Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Penjelasan Aluna


__ADS_3

"Ya udah, kalau kamu udah kenyang. Sekarang kamu minum ya."


"Iya Nek."


Bu Retno mengambil gelas yang berisi air putih dan menyodorkannya pada cucunya. Setelah itu Aluna pun minum.


"Sedikit sekali minumnya sayang?" ucap Bu Retno sembari meletakan gelas itu kembali di atas nakas.


"Udah kenyang Nek."


Bu Retno menatap cucunya lekat. Entah kenapa Bu Retno merasa Aluna sedang menyembunyikan sesuatu


"Aluna, sebenarnya kamu kenapa sih? kamu kan sebentar lagi mau ikut mama Mila. Kenapa kamu malah sedih. Harusnya kamu bahagia dong."


"Aku sedih bukan karena mau ikut Mama Nek. Tapi aku sedih, kalau ingat Mama Monika."


"Emang kenapa dengan mama Monika?" tanya Bu Retno penasaran.


"Dia udah jahat banget sama aku Nek. Setiap hari aku dimarahin terus. Dan kalau nenek dan Papa nggak ada, dia juga nggak ngasih aku makan. Aku malah di kurung di kamar sampai sore. Waktu itu aku juga di kurung di dalam kamar mandi," ucap Aluna menjelaskan.


Bu Retno terkejut saat mendengar penjelasan dari cucunya.


"Apa! terus, Mbak Sulis tahu soal ini?" tanya Bu Retno pada Aluna.


"Iya. Mbak Sulis tahu soal ini. Selama ini yang selalu nolongin aku kan Mbak Sulis Nek."


Bu Retno benar-benar tidak menyangka dengan Monika. Di balik sikapnya yang sok baik itu, ternyata Monika sudah jahat pada Aluna.


Ternyata selama ini cucuku tertekan tinggal dengan ibu tirinya. Bisa-bisanya Monika sampai ngurung Aluna segala di kamar mandi. Dan Sulis, kenapa dia nggak pernah bilang masalah ini sama aku atau Adnan. Padahal dia sudah kerja lama di rumahku. Aku harus bicara sama Sulis. Dia tahu semua ini kok malah diam aja, batin Bu Retno.


****


Sore ini, Adnan sudah sampai di depan rumah sakit. Begitu juga dengan Zaki dan Mila. Mereka juga sudah sampai di depan rumah sakit. Mereka kebetulan datang secara bersamaan.


Mila dan Zaki datang ke rumah sakit untuk menjemput Aluna. Sementara Adnan, datang ke rumah sakit, untuk melunasi biaya administrasi rumah sakit.


Adnan masuk terlebih dahulu ke rumah sakit. Setelah itu Mila dan Zaki mengikuti Adnan di belakangnya. Sesampainya di ruangan Aluna, mereka semua masuk ke dalam ruangan itu.


"Papa, Mama, Om Zaki..." ucap Aluna.


Bu Retno tersenyum saat melihat kedatangan Mila dan Zaki.


"Mila, Aluna sudah nungguin dari tadi lho," ucap Bu Retno.


Mila tersenyum sembari mendekati Aluna.


"Kamu sudah beres-beres Nak?" tanya Mila pada Aluna.


"Sudah Ma. Baju-baju aku juga udah di masukin ke tas. Tadi nenek yang bantuin aku berkemas."


"Ya udah, ayo sekarang kita pulang," ucap Zaki.


Adnan mendekati Aluna.


"Sayang, kalau kamu kangen sama Papa, kamu telpon Papa aja ya. Kalau kamu pengin tinggal di rumah Papa lagi, kamu bilang ya. Jangan diam aja."


"Iya Papa."

__ADS_1


Adnan menatap Zaki lekat.


"Pak Zaki, saya titip anak saya ya."


Zaki mengangguk.


"Kamu tenang saja Adnan, Aluna akan aman bersama aku dan Mila."


Setelah Aluna berpamitan dengan nenek dan ayahnya, Aluna kemudian pergi dengan Mila dan Zaki.


Mereka keluar dari rumah sakit dan menuju ke parkiran mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Adnan hanya bisa menghela nafas dalam saat melihat putrinya dibawa Mila pergi.


Setetes air mata Adnan terjatuh dari pelupuk matanya. Adnan lantas mengusapnya kasar.


"Adnan, kamu sudah lunasi biaya rumah sakit Aluna?" tanya Bu Retno.


"Sudah Bu. Aku ke sini cuma mau jemput ibu. Aku takut ibu sakit lagi. Karena semalam kan ibu ikut jagain Aluna di rumah sakit."


"Ibu nggak apa-apa Adnan."


"Ya udah Bu, ayo kita pulang."


"Iya."


Bu Retno dan Adnan kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.


****


Pagi ini, Mbak Sulis sudah berkutat di dapur. Bu Retno tiba-tiba saja menghampiri Mbak Sulis di dapur.


Mbak Sulis menoleh ke belakang.


"Eh, Ibu. Ada apa Bu?" tanya Mbak Sulis.


"Saya cuma mau tanya sesuatu sama kamu."


Mbak Sulis mengernyitkan alisnya.


"Tanya apa Bu?"


"Apa kamu tahu sesuatu?"


Mbak Sulis bingung dengan ucapan Bu Retno.


