Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Dibandingkan


__ADS_3

Malam ini Mila masih berada di dalam kamarnya. Dia menatap Aluna yang saat ini sudah terlelap.


Tiba-tiba Mila teringat dengan Adnan dan Bu Retno. Sudah lama, mereka hilang kabar. Telpon Bu Retno pun sekarang sudah tidak pernah aktif.


"Kenapa Mas Adnan dan Bu Retno nggak pernah nelpon ya untuk menanyakan kabar Aluna. Apa mereka sudah lupa dengan Aluna," ucap Mila di dalam kesendiriannya.


"Bu Retno juga. Apa mereka nggak kangen lagi sama Aluna," lanjut Mila.


Mila tampak bingung. Sudah beberapa minggu ini nomer Bu Retno tidak aktif. Mila tidak tahu saja, apa yang sudah terjadi pada mereka. Dengan sekejap, kehidupan Adnan berubah drastis gara-gara di PHK.


Mila keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur. Selesai minum, dia melangkah pergi untuk menemui Bu Suci yang saat ini berada di ruang tamu. samar-samar Mila mendengar Bu Suci dan seorang lelaki sedang bercakap-cakap di ruang tamu..


"Ada tamu di depan, siapa ya," ucap Mila penasaran.


Mila kemudian melangkah ke ruang tamu untuk mengintip siapa orang yang sedang bertamu.


Mila terkejut saat melihat Pak RT sudah berada di ruang tamu.


"Mau ngapain Pak Danu ke sini?" ucap Mila.


Pak Danu menatap Bu Suci lekat.


"Apa benar, kalau Mila dan Zaki itu akan menikah?" tanya Pak Danu ketua RT di komplek perumahan Bu Suci.


"Iya benar Pak RT."


"Kenapa mereka masih tinggal satu rumah ya. Seharusnya mereka itu jangan tinggal satu rumah. Karena bisa menimbulkan fitnah Bu Suci."


"Tapi mereka tidak pernah ngapa-ngapain Pak Rt. Mereka bisa jaga jarak kok. Dan di sini kan mereka tidak tinggal berdua. Ada saya, Bik Inah, dan Aluna."


"Iya Bu Suci saya tahu. Tapi bagaimana dengan tanggapan warga sekitar. Seorang lelaki dan seorang wanita yang punya hubungan khusus tinggal dalam satu atap. Bisa menjadi fitnah warga. Saya sarankan, untuk Mila jangan tinggal di sini. Pindahkan saja Mila di apartemen atau di mana."


"Iya Pak RT. Nanti saya akan bilang sama Zaki dan Mila soal ini."


Mila terkejut saat mendengar obrolan Pak RT dengan calon ibu mertuanya.


Masalah apa lagi ini. Kenapa tinggal satu atap saja harus di permasalahkan sih. Padahal aku dan Mas Zaki kan tidak tinggal satu atap. Selama ini kan aku tinggal di rumah belakang bersama Bik Ijah, batin Mila.


Setelah Pak RT pergi, Bu Suci meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam. Bu Suci terkejut saat melihat Mila.


"Lho, Mila. Kamu udah dari tadi di sini?" tanya Bu Suci.


"Iya Bu. Aku udah dengar semuanya Bu. Tadi Pak RT nyuruh aku tidak tinggal di sini. Lalu aku harus tinggal di mana Bu?"


"Iya Mil. Makanya ibu mau bilang sama Zaki, biar untuk sementara dia tinggal di apartemen saja. Dan kamu yang tinggal dengan ibu di sini bersama Aluna. Biar nggak timbul fitnah. Apalagi sebentar lagi kalian itu akan menikah."


"Iya Bu. Aku sih terserah ibu dan Mas Zaki saja."

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kita masuk yuk! kita tunggu Zaki pulang. Sepertinya dia lembur lagi di kantor."


"Iya Bu."


***


Uhuk uhuk uhuk...


Suara batuk-batuk Bu Retno sudah terdengar sampai ke kamar Adnan dan Monika. Monika merasa terusik oleh suara batuk ibu mertuanya.


"Ih. Berisik banget sih si ibu ini. Kenapa batuk-batuk terus. Nggak tahu apa kalau batuk-batuknya membuat tidurku terganggu," gumam Monika.


Monika menatap ke sampingnya berbaring. Tampak Adnan sudah terlelap di sisinya. Sepertinya Adnan kelelahan karena seharian dia harus kerja.


"Mas Adnan lagi, cepat banget sih tidurnya," gerutu Monika.


Monika turun dari ranjangnya. Setelah itu dia keluar dari kamarnya dan melangkah ke kamar samping tempat Bu Retno berada.


Monika membuka pintu kamar Bu Retno yang tidak terkunci.


"Bu, batuk terus sih kenapa?"


"Nggak tahu Mon. Dada ibu juga sesak."


"Minum obat dong Bu, biar mendingan. Jangan dibiarkan saja. Nanti bisa tambah parah batuknya."


"Makanya, ibu itu nggak usah sakit. Biar nggak ngerepotin aku dan Mas Adnan. Mas Adnan itu sudah nggak seperti dulu Bu. Sekarang dia itu sudah miskin. Jadi ibu juga jangan terlalu banyak nyusahin dia."


