
Mila menghentikan langkahnya setelah sampai di ruang tengah.
"Kita ngobrol di sini aja ya Mil. Biar lebih enak!" ucap Bu Suci.
"Iya Bu."
"Duduk Mil!"
Mila kemudian duduk di dekat Bu Suci.
Begitulah hari-hari Mila selama Bu Suci sakit. Di samping mengerjakan pekerjaan rumah, dia juga harus mengurus dan melayani semua keperluan Bu Suci.
Mulai dari menemaninya berjemur setiap pagi, menyiapkan makan, menuntun dia ke kamar mandi dan yang lainnya. Dan kegiatan itu Mila lakukan sampai malam hari. Karena Bu Suci belum bisa apa-apa sendiri. Setelah Bu Suci tidur, barulah Mila bisa beristirahat.
Karena kesibukan Mila itu, membuat Mila melupakan Aluna anaknya.
"Kalau kamu kangen sama Aluna, kamu telpon aja Bu Retno," ucap Bu Suci.
"Aluna kan hari ini sekolah bu. Dia pasti nggak ada di rumah lah."
"Ya coba aja telpon. Kamu kan udah lama nggak telpon Bu Retno. Setidaknya kamu tanya-tanya kabar dia sekarang. Walau bagaimanapun juga, dia kan pernah jadi mertuamu. Walau kamu dan Adnan sudah bercerai, ibu harap tetaplah kamu menjaga tali silaturahim sama ibunya Adnan."
Mila tersenyum. Bu Suci memang orang yang baik. Dia orang kaya raya, namun dia sangat dermawan dan bijaksana. Makanya di usianya yang sudah tidak lagi muda, dia masih disegani oleh orang banyak termasuk para karyawannya di kantor.
"Iya Bu. Aku mau ambil hape aku dulu."
Mila bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan ke teras samping rumah untuk mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Setelah itu Mila pun kembali menemui Bu Suci di ruang tengah.
"Ayo telpon Bu Retno sekarang. Kamu tanyakan kabar Aluna sama dia."
"Iya Bu."
Mila kemudian menekan nomer Bu Retno.
Beberapa saat kemudian, suara Bu Retno sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo, assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam Bu. Bu Retno bagaimana kabarnya?"
"Mila. Tumben kamu nelpon."
"Aku kangen sama Aluna Bu. Aku pengin tahu kabarnya Aluna."
"Aluna lagi ada di kamarnya. Dia lagi sakit Mil."
"Sakit? Aluna sakit apa Bu?"
"Panas udah tiga hari nggak turun-turun."
"Astaghfirullahaladzim. Kenapa Aluna bisa sakit?"
"Ibu juga nggak tahu. Soalnya sejak ibu sakit, ibu jadi kurang memperhatikan Aluna."
"Ibu sakit? ibu sakit apa?"
"Ibu di diagnosa penyakit paru-paru Mil."
__ADS_1
"Ya Allah Bu. Yang sabar ya Bu."
"Iya. Makanya, seminggu sekali ibu harus ke rumah sakit untuk kontrol."
"Kalau ibu sakit, terus siapa yang ngurusin Aluna Bu? apa Monika mau ngurusin Aluna?"
"Nggak lah Mil. Mana mau Monika ngurusin anak kamu. Dia nggak sayang sama anak kamu. Dia cuma sayang sama Adnan saja. Buktinya, dia nggak mau perhatian sama Aluna. Tapi kamu tenang aja, Aluna baik-baik saja karena ada Sulis."
"Sulis? siapa Sulis?"
"Pembantu baru di rumah ini. Tapi dia baik kok sama Aluna."
"Jadi Aluna mau sama Sulis?"
"Iya. Dia sakit juga Sulis yang ngurusin. Karena Monika itu sekarang manja banget. Dia nggak mau bantu-bantu mengerjakan pekerjaan rumah. Dia cuma bisa makan tidur doang Mil di sini."
"Masa sih Bu?"
"Iya. Apalagi sekarang dia sedang hamil. Manjanya udah nggak ketulungan."
"Jadi Monika sudah hamil. Udah berapa bulan Bu?"
"Hampir tiga bulan."
"Oh syukurlah kalau begitu. Dan beruntung banget kalau ada orang yang mau baik sama anak aku seperti Sulis."
"Iya Mil. Untung ada Sulis di sini. Jadi kita semua nggak terlalu kerepotan."
"Bu, boleh aku bicara dengan Aluna?"
