Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Kemarahan Monika


__ADS_3

Adnan mengambil surat dan amplop coklat itu.


"Iya Pak. Terimakasih banyak, karena selama ini bapak sudah memberi kesempatan saya dan mau mempercayai saya untuk bekerja di sini. Kalau begitu saya permisi dulu Pak," ucap Adnan.


"Iya Adnan. Kamu masih bisa selesaikan pekerjaan kamu dulu sekarang. Dan kamu bisa kemasi barang-barang kamu untuk kamu bawa pulang nanti sore."


"Iya Pak. Kalau begitu saya keluar dulu."


"Silahkan."


Adnan kembali ke ruangannya dengan wajah tertunduk lesu. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan diberhentikan begitu saja dari kantor tempatnya bekerja. Padahal Adnan masih sangat membutuhkan pekerjaan itu. Dia masih butuh biaya banyak, untuk pengobatan ibunya dan persalinan istrinya.


Adnan tidak tahu, apa kesalahannya selama ini. Menurut Adnan, dia sudah bekerja dengan baik di kantor itu, bahkan sampai dia naik jabatan. Dan selama sepuluh tahun lebih, tidak pernah ada masalah apa-apa.


"Ya Allah, kenapa jadi seperti ini. Aku kenapa bisa di PHK. Padahal aku sudah sepuluh tahun lebih mengabdi di perusahaan Pak Erwin. Apa salahku sebenarnya, kenapa Pak Erwin tidak mau mempertahankan aku," ucap Adnan penuh kecewa.


Adnan duduk di tempat kerjanya. Beberapa saat kemudian, Marko menghampirinya.


"Kenapa Nan? apa yang sudah terjadi? kamu kenapa sedih begitu?" tanya Marko sembari menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat Adnan.


"Aku di PHK," jawab Adnan singkat.


Marko terkejut saat mendengar ucapan Adnan.


"Apa ! di PHK! kok bisa?"


"Aku juga nggak tahu Ko. Katanya sih, mau ada pengurangan karyawan di perusahaan ini. Mungkin perusahaan ini lagi punya banyak masalah. Namun kita semua tidak tahu apa masalahnya. Cuma bos kita saja yang tahu."


"Apa jangan-jangan, semua akan diberhentikan ya termasuk aku. Kalau perusahaan bangkrut beneran gimana. Aku mau kerja di mana lagi," ucap Marko tampak khawatir.


"Entahlah. Aku juga bingung. Istriku sedang hamil besar, dan ibuku juga sedang sakit. Aku sebenarnya masih butuh pekerjaan ini. Tapi aku nggak mungkin kan memaksa bos untuk mempertahankan aku kerja di sini," ucap Adnan.


"Iya sih. Itu kan sudah menjadi haknya si bos, untuk memilih karyawan mana yang akan dia pertahankan," ucap Marko.


"Sabar aja lah Nan. Mungkin bos juga melihat dari kinerja kita. Keaktifan kita di kantor itu juga mungkin mempengaruhi, kenapa si bos tidak mempertahankan kita," lanjutnya.


"Waktu itu aku cuti kan karena darurat banget Ko. Waktu itu aku harus nungguin Aluna di rumah sakit. Dan kemarin aku cuti satu minggu juga untuk nungguin ibu aku di rumah sakit," jelas Adnan


"Emang nggak ada, yang mau gantiin kamu nungguin ibu kamu di rumah sakit?


"Nggak ada."


"Kan ada Monika Nan. Dia kan udah nggak kerja. Kenapa kamu nggak suruh dia untuk jagain ibu kamu waktu itu."


"Dia mana mau ngurusin ibu dan anak aku Ko. Dia cuma bisa ngurusin dirinya sendiri saja."

__ADS_1


"Ternyata Monika seperti itu ya."


"Yah, begitulah. Anak aku sekarang lebih memilih untuk tinggal dengan ibu kandungnya, karena Monika nggak sayang sama dia."


"Iya lah. Namanya anak kecil itu pasti tahu, mana orang yang sayang sama dia, mana yang nggak."


"Tapi aku masih bersyukur Ko, karena pak Erwin masih mau memberikan uang pesangon cash untuk aku."


"Untunglah dia masih baik sama kamu, masih mau ngasih kamu pesangon. Entah sama karyawan yang lain. Kalau ada pengurangan karyawan, itu artinya bukan cuma kamu yang akan di PHK Nan. Tapi karyawan lain mungkin juga gitu. Tinggal nunggu giliran aja."


"Yah. Mungkin."


****


Malam ini, Bu Retno dan Monika masih duduk di ruang tengah. Bu Retno masih fokus menatap layar tivi. Sementara Monika, dia fokus ke layar ponselnya.


"Mon, Adnan kok nggak pulang-pulang ya," ucap Bu Retno khawatir.


