
"Ayo Bu, Pak. Kita masuk ke mobil! Pasti Mila sekarang sudah nungguin di rumah," ajak Zaki pada ke dua orang tua Mila.
"Oh. Iya Nak Zaki," ucap Bu Ningsih.
Ke dua orang tua Mila kemudian masuk ke dalam mobil Zaki.
Begitu juga dengan Zaki. Dia juga mengikuti ke dua orang tua Mila masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka meluncur pergi meninggalkan terminal.
"Nak Zaki, terimakasih ya sudah jemput kami ke terminal," ucap Bu Ningsih pada Zaki.
Zaki tersenyum.
"Iya Bu, sama-sama. Lagian, sudah tugas saya untuk menjemput kalian," jelas Zaki di sela-sela menyetirnya.
"Maaf ya kalau kami sudah merepotkan Nak Zaki. Sebenarnya Nak Zaki tidak usah repot-repot menjemput kami. Kami kan masih bisa naik taksi," ucap Pak Jono.
"Nggak apa-apa Bu, Pak. Saya sama sekali tidak merasa direpotin kok."
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari terminal sampai ke rumah Bu Suci, akhirnya Zaki dan ke dua orang tua Mila pun sampai juga di depan rumah Bu Suci.
Zaki dan ke dua orang tua Mila turun dari mobil. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah Bu Suci.
"Assalamualaikum," ucap Bu Ningsih dan Pak Jono bersamaan.
"Wa'alakiumsalam," jawab Zaki sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Bu Ningsih dan Pak Jono menatap sekeliling rumah Bu Suci. Rumah mewah tiga lantai yang tampak luas dengan banyak hiasan barang-barang antik di dalamnya.
"Wah, rumahnya besar sekali," gumam Bu Ningsih.
"Beda banget sama rumah Mila dulu waktu sama Adnan," ucap Pak Jono menimpali.
Tampaknya Pak Jono dan Bu Ningsih baru pernah masuk ke dalam rumah mewah seperti rumahnya Bu Suci. Sehingga mereka tampak terkagum-kagum saat melihat isi rumah itu.
Banyak barang-barang antik yang terpajang di sisi-sisi rumah itu. Seperti guci, lukisan, patung, dan yang lainnya. Dan itu semua peninggalan dari almarhum ayahnya Zaki yang dulu suka sekali mengoleksi barang-barang antik. Sampai sekarang, barang-barang itu masih tersimpan dengan baik untuk menjadi kenangan Zaki dan menjadi barang kesayangan Bu Suci.
"Kayak rumahnya artis di tivi-tivi itu ya Pak," ucap Bu Ningsih.
Zaki hanya tersenyum saat mendengar bisik-bisik ke dua orang tua Mila.
"Mila di mana Nak Zaki?" tanya Bu Ningsih menatap Zaki lekat.
"Dia ada di dalam Bu. Di ruang tengah," jawab Zaki.
"Oh..."
"Mari masuk Bu, Pak!"
__ADS_1
"Iya Nak Zaki," ucap Pak Jono.
Bu Ningsih dan Pak Jono kemudian berjalan sampai ke ruang tengah mengikuti langkah Zaki. Mereka tersenyum saat melihat Mila, dan Bu Retno yang sudah duduk di ruang tengah.
"Lho, cepat banget sampainya. Tadi katanya Zaki baru keluar dari kantor," ucap Bu Suci.
"Ya karena jalanan lagi lenggang Ma. Jadi aku bisa cepat sampai ke terminal. Kalau biasanya kan macet," sahut Zaki.
"Oh. Begitu..." Bu Suci manggut-manggut.
"Mari Pak, Bu. Silahkan duduk!" Zaki mempersilahkan ke dua orang tua Mila duduk.
Pak Jono dan Bu Ningsih pun kemudian duduk berbaur bersama Mila dan Bu Suci di ruang tengah. Setelah itu mereka menatap sekeliling.
"Mana Aluna?" tanya Bu Ningsih.
"Alunanya lagi ada di kamar mandi Bu," jawab Mila.
"Oh. Ibu sudah kangen sama dia. Sudah lama sekali Mila dan Aluna nggak pulang kampung," ucap Bu Ningsih.
