Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Pura-pura baik


__ADS_3

"Makasih ya Mbak udah bawain aku makanan," ucap Aluna


"Iya. Kamu sekarang minum ya," ucap Mbak Sulis.


Aluna mengangguk. "Iya Mbak."


Mbak Sulis kemudian mengambilkan minum untuk Aluna.


"Ini Lun, Minum dulu," ucap Mbak Sulis sembari menyodorkan gelas yang berisi air putih itu ke Aluna.


Aluna meraih gelas itu dan minum sampai setengah gelas.


"Gimana, sekarang udah kenyang kan?" tanya Mbak Sulis.


"Udah Mbak."


"Ya udah, kamu bobo siang aja ya. Nggak usah mikirin apa-apa. Sebentar lagi Papa kamu dan nenek kamu juga pulang. Setelah mereka pulang, kamu bisa bebas dari kurungan ibu tiri kamu itu."


"Iya Mbak."


Setelah memberikan Aluna makan dan minum, Mbak Sulis kemudian buru-buru keluar dari kamar Aluna dan mengunci kamar itu kembali.


Dia takut ketahuan Monika. Karena Monika pasti akan marah besar, kalau tahu Mbak Sulis diam-diam memberikan makan dan minum untuk Aluna tanpa sepengetahuannya.


Waktu saat ini sudah menunjukkan jam lima sore. Deru mobil dari luar rumah terdengar. Adnan dan Bu Retno turun dari mobilnya. Setelah itu Adnan menggandeng ibunya sampai masuk ke dalam rumah.


Akhir-akhir ini kondisi Bu Retno sedang tidak baik-baik saja. Karena penyakit paru-parunya dia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam.


Sesampainya di ruang tengah, Adnan dan Bu Retno menatap sekeliling.


"Kok sepi. Pada ke mana mereka semua Adnan," ucap Bu Retno.


"Ibu duduk dulu di sini. Saya akan panggil Sulis dulu."


"Iya."


Adnan kemudian melangkah ke dapur untuk memanggil Mbak Sulis.


"Sulis," ucap Adnan.


Sulis menoleh ke belakang.


"Eh Pak Adnan. Sudah pulang Pak?"


"Kok sepi banget. Anak dan istri saya ada di mana Sulis?"


"Mereka berdua lagi istirahat di kamarnya masing-masing Pak."

__ADS_1


"Oh. Tolong temani ibu ke kamar ya. Saya capek. Saya juga mau ke kamar."


"Iya Pak."


Sulis melangkah ke ruang tengah. Dia kemudian mengantar Bu Retno ke kamar. Sementara Adnan, dia melangkah ke kamarnya untuk mandi dan istirahat.


Adnan membuka pintu kamarnya. Dia terkejut saat melihat Monika sudah tampil cantik dengan busana minimnya. Sejenak Adnan terpana dengan istrinya. Monika memang selalu tampil cantik di depan Adnan. Karena dia takut Adnan akan berpaling ke lain hati.


"Monika. Tumben banget kamu dandan kayak gini?" Adnan menatap Monika dari atas ke bawah.


"Sayang... kamu udah pulang?" ucap Monika sembari mendekat ke arah Adnan.


"Mana Aluna? dari tadi aku nggak lihat dia. Biasanya dia selalu menyambut kepulangan aku saat aku datang."


"Dia ada di kamarnya."


"Aluna udah mandi?" tanya Adnan.


"Udah dong Mas. Dia juga udah makan. Tadi aku yang mandiin dia dan suapin dia," ucap Monika.


Sebelum Adnan pulang, Monika sudah membuka lebih dulu kamar Aluna. Dia menyuruh Aluna mandi dan makan agar Adnan tidak curiga, kalau Aluna baru saja di kurung di kamar.


Selama ini, Aluna tidak pernah cerita apa-apa ke ayahnya karena dia takut dengan ancaman Monika. Begitu juga dengan Mbak Sulis, dia juga belum berani menceritakan pada Adnan, tentang perlakuan buruk Monika pada Aluna. Karena dia takut Monika memecatnya.


Adnan tersenyum. Dia kemudian mencium kening dan ke dua pipi Monika. Merasa bangga telah memiliki istri seperti Monika.


Monika tersenyum. Dia kemudian menggandeng suaminya dan menyuruh suaminya duduk.


Adnan dan Monika kemudian duduk di sisi ranjang.


Monika meraih tangan Adnan dan meletakan tangan Adnan di atas perutnya.


