
Sore ini Mila masih duduk di teras depan rumah. Sejak tadi dia masih mencoba untuk menghubungi keluarganya di kampung.
Mila menekan nomer ayahnya. Suara seorang lelaki tiba-tiba saja terdengar dari balik telpon.
"Halo..."
"Assalamualaikum Pak. Ini Mila Pak. Bagaimana kabar bapak?"
"Wa'alakiumsalam, Mila. Kabar bapak baik Nak. Kamu gimana kabarnya? bagaimana kabar Adnan dan Aluna ? mereka juga baik kan?"
"Pak, Mila mau bilang sama bapak, kalau Mila sudah nggak sama Mas Adnan lagi Pak."
"Apa! apa maksud kamu Nak?"
"Mila sudah lama cerai dari Mas Adnan. Bahkan sekarang Mas Adnan sudah menikah lagi dengan wanita lain. Dan istrinya sekarang sedang hamil Pak."
"Apa! soal sebesar ini, kamu nggak pernah cerita ke bapak, kenapa Mil! apa kamu sudah nggak menganggap bapak dan ibu mu ini orang tua mu."
"Maafkan Mila Pak. Mila takut penyakit jantungnya ibu kumat lagi kalau mendengar kabar ini. Jadi Mila sengaja merahasiakan semua ini dari kalian. Mila nggak mau bapak dan ibu ikut kefikiran dengan masalah Mila."
"Mila, walau ibu kamu sakit jantung, tapi setidaknya kamu bilang soal ini sama bapak. Agar bapak tahu, masalahnya. Bapak ini orang tua kamu Nak. Bapak sayang sama kamu. Kalau begini kan bapak jadi kecewa. Bapak merasa kalau bapak ini sudah tidak dihargai lagi sebagai orang tua."
"Maafkan Mila ya Pak. Mila nggak ada maksud untuk membuat bapak kecewa."
"Terus sekarang kamu tinggal di mana Mila? tidak mungkin kan, kamu masih tinggal sama Adnan."
"Aku tinggal di rumah Mas Zaki Pak."
"Siapa Mas Zaki itu?"
"Dia calon suami Mila Pak."
"Apa! calon suami? kamu punya calon suami saja bapak sampai tidak tahu. Kebangetan kamu Mila. Anak macam apa kamu ini Mila. Kenapa semua kamu rahasiakan dari bapak dan ibu."
"Maaf kan Mila ya Pak. Mila sudah membuat bapak kecewa. Mila nggak ada maksud untuk merahasiakan semua ini dari bapak. Mila cuma belum siap aja bilang ke bapak soal masalah Mila yang sekarang. Tapi Mila janji, mulai sekarang Mila nggak akan merahasiakan apa-apa lagi dari bapak."
Sejenak ayah Mila terdiam.
"Halo... halo Pak... bapak masih di situ kan?"
"Iya. Halo..."
"Pak, Mila mau pulang kampung. Sekalian Mila mau jelasin semuanya sama bapak dan ibu."
"Tidak usah. Biar bapak dan ibu saja yang ke Jakarta. Kamu kasih saja alamat kamu yang sekarang. Kami besok akan ke sana."
"Apa! bapak yakin?"
"Yakin Mila. Bapak akan ngajak ibu kamu juga. Bapak ingin melihat kondisi kamu di sana."
__ADS_1
"Iya Pak. Mila tunggu ya."
"Ya udah, kalau begitu. Sudah dulu ya Mila. Sudah sore, bapak mau siap-siap ke mushola. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Setelah menutup saluran telponnya, Mila masuk ke dalam rumah. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Selama ini Mila tidak pernah mengecewakan ayahnya. Dan sekarang dia menyesal telah membuat ayahnya kecewa.
"Maafkan Mila Pak, sudah membuat bapak kecewa," ucap Mila tampak sedih.
Di sela-sela Mila melamun, suara salam terdengar dari luar rumah. Beberapa saat kemudian, Zaki masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di ruang tengah, dia tersenyum saat melihat Mila.
"Sayang, kamu kenapa? Kok nggak jawab salam aku?" tanya Zaki.
Mila yang diajak bicara hanya diam. Tampaknya dia tidak merasakan kedatangan Zaki. Karena sejak tadi, Mila masih sibuk dengan lamunannya.
