
Malam ini, Bu Suci masih berkutat di dapur bersama Bik Inah. Bu Suci masih tampak membantu-bantu Bik Inah memasak untuk menyiapkan makan malam.
Bu Suci bahagia dengan kedatangan calon besannya itu. Dia sudah menyiapkan banyak menu masakan yang akan dia hidangkan untuk makan malam kali ini.
"Bu, Pak Jono dan Bu Ningsih itu calon besan ibu ya? mereka orang tuanya Mbak Mila dari kampung?" tanya Bik Inah pada Bu Suci.
"Iya, benar Bik. Makanya mumpung mereka datang ke sini, saya mau masak banyak," jelas Bu Suci.
"Iya Bu. Mereka mau nginap berapa hari?"
"Saya juga nggak tahu. Tapi mau lama mau sebentar, terserah mereka saja."
Setelah semua masakan matang, Bu Suci dan Bik Inah kemudian menyiapkan makanan-makanan itu di atas meja. Mila tidak tinggal diam. Dia tidak bisa melihat Bik Inah dan Bu Suci kerepotan. Dia juga ikut membantu Bu Suci dan Bik Inah menyiapkan makan malam.
Setelah semua makanan sudah tersaji di atas meja makan, Bu Suci menatap Mila.
"Orang tua kamu ada di mana? panggil mereka untuk makan. Panggilkan Zaki dan Aluna juga ya!" pinta Bu Suci.
"Iya Bu."
Mila kemudian melangkah ke ruang tengah untuk memanggil Zaki, Aluna, dan ke dua orang tuanya.
"Kalian kenapa masih di sini. Ayo kita ke ruang makan. Makanan sudah siap," ucap Mila mengajak mereka semua untuk ke ruang makan.
"Ayo Pak, Bu. Kita ke ruang makan sekarang!" ajak Zaki.
Zaki, Aluna dan ke dua orang tua Mila bangkit dari duduknya. Setelah itu mereka pun berjalan untuk ke ruang makan.
Makan malam kali ini terlihat sangat ramai dan mewah. Semua menu juga sudah tersaji di atas meja. Tidak seperti biasanya yang hanya ada Bu Suci, Aluna, Zaki dan Mila saja. Sekarang ada dua orang tua Mila yang ikut meramaikan suasana makan malam kali ini.
"Ibu dan bapak mau nginap lagi kan besok?" tanya Mila di sela-sela kunyahannya.
"Iya. Insya Allah. Ibu dan bapak, cuma mau tiga hari saja nginap di sini. Karena di kampung kan kami masih banyak kerjaan," jelas Pak Jono.
"Sebenarnya, saya ingin sekalian membicarakan tentang pernikahan Zaki dengan Mila," ucap Bu Suci membuka pembicaraan.
"Iya Bu, Pak. Saya mau minta doa restunya sama kalian untuk menikahi Mila. Apakah kalian merestui hubungan saya dengan Mila?" tanya Zaki.
Pak Jono dan Bu Ningsih tersenyum dan saling menatap. Setelah itu mereka kembali menatap Bu Suci dan Zaki.
"Kalau ibu sih, terserah Mila saja. Mila sudah dewasa, dia sudah bisa menentukan pilihannya dan sudah tahu mana yang terbaik untuk dirinya. Dan ibu juga sudah merestui hubungan kalian. Selama Mila bahagia, ibu juga akan ikut bahagia," ucap Bu Ningsih panjang lebar.
__ADS_1
"Saya juga sudah merestui hubungan kamu dengan Mila. Yang penting, kamu harus janji, kamu nggak akan menyakiti hati anak saya seperti mantan suaminya dulu. Kamu harus bisa bahagiakan anak dan cucu saya. Asal Mila bahagia, saya juga akan ikut bahagia," ucap Pak Jono.
Tampaknya, ke dua orang tua Mila sangat mendukung hubungan Zaki dengan Mila.
Bu Suci tersenyum. Begitu juga dengan Zaki dan Mila. Setelah mendapat restu dari ke dua orang tua Mila, mereka semua tampak bahagia dan merasa lega. Sudah tidak ada lagi yang mengganjal di hati mereka.