"Mon, Mon. Siapa orang yang ingin sakit sih. Ibu juga nggak ingin sakit Mon. Ibu malah pengin sehat terus. Tapi mau bagaimana lagi, kondisi paru-paru ibu juga sudah semakin parah. Dokter minta ibu untuk operasi. Tapi operasi kan biayanya mahal Mon. Ibu tahu kondisi Adnan sekarang. Makanya, ibu tahan saja penyakit ibu."


Adnan yang samar-samar mendengar suara obrolan Monika dengan ibunya, mengerjapkan matanya.


Uhuk uhuk uhuk...


Suara batuk Bu Retno sudah terdengar sampai ke kamar samping. Adnan yang mendengar batuk-batuk ibunya segera keluar dari kamarnya untuk melihat ibunya.


"Ibu kenapa Mon?" tanya Adnan setelah sampai di kamar ibunya.


"Nggak tahu nih ibu kamu. Dari tadi dia batuk-batuk terus."


Uhuk uhuk uhuk...


Adnan dan Monika terkejut saat melihat batuk Bu Retno keluar darah.


"Ibu, ibu nggak apa-apa kan? apanya yang sakit Bu?" tanya Adnan sembari mendekat ke arah ibunya. Adnan tampak panik saat melihat batuk ibunya sampai keluar darah.


"Ibu nggak apa-apa Adnan."

__ADS_1


"Ibu jangan bohong. Pasti ibu punya keluhan lain kan?"


"Sebenarnya dari kemarin dada ibu sakit Adnan. Nafas ibu sesak. Obat yang kamu belikan juga sudah habis."


Adnan menghela nafas dalam. Adnan merasa bersalah pada ibunya. Karena kesulitan ekonomi, Adnan sampai lupa untuk membawa ibunya kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam.


"Bu, sudah lama ibu nggak periksa ke dokter. Nanti besok kita periksa ya. Biar dapat obat lagi."


Bu Retno hanya mengangguk. Sementara Monika tampak tidak suka Adnan lebih perhatian pada ibunya dari pada dengannya.


Tanpa banyak basa-basi, Monika kemudian pergi meninggalkan kamar Bu Retno.


"Ya sudah Bu, ibu istirahat aja dulu ya. Udah malam Bu, besok aku akan bawa ibu periksa ke dokter."


"Iya."


Bu Retno kembali berbaring. Sementara Adnan menarik selimut Bu Retno dan menutupi tubuh Bu Retno dengan selimut itu. Setelah Bu Retno terlelap, Adnan kemudian pergi meninggalkan kamar ibunya.


"Kasihan ibu. Ya Tuhan, aku masih butuh ibu. Panjangkanlah umur ibu. Sehatkanlah ibu dan angkat penyakitnya," doa Adnan sebelum pergi meninggalkan kamar ibunya.


Adnan melangkah kembali untuk ke kamarnya. Setelah itu dia naik ke atas ranjang dan duduk di sisi Monika. Sementara Monika sejak tadi masih duduk di atas ranjang sembari bermain ponselnya.


"Mon," ucap Adnan.


"Iya Mas." Monika menoleh ke arah suaminya.


"Besok rencananya aku mau bawa ibu berobat Mon. Kasihan dia, sakit tapi nggak di obatin."


Monika terkejut saat mendengar ucapan suaminya. Monika langsung menetap Adnan tajam.


"Apa! berobat? emang kamu punya uang? untuk makan aja susah, kamu mau bawa ibu berobat?"


"Bukan begitu Mon. Aku cuma mau periksakan ibu ke dokter saja. Aku nggak mau bawa ibu ke rumah sakit. Karena biaya rumah sakit itu kan mahal. Aku mana punya uang untuk membawa ibu ke rumah sakit. Ibu itu tadi mengeluh sesak nafas dan dadanya sakit. Jadi aku pengin periksakan dia ke dokter umum saja."


"Ya terserah kamu lah Mas. Ini semua itu gara-gara kamu Mas. Ibu sakit terus juga gara-gara kamu."


"Kok gara-gara aku? kenapa kamu jadi nyalahin aku!"


"Ya iyalah. Karena kamu itu miskin. Coba kalau kamu seperti Pak Zaki. Punya banyak uang, pasti sekarang ibu sudah operasi dan ibu pasti sudah sembuh dari penyakitnya."


Adnan menghela nafas dalam. Dia tampak tidak suka Monika membandingkannya dengan orang lain.


"Jangan bandingkan aku dengan Pak Zaki. Dia itu anak pengusaha. Dia sudah kaya raya sejak lahir. Sementara aku, aku cuma anak orang biasa. Aku bisa sukses seperti kemarin pun itu karena usaha kerasku Mon."


Monika tidak mau meladeni Adnan lagi. Dia lebih memilih meletakan ponselnya di atas nakas dan berbaring untuk tidur. Sementara Adnan, sejak tadi masih menahan jengkel pada istrinya.


Kenapa sih, aku punya istri sama sekali tidak mau menghargai aku sebagai suami. Padahal aku rela panas-panasan kerja di pasar hanya untuk mencari uang untuk menafkahi Monika. Tapi Monika tidak ada rasa syukurnya sedikit pun. Masih saja menyalahkan aku, batin Adnan.

__ADS_1


__ADS_2