
Sore ini, Adnan masih berada di dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Tampaknya Adnan merasa lelah, karena sudah sejak tadi pagi dia muter-muter mencari pekerjaan, namun belum ada satu pun kantor yang mau menerima Adnan.
Adnan memang sudah berpengalaman, dan dia juga pernah menjabat sebagai seorang manager di kantornya yang dulu.
Namun itu semua tidak menjadi jaminan, Adnan akan langsung diterima kerja. Dan juga belum ada lowongan yang cocok untuk Adnan.
"Udah muter-muter aku nyari kerjaan, tapi nggak ada lowongan yang cocok untuk aku. Ada lowongan juga bagian office boy. Aku tahu gaji office boy itu sedikit. Dan aku butuh pekerjaan yang gajinya besar. Karena kebutuhan aku juga besar," ucap Adnan di sela-sela menyetirnya.
"Kalau aku terima lowongan office boy itu, mana bisa aku bayar hutangku pada Wira, biayai Monika melahirkan, biayai berobat ibu, dan bayar Sulis," lanjutnya.
Adnan tampak bingung sekarang. Pesangon dari Pak Erwin kemarin, dia gunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Jika uang pesangon itu Adnan habiskan untuk bayar hutang, Adnan tidak tahu bagaimana caranya untuk dia bayar Sulis bulan ini dan dari mana uang untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.
"Aku nggak mungkin, pakai uang pesangon untuk bayar hutangku pada Wira. Karena aku mau gunakan uang itu untuk bayar Sulis bulan ini. Dan sisanya mau aku simpan untuk kebutuhan makan sehari-hari," ucap Adnan.
Beberapa saat kemudian, mobil Adnan sudah sampai di depan rumahnya. Adnan turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Mas, gimana. Kamu sudah dapat kerjaan?" tanya Monika buru-buru menghampiri Adnan.
Adnan menggeleng. Dia lantas menghempaskan tubuhnya dan duduk di atas sofa.
"Mas, kamu kok diam aja sih? gimana tadi Mas?"
Adnan menatap Monika lekat.
"Ternyata, nyari kerjaan sekarang itu susah Mon. Tidak semudah dulu. Nggak ada lowongan yang bagus Mon untuk aku. Ada juga office boy."
Monika terkejut saat mendengar ucapan Adnan.
"Apa! office boy? terus kamu terima lowongan itu?"
"Ya nggak lah Mon. Office boy itu gajinya sedikit. Minimal staf kantor lah, baru aku mau."
Monika menghela nafas dalam. Setelah itu dia mengusap-usap perutnya yang besar.
"Seandainya aku lagi nggak hamil, aku juga pasti akan cari kerjaan Mas. Aku udah nggak betah nganggur seperti ini. Aku nggak pernah pegang uang banyak sekarang. Pegang uang cuma untuk makan-makan saja. Aku benar-benar nggak sanggup Mas."
Adnan diam dan tampak berfikir.
"Mon, kita harus bicara sama Sulis. Kita sudah tidak bisa mempekerjakan dia lagi di rumah ini. Karena kita sudah tidak bisa untuk bayar dia. Aku cuma punya uang untuk bayar dia bulan ini. Dan bulan-bulan berikutnya, sepertinya aku nggak akan sanggup untuk bayar Sulis."
"Terserah kamu kalau itu Mas."
****
__ADS_1
Pagi ini, Bu Retno, Adnan dan Monika masih bercakap-cakap di ruang tengah. Setelah sarapan selesai, seperti biasa, mereka berkumpul sejenak di ruang tengah untuk membicarakan kondisi keuangan keluarga.
"Mas, Bu, aku ke kamar dulu ya. Perut aku sakit. Aku mau ke toilet," ucap Monika.
Adnan dan Bu Retno hanya mengangguk. Setelah itu Monika pun pergi untuk ke kamar mandi.
"Adnan, kita harus bicara sama Sulis sekarang," ucap Bu Retno.
"Iya Bu. Di mana Sulis sekarang?"
"Sepertinya dia masih di dapur Adnan."
"Sulis...! Sulis...!" seru Bu Retno.
Sulis yang dipanggil buru-buru mendekat ke ruang tengah untuk menemui Bu Retno.
"Iya Bu, ada apa?" tanya Sulis.
"Ada sesuatu yang mau saya bicarakan sama kamu Sulis," ucap Adnan.
"Duduklah Sulis!" pinta Bu Retno.
Sulis kemudian duduk.
"Bu Retno dan Pak Adnan mau bicara apa?" tanya Sulis.
"Sulis, sepertinya saya sudah tidak bisa mempertahankan kamu untuk kerja di sini. Kamu bisa kembali ke yayasan dan mencari pekerjaan lain," ucap Adnan tanpa basa-basi lagi.
Sulis diam. Dia sama sekali tidak terkejut mendengar ucapan Adnan. Karena dia tahu kondisi keluarga Adnan saat ini.