"Kapan rencana kalian akan menikah? apakah kalian sudah menentukan tanggal untuk pernikahan kalian?" tanya Pak Jono mulai serius.
"Belum Pak. Nanti saya akan fikirkan lagi. Yang penting sekarang, saya sudah lega karena bapak dan ibu sudah mau merestui hubungan saya dengan Mila," ucap Zaki.
"Kalau kalian pulang kampung, nanti aku akan memberi tahu kalian mengenai tanggal pernikahannya. Agar bapak dan ibu mau mengajak saudara-saudara juga untuk menghadiri pernikahanku," ucap Mila.
"Iya Mil. Bapak akan memberi tahu orang satu kampung, kalau kamu akan nikah lagi dengan Nak Zaki," ucap Pak Jono sangat antusias.
"Ngak usah satu kampung juga kali Pak," ucap Mila
Zaki, Bu Suci, dan Bu Ningsih tersenyum sembari menatap Mila.
Setelah makan malam selesai, mereka semua kemudian ke ruang tengah untuk duduk dan berbincang-bincang seputar rencana pernikahan Zaki dengan Mila.
****
Siang ini, Adnan masih duduk di ruang kerjanya. Dia masih tampak berkutat di depan layar monitornya.
"Serius banget Nan," ucap Marko.
Adnan menatap ke arah Marko.
"Kenapa Ko?" tanya Adnan.
"Dipanggil si bos," ucap Marko.
"Mau ngapain si bos manggil aku?"
Marko mengedikan bahunya.
"Mana aku tahu Nan. Mungkin dia lagi ada penting sama kamu. Temui saja sekarang Nan!" pinta Marko.
Adnan mematikan saluran komputernya. Setelah itu dia menatap Marko lekat.
"Aku ke ruangan bos dulu ya!" pamit Adnan.
__ADS_1
"Iya Nan."
Adnan pun kemudian pergi untuk menemui bosnya. Dia berjalan sampai di depan ruangan Pak Erwin atasannya. Adnan kemudian mengetuk pintu ruangan Pak Erwin.
Tok tok tok...
"Permisi... " ucap Adnan.
"Masuk saja Adnan!" seru Pak Erwin dari dalam ruangan.
Setelah dipersilahkan masuk, Adnan kemudian masuk ke dalam ruangan Pak Erwin.
"Permisi Pak, apa bapak memanggil saya?" tanya Adnan.
"Iya Adnan. Silahkan duduk!" pinta Pak Erwin.
"Iya Pak, makasih."
Adnan kemudian duduk di depan Pak Erwin.
"Ada apa ya Pak?"
"Adnan, kondisi perusahaan saya sekarang sedang tidak baik-baik saja Adnan. Saya terpaksa harus mengurangi beberapa karyawan saya di kantor ini."
Adnan diam. Dia masih menunggu kelanjutan cerita Pak Erwin.
"Adnan, saya tahu pengabdian kamu di kantor saya sudah lama sekali. Tapi maafkan saya, saya sudah tidak bisa mempekerjakan kamu di kantor saya lagi karena kondisi perusahaan yang sedang di ambang kehancuran. Kamu bisa cari kerjaan di tempat lain Adnan."
Adnan terkejut saat mendengar ucapan bosnya.
"Maksud bapak apa?"
"Mulai besok, kamu tidak usah datang lagi untuk kerja di kantor ini. Karena mulai hari ini, kamu sudah saya PHK."
Adnan terkejut saat mendengar kata PHK keluar dari mulut Pak Erwin. Adnan tidak menyangka kalau Pak Erwin bos besarnya sudah tidak mau lagi mempekerjakan dia.
Namun, apa yang bisa Adnan lakukan saat ini. Dia tidak mungkin memaksa Pak Erwin untuk mempertahankan dia di kantor itu.
Mungkin Pak Erwin hanya mau mempertahankan karyawan-karyawan yang disiplin saja. Sementara Adnan, akhir-akhir ini juga sering ambil cuti dan banyak bolos.
Pak Erwin memberikan surat dan amplop coklat untuk Adnan.
__ADS_1
"Ini surat pemberhentian kerja kamu, dan di amplop coklat ini, ada sedikit uang pesangon untuk kamu. Itu dari saya pribadi Adnan."