
Sore ini, Aluna tampak asyik bermain di taman bersama ibu dan calon ayahnya. Sejak ada Aluna di rumah, Zaki sering sekali mengajak Aluna dan Mila jalan-jalan. Bahkan hampir setiap weekend mereka keluar untuk jalan-jalan entah itu ke mall, ke puncak, ke pantai, ke kebun binatang, atau nonton.
Itu semua membuat Aluna lupa dengan Adnan ayahnya. Setelah ikut tinggal dengan Mila, Aluna tidak pernah mempertanyakan tentang ayahnya lagi.
Zaki dan Mila sejak tadi masih menatap Aluna dari kejauhan. Aluna tampak asyik berlatih sepeda di taman bersama dengan teman-temannya.
"Aluna bahagia banget ya sayang kelihatannya," ucap Zaki.
"Iya Mas. Dia juga nggak pernah menanyakan nenek dan ayahnya lagi. Sepertinya dia sudah betah tinggal dengan kita. Dan itu yang aku harapkan selama ini Mas. Mas Adnan sudah menyerahkan Aluna, tanpa aku harus capek-capek merebut hak asuh Aluna dari tangan Mas Adnan," ucap Mila panjang lebar.
"Aku juga bahagia Mil, melihat anak kamu bahagia. Karena aku sudah terlanjur sayang dengan anak kamu. Aku sudah menganggap anak kamu itu seperti anak kandung aku sendiri."
Mila tersenyum.
"Makasih ya Mas. Kamu sudah mau menerima Aluna menjadi anak kamu. Aluna seperti telah menemukan sosok ayahnya dalam diri kamu. Dan Aluna juga seperti menemukan sosok neneknya dari dalam diri Bu Suci. Makanya sampai sekarang,dia tidak pernah menanyakan lagi soal ayah dan neneknya."
"Auh..." teriakan Aluna mengejutkan Mila dan Zaki yang sedang asyik mengobrol.
Pandangan Zaki dan Mila, tertuju pada Aluna yang sudah terjatuh dari sepedanya.
"Ya ampun. Aluna..." seru Mila.
Mila dan Zaki buru-buru menghampiri Aluna untuk menolongnya.
Huhuhuhu...
Tangis Aluna pecah, saat merasakan sakit di kakinya.
"Sakit Mama...huhuhuhu..."
"Apanya yang sakit Nak? apa kaki kamu terkilir?" Zaki tampak khawatir dengan kondisi Aluna.
Tanpa butuh waktu lama, Zaki segera memeriksa ke dua kaki dan ke dua tangan Aluna. Zaki dan Mila terkejut saat melihat lutut Aluna banyak mengeluarkan darah.
"Ya ampun Aluna. Kamu berdarah Nak," ucap Mila panik.
"Mil, kita harus bawa Aluna ke dokter. Agar lukanya nanti diobatin dan di perban," ucap Zaki tampak khawatir.
__ADS_1
"Mas, kita obati saja sendiri di rumah."
"Mil, jangan suka menyepelekan hal-hal seperti ini. Aku takut, lutut Aluna akan infeksi."
"Ya udah Mas. Cepat kita bawa Aluna ke dokter."
"Iya."
Tanpa banyak berfikir, Zaki mengangkat tubuh Aluna dan membawanya masuk ke dalam mobil. Zaki dan Mila kemudian ikut masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka pun meluncur pergi meninggalkan taman itu.
Sesampainya di depan rumah dokter, Zaki dan Mila membawa Aluna turun dari mobil. Mereka kemudian masuk ke dalam sebuah klinik kecil milik dokter Ilham, dokter umum langganan keluarga Zaki.
"Bagaimana Dok, kondisi Aluna anak saya?" tanya Mila saat Dokter Ilham memeriksa luka-luka Aluna.
Dokter Ilham menatap Zaki dan Mila lekat. Setelah itu dia pun tersenyum pada Zaki dan Mila.
"Kondisi Aluna tidak apa-apa. Ini cuma luka ringan saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya akan memperban luka-luka Aluna dulu. Nanti saya akan beri Aluna obat untuk diminum dan salep untuk mengolesi luka Aluna," jelas dokter Ilham.