Zaki menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan duduk di dekat Mila. Setelah itu dia menepuk bahu Mila pelan. Mila terkejut saat melihat Zaki yang tiba-tiba saja sudah duduk di dekatnya.
"Mas Zaki. Kamu nggagetin aja sih. Kamu udah dari tadi di sini?" tanya Mila.
Zaki tersenyum.
"Kamu lagi ngelamunin apa sayang?"
"Itu Mas. Barusan aku telpon bapak aku di kampung."
"Aku ceritakan semua masalah aku sama bapak. Dan bapak marah sama aku Mas. Dia kecewa sama aku, karena aku tidak pernah menceritakan tentang perceraianku dengan Mas Adnan."
"Terus, kamu cerita tentang aku juga?"
"Iya Mas. Kata bapak, bapak mau datang ke sini Mas. Dan kita tidak perlu ke kampung. Karena orang tuaku yang akan datang ke sini."
"Kamu serius?"
"Aku serius Mas. Mereka mau datang ke sini, untuk melihat kondisiku."
"Kapan?"
"Nggak tahu. Bapak bilang sih besok. Tapi aku nggak tahu besok kapan."
"Ya udah, kamu nanti telpon lagi aja bapak kamu. Bilang ke dia, kalau sudah sampai terminal suruh orang tua kamu, hubungi aku. Biar aku yang jemput mereka ke terminal."
"Iya Mas. Nanti aku akan hubungi mereka lagi. Sekalian aku mau tanya, kapan bapak dan ibu mau datang ke sini."
"Ya udah sayang, aku ke kamar dulu ya. Aku gerah, mau mandi sekalian ganti baju."
"Iya Mas."
__ADS_1
Zaki bangkit dari duduknya. Setelah itu Zaki pun pergi meninggalkan Mila.
****
Sore ini, sepasang suami istri sudah sampai di terminal. Dia Pak Jono dan Bu Ningsih ke dua orang tua Mila. Mereka sengaja datang dari kampung untuk bertemu dengan Mila di Jakarta.
Seperti janji Zaki waktu itu, Zaki akan menjemput ke dua orang tua Mila setelah mereka sampai di terminal.
"Pak, ayo telpon Mila! bilang kalau kita sudah sampai terminal," pinta Bu Ningsih ibu Mila.
"Iya Bu," ucap Pak Jono ayah Mila.
Pak Jono mengambil ponsel yang ada di dalam saku bajunya. Setelah itu dia pun menelpon Mila.
"Halo Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam Mil. Bapak dan ibu sudah sampai di terminal ini Mil."
"Oh... iya Pak. Tunggu saja Mas Zaki ya Pak. Katanya Mas Zaki udah meluncur ke sana. Sekarang dia lagi ada di perjalanan ke terminal. Bapak dan ibu tunggu saja di sana."
"Iya. Ya udah dulu ya Mil. Bapak mau nungguin Zaki di sini."
"Iya Pak."
Setelah menelpon Mila, Pak Jono menatap istrinya.
"Bagaimana Pak? apa kata Mila?" tanya Bu Ningsih.
"Katanya, Zaki sudah ada di perjalanan Bu," jawab Pak Jono.
"Jadi dia udah mau ke sini?"
"Iya Bu."
"Ya udah, kalau begitu kita tunggu saja di sini Pak."
"Iya Bu. Ayo kita cari tempat duduk!"
"Iya Pak."
Pak Jono dan Bu Ningsih kemudian pergi untuk mencari tempat duduk.
Setelah lama menunggu, akhirnya Zaki orang yang ditunggu-tunggu Bu Ningsih dan Pak Jono muncul juga. Zaki tersenyum saat melihat ke dua orang tua Mila. Dia kemudian buru-buru menghampiri Pak Jono dan Bu Ningsih.
"Kalian ibu dan bapaknya Mila ya?" terka Zaki.
"Iya, benar. Apa kamu yang bernama Nak Zaki?" tanya Bu Ningsih.
"Iya. Saya Zaki Bu, Pak."
__ADS_1
Zaki kemudian mencium punggung tangan Bu Ningsih dan Pak Jono.