"Sepertinya sudah tiga lebaran Mila nggak pulang." Pak Jono menimpali.
Mila tersenyum.
"Iya Pak. Benar. Mungkin sudah tiga tahun aku nggak pulang," sahut Mila.
Bu Ningsih dan Pak Jono saling menatap. Setelah itu mereka berdua menatap Mila lekat.
"Iya Pak. Udah setahun lebih malah aku cerai dari Mas Adnan," jelas Mila.
"Kamu kenapa nggak bilang-bilang sama ibu dan bapak, kalau kamu sudah cerai dari Adnan," ucap Bu Ningsih tampak kecewa.
"Sebenarnya, aku nggak mau kalian kefikiran sama masalah aku. Aku nggak mau ngerepotin kalian dalam masalah aku dengan Mas Adnan. Dan juga aku takut ibu syok, kefikiran, dan akhirnya jantung ibu kumat lagi. Makanya aku nggak pernah cerita apa-apa ke kalian," jelas Mila.
Pak Jono dan Bu Ningsih saling menatap. Mereka mencoba untuk memaklumi anaknya itu.
"Bik...! Bik Inah...!" seru Bu Suci.
Bik Inah yang dipanggil buru-buru mendekat ke arah Bu Suci.
"Iya Bu. Ada apa?" tanya Bik Inah.
"Tolong bawakan barang-barang orang tuanya Mila ke kamar tamu. Karena mulai nanti malam, mereka akan tidur di kamar tamu."
"Oh baik Bu."
"Setelah itu, buatkan kami semua minum ya."
__ADS_1
"Iya Bu."
Bik Inah segera mengerjakan perintah dari Bu Suci. Dia membawa barang-barang orang tua Mila masuk ke kamar tamu. Setelah itu Bik Inah pun membuatkan minum untuk mereka semua.
"Aluna kok lama banget sih di kamar mandinya, lagi ngapain dia. Apa dia nggak tahu kalau kakek dan neneknya udah datang," gumam Mila.
Mila bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pamit untuk pergi memanggil anaknya.
"Aku panggil Aluna dulu ya di kamarnya," ucap Mila.
Tanpa butuh waktu lama, Mila kemudian pergi untuk memanggil Aluna di kamar.
Tok tok tok...
"Aluna sayang, kamu ngapain di dalam Nak?" ucap Mila dari luar kamar Aluna.
Aluna membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Ma?"
"Itu nenek dan kakek kamu, udah datang. Mereka pengin ketemu kamu."
Aluna tersenyum.
"Nenek dan Kakek udah sampai ya Ma?"
"Iya sayang. Ayo kita temui mereka!"
"Iya Ma."
Mila kemudian merangkul bahu Aluna dan mengajaknya untuk menemui Pak Jono dan Bu Ningsih.
"Kakek, nenek..." seru Aluna.
Bu Suci dan ke dua orang tua Mila, menatap bersamaan ke arah Aluna. Mereka tersenyum saat melihat Aluna.
Aluna buru-buru mendekati kakek dan neneknya yang baru datang dari kampung. Dia kemudian mencium punggung tangan ke duanya.
"Aluna, ayo duduk sini!" ajak Bu Ningsih. Dia mengajak Aluna untuk duduk di sampingnya.
Aluna menurut untuk duduk di tengah-tengah Pak Jono dan Bu Ningsih.
"Aluna, kamu udah besar ya sekarang. Kamu nggak pernah main ke kampung. Terakhir main ke kampung, kamu masih sekolah TK ya," ucap Pak Jono sembari mengusap-usap rambut panjang Aluna.
"Nenek dan kakek kangen sama kamu sayang," ucap Bu Ningsih.
"Aku juga kangen sama kalian," ucap Aluna menatap satu persatu wajah kakek dan neneknya.
__ADS_1
Sejak tadi Aluna masih senyam-senyum sendiri. Dia tampak bahagia saat melihat kedatangan kakek dan neneknya. Sudah lama Aluna tidak main ke kampung dan tidak pernah bertemu kakek dan neneknya. Tampaknya Aluna juga kangen pada kakek dan neneknya.
****