
Malam ini, Adnan dan Monika masih saling diam. Tidak ada satu pun pembicaraan yang keluar dari bibir mereka malam ini. Mungkin semua itu karena Adnan masih kesal dengan Monika. Sehingga Adnan lebih memilih mendiami Monika.
"Mas, mau sampai kapan kamu diamin aku seperti ini?" tanya Monika.
Adnan yang ditanya hanya diam.
"Mas. Aku nggak suka kamu cuekin aku."
Adnan menatap Monika lekat.
"Aku merasa sangat nggak dihargai sekali sebagai seorang suami," ucap Adnan.
"Untuk soal Sulis, aku mau minta maaf sama kamu Mas, karena aku nggak memberi tahu kamu dulu sebelum aku memesan asisten rumah tangga."
"Tapi setidaknya kamu izin dulu sama aku dan ibu. Karena ini rumah kita. Kamu bilang dulu dan minta persetujuan dulu sama ibu atau aku. Jangan main bawa orang sembarangan ke rumah kita."
"Mas, maafin aku ya. Sebenarnya aku nggak ada niat sih untuk nyari pembantu. Tapi aku kasihan sama ibu. Sebentar lagi kita juga akan punya bayi. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana repotnya ibu nanti kalau aku melahirkan. Kalau ada pembantu kan enak. Kita bisa suruh-suruh dia membantu pekerjaan kita."
Adnan tampak berfikir. Ucapan istrinya memang ada benarnya. Dulu sewaktu Mila melahirkan, Bu Retno juga sangat kerepotan. Tapi waktu itu ayah Adnan masih hidup. Jadi Bu Retno tidak begitu kerepotan saat mengurus Mila melahirkan..
Tapi sekarang, Bu Retno sudah tua dan sudah sering sakit-sakitan, suaminya juga sudah meninggal. Dia tidak akan mungkin bisa mengurus Monika sendiri jika nanti Monika melahirkan.
"Iya. Aku udah maafin kamu kok. Benar juga sih, sebentar lagi kita akan kerepotan sama bayi. Dan tindakan kamu memang benar, kalau kita harus punya pembantu. Tidak mungkin kita mengandalkan ibu terus untuk ngurus rumah. Biarkan ibu istirahat," ucap Adnan.
Monika tersenyum.
"Makasih ya Mas. Jadi kamu sudah maafin aku?" tanya Monika.
"Iya. Aku udah maafin kamu."
"Makasih ya Mas," ucap Monika sembari menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
****
Siang ini, Aluna dan teman-temannya masih bermain di teras depan rumah.
Rumah siang ini tampak sepi. Karena Adnan sedang mengantar Bu Retno ke rumah sakit. Sementara Monika, dia keluar untuk membeli sesuatu.
Di rumah Aluna hanya dengan Mbak Sulis saja. Dan sekarang, Aluna sedang bermain bersama teman-temannya di teras depan rumah.
"Mbak Sulis. Papa dan nenek aku kok lama ya," ucap Aluna.
"Kalau ke rumah sakit biasanya lama Aluna. Karena harus ngantri dulu. Papa dan nenek kamu, tadi aja berangkatnya udah siang," jelas Mbak Sulis.
"Mama Monika juga belum pulang-pulang."
"Mama kamu mau beli makanan katanya tadi. Mungkin sebentar lagi pulang."
Di sela-sela Aluna dan Mbak Sulis ngobrol, sebuah mobil memasuki gerbang rumah.
__ADS_1
"Itu Mama kamu," ucap Mbak Sulis.
"Biarin deh. Aku masih pengin main sama teman-teman."
"Kamu gimana sih. Katanya mau nungguin Mama. Mama kamu udah pulang malah cuek gitu," ucap Mbak Sulis heran.
Setelah menghentikan mobilnya di garasi, Monika turun dan menghampiri Mbak Sulis yang masih ada di teras.
"Mbak, tolong bawain barang-barang belanjaan aku ya. Ada makanan di dalam mobil. Tolong nanti siapin makanan juga ya di meja makan. Sepertinya Mas Adnan dan Bu Retno mau sampai sore pulangnya."
"Iya Bu."
Mbak Sulis kemudian menghampiri mobil Monika untuk membawa barang-barang belanjaan Monika masuk ke dalam.
"Kalian masih pada main di sini. Dari tadi pagi, belum pada pulang?" ucap Monika sembari menatap tajam ke arah anak-anak yang sedang bermain dengan Aluna.
"Kami nggak boleh pulang oleh Aluna Tante. Soalnya Aluna nggak ada temannya di rumah." ucap salah satu dari mereka.
"Ya udah lah, lanjutin mainnya. Yang penting kalian jangan jail dan jangan pada nakal ya,"
"Iya Tante," ucap anak-anak itu serempak.
Monika masuk ke dalam rumah untuk menyusul Mbak Sulis.