"Tapi Alunanya baru saja tidur Mila. Dia baru minum obat tadi."
"Iya. Bu Suci sudah mendingan?"
"Sudah Bu. Sakit di kakinya sedikit-sedikit sudah mulai membaik. Tinggal latihan jalan aja."
"Syukurlah. Titip salam ya untuk Bu Suci. Ibu tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Setelah saluran telpon itu terputus Mila meletakan ponselnya di atas meja.
"Bagaimana Mil? apa kata Bu Retno tadi?" tanya Bu Suci.
"Aluna lagi sakit Bu. Panasnya udah tiga hari belum turun-turun," jawab Mila.
"Ya Allah kasihan sekali."
"Dan Bu Retnonya juga lagi sakit. Jadi dia nggak bisa ngurusin Aluna."
"Terus siapa yang sekarang ngurusin Aluna?"
"Sulis. Katanya sih pembantu barunya Mas Adnan."
Bu Suci diam dan mulai berfikir.
Kasihan Mila, karena sibuk ngurusin aku, dia jadi jauh dengan anaknya. Dan sekarang anaknya sakit.
__ADS_1
Bu Suci menatap Mila lekat.
"Mil, kamu dan Zaki besok harus ke sana untuk lihat kondisi Aluna."
"Iya Bu. Tapi ibu sama siapa nanti? apa ibu mau ikut kami?"
"Ibu sendiri juga nggak apa-apa. Syukur-syukur, Bik Inah besok udah datang."
"Iya Bu. Nanti aku ke sana jengukin Aluna."
****
Pagi ini Zaki, Mila dan Bu Suci sudah berada ruang makan. Mereka masih menikmati sarapannya di pagi ini.
"Zak, kapan Bik Inah mau datang ke sini?" tanya Bu Suci pada Zaki.
"Nggak tahu Ma. Katanya sih hari ini. Mungkin kalau nggak siang ya nanti sore," jawab Zaki.
Mila menatap Bu Suci dan Zaki bergantian.
"Siapa sih Bik Inah, apa sebelumnya dia pernah kerja di sini?" tanya Mila penasaran. Karena sejak tadi Bu Suci dan Zaki masih membahas soal Bik Inah.
"Iya. Bik Inah itu pembantu yang dulu paling lama kerja di sini. Dia sudah kerja di sini, sewaktu ayahnya Zaki masih hidup. Dan dia sekarang mau kembali lagi kerja di sini," jelas Bu Suci.
"Oh..." Mila manggut-manggut mengerti .
Di sela-sela kunyahannya, Bu Suci menatap Zaki lekat.
"Zaki, kapan kamu ada waktu?" tanya Bu Suci.
Zaki mengernyitkan alisnya.
"Waktu untuk apa Ma?"
"Aluna lagi sakit. Apa kamu bisa antarkan Mila untuk ketemu Aluna?"
Zaki terkejut saat mendengar ucapan Bu Suci.
"Apa! Aluna sakit? Aluna sakit apa memang Ma?"
"Mama juga nggak tahu. Katanya sih, dia demam. Tapi sudah tiga hari panasnya nggak turun-turun" jelas Bu Suci.
Zaki menatap Mila lekat. Dia merasa kecewa pada Mila, karena Mila tidak pernah menceritakan apa-apa tentang Aluna.
"Kok kamu nggak pernah bilang sama aku kalau Aluna sakit Mil?"
"Maaf Mas. Aku memang sengaja nggak bilang soal ini, karena aku takut kamu jadi kefikiran dengan Aluna."
"Mila, kamu itu calon istri aku, dan Aluna juga calon anak aku. Kalau ada apa-apa sama Aluna, kamu harusnya bilang sama aku Mil."
"Maaf ya Mas. Aku sebenarnya nggak mau ngerepotin kamu. Dan aku juga nggak mungkin ninggalin ibu sendirian di rumah. Kalau pergi siapa yang akan jagain ibu. Kan kamu kerja dan sering pulang malam."
"Ibu kan bisa ikut. Kita ke sana sama-sama jengukin Aluna. Bila perlu, kita bawa Aluna tinggal di sini lagi," ucap Zaki mengusulkan.
Tampaknya Zaki sangat mengkhawatirkan kondisi Aluna.
Di sela-sela Zaki, Bu Suci dan Mila ngobrol, ketukan pintu depan terdengar dari luar rumah.
__ADS_1
"Aku buka pintu dulu ya Mas, Bu," ucap Mila.