Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Cemburu


__ADS_3

Di sela-sela Mila dan Adnan ngobrol, pintu ruangan Aluna terbuka lebar. Zaki tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Mila, ayo sekarang kita pulang. Kamu juga harus istirahat. Besok aku antar kamu ke sini lagi," ucap Zaki.


Mila mengangguk. Tanpa banyak basa-basi, Mila mengambil tasnya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Adnan sendiri.


Adnan hanya bisa menatap kepergian Mila dan Zaki dengan perasaan sedih dan kecewa.


Andai ya Mil, tidak ada penghalang untuk kita rujuk, pasti aku akan merujuk kamu Mil. Tapi aku sudah punya istri dan dia lagi hamil. Dan kamu juga sekarang sudah milik Pak Zaki," batin Adnan.


Sesampainya di parkiran, Mila dan Zaki masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Di sela-sela menyetirnya, Zaki menatap Mila lekat.


"Sudah dari tadi kamu sama Adnan?" tanya Zaki dengan tatapan yang sulit di artikan.


Mas Zaki kenapa ya, kok tatapannya jadi beda gitu. Apa jangan-jangan dia cemburu, aku berduaan dengan Mas Adnan di ruangan Aluna, batin Mila


"Sudah dari tadi siang Mas."


"Dari tadi siang? emang Adnan nggak ke kantor?"


"Mas Adnan izin dari kantor dan ambil cuti dua hari karena mau jagain Aluna," jelas Mila.


"Oh. Berarti kamu nggak perlu dong ke rumah sakit lagi untuk nungguin anak kamu. Kan sudah ada Adnan yang nungguin Aluna di sana. Kecuali kalau kamu memang pengin berduaan dengan mantan suami kamu itu."


Deg.


Mila terkejut saat mendengar ucapan Zaki. Sebegitu cemburunya kah Zaki pada Adnan.


Mila tidak tinggal diam. Dia meraih salah satu tangan Zaki dan menggenggamnya erat.


"Mas, kamu cemburu ya sama aku?" tanya Mila.


Zaki menggeleng.


"Nggak. Aku nggak cemburu. Untuk apa aku cemburu. Lagian mana mungkin kamu dan Adnan punya hubungan, Adnan kan sudah punya istri."


"Tapi aku tahu kalau kamu cemburu Mas. Kamu nggak bisa menyembunyikannya dari aku Mas. Tapi aku suka kamu cemburu, karena cemburu itu tandanya cinta. Benar kan Mas."


Zaki tersenyum. Dia memang cemburu. Namun, dia tidak bisa marah lama pada Mila. Karena Zaki sangat sayang sama wanita itu.


"Ya deh, aku ngaku. Aku memang cemburu saat melihat kamu duduk berduaan dengan Adnan."


"Kenapa kamu harus cemburu sih Mas. Kan aku udah bilang, kalau aku sekarang itu cuma cinta sama kamu. Dan Mas Adnan itu sudah menjadi masa lalu aku. Aku dekat dengan Mas Adnan, hanya karena Aluna. Aku cuma pengin mengambil Aluna dari tangan Mas Adnan. Makanya aku lagi bujuk Mas Adnan agar dia mau mengembalikan Aluna padaku."

__ADS_1


"Iya sayang, aku setuju kalau untuk hal itu. Terus, rencana kamu apa sekarang?" tanya Zaki.


"Aku mau bawa Aluna untuk ikut tinggal bersama kita. Bagaimana Mas? apa kamu izinkan Aluna tinggal dengan kita?"


Sebelum Mila membawa Aluna ke rumah Bu Suci, Mila juga harus izin dulu sama Zaki atau Bu Suci. Karena Mila juga harus menghargai pemilik rumah.


"Boleh. Kamu ajak saja Aluna tinggal dengan kita. Dari pada dia di rumah ayahnya, mendapat perlakuan buruk dari Monika. Tapi kamu sudah bilang sama Adnan?"


"Udah. Mas Adnan sudah setuju kok. Kata Mas Adnan, sekarang semua terserah Aluna. Kalau Aluna maunya tinggal sama aku, Mas Adnan juga nggak akan melarang aku untuk membawa Aluna."


