Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Kebaikan Mbak Sulis


__ADS_3

"Mama. Buka pintunya Ma...! aku nggak mau dikunciin di kamar. Aku mau keluar Ma. Aku mau makan Ma, aku lapar."


"Nggak! kamu akan tetap di sini sampai ayah kamu pulang. Ayah kamu harus tahu kelakuan kamu kayak apa. Dan siang ini nggak ada jatah makan untuk kamu. Mengerti...!"


Aluna hanya bisa menangis. Dia tidak berani melawan ibu tirinya yang sering bersikap semena-mena sama Aluna.


Setelah mengunci Aluna di kamar, Monika kemudian pergi meninggalkan kamar Aluna.


"Mbak Sulis...! Mbak Sulis...!" seru Monika.


Beberapa saat kemudian, Mbak Sulis datang menghampiri Monika.


"Iya Bu Monik, ada apa?" tanya Mbak Sulis.


"Sulis. Kamu gimana sih. Kenapa ada anak-anak masuk ke kamarku kamu diamin aja. Kenapa kamu nggak tegur mereka dan larang mereka masuk."


"Siapa emang yang masuk ke kamar ibu?" tanya Mbak Sulis.


"Siapa lagi kalau bukan Aluna dan teman-temannya. Barusan dia masuk ke kamar aku, dan berantakin kamar aku. Make up aku semuanya jadi berantakan. Dan boneka-boneka Aluna juga masih berceceran di sana."


"Duh, maaf ya Bu. Saya nggak tahu kalau soal itu. Saya juga kan banyak kerjaan. Nggak bisa dua puluh empat jam ngawasin Aluna. Jadi saya nggak tahu kalau tadi Aluna dan teman-temannya masuk ke kamar ibu dan mainan di kamar ibu."


"Hah, kamu ini gimana sih. Ngurus anak satu aja nggak becus. Kalau dibiarin si Aluna itu bisa semakin sering masuk kamar aku dan ngacak-ngacak kamar aku."


"Kalau menurut aku, ibu kunci aja kamar ibu kalau mau pergi. Kan jadi lebih aman Bu."


"Di kunci gimana. Orang perginya aja dekat dan cuma sebentar. Sekarang kamu ke kamar aku. Bersihin dan beresin kamar aku. Karena aku lelah, aku pengin istirahat di kamar."


"Iya Bu."


Mbak Sulis buru-buru pergi ke kamar Monika untuk membersihkan dan membereskan kamar itu.


Mbak Sulis terkejut saat melihat ke kamar Monika. Kamar itu sangat berantakan. Make up Monika juga sudah berceceran di atas lantai. Banyak boneka-boneka Aluna juga masih ada di atas tempat tidur Monika.


"Ya ampun, Aluna. Bu Monik pasti marah banget sama dia. Kasihan aku mah, kalau Aluna di marahin Bu Monika terus. Kenapa Aluna nggak ikut tinggal sama mamanya aja ya," gumam Mbak Sulis.


Mbak Sulis memang belum lama tinggal di rumah itu. Tapi dia sudah tahu betul bagaimana sifat Monika dan bagaimana cara Monika memperlakukan anak tirinya.

__ADS_1


Mbak Sulis sebenarnya juga tidak tega melihat Aluna diperlakukan dengan buruk oleh Monika. Tapi Mbak Sulis cuma orang baru di rumah itu. Dia tidak berani melawan Monika. Jika dia membela Aluna, pasti Monika mengancam akan memecatnya.


Mbak Sulis masuk ke dalam kamar Monika. Dia kemudian lekas membersihkan dan membereskan kamar itu.


"Sulis..! Sulis...!" seruan Monika sudah terdengar dari lantai bawah.


Mbak Sulis yang masih ada di dalam kamar Monika buru-buru keluar dari kamar itu dan turun ke bawah untuk menghampiri Monika yang saat ini sudah duduk di ruang makan.


"Iya Bu Monik. Ada apa?" tanya Mbak Sulis.


"Kamu gimana sih. Kerja lelet banget. Aku kan sudah suruh kamu untuk nyiapin aku makan siang. Mana makanannya? kamu taruh di mana makanan yang sudah aku beli tadi?" tanya Monika sembari menatap Mbak Sulis tajam. Tampaknya Monika marah dengan Mbak Sulis karena dia belum menyiapkan makan siang untuknya.


"Duh, Bu. Maaf banget Bu. Tadi kan saya mau nyiapin makan siang untuk ibu. Tapi ibu keburu nyuruh saya untuk beresin kamar. Jadi nggak mungkin lah saya melakukan pekerjaan itu bersamaan."


