, kenapa kamu nggak ngasih tahu keluarga kamu sih. Kamu kan waktu itu bisa cerita lewat chat atau telpon," ucap Zaki.
"Aku memang belum siap cerita Mas. Aku takut ibu aku kambuh lagi sakitnya. Jadi aku harus pelan-pelan ceritanya."
"Jadi kamu nggak pernah hubungi ke kampung?" tanya Bu Suci.
Mila menggeleng.
"Nggak. Jarang sih, aku nelpon bapak dan ibu aku ke kampung. Paling mereka duluan yang nelpon. Dan sekarang mereka juga jarang nelpon. Hampir nggak pernah nelpon," jelas Mila.
"Kamu nggak boleh seperti itu Mil. Kamu harus tetap menjalin tali silaturahim dengan keluarga kamu. Jangan mentang-mentang kamu jauh dari mereka, kamu nggak mau cerita apa-apa sama mereka. Mereka juga harus tahu yang sebenarnya Mil," ucap Bu Suci panjang lebar.
"Iya Bu, nanti aku akan cerita sama ibu dan bapak soal rencana aku dan Mas Zaki secepatnya."
Aluna sejak tadi masih mendengarkan obrolan ke tiga orang itu di meja makan. Aluna mencoba untuk mencerna semua percakapan mereka.
"Siapa emang yang mau nikah?" tanya Aluna tiba-tiba.
Mila terkejut saat mendengar pertanyaan Aluna. Mila dan Zaki saling menatap. Setelah itu mereka menatap Aluna.
"Mama kok diam aja. Aku kan lagi nanya sama Mama."
"Mama, yang mau nikah Aluna," jawab Mila yang membuat Aluna terkejut.
"Apa! Mama mau nikah sama siapa?" tanya Aluna.
"Sama... sama Om Zaki sayang."
"Apa! Mama mau nikah sama Om Zaki? kok mama baru bilang sekarang."
Zaki tersenyum.
"Mama kamu lupa menjelaskan ke kamu Aluna," ucap Zaki.
"Tapi, aku setuju kok kalau Om Zaki jadi Papa aku. Karena Om Zaki baik."
Mila, Zaki dan Bu Suci tersenyum saat mendengar ucapan Aluna.
"Kamu yakin, mau nerima Om Zaki jadi ayah kamu?" tanya Zaki.
"Yakin banget Om. Aku pengin Om Zaki bisa bahagiain Mama."
Zaki tersenyum. Dia tampak bahagia setelah tahu kalau Aluna mau menerimanya menjadi ayahnya. Itu artinya, sudah tidak ada penghalang untuk Zaki dan Mila bersatu. Zaki tinggal meminta restu saja pada orang tua Mila dan keluarga besar Mila di kampung.
__ADS_1
****