"Mbak, itu buah-buahan dan sayuran mentah, tolong masuk-masukin kulkas ya. Dan itu ada makanan tolong siapin di meja makan. Siapa tahu, Aluna juga mau makan. Dia belum makan kan?"
"Ya udah, cepat siapin ya"
Aku capek. Mau ke kamar dulu."
"Iya Bu."
Monika kemudian melangkah untuk ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamarnya Monika terkejut karena kamarnya sangat berantakan.
Bedak, lipstik dan semua alat make up milik Monika semua sudah berceceran di lantai. Sepertinya make up Monika sudah dibuat mainan Aluna dan teman-temannya.
Monika menghela nafas dalam. Tampaknya dia sangat marah pada Aluna dan teman-teman Aluna.
"Ini pasti kerjaan Aluna dan teman-temannya. Aku harus kasih pelajaran mereka semua biar kapok. Berani-beraninya mereka mainan di dalam kamarku," geram Monika.
"Aluna...! Aluna...!" seru Monika dari lantai atas.
Monika buru-buru turun ke bawah untuk menghampiri Aluna di teras. Sesampainya di teras, Monika berkacak pinggang sembari menatap tajam satu persatu Aluna dan teman-teman Aluna.
"Apa yang sudah kalian semua lakukan hah? kalian sudah masuk kamar ku dan memberantaki kamarku. Kalian sudah menghancurkan semua make up ku. Siapa yang nyuruh kalian masuk ke kamarku hah...!" ucap Monika dengan nada tinggi.
Aluna dan teman-temannya hanya diam. Mereka tampak takut dengan kemarahan Monika.
"Ayo jawab. Kenapa kalian masuk ke kamarku hah....! siapa yang ngajarin kalian main, sampai masuk-masuk ke kamar orang...!"
__ADS_1
Lagi-lagi Aluna dan ke empat temannya hanya diam.
Monika kemudian menatap tajam ke arah Aluna.
"Aluna, kamu kan biang keroknya. Kamu yang sudah ngajakin anak-anak ini masuk ke dalam kamar ku."
Aluna menatap Monika dan menggeleng.
"Aku nggak ngajakin mereka masuk ke kamar Mama kok."
"Bohong! kalau bukan kamu yang ngajakin mereka masuk ke kamarku, siapa lagi. Mereka tidak akan ikut masuk kalau kamu nggak ngajakin. Cuma kamu Aluna yang berani masuk ke kamar mama. Sekarang kamu ngaku! kalau nggak, kamu akan tahu akibatnya."
Hiks...hiks...hiks...
Tangis Aluna pecah, saat Monika tidak habis-habisnya memarahi Aluna dan ke empat temannya.
"Pakai acara nangis lagi. Ayo ngaku! kamu kan yang sudah membuat kamar mama berantakan!"
"Mama, maafin aku Ma. Iya, aku yang udah ngajakin mereka masuk. Tapi kita main cuma sebentar kok," ucap Aluna di sela-sela tangisannya.
"Mau sebentar, mau lama, sama aja kan! sekarang kamu masuk!" ucap Monika dengan menunjuk wajah Aluna.
"Tapi Ma..."
"Tapi apa. Mama bilang masuk ya masuk Aluna...! jangan membantah!" Monika sudah melotot ke arah Aluna.
Aluna bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menatap teman-temannya satu persatu.
Sementara Monika dia juga menatap ke arah teman-teman Aluna.
"Dan kalian, sekarang kalian pulang! dan nggak usah main sama Aluna lagi. Kalian sudah membawa dampak buruk untuk Aluna. Aluna jadi nakal gara-gara main sama kalian."
Teman-teman Aluna saling menatap saat Monika mengusir mereka. Sebenarnya teman-teman Aluna tidak tega harus meninggalkan Aluna, bagaimana pun juga mereka juga ikut bersalah karena sudah ikut memberantaki kamar Monika.
"Kenapa kalian diam aja. Ayo pergi kalian dari sini...!" ucap Monika dengan nada tinggi.
Anak-anak itu bangkit dari duduknya. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan rumah Aluna.
"Dasar anak-anak nakal. Nggak ada yang punya sopan santun. Bisa-bisanya mereka semua masuk sembarangan ke kamarku dan memberantaki kamarku," geram Monika.
Setelah ke empat anak itu pergi, Monika menatap Aluna tajam.
"Karena kamu sudah membuat mama marah dan kamu sudah nakal, mama terpaksa harus menghukum kamu."
"Apa! dihukum. Aku nggak mau di hukum Ma."
"Ayo ikut Mama. Mama akan kunciin kamu di kamar biar kamu nggak bisa kemana-mana."
Monika menarik paksa tangan Aluna dan membawanya masuk ke dalam. Monika kemudian mengunci Aluna di kamar.
__ADS_1