"Syukurlah kalau suami kamu itu udah sadar, kalau orang yang paling baik merawat anaknya itu cuma ibu kandungnya sendiri. Bukan ibu tiri atau orang lain."


Hoaamm....


"Kamu kenapa? ngantuk?" tanya Zaki.


Milla menganggukan kepalanya.


"Boleh aku pinjam bahunya Mas untuk bersandar?"


"Boleh banget. Sekarang aku kan milik kamu sayang. Kamu bisa sepuasnya meminjam bahu aku. Aku akan berikan semuanya untuk kamu kecuali sesuatu yang itu, karena aku akan memberikannya setelah kita nikah nanti."


Mila tersenyum. Dia tahu, kalau Zaki adalah lelaki yang sangat baik. Walau status mereka sekarang sudah pacaran, namun Zaki masih bisa menahan nafsunya untuk tidak menyentuh Mila.


Mila menyenderkan kepalanya di bahu Zaki. Setelah itu dia mulai memejamkan matanya.


Entah kenapa aku merasa nyaman sekali berada dekat seperti ini dengan Mas Zaki. Aku bahagia banget karena aku masih bisa mendapatkan cinta yang tulus dari Mas Zaki. Aku harap, Mas Zaki akan menjadi jodoh ku dunia akhirat. Karena setelah aku menikah nanti, aku nggak mau ada lagi yang namanya perceraian dalam rumah tanggaku, batin Mila.


Beberapa saat kemudian, mobil Zaki sudah sampai di depan rumahnya.


Zaki menepuk-nepuk pipi Mila untuk membangunkannya.


"Sayang, udah sampai kita sayang. Ayo bangun! kamu bisa lanjutkan lagi tidurnya di kamar."


Mila mengerjapkan matanya. Setelah itu dia menatap sekeliling.


"Udah sampai ya Mas."


"Iya. Sekarang kita turun."


Zaki dan Mila kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu mereka berjalan ke teras depan rumah.


Tok tok tok...


Zaki mengetuk pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, Bik Inah membuka pintu.

__ADS_1


"Eh, Mas Zaki, Mbak Mila. Sudah pulang ya?"


"Iya Bik."


Zaki dan Mila kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di dalam , mereka pun melangkah untuk ke kamarnya masing-masing.


****


Siang ini, Bu Retno masih menyuapi Aluna makan. Kondisi Aluna sudah membaik setelah tiga hari dia dirawat di rumah sakit.


Nanti sore, Aluna sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dan nanti sore, Zaki dan Mila yang akan menjemput Aluna ke rumah sakit. Mereka akan membawa Aluna tinggal dengan mereka.


Setetes air mata Aluna membasahi pipi mulusnya.


"Sayang, kok kamu nangis? kenapa nangis?" tanya Bu Retno sembari mengusap air mata Aluna.


"Aku nggak mau pulang ke rumah nenek. Aku mau pulang ke rumah Mama Mila saja," ucap Aluna.


"Iya. Nenek udah tahu kok dari Papa kamu, kalau kamu mau ikut Mama kamu. Nenek nggak melarang kamu untuk ikut mama kamu. Tapi jangan nangis dong sayang."


"Kenapa Mama Mila nggak datang lagi ke sini. Apa dia nggak jadi jemput aku."


Aluna sepertinya takut kalau Mila tidak akan menjemputnya. Aluna sudah sangat berharap Mila dan Zaki mau menjemputnya dan mau membawa Aluna pergi jauh dari Monika.


"Mungkin Mama Mila lagi sibuk sayang. Nanti dia juga ke sini kok."


"Kapan dia mau ke sini lagi Nek?"


"Tadi nenek udah telpon Mama kamu. Katanya nanti sore dia mau ke sini jemput kamu pulang. Dia mau sama Om Zaki ke sini nya."


"Emang aku udah boleh pulang Nek?"


"Sudah. Nanti sore kamu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter."


Aluna diam. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini.


"Aluna kenapa? habiskan buburnya dulu ya. Ini tinggal satu suap lagi."


Aluna menggeleng.


"Aku udah kenyang Nek."


"Kamu udah kenyang."


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2