"Tahu apa Bu?"


"Sulis, saya mau kamu jujur sama saya. Apa yang selama ini sudah Monika lakukan terhadap Aluna? Apa benar, kalau Monika selama ini selalu memperlakukan Aluna dengan buruk?"


Mbak Sulis terkejut saat mendengar ucapan Bu Retno. Dia hanya bisa diam, karena bingung untuk bicara apa pada Bu Retno.


"Sulis, ayo jawab! jangan diam aja. Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Bu Retno dengan meninggikan nada suaranya.


"Iya Bu. Saya memang sering melihat Bu Monika marahin Aluna. Bu Monika juga sering mengurung Aluna di kamar dan tidak membolehkannya keluar rumah. Dan satu lagi Bu, kalau Aluna nakal dan sampai membuat Bu Monika marah, Bu Monika juga nggak akan ngasih Aluna makan. Dan mungkin itu, yang membuat Aluna sakit karena dia sering telat makan. Bu Monika nggak segan-segan menghukum Aluna kalau Aluna nakal," jelas Mbak Sulis panjang lebar.


Bu Retno menghela nafas dalam. Dia mengepalkan tangannya geram saat mendengar penjelasan Mbak Sulis.

__ADS_1


"Benar-benar kurang ajar ternyata Monika ya. Ternyata dia selama ini sudah membuat Aluna tertekan dan nggak betah tinggal di rumah ini. Sekarang dia lebih milih ikut ibunya ketimbang ikut ayahnya. Ini semua gara-gara wanita itu," geram Bu Retno.


Bu Retno kemudian menatap Mbak Sulis tajam. Dia juga marah dengan Mbak Sulis karena selama ini Mbak Sulis diam saja. Dia tidak pernah cerita apa-apa ke Bu Retno tentang perlakuan buruk Monika.


"Sulis. Kamu gimana sih. Kenapa kamu nggak bilang sama saya soal ini."


"Maaf Bu, saya nggak berani melaporkan hal ini ke ibu atau Pak Adnan. Saya takut dipecat Bu. Karena Bu Monika juga sudah sering mengancam saya. Dia mau memecat saya kalau saya melaporkan kejadian itu ke ibu dan Pak Adnan. Dan saya juga takut Pak Adnan nggak akan percaya sama ucapan saya."


"Kenapa kamu harus takut sama Monika! kan Adnan yang selama ini menggaji kamu, bukan Monika. Monika itu sekarang cuma numpang di sini. dia udah nggak kerja."


"Maaf ya Bu. Selama ini saya memang salah. Tolong maafkan saya ya Bu. Tapi setiap Bu Monika mengurung Aluna, saya selalu bantu Aluna kok. Kadang saya diam-diam masuk ke kamar Aluna untuk ngantar makanan. Aluna nggak sampai kelaparan kok Bu."


Di sela-sela Bu Retno ngobrol dengan Sulis, suara Monika tiba-tiba saja terdengar.


"Sulis...! Sulis...!" seru Monika.


"Tuh, di panggil. Mungkin Monika lagi butuh sesuatu."


"Iya Bu. Saya mau temui Bu Monika dulu ya Bu."


"Ya. silahkan."


Sulis buru-buru melangkah untuk menghampiri Monika.


"Ada apa Bu?" tanya Sulis setelah dia sampai di depan Monika.


"Sulis. Aku mau pergi sama Mas Adnan periksa kandungan. Kamu nggak usah masak banyak-banyak ya hari ini. Karena aku dan Mas Adnan mau makan di luar. Dan sepertinya kami mau sampai malam. Karena mau sekalian pergi rekreasi."


"Oh. Iya Bu."


"Tolong jaga rumah dan jagain ibu ya."


"Iya Bu."


"Ya udah, kamu bisa kembali kerja."


Sulis kemudian melangkah kembali ke dapur untuk menemui Bu Retno.


"Kenapa Sulis?" tanya Bu Retno.


"Bu Monika mau pergi sama Pak Adnan," jawab Sulis.


"Pergi ke mana?"


"Katanya sih,mau periksa kandungan sekalian rekreasi."


Ah, rekreasi terus. Perasaan minggu kemarin juga sudah pergi rekreasi. Habis-habisin uang aja, jalan-jalan terus. Kasihan Aluna, nggak pernah di ajak jalan-jalan. Adnan lebih sering ngajak jalan Monika dari pada ngajak jalan anaknya, batin Bu Retno.


Sebenarnya Bu Retno sudah lama tidak suka dengan Monika. Monika dengan Mila sangat berbeda. Monika sering sekali mengajak Adnan keluar untuk jalan-jalan dan makan di luar. Menurut Bu Retno, makan di luar itu akan terlalu banyak menghabiskan uang.


Setelah rapi, Adnan dan Monika melangkah turun ke bawah. Mereka kemudian berjalan ke dapur untuk berpamitan pada Bu Retno.


"Bu, aku pergi dulu ya," ucap Adnan. Dia kemudian mencium punggung tangan Bu Retno.


Begitu juga dengan Monika. Dia juga ikut mencium punggung tangan Bu Retno sebelum pergi.


Setelah berpamitan pada ibunya, Adnan kemudian mengajak Monika pergi keluar rumah. Mereka masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


****


__ADS_2