Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Penyesalan Adnan


__ADS_3

Jam sepuluh malam, Adnan sudah sampai di depan rumahnya. Adnan turun dari mobilnya. Setelah itu Adnan melangkah ke teras depan rumahnya. Adnan kemudian mengetuk pintu rumahnya.


Tok tok tok...


Beberapa saat kemudian, Bu Retno membuka pintu rumahnya.


"Adnan, kamu dari mana? kenapa pergi lama sekali?" tanya Bu Retno.


"Maaf Bu. Tadi aku lagi beli makanan di luar untuk Monika. Ngantri banget Bu tadi. Jadi aku kemalaman pulangnya," jelas Adnan.


"Ya sudah cepat masuk! ibu mau kunciin lagi pintunya."


Adnan kemudian masuk ke dalam rumahnya. Begitu juga dengan Bu Retno. Dia juga mengikuti Adnan masuk.


"Monika mana Bu?"


"Monika ada di kamarnya."


"Aku ke kamar dulu ya Bu."


Sebelum Adnan melangkah, Bu Retno memanggilnya.


"Adnan, tadi ada orang datang ke sini nyariin kamu," ucap Bu Retno.


Adnan terkejut saat mendengar ucapan Bu Retno. Dia kemudian menatap Bu Retno lekat.


"Siapa Bu?" tanya Adnan.


"Ibu nggak tahu siapa orang itu. Tadi Monika yang bukain pintu dan ngobrol dengan orang itu."


Adnan diam dan tampak berfikir.


Siapa ya, yang malam-malam begini bertamu. Apa itu Marko.


"Adnan, apa benar kamu selama ini punya hutang pada rentenir?" tanya Bu Retno.


Adnan terkejut saat mendengar pertanyaan dari ibunya.


"Apa! ibu tahu dari mana soal itu?"

__ADS_1


"Tadi Monika yang cerita sama ibu. Kalau orang yang ke sini nyariin kamu itu mau nagih hutang."


Apa jangan-jangan itu Wira. Duh, kenapa sih si Wira ini. Nggak ngerti banget kondisi orang, batin Adnan.


"Bu, ibu nggak usah mikirin soal itu ya. Karena itu masalah aku. Biar aku saja yang selesai kan masalah aku sendiri dengan orang itu."


"Adnan, bagaimana ibu nggak kefikiran. Tadi orang itu teriak-teriak di depan pintu manggil-manggil kamu. Untungnya tadi Monika sudah berhasil membuat mereka semua pergi."


"Berapa orang yang datang ke sini Bu?"


"Tiga orang Adnan."


Aku yakin, itu pasti Wira dan dua anak buahnya.


"Ya sudah Bu. Aku ke kamar dulu ya. Mau nganter makanan untuk Monika. Monika pengin makan enak katanya. Makanya aku belikan dia sate. Apa ibu mau juga?"


"Nggak. Ibu nggak suka sate. Nanti darah tinggi ibu bisa kumat lagi, kalau makan sate. Ibu mau ke kamar saja, mau kembali istirahat."


Bu Retno kemudian melangkah pergi meninggalkan Adnan. Sementara Adnan berjalan untuk ke kamarnya. Di dalam kamar, dia melihat Monika sudah terlelap di atas ranjang.


Adnan tersenyum. Dia mendekat ke arah Monika untuk membangunkan Monika.


"Mon, aku udah pulang nih. Aku udah belikan kamu sate. Kamu nggak mau makan satenya?" tanya Adnan.


"Lama sekali sih Mas, kamu. Dari mana aja sih?" tanya Monika.


"Kamu kan pengin makan enak. Makanya tadi aku beliin kamu sate di luar. Kamu suka sate kan?"


"Simpan aja lah untuk besok. Aku udah nggak lapar."


"Nggak lapar gimana? kamu belum makan malam lho. Kamu harus fikirkan anak yang ada di dalam kandungan kamu. Kalau ibunya nggak makan, dia akan makan apa di dalam perut."


"Tapi aku udah kenyang, gara-gara penagih hutang itu."


"Tadi ada orang ke sini?" tanya Adnan.


"Iya. Dia nyariin kamu mau nagih hutang," jawab Monika.


"Jadi selama ini kamu udah bohongin aku ya Mas. Kamu ternyata selama ini punya hutang sama rentenir. Dan hutang kamu sudah 20 juta Mas...!" ucap Monika tampak kesal.

