Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Rencana Zaki


__ADS_3

Pagi ini, seorang suster masuk ke dalam ruangan Bu Suci. Seperti biasa, setiap pagi suster akan memeriksa semua pasiennya.


Suster terkejut saat melihat jari-jari Bu suci bergerak-gerak.


"Lho, jarinya bisa gerak sendiri. Apakah ini pertanda baik untuk ibu ini," ucap suster itu.


Suster menatap wajah Bu Suci. Bu Suci tampak mengerjapkan matanya. Tampaknya itu sebuah pertanda kalau Bu Suci mau siuman.


Suster tidak tinggal diam. Dia keluar dari ruangan Bu Suci untuk memanggil dokter. Suster akan memberi tahu dokter kalau sudah ada keajaiban pada pasien atas nama Bu Suci.


Di sisi lain, Mila dan Zaki masih berada di sebuah warung makan yang ada di dekat rumah sakit. Mereka membeli makan untuk sarapan mereka pagi ini. Setelah membeli dua bungkus nasi dan membeli minuman, mereka kemudian masuk kembali ke dalam rumah sakit.


Mila dan Zaki terkejut saat melihat ke ruangan ibunya. Ada dokter dan suster sudah berada di ruangan itu.


Mila dan Zaki yang penasaran, buru-buru masuk ke dalam ruangan itu. Takut Bu Suci kenapa-kenapa.


"Kenapa dengan mama saya Dok?" tanya Zaki.


Dokter tersenyum.


"Lihat lah, Bu Suci sudah bisa membuka matanya. Ini semua berkat doa kalian. Bu Suci sudah dinyatakan berhasil melewati masa kritisnya. Dan sekarang dia sudah sadar."


Mila dan Zaki saling menatap. Betapa bahagianya mereka, setelah tiga hari mereka menunggu akhirnya Bu Suci sadar juga.


"Alhamdulillah," ucap Mila dan Zaki bersamaan.


Mereka kemudian buru-buru mendekat ke arah Bu Suci.


"Bu Suci, ibu sudah sadar?" ucap Mila.


Bu Suci hanya mengerjap-erjapkan matanya. Tampaknya dia masih sulit untuk bicara.


"Mama, aku seneng banget Mama sadar. Sudah tiga hari mama pingsan."


"Pak Zaki, Bu Mila, tolong ya. Kalian berdua keluar dulu. Saya akan memeriksa kondisi Bu Suci dulu. "


"Oh iya Dok."


Zaki dan Mila kemudian keluar dari ruangan itu untuk memberi waktu dokter memeriksa Bu Suci.


Setelah memeriksa Bu Suci, dokter itu kemudian keluar dari ruangan itu. Zaki dan Mila buru-buru menghampiri dokter.


"Dokter, bagaimana kondisi mama saya?" tanya Zaki.


"Ibu anda, sudah bisa melakukan operasi sekarang, karena kondisinya sudah normal kembali."

__ADS_1


"Alhamdulillah. Dokter, lakukan operasi sekarang Dok. Saya ingin kaki ibu saya segera sembuh."


"Baik. Kami akan mempersiapkan semuanya. Tunggu dua jam lagi."


"Iya Dok. Lakukan yang terbaik untuk ibu saya. Biar ibu saya bisa cepat saya ajak pulang ke Jakarta."


"Iya siap Pak Zaki. Kalau begitu, saya permisi dulu.


Dokter kemudian pergi meninggalkan Zaki.


"Mila, doakan mamaku ya. Agar mama aku bisa cepat sembuh dan dilancarkan operasinya."


"Iya Mas. Aku akan doakan untuk kesembuhan mama kamu."


***


Setelah operasi selesai, Bu Suci sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Mila dan Zaki sejak tadi masih menemani Bu Suci di ruangan itu.


Bu Suci mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap Mila dan Zaki bergantian.


"Zaki, Mila...."


"Mama, mama sudah bangun?"


"Kalian ada di sini?"


Bu Suci menatap ke arah kakinya.


"Kenapa dengan kaki Mama Zaki? kaki Mama sakit sekali dan sangat susah untuk digerakin."


"Mama jangan banyak bergerak dulu. Dokter nyuruh mama untuk istirahat total. Mama itu patah tulang Ma. Tadi mama baru selesai melakukan operasi kaki. Untuk sementara mama nggak akan bisa jalan dulu."


Bu Suci terkejut saat mendengar ucapan Zaki.


"Apa! kenapa mama harus patah tulang Zak. Masih banyak kerjaan yang harus mama urus."


"Mama, aku mohon sama mama, mama pensiun saja udah kerjanya. Serahkan semua urusan mama sama aku. Mama percaya kan, kalau aku bisa gantiin posisi mama."


"Tapi mama kasihan sama kamu Zaki kalau melihat kamu bekerja sendiri. Walau mama sudah tua, tapi mama tetap ingin bantuin kamu."


"Aku bisa Ma, kerja tanpa bantuan mama. Aku juga bisa mengurus banyak proyek di luar kota. Mama serahkan saja semua urusan mama sama aku. Biar semua urusan perusahaan, aku yang tangani."