"Mas, kamu nggak kangen sama calon anak kita?" tanya Monika.


"Ya kangen lah. Aku juga udah pengin lihat wajahnya."


"Kamu pengin punya anak cewek apa cowok Mas?"


"Kalau cewek aku sudah punya Aluna. Jadi aku pengin anak cowok."


"Kalau gitu sama dong. Aku juga pengin punya anak cowok. Baru nanti anak ke dua kita cewek."


"Perut kamu masih rata sayang. Sepertinya janinnya masih kecil," ucap Adnan sembari mengusap-usap perut istrinya.


"Ya iyalah Mas. Baru menginjak tiga bulan. Aku aja masih sering muntah-muntah. Aku juga udah nggak sabar Mas, pengin anak kita lahir. Enam bulan lagi Mas, penantian kita menunggu anak ini lahir," ucap Monika.


Monika tampak bahagia karena sudah bisa mendapatkan Adnan lelaki pujaannya, walaupun dia harus menempuh cara yang salah dengan memfitnah Mila waktu itu. Dan kebahagiaan Monika bertambah lagi saat dia berhasil hamil anak Adnan. Namun entah akan sampai kapan kebahagiaan Monika itu.

__ADS_1


***


Mila sejak tadi masih berada di teras samping rumah Bu Suci. Dia masih menemani Bu Suci berjemur. Sejak tadi, Mila masih tampak diam. Mila tampaknya sedang memikirkan sesuatu.


Mungkin saat ini dia sedang memikirkan Aluna. Sudah tiga bulan lebih Mila belum bertemu anaknya lagi. Semenjak dia sibuk mengurusi Bu Suci, dia jarang berkomunikasi dengan Aluna walaupun itu cuma lewat telepon. Biasanya Mila sering menelepon Aluna lewat ponselnya Bu Retno.


"Mila, kamu kenapa diam aja? apa yang lagi kamu fikirkan?" tanya Bu Suci.


Mila yang ditanya hanya diam. Dia sepertinya tidak mendengar ucapan Bu Suci karena masih disibukkan dengan lamunannya.


Bu Suci menepuk bahu Mila pelan. Membuat Mila terkejut dan lantas menatap Bu Suci.


"Eh iya Bu. Kenapa Bu?"


"Kamu kenapa diam aja dari tadi? kamu lagi mikirin Aluna ya?" tanya Bu Suci.


Mila hanya mengangguk.


"Kalau kamu mau ketemu dia, silahkan saja kamu datang ke sekolahnya."


"Tapi Bu, aku nggak tega ninggalin ibu sendirian di rumah. Di rumah kan nggak ada siapa-siapa. Dan kalau hari minggu, Aluna juga libur sekolah. Kalau aku ngajakin Mas Zaki untuk ketemu Aluna, siapa nanti yang akan jagain ibu di rumah."


"Kamu nggak usah khawatir. Nanti sore Zaki akan bawa asisten rumah tangga untuk bantu-bantu di rumah ini dan bantu-bantu untuk jagain ibu."


Mila terkejut saat mendengar ucapan Bu Suci.


"Yang benar Bu? akan ada pembantu baru di rumah ini?" Mila menatap Bu Suci lekat.


"Iya. Dan kamu nggak akan terlalu capek ngurusin rumah dan ngurusin ibu."


Mila tersenyum.


"Pasti Mas Zaki kan yang udah merencanakan semua ini. Kemarin dia bilang, kalau dia akan nyari asisten rumah tangga untuk di rumah ini. Dia nggak mau aku kecapean karena harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri."


"Zaki itu sayang sama kamu Mila. Dia nggak mau kamu kecapean. Coba saja kalau dia sudah jadi suami kamu, kamu pasti akan diratukan oleh dia."


"Masa sih Bu?"


"Iya. Lihat aja nanti. Zaki itu mirip ayahnya. Dia itu lelaki yang romantis dan perhatian. Walaupun tampangnya terlihat dingin, tapi dia baik. Ayah Zaki juga mirip sama Zaki. Dia juga lelaki yang setia. Pasti Zaki mempunyai kemiripan dengan mendiang ayahnya."


"Semoga ya Bu, aku bisa berjodoh dengan Mas Zaki. Aku juga sudah terlanjur nyaman dengan dia."


"Di sini udah mulai panas Mil. Ibu pengin masuk ke dalam."


"Iya Bu."


Mila bangkit dari duduknya. Setelah itu Mila pun mendorong kursi roda bu Suci sampai masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2