"Biarin aja lah Bu. Orang dia lagi kerja juga. Untuk apa sih, ngarepin dia. Nanti juga dia pulang."


"Ibu cuma khawatir aja Mon. Lihatlah di luar, banyak kilat dan petir. Ibu takut terjadi apa-apa sama dia. Perasaan ibu juga nggak enak begini. Kenapa ya, dengan Adnan."


"Jangan lebay deh Bu. Nggak mungkin Mas Adnan kenapa-kenapa. Sebentar lagi dia juga pasti pulang. Biasanya juga gitu kan, mas Adnan sering pulang malam. "


"Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Dengan sekejap, Adnan sudah sampai di ruang tengah. Dia kemudian duduk berbaur bersama istri dan ibunya.


"Adnan, kamu kenapa? pulang-pulang kamu murung begitu?" tanya Bu Retno yang melihat Adnan tampak murung.


Adnan menundukkan kepalanya.


"Kenapa sih Mas? kamu seperti orang sedih begitu?"


Adnan mencoba untuk menatap Monika. Sebenarnya dia tidak berani untuk jujur tentang masalah ini sama Monika dan ibunya. Karena dia takut ibunya dan Monika akan kecewa kalau tahu Adnan di PHK.


Namun, Adnan juga tidak mungkin untuk merahasiakan urusan sebesar itu dari ibu dan istrinya. Karena suatu saat mereka juga pasti akan tahu hal itu.


"Baru saja saya di PHK Bu, Mon," ucap Adnan dengan mata sayu.


Deg.


Monika dan Bu Retno terkejut saat mendengar ucapan Adnan. Mereka kemudian bersamaan menatap ke arah Adnan.

__ADS_1


"Adnan, kamu serius?" tanya Bu Retno pada anaknya.


"Iya Bu. Aku serius."


"Kok bisa sih Mas, kamu di PHK. Apa kamu pernah melakukan kesalahan?" Monika sudah mulai serius.


Adnan menggeleng.


"Aku nggak punya salah apa-apa. Cuma perusahaan memang sedang mengurangi karyawannya. Akan banyak karyawan yang di PHK, jadi bukan cuma aku."


"Kenapa begitu Mas? perusahaan Pak Erwin itu kan perusahaan besar. Seharusnya perusahaan itu masih butuh banyak karyawan. Bukan malah mengurangi karyawan."


Adnan menatap Monika lekat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di perusahaannya.


"Mon, perusahaan Pak Erwin sedang tidak baik-baik saja. Perusahaan sedang berada di ujung kehancuran. Mungkin saja Pak Erwin nggak ada dana untuk bayar karyawan. Hanya karyawan-karyawan terpilih saja yang akan dipertahankan."


"Terus, kalau kamu nggak kerja, kita semua gimana Mas? kita mau makan pakai apa?" ucap Monika dengan nada tinggi.


"Aku juga nggak tahu Mon. Tapi aku janji, aku akan coba cari kerja lagi." Adnan mencoba menenangkan amarah istrinya.


"Hah, kamu ini Mas. Kamu sudah naik jabatan, dan mempunyai gaji yang tinggi. Sekarang kamu malah di PHK begitu saja, gimana sih Mas."


"Sabar Mon. Mungkin ini semua sudah menjadi cobaan untuk keluarga kita." Bu Retno ikut bicara.


Monika menatap Bu Retno tajam.


"Sabar, sabar, kondisi seperti ini di suruh sabar? kalau Mas Adnan nggak kerja, mau dapat uang dari mana dia untuk nafkahin kita bu. Ibu juga pakai acara sakit segala. Nyusahin aja," gerutu Monika.


"Mon, ini nggak ada hubungannya dengan ibu. Kamu jangan salahin ibu aku dong." Adnan mencoba membela ibunya.


Monika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Bu Retno dan Adnan di ruang tengah.


"Sabar Adnan. Istri kamu memang begitu. Biarkan saja dia," ucap Bu Retno.


Adnan mengangguk.


"Yang aku bingung, bagaimana caranya aku untuk bayar Sulis. Sedangkan Sulis, di sini juga kan harus di bayar. Apa aku juga harus berhentikan Sulis. Kalau Sulis nggak kerja di sini, lalu siapa yang akan bantu-bantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu kan sedang sakit," ucap Adnan merasa iba dengan ibunya.


Adnan tahu, tanpa Sulis rumah pasti akan berantakan lagi seperti dulu. Karena Monika pemalas, walau ibu mertuanya sedang sakit, dia tidak pernah mau bantu-bantu mengerjakan pekerjaan rumah.


"Ibu juga bingung Adnan. Nanti kamu bilang aja yang sejujurnya sama Sulis. Siapa tahu Sulis mau ngerti dengan kondisi kita."


"Iya Bu."


****

__ADS_1


__ADS_2