Setelah dokter Ilham memeriksa Aluna dan memperban luka-lukanya, dokter Ilham kemudian memberikan resep obat untuk Aluna.
"Iya Dok. Makasih banyak ya dok," ucap Mila.
Dokter menatap Aluna lekat.
"Anak cantik, nanti obatnya di habiskan ya. Dokter sudah memperban luka-luka kamu, nanti setelah sampai rumah, salepnya di oleskan ya, ke bagian yang luka," ucap Dokter Ilham pada Aluna.
Aluna hanya menganggukan kepalanya.
"Iya Dok," ucap Aluna kemudian.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Dok." ucap Zaki sebelum pergi meninggalkan ruangan Dokter Ilham.
"Iya silahkan."
Setelah memeriksa Aluna ke dokter, Zaki dan Mila melajukan mobilnya untuk kembali pulang sekaligus, mampir ke taman untuk membawa sepeda Aluna pulang.
"Makanya, kalau main sepeda itu hati-hati Aluna. Jadi seperti ini kan," ucap Mila sembari mengusap-usap rambut panjang Aluna.
__ADS_1
"Tadi aku nabrak batu kecil, karena aku nggak bisa menjaga keseimbangan, jadi aku jatuh deh," jelas Aluna.
"Makanya lain kali, kalau main sepeda itu hati-hati dan harus selalu waspada," ucap Zaki.
"Iya Om. Aku janji, aku akan hati-hati lagi kalau main sepeda," ucap Aluna.
****
Malam ini, Monika masih tampak cemberut di ruang makan. Sejak tadi, dia masih menatap makanan-makanan yang ada di atas meja makan.
"Nggak ada Sulis, rasanya jadi hampa begini. Aku harus berbagi pekerjaan rumah dengan Mas Adnan, capek banget," gerutu Monika di kesendiriannya.
Sejak Adnan menjadi pengangguran, Adnan yang mengerjakan semua pekerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel, memasak, mencuci, dan mengerjakan pekerjaan lainnya.
Adnan masih tidak tega untuk menyuruh ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Karena Bu Retno masih sakit, dan dia juga masih minum obat.
Adnan tidak mau terjadi apa-apa lagi pada ibunya. Dia lebih sering menyuruh Monika untuk membantunya menyapu, mengepel, mencuci atau memasak.
Adnan turun dari lantai atas dan berjalan menuju ruang makan. Dia terkejut saat melihat istrinya tampak murung. Sudah dari kemarin, Monika tampak sedih. Sekarang dia harus menerima nasibnya punya suami pengangguran.
Kasihan istriku, sejak Sulis pergi, Monika sering banget murung seperti ini. Aku yakin, ini semua karena masakan aku yang nggak enak. Istriku jadi nggak doyan makan. Tapi aku juga nggak punya uang untuk beli lauk enak di luar, batin Adnan.
Adnan berjalan untuk menghampiri istrinya. Dia kemudian duduk di dekat Monika.
"Sayang, kenapa makanannya cuma dilihatin aja?" tanya Adnan.
Monika menatap suaminya tajam.
"Bagaimana cuma nggak dilihatin, masakan kamu itu nggak enak, nggak ada rasanya tahu. Lagian, masak cuma mie instan, nasi goreng, dadar telur, gorengan tempe tahu doang. Nggak ada menu yang lain apa," ucap Monika kesal.
"Sayang, maklumin aku lah. Aku kan cowok, masa disuruh masak. Ya begitulah rasanya. Mau nyuruh ibu, aku nggak tega sayang. Karena ibu masih sakit. Gimana kalau dia kelelahan dan ngedrop lagi."
Monika diam. Rasanya untuk sekarang, percuma dia bicara dengan suaminya. Karena Adnan sekarang sudah tidak pernah peka dengan perasaan istrinya.
"Seharusnya sih, kamu yang masak Mon. Pasti masakan kamu jauh lebih enak dari masakan aku," ucap Adnan.
"Malas banget aku harus masak segala. Aku kan setiap hari juga sudah bantuin kamu nyapu, ngepel, nyuci piring. Lagian masakan aku juga nggak seenak masakan ibu dan Mbak Sulis."
__ADS_1