__ADS_1


Adnan diam. Dia menundukkan kepalanya. Dia tampak sedih saat ibu dan istrinya tahu masalah hutangnya pada Wira. Padahal Adnan ingin menyembunyikan masalah hutang itu pada istri dan ibunya. Adnan tidak mau membuat istri dan ibunya ikut-ikutan kefikiran soal hutang itu.


"Mas, tiga bulan yang lalu, kamu pinjam uang lima belas juta untuk apa Mas? apa kurang gaji kamu untuk kebutuhan hidup kita?" tanya Monika.


Adnan mencoba untuk menatap istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Karena aku tidak pernah bilang masalah ini sama kamu sebelumnya. Aku pinjam uang sebanyak itu, untuk kebutuhan hidup kita sehari-hari. Waktu ibu dirawat di rumah sakit, aku belum gajian. Aku mau pinjam ke teman-temanku juga nggak ada yang pegang uang. Jadi aku terpaksa meminjam pada Wira dengan pinjaman berbunga."


"Wira? jadi orang yang teriak-teriak di depan rumah kita itu namanya Wira? kamu kenal dari mana rentenir itu Mas?"


"Dia teman SMP aku Mon. Dulu kami pernah dekat. Dan aku nggak nyangka, kalau ternyata pinjam sama Wira itu, bunganya berlipat ganda."


"Ih... bodoh sekali kamu Mas. Kenapa kamu nggak pinjam ke orang lain aja sih. Kenapa harus ke rentenir. Di mana-mana rentenir itu kejam Mas. Walaupun itu teman sendiri. Mereka nggak akan pandang bulu."


"Gimana kalau kamu nggak bisa bayar hutang. Bisa semakin menumpuk bunganya Mas. bisa-bisa rentenir itu sita semua barang-barang kita di rumah ini. Bisa jadi,mobil dan rumah kita juga di sita Mas."


Adnan menghela nafas dalam. Dia mengusap wajahnya frustasi.


"Aku bingung Mon. Sebenarnya aku tidak mau kamu dan ibu tahu masalah ini. Karena aku nggak mau membuat kalian kefikiran dengan masalah hutang aku ini. Tapi kamu dan ibu sekarang sudah tahu, ya sudahlah," ucap Adnan.


Adnan sudah tampak menyerah dengan keadaan. Rasanya Adnan akan sangat sulit untuk mengembalikan ekonominya seperti dulu. Apalagi sampai sekarang, Adnan belum juga dapat kerja.


"Kalau begini terus, lama-lama aku malas sama kamu Mas. Aku capek hidup miskin sama kamu. Seandainya aku nggak lagi hamil besar, udah dari kemarin aku pergi meninggalkan rumah ini. Biarin aja rumah ini di sita juga," ucap Monika penuh amarah.


"Mon jangan bicara seperti itu dong. Maafin aku ya Mon. Gara-gara aku, kehidupan kita jadi hancur seperti ini. Seandainya aku nggak di PHK, pasti aku sudah bisa membayar hutang ku pada Wira, aku masih bisa bayar Sulis, kamu dan ibu, juga setiap hari pasti bisa makan enak."


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Adnan menyesal kenapa dulu dia harus meninggalkan Mila. Padahal Mila itu wanita yang sangat baik.


Seandainya Mila yang ada di posisi Monika saat ini, pasti Mila akan selalu memberikan dukungan untuk suaminya. Tidak seperti Monika yang setiap hari marah-marah dan selalu menyalahkan keadaan.


Monika kembali berbaring saat perutnya merasa sakit karena tendangan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Udah ah, aku mau tidur. Kamu makan sendiri aja satenya. Aku udah nggak nafsu makan lagi Mas."


Setelah Monika terlelap, Adnan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah jendela. Adnan menatap ke luar jendela. Tiba-tiba bayangan Aluna dan Mila melintas di dalam fikirannya.


Mila, maafkan aku. Aku sudah jahat sama kamu. Aku tidak pernah percaya sama kamu waktu itu. Mungkin ini adalah hukuman yang pantas untuk aku Mil, karena aku sudah menghancurkan hati kamu, batin Adnan.


"Aluna, maafkan Papa Aluna. Papa sudah punya banyak salah sama kamu. Papa kangen sama kamu Aluna," ucap Adnan.

__ADS_1


Setetes air mata Adnan tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk matanya. Adnan mengusapnya kasar. Saat ini dia memang sangat merindukan anaknya. Namun dia merasa tidak enak untuk menelpon Mila dan menanyakan tentang Aluna.


****


__ADS_2