
Malam ini, Mila masih berada di teras depan rumah Bu Suci. Dia sejak tadi masih menatap ke atas langit.
Tampak di langit, bulan purnama sudah memancarkan sinarnya. Angin pun berhembus kencang menerpa kerudung Mila.
Mila masih memikirkan tentang ucapan Bu Suci waktu masih berada di rumah sakit beberapa waktu yang lalu.
Bu Suci meminta dia untuk menjadi menantunya. Namun belum ada tanggapan apa-apa dari Zaki hingga sampai saat ini.
Mila pun demikian, dia tidak mau mengharapkan sesuatu yang mustahil terjadi.
Bagi Mila, mempunyai suami mapan, tampan, dan kaya raya seperti Zaki hanya lah sebuah mimpi.
Menurut Mila, Zaki itu terlalu sempurna untuk Mila. Dia merasa tidak pantas saja jika menjadi istrinya Zaki. Karena Mila sudah janda anak satu. Sementara Zaki, dia masih bujangan.
Zaki masih bisa mendapatkan seorang gadis yang lebih baik dari Mila, karena dia lelaki yang tampan dan sangat sempurna.
Kenapa sih, Bu Suci waktu itu menyuruh aku dan Mas Zaki nikah. Kita aja tidak saling cinta. Aku juga sadar diri, kalau aku nggak pantas untuk jadi istrinya Mas Zaki. Makanya sampai saat ini, aku nggak mau baper sama Mas Zaki, walau Mas Zaki baik dan perhatian sama aku. Aku nggak mau menaruh rasa pada seorang lelaki yang sama sekali bukan levelku, karena aku tidak mau menanggung rasa sakit karena cinta bertepuk sebelah tangan,
batin Mila.
"Mas Zaki, mana mungkin sih mau sama wanita seperti aku. Sedangkan, di luar sana masih banyak wanita yang lebih cantik, lebih baik, lebih kaya, dan lebih segala-galanya dari aku. Bu Suci sih iya, pengin aku sama Mas Zaki. Tapi mana mungkin sih, Mas Zaki mau punya istri seperti aku. Dia itu kan bos besar perusahaan," ucap Mila.
Di sela-sela Mila melamun, Mila dikejutkan oleh klakson mobil dari luar gerbang rumah Bu Suci.
Mila menatap ke arah mobil itu. Tampak Zaki keluar dari mobil dan membuka pintu gerbang rumahnya.
Mila tidak tinggal diam. Dia buru-buru menghampiri Zaki untuk membantunya.
"Mila, kamu belum tidur?" tanya Zaki.
"Belum Mas. Aku belum ngantuk," jawab Mila.
"Tolong nanti tutupin pintu gerbangnya ya. Aku mau masukin mobil aku."
"Iya Mas."
Zaki masuk kembali ke dalam mobil, sementara Mila menutup pintu gerbang itu kembali. Setelah itu, Mila pun mengikuti Zaki ke garasi.
"Mas, saya bawakan tasnya ya," ucap Mila.
"Iya Mil."
Milla masuk ke dalam rumah dengan membawakan tas kantor Zaki. Sementara Zaki menghentikan langkahnya setelah dia sampai di ruang tengah. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di sofa ruang tengah.
__ADS_1
"Mas Zaki, Mas Zaki kok malah duduk di sini. Mas Zaki nggak mau langsung istirahat di kamar?" tanya Mila sembari menghampiri Zaki.
"Duduk lah Mil. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu, " ucap Zaki.
"Iya Mas."
Mila kemudian duduk di dekat Zaki duduk.
"Ada apa Mas? Mas Zaki mau bicara apa?" tanya Mila penasaran.
"Aku mau bicara tentang keinginan Mama aku Mil."
Mila mengernyitkan alisnya.
"Keinginan Bu Suci? keinginan apa?"
"Waktu di rumah sakit, Mama kan pernah bilang sama kita, dia menyuruh kita untuk menikah. Menurut kamu gimana Mil?"
Mila terkejut saat mendengar pertanyaan Zaki.
"Menurutku?"
"Iya. Maksud aku, apa kamu mau nikah sama aku Mil?"
Mila kembali terkejut saat mendengar ucapan Zaki. Dia sejak tadi hanya diam, belum bisa menjawab langsung pertanyaan dari Zaki.
"Mila, kenapa kamu diam aja?"
"Terus aku harus bilang apa Mas?"
"Ya kamu tinggal jawab mau atau nggak nikah sama aku."
"Mas Zaki serius dengan ucapan Mas Zaki?" tanya Mila.