"Iya Pak. Saya tahu, kondisi keluarga bapak sekarang. Dan saya ikut prihatin ya Pak atas musibah yang sedang menimpa keluarga bapak."
Adnan dan Bu Retno tersenyum. Sebenarnya mereka berat untuk melepaskan Sulis. Karena Sulis itu wanita yang rajin, dan jujur. Mereka juga sudah menganggap Sulis seperti keluarga sendiri.
Begitu juga dengan Sulis, walau dia belum ada setahun bekerja di rumah Bu Retno, namun dia juga berat untuk berpisah dan meninggalkan keluarga majikannya itu. Karena Bu Retno dan Adnan sudah sangat baik padanya.
"Sulis tunggu sebentar ya," ucap Adnan.
Adnan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun melangkah ke kamarnya untuk mengambil uang gaji Sulis.
Beberapa saat kemudian, Adnan dan Monika keluar dari kamar mereka. Mereka duduk kembali di ruang tengah.
"Sebenarnya saya sedih Sulis, kamu harus pergi dari rumah saya. Tapi mau bagaimana lagi, keluarga saya sedang terkena musibah. Mas Adnan baru di PHK dari kantornya. Dan dia juga belum mendapatkan pekerjaan lagi. Kami tidak punya uang untuk menggaji kamu. Karena kamu kan tahu, cuma suami saya yang menjadi tulang punggung keluarga, kalau suami saya ngangur, ya otomatis keuangan kita juga ikut hancur," ucap Monika panjang lebar.
"Iya Bu. Saya mengerti Bu. Saya juga sebenarnya berat untuk meninggalkan majikan seperti kalian. Karena kalian sudah sangat baik sama saya. Belum tentu nanti saya bisa mendapatkan majikan seperti kalian lagi. Saya sebenarnya juga sedih harus meninggalkan rumah ini," ucap Sulis dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Monika tersenyum. Dia kemudian mendekati Sulis dan memeluknya.
"Jangan sedih Sulis. Kamu itu wanita yang baik, rajin, dan jujur. Di manapun kamu bekerja, semua orang juga pasti akan suka dengan kinerja kamu."
Sulis melepaskan pelukannya. Setelah itu dia mengusap air matanya.
"Ini Sulis, gaji kamu untuk bulan ini. Maaf, saya tidak bisa memberikan lebih untuk kamu," ucap Adnan sembari menyodorkan amplop coklat yang berisi uang pada Sulis.
Sulis menerima amplop coklat itu.
"Makasih banyak Pak Adnan. Mungkin saya akan kembali ke yayasan untuk mencari pekerjaan yang lain. Saya akan telpon Bu Nuri dulu agar dia mau menjemput saya nanti sore."
"Ya, silahkan Sulis," ucap Adnan.
Sore ini, Sulis sudah mengepaki semua baju-bajunya ke dalam tasnya. Dia akan pergi kembali ke yayasan untuk mencari pekerjaan yang lain. Karena Sulis juga masih sangat membutuhkan pekerjaan.
Setelah semuanya siap, Sulis keluar dari kamar dan melangkah ke ruang tengah untuk menemui majikannya.
"Sulis, kamu mau pergi sekarang?" tanya Monika.
"Iya Bu Monika. Saya mau pulang ke yayasan. Saya juga sudah telpon Bu Nuri untuk menjemput saya ke sini."
"Oh. Begitu."
"Pak Adnan kemana?" tanya Sulis.
"Tadi dia keluar. Nggak tahu mau kemana," jawab Bu Retno.
Sebelum pergi, Sulis berpamitan pada Monika dan Bu Retno.
"Bu Monika saya pergi dulu ya," ucap Sulis.
"Iya Sulis. Hati-hati di jalan ya."
Setelah berpamitan pada Monika, Sulis kemudian berpamitan pada Bu Retno.
"Bu, aku pergi ya. Ibu jaga diri ibu baik-baik. Jangan lupa, minum semua obatnya. Walau Sulis nggak ada, ibu harus tetap jaga kesehatan ibu. Jaga pola makan ibu, jangan stres dan jangan kelelahan," ucap Sulis.
Tampaknya Sulis sangat berat untuk meninggalkan Bu Retno. Karena Sulis tahu, Monika tidak pernah sayang pada ibu mertuanya. Selama ini, Sulis yang selalu mengurus Bu Retno waktu Bu Retno sakit. Sementara Monika, dia tidak pernah perduli pada Bu Retno.
Setelah berpamitan pada majikannya, Sulis pun kemudian keluar dari rumah Bu Retno. Dia berjalan sampai keluar gerbang.
Sesampainya di depan gerbang, sebuah mobil meluncur menghampiri Sulis.
"Sulis. Ayo masuk!" pinta Bu Nuri.
__ADS_1
Sulis kemudian masuk ke dalam mobil Bu Nuri. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah Bu Retno.