"Ngeyel ya kamu sekarang. Berani kamu membantahku. Sekarang kamu siapkan aku makan. Aku lapar banget, pengin makan. Urusan kamar, nanti saja setelah aku makan. Lapar banget aku tahu..."


"Baik Bu. Saya siapin sekarang."


Mbak Sulis berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Monika. Setelah makanan siap, Mbak Sulis membawa makanan itu ke ruang makan dan menatanya di atas meja makan.


"Ngak usah Bu. Saya mau makan nasi dan lauk lebihan tadi pagi aja. Sayang kalau dibuang. Dan mie ayamnya juga kan tinggal satu bungkus. Bukannya itu untuk Aluna ya."


"Aluna nggak usah di kasih makan siang ini. Ini hukuman buat dia, karena dia sudah nakal."


Mbak Sulis terkejut saat mendengar ucapan Monika.


"Bu, ibu jangan begitu dong sama Aluna. Kasihan dia Bu


Walau bagaimana pun juga, dia itu anaknya Pak Adnan. Sama juga kan dia anak ibu."


"Beda lah. Dia kan cuma anak tiri. Dan aku nggak suka sama Aluna. Dia nakal, nggak nurut sama aku dan nggak mau dibilangin. Keras kepala juga kayak ayahnya."


"Terus sekarang Aluna di mana?" tanya Mbak Sulis.


"Dia aku kurung di kamarnya. Biarkan saja dia terkurung sampai ayah dan neneknya pulang. Awas ya, kalau sampai kamu bukain pintu buat Aluna," ancam Monika.


Duh, ini orang kenapa jahat banget sih sama anak suaminya. Apa dia cuma cinta sama suaminya aja ya. Kasihan Aluna, batin Mbak Sulis.

__ADS_1


Mbak Sulis pergi meninggalkan Monika di ruang makan. Setelah Mbak Sulis pergi, Monika lekas menyuapkan mie ayam itu ke dalam mulutnya.


Selesai makan, Monika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi untuk ke kamarnya. Seperti biasa, setiap siang Monika pasti akan beristirahat dan tidur siang di kamarnya.


Mbak Sulis kembali ke ruang makan untuk membereskan piring-piring kotor bekas Monika makan tadi. Setelah itu Mbak Sulis pun mencuci piring-piring kotor itu.


Selesai mencuci piring, Mbak Sulis teringat dengan Aluna yang masih terkurung di kamar.


"Duh, kasihan Aluna. Kalau dia sakit karena telat makan, gimana ya. Apa aku bawain makanan aja ke kamarnya."


Mbak Sulis kemudian mengambilkan nasi dan sisa ayam goreng tadi pagi untuk makan Aluna. Setelah itu dia membawa makanan itu dan segelas air putih ke kamar Aluna.


Hiks...hiks...hiks...


Mbak Sulis menghentikan langkahnya saat samar-samar dia mendengar tangisan Aluna.


"Benarkan dia masih nangis" ucap Mbak Sulis.


Mbak Sulis kemudian membuka pintu kamar Aluna. Setelah itu dia masuk ke kamar Aluna sembari membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Aluna. Mbak Sulis kemudian meletakkan nampan itu di atas nakas.


"Mbak Sulis," ucap Aluna sembari mengusap air matanya.


"Kamu belum makan kan Aluna. Mbak bawain kamu makanan."


"Tapi, bagaimana kalau Mama marah. Kan kata mama, aku nggak boleh makan sampai hukuman selesai."


"Kebiasaan banget itu mama kamu. Suka banget menghukum anaknya seperti ini. Kamu nggak usah takut ya, mama kamu nggak akan marah kok. Dia lagi ada di kamarnya sekarang. Jadi dia nggak akan lihat Mbak ke kamar kamu. Sekarang kamu makan ya, mau makan sendiri, atau Mbak suapin?"


"Makan sendiri aja Mbak."


Mbak Sulis mengambil piring yang berisi nasi dan memberikannya ke Aluna. Setelah itu Mbak Sulis duduk di samping Aluna dan menemaninya makan.


"Ayo makan yang banyak. Nanti kamu bisa sakit kalau telat makan."


Aluna mengangguk. Dia kemudian makan di temani Mbak Sulis di sampingnya. Setelah menghabiskan sepiring nasi dan ayam goreng, Aluna menatap Mbak Sulis.


"Makasih ya Mbak udah bawain aku makanan."

__ADS_1


__ADS_2