
"Aluna, di mana kamu Nak?" ucap Adnan di sela-sela menyetirnya.
Sejak tadi Adnan dan Bu Retno masih mencari Aluna. Sudah hampir satu jam mereka keliling mencari Aluna, namun Aluna belum juga di temukan.
"Ya Allah, Aluna. Kenapa anak itu nekat sekali pergi dari rumah sih," ucap Bu Retno.
Adnan menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa berhenti Adnan?" tanya Bu Retno menatap Adnan lekat.
"Kita tidak bisa Bu, hanya berada di dalam mobil terus. Kita harus turun dan tanya sama orang-orang siapa tahu ada dari mereka yang melihat Aluna."
"Iya Adnan. Kamu benar."
Adnan dan Bu Retno turun dari mobilnya. Setelah itu dia pun menghampiri orang-orang untuk menanyakan tentang Aluna.
"Permisi Bu, apa ibu melihat anak saya? ini fotonya Bu?" tanya Adnan pada salah seorang ibu yang ada di tempat itu.
"Maaf Mas. Saya nggak lihat."
"Oh, makasih ya kalau begitu."
Adnan dan Bu Retno bertanya pada orang-orang yang ada di tempat itu. Namun mereka tidak ada yang melihat Aluna.
"Adnan, kita cari ke tempat lain saja Adnan," usul Bu Retno.
"Kita harus cari Aluna ke mana Bu, Jakarta itu luas."
"Entahlah Adnan, ibu nggak tahu."
"Ya udah Bu, kita kembali ke mobil lagi. Kita cari Aluna di tempat lain saja."
"Iya Adnan."
Bu Retno dan Adnan kembali masuk ke mobil. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan tempat itu.
****
Huhuhu....
Aluna menangis di emperan toko. Dia tersesat dan tidak tahu jalan pulang.
Tadi siang Aluna pergi dari rumah untuk mencari ibunya. Namun sampai sore, Aluna belum bertemu juga dengan Mila.
Aluna tidak tahu saja kalau sekarang Mila tinggal di komplek perumahan elit.
Seorang wanita empat puluh tahunan, mendekati Aluna. Sejak tadi dia masih memperhatikan Aluna, anak kecil yang sudah satu jam berada di depan tokonya.
"Dek, lagi ngapain dek. Kenapa adek nangis di sini?" tanya wanita itu pada Aluna.
Aluna bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menatap wanita itu lekat dengan berderaian air mata.
"Aku mau cari mama aku Tante. Udah dari kemarin Mama aku pergi dari rumah, Tapi dari tadi aku muter-muter nyari Mama, mama belum aku temukan juga hiks...hiks...hiks..."
Wanita itu menatap iba Aluna.
"Duh dek, kamu tahu alamat ibu kamu nggak?" tanya wanita itu.
__ADS_1
Aluna menggeleng.
"Nggak. Aku nggak tahu."
"Terus, kalau kamu nggak tahu alamatnya, gimana kamu bisa cari ibu kamu dek."
"Aku juga nggak tahu Tante. Aku pengin ketemu Mama aku."
Wanita itu tampak bingung dengan kehadiran Aluna di emperan tokonya. Dia tidak mungkin mengusir Aluna, dari tokonya. Karena dia merasa iba pada anak kecil itu.
"Jangan nangis dek. Nanti ibu bantu kamu cari ibu kamu ya."
Aluna tersenyum. Dia kemudian mengusap air matanya yang sejak tadi membasahi pipinya.
"Beneran Tante mau bantu aku?" tanya Aluna.
"Iya. Tante akan bantu kamu. Tapi kamu jangan nangis lagi ya."
"Iya Tante."
"Ayo kita masuk ke dalam. Jangan duduk di sini,"
"Iya Tante."
Wanita itu kemudian merangkul bahu Aluna dan mengajak Aluna masuk ke dalam tokonya.
Wanita itu kemudian mengajak Aluna duduk.
"Nama kamu siapa dek?" tanya wanita itu.
"Nama aku Aluna," jawab Aluna.
"Iya Tante Wina. Terimakasih."
***
"Bu, kita harus cari Aluna kemana lagi," ucap Adnan.
Nampaknya Adnan lelah, karena sampai malam, dia belum juga menemukan anaknya.
"Nggak tahu Adnan. Lebih baik kita pulang saja. Kita lanjutkan saja besok pagi."
"Besok aku juga harus kerja Bu."