Bu Suci kemudian menatap Mila yang masih berada di samping Zaki. Dia tersenyum saat melihat Mila.


"Mila, makasih ya kamu sudah mau jauh-jauh datang ke sini untuk nemenin Zaki," ucap Bu Suci.

__ADS_1


"Iya Bu."


Sejak kemarin, Zaki tidak enak makan dan tidak enak tidur karena memikirkan ibunya. Dia sangat takut kehilangan ibunya. Setelah Bu Suci sadar dan bisa di ajak berbincang, Zaki jadi merasa lebih tenang sekarang.


"Mama tenang saja ya. Besok aku akan bawa mama ke Jakarta. Aku nggak mungkin Ma, ninggalin kantor lama-lama. Aku masih punya banyak kerjaan di sana."


"Iya Zaki. Maafkan mama, karena mama sudah banyak merepotkan kamu."


"Aku nggak merasa direpotin kok Ma. Karena Mama itu sudah tanggung jawab aku."


Bu Suci tersenyum. Dia bangga punya anak seperti Zaki. Zaki sangat sayang sama orang tuanya. Namun sayangnya, dia belum mau menikah karena belum menemukan pendamping yang cocok untuk dirinya.


"Zaki, Mila, saya punya rencana untuk kalian," ucap Bu Suci tiba-tiba.


Zaki dan Mila saling menatap. Mereka tidak tahu, apa yang sedang Bu Suci rencanakan saat ini.


"Ibu nggak tahu, kapan ibu akan dipanggil Tuhan Mila. Sebelum ibu meninggal, ibu pengin melihat Zaki menikah. Ibu pengin merasakan punya cucu. Zaki itu harus menikah dan punya anak, untuk meneruskan bisnisnya," ucap Bu Suci.


"Tapi sampai sekarang, Zaki tidak kunjung mengenalkan calon istrinya pada ibu. Jika ibu menyuruh kamu untuk menjadi istrinya Zaki, apa kamu mau Mil?" tanya Bu Suci pada Mila.


Deg.


Mila dan Zaki terkejut saat mendengar ucapan Bu Suci. Mereka tidak menyangka kalau Bu Suci bisa punya fikiran ke arah itu.


Mila dan Zaki saling menatap. Mereka tampak gugup dan tidak tahu akan bicara apa.


"Ma, mama bicara apa sih? mama lagi sakit, kenapa mama malah mau jodohin aku sama Mila."


"Zaki, Mila, saya pengin melihat kalian menikah. Mama rasa, cuma Mila wanita yang pantas untuk menjadi pendamping hidup kamu Zaki. Karena mama sudah mengenal Mila lama. Dia wanita yang sangat baik menurut Mama."


Mila hanya bisa diam. Entah apa yang sedang ada di dalam fikirannya saat ini.


Apa, Bu Suci menyuruh aku menikah dengan Mas Zaki. Apa nggak salah. Aku menikah dengan Mas Zaki, rasanya ini seperti mimpi saja. Aku tahu Mas Zaki itu siapa. Dia pemimpin perusahaan, mana pantaslah dia bersanding denganku dan menjadi suamiku. Apalagi aku ini janda anak satu. Perbedaan kita, bagai bumi dan langit. Mana mungkin kita bisa nikah, batin Mila.


Mila sejak tadi masih memikirkan ucapan Bu Suci. Dia sangat tidak menyangka kalau wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri, menginginkan Mila untuk menjadi menantunya.


"Ma, fikirkan kesembuhan Mama dulu. Mama nggak usah fikirkan macam-macam. Mama fokus dengan kesembuhan mama dulu Ma," ucap Zaki yang tidak mau terlalu memikirkan ucapan ibunya untuk menikahi Mila.


"Iya Zaki. Tapi kapan kamu mau nikah. Kalau kamu belum punya calon pendamping, nggak ada salahnya kalau kamu dan Mila mencoba membuka hati kalian masing-masing. Kalian ini kan sama-sama nggak punya pasangan."


"Bu Suci, Mas Zaki itu lelaki yang sangat sempurna. Dia bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih baik, lebih kaya dari aku. Aku mana pantas Bu, untuk menjadi istri Mas Zaki. Perbedaan kami itu bagai bumi dan langit. Aku saja sekarang sudah janda. Mas Zaki masih bisa kok, cari yang masih gadis." Akhirnya Mila bisa mengucapkan apa yang mengganjal fikirannya tadi.


"Mila, ibu nggak pernah memandang penampilan, fisik, atau harta dari calon menantu ibu. Bagi ibu, dia sayang sama Zaki dan ibu itu sudah lebih dari cukup untuk ibu Mil."


"Sudahlah Ma. Kita bicara kan soal ini nanti saja kalau Mama sudah sembuh. Yang penting untuk sekarang, kesembuhan mama dulu. Kalau soal perjodohan ini, kita bahas nanti saja."

__ADS_1


"Iya Zaki."


__ADS_2