"Ya, aku serius dengan ucapanku. Kalau kamu mau nikah sama aku, aku juga sudah siap Mil. Aku sudah siap menafkahi kamu lahir batin."
"Mas Zaki yakin dengan ucapan Mas Zaki? Mas Zaki nggak akan nyesel jika nanti Mas Zaki memilih aku menjadi istrinya Mas Zaki?"
"Nggak lah Mil, untuk apa aku nyesel."
"Mas Zaki fikirkan lagi soal ini baik-baik. Menikah itu cuma sekali seumur hidup Mas. Jangan sampai nanti Mas Zaki nyesel karena sudah memilih aku, wanita yang biasa-biasa saja. Aku nggak punya keistimewaan apa-apa Mas. Aku cuma wanita kampung, nggak ada yang spesial dari diri aku Mas," ucap Mila.
"Di luar sana, masih banyak wanita yang lebih baik dan lebih pantas untuk menjadi istri Mas Zaki. Aku ini janda anak satu. Sementara Mas Zaki masih bujangan. Aku ini miskin semetara Mas Zaki kaya raya. Aku ini cuma wanita kampung..."
__ADS_1
Mila terkejut saat tiba-tiba saja Zaki membungkamnya dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Mila.
"Aku tidak butuh pendapat dari kamu Mil. Aku hanya butuh satu jawaban dari kamu. Apa kamu mau menikah dengan ku? kamu tinggal jawab aja ya atau tidak susah amat." Zaki tampak kesal dengan ucapan Mila yang bertele-tele.
Zaki bukan tipe lelaki yang suka bertele-tele saat memberi jawaban. Dia lelaki yang tegas dan tidak suka ribet.
"Aku..." Mila menghentikan ucapannya.
"Mila, kamu tinggal jawab aja ya atau tidak. Aku kan sudah memberikan kamu waktu satu bulan untuk memikirkan ini. Masalahnya, ini keinginan Mama. Dan aku belum pernah membantah apa yang mamaku ucapkan."
"Tapi kita kan tidak saling cinta Mas. Apa kita bisa nikah tanpa ada rasa cinta?"
Zaki tersenyum.
"Kamu polos banget sih Mil. Cinta itu bisa datang kapan saja. Cinta itu bisa datang seiring berjalannya waktu. Kita bisa mencoba untuk saling mencintai setelah kita menikah. Apa kamu paham maksud aku Mil?"
"Iya Mas. Aku ngerti. Dan jawaban aku..."
"Apa jawaban kamu?"
"Aku mau Mas nikah sama kamu dengan syarat "
"Ada syaratnya? apa syaratnya?" tanya Zaki penasaran.
"Kamu mau menerima aku apa adanya. Kamu juga harus mau menerima anak aku. Karena suatu saat bisa saja Aluna minta ikut tinggal bersamaku lagi."
"Iya. Itu sudah pasti Mil. Aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu, Aluna dan Mama. Karena mulai sekarang, kalian adalah wanita-wanita yang paling berarti di hidupku."
"Makasih ya Mas. Ini seperti mimpi saja untuk aku Mas."
"Ini bukan mimpi Mil. Aku mantap dengan keputusan aku, karena aku sudah mengenal kamu lama. Aku sudah tahu sifat kamu. Kamu itu wanita yang baik dan wanita yang beda dari wanita lainnya. Sebenarnya aku juga sudah mulai menganggumi kamu sejak lama," ucap Zaki panjang lebar.
"Kalau begitu sama Mas. Aku juga sudah lama menganggumi kamu. Tapi aku sadar diri, kalau aku nggak pantas untuk kamu. Makanya aku berusaha untuk menepis rasa yang ada di hati aku. Karena aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan."
"Dan sekarang, belajarlah mencintaiku. Lupakan semua masa lalu kamu dengan Adnan mantan suami kamu. Kamu lupakan semua kenangan kamu dengan dia. Kita bisa memulai membuka lembaran hidup baru dari nol."
"Insya Allah Mas. Kalau kita berjodoh, Allah pasti akan mempersatukan kita. Apalagi, kita sudah mendapatkan restu dari ibu."
"Ya sudah, kamu istirahat ya. Biar besok kamu nggak kesiangan. Besok, aku mau berangkat pagi-pagi. Jangan lupa ya, besok bangunin aku, siapkan aku makan, siapkan aku baju, karena mulai sekarang kamu harus belajar untuk melayani calon suami dengan baik."
Mil tersenyum. "Iya Mas."
Mila bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Zaki. Dia juga ikut berdiri. Setelah itu Zaki dan Mila pergi untuk ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
***