"Begini aja Adnan. Kalau sampai 24 jam Aluna belum juga di temukan, kita lapor polisi saja. Atau kita pasang iklan saja, di pencarian orang hilang," usul Bu Retno.
"Iya Bu. Aku setuju."
"Ya udah, kita pulang saja ya Adnan. Ibu juga udah capek."
"Iya Bu."
Setelah lelah Adnan dan Bu Retno mencari Aluna, mereka kemudian meluncur kembali untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di depan rumah, Bu Retno dan Adnan turun dari mobilnya. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumahnya.
Tok tok tok...
__ADS_1
"Mbak...! Mbak Asih...! Assalamualaikum."
Beberapa saat kemudian, Mbak Asih membuka pintu depan.
"Wa'alakiumusalam."
Mbak Asih menatap Bu Retno dan Adnan bergantian.
"Bagaimana Bu, Pak, apakah Aluna sudah di temukan?" tanya Mbak Asih pada Bu Retno dan Adnan.
Adnan dan Bu Retno saling menatap. Mereka kemudian menggeleng.
"Kita belum menemukannya," ucap Bu Retno.
"Jadi, Aluna benar-benar hilang?" ucap Mbak Asih.
Adnan menghela nafas dalam.
"Besok kami akan melanjutkan pencarian. Aluna nggak hilang. Mungkin dia ada di suatu tempat. Mudah-mudahan dia nggak ketemu orang jahat. Mudah-mudahan ada orang baik yang mau menolongnya," ucap Adnan.
"Iya. Semoga saja ya Pak Adnan."
"Doain saja ya Mbak Asih," ucap Adnan.
Setelah itu Adnan pun masuk ke dalam rumahnya. Begitu juga dengan Bu Retno yang ikut masuk ke dalam rumah.
Adnan duduk di sofa ruang tengah. Begitu juga dengan Bu Retno. Dia pun mengikuti Adnan duduk.
"Ini semua gara-gara kamu Adnan. Kalau kamu nggak mengusir Mila dari rumah ini, kejadiannya nggak akan seperti ini," ucap Bu Retno tampak kesal pada Adnan.
Adnan menatap ibunya tajam.
"Kok ibu nyalahin aku."
"Apa kamu nggak bisa, menyelesaikan masalah kamu secara baik-baik dengan istri kamu."
Adnan menghela nafas dalam. Adnan tidak mau disalahkan. Dia masih tetap egois dan merasa dirinya yang paling benar.
"Bu, apa aku salah, kalau aku mengusir Mila dari rumah ini. Mila itu udah mengkhianati aku Bu. Dan aku tidak suka di khianati."
"Tapi ibu tetap nggak percaya kalau Mila itu selingkuhin kamu Adnan. Ibu sudah mengenal Mila lama. Sudah sepuluh tahun dia jadi menantu ibu. Ibu yakin, kalau ini cuma salah paham saja."
"Pokoknya aku akan tetap ceraikan Mila."
"Adnan, terbuat dari apa hati kamu itu Adnan. Kamu itu lelaki egois. Jika kamu tetap memilih jalan perceraian, itu artinya kamu tidak sayang dengan Aluna anak kamu. fikirkan lah lagi, sebelum bertindak Adnan. Jangan sampai kamu menyesal, karena sudah mengorbankan anak kamu, karena keegoisan kamu."
Bu Retno bangkit dari duduknya. Dia kemudian pergi meninggalkan ruang tengah dan berjalan untuk ke kamarnya.
Sementara Adnan, hanya bisa mengacak rambutnya frustasi.
"Aluna...! kamu benar-benar bandel. Kamu sudah nyusahin Papa Aluna," ucap Adnan.
Adnan bangkit dari duduk dan pergi untuk ke kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Adnan berbaring dan menatap ke langit-langit kamar.
"Ya Tuhan, apa salah dan dosaku, sehingga Engkau timpakan masalah yang berat pada keluargaku, di mana Aluna sekarang, mudah-mudahan di baik-baik saja," ucap Adnan sembari menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya.
__ADS_1
Adnan mengambil ponselnya dan menatap kembali foto istrinya dengan lelaki itu.
"Jika aku ketemu dengan lelaki ini, aku akan beri dia pelajaran karena sudah merebut Mila dariku. Aku tidak akan tinggal diam, Mila sudah menginjak-injak harga diriku. Aku sudah susah payah kerja banting tulang untuk menafkahi Mila. Tapi dia malah menusuk aku dari belakang, dengan bermain apa dengan lelaki ini," ucap Adnan.