Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Kepulangan Bu Retno


__ADS_3

"Namanya orang sudah tua Mon. Sudah rentan terkena penyakit."


"Ya udahlah Mas. Kamu tungguin saja dulu ibu di sini. Aku mau pulang."


Adnan terkejut saat mendengar ucapan Monika.


"Apa! pulang? kamu kan baru nyampe Mon."


"Iya. Tapi aku tuh capek Mas, kalau kelamaan nungguin ibu di rumah sakit. Aku pengin istirahat aja di rumah. Perut aku juga sering sakit. Jadi maaf banget ya, aku kayaknya nggak bisa gantiin kamu nungguin ibu."


"Ya udahlah kalau kamu mau pulang. Pulang saja. Aku bisa kok nungguin ibu di rumah sakit sendiri."


"Ya udah. Aku pulang ya. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku."


"Iya. Tapi maaf. Aku nggak bisa nganter kamu," ucap Adnan.


"Nggak apa-apa. Aku bisa naik taksi kok Mas


Setelah berpamitan pada suaminya, Monika pun kemudian pergi meninggalkan ruangan Bu Retno.


Sepertinya Monika memang sengaja bicara seperti itu, karena dia malas menunggui Bu Retno di rumah sakit. Bagi Monika, lebih baik dia jagain rumah saja dari pada harus jagain mertuanya di rumah sakit.


Monika keluar dari rumah sakit. Setelah itu dia berjalan ke pinggir jalan untuk menunggu taksi.


Setelah taksi datang, Monika masuk ke dalam taksi dan meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Sesampainya di rumah, Monika langsung turun dari taksi, setelah membayar ongkos taksi itu.


"Makasih ya Pak."


"Iya Mbak sama-sama."


Monika kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Sulis terkejut saat melihat Monika.


"Lho, Bu Monika. Cepat sekali Bu pulangnya. Ibu nggak ikut nungguin Bu Retno di rumah sakit."


"Nggak ah. Aku malas. Lagian sudah ada suamiku juga di sana. Perutku juga sering sakit. Jadi aku malas kalau di suruh gantian nungguin ibu," jelas Monika.


"Aku ke kamar dulu ya Sulis."


Sulis menganggukan kepalanya. Setelah itu dia pun berjalan pergi ke kamarnya.


****


Setelah satu minggu berada di rumah sakit, akhirnya Bu Retno sudah diperbolehkan pulang. Selama satu minggu, Adnan tidak masuk ke kantor karena harus menunggui ibunya di rumah sakit.


Sementara Monika , dia mengeluh sakit perut dan tidak bisa menggantikan Adnan untuk menunggui Bu Retno di rumah sakit.


Mungkin selama ini, Monika hanya beralasan sakit saja. Padahal sebenarnya dia malas untuk merawat ibu mertuanya.

__ADS_1


Sore ini, Adnan masih tampak berkemas. Dia sejak tadi masih tampak memasukan baju-baju ibunya ke dalam tas.


"Lama-lama aku sebel sama Monika Bu. Selama ibu di rumah sakit, masak dia nggak pernah jengukin ibu ke sini. Boro-boro untuk gantiin aku jagain ibu. Untuk temani aku sebentar aja di sini dia nggak mau. Banyak alasan sekali dia. Aku kan jadi repot begini, satu minggu nggak masuk kantor, gerutu Adnan.


Bu Retno menghela nafas panjang. Dia memang sudah tahu, watak menantunya. Jadi dia sudah tidak kaget lagi.


"Biarkan saja lah Adnan. Watak dia memang seperti itu. Susah untuk dirubah. Kalau ibu, yang penting kamu Adnan. Ibu sangat berterima kasih karena kamu sudah mau merawat ibu. Dan maafkan ibu. Karena sudah banyak merepotkan kamu," ucap Bu Retno.


Adnan tersenyum.


"Bu, ibu itu ibu kandung aku. Jadi sudah kewajiban aku untuk merawat ibu. Apalagi aku ini anak laki-laki."


"Iya Adnan."


Setelah semua baju sudah Adnan masukan ke dalam tas, Adnan kemudian mengajak ibunya pulang.


"Aku sudah lunasi semua biaya rumah sakit ibu. Sekarang kita pulang ya!" ajak Adnan.


Bu Retno hanya mengangguk.


Adnan mengambil kursi roda dan membantu ibunya untuk duduk di kursi roda.


"Ibu sudah siap Bu?" tanya Adnan.


"Sudah Adnan."


Adnan kemudian mendorong kursi roda Bu Retno sampai keluar rumah sakit.


"Ibu tunggu di sini. Saya mau ambil mobil saya dulu di tempat parkir."


"Iya."


Adnan berjalan untuk mengambil mobilnya yang ada di tempat parkir. Setelah itu Adnan pun kembali dengan mobilnya ke tempat di mana ibunya berada.


Adnan turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri ibunya.


Adnan memasukan tasnya ke dalam mobil. Setelah itu dia pun membantu ibunya masuk ke dalam mobil. Setelah semua siap, Adnan meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Di dalam perjalanan pulang, Adnan dan Bu Retno hanya bisa saling diam. Mereka tidak banyak bicara, sampai akhirnya mereka pun tiba di depan rumah mereka.


Sesampainya di depan rumah, Adnan turun dari mobilnya. Dia kemudian menurunkan ibunya juga. Adnan mendorong ibunya sampai ke teras depan.


"Sulis...! Sulis...!" seru Adnan dari luar rumah


Sulis yang mendengar panggilan dari Adnan buru-buru menghampiri Adnan di teras.


"Eh Pak, sudah sampai Pak," ucap Sulis.


"Sulis. Tolong bawakan tas ibu masuk. Taruh langsung di kamar ya," pinta Adnan.


Sulis mengangguk. "Iya Pak."

__ADS_1


Sulis kemudian mengambil tas Bu Retno dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah Sulis masuk, Adnan kemudian mendorong ibunya masuk mengikuti Sulis.


"Sulis, terima kasih ya. Kamu boleh lanjut kerja," ucap Adnan setelah sampai di kamar ibunya.


"Iya Pak. Saya permisi dulu. Kalau butuh apa-apa bilang sama saya ya Pak."


"Iya Sulis."


Sulis kemudian pergi meninggalkan kamar Bu Retno.


"Ibu istirahat dulu ya," ucap Adnan.


"Iya Adnan."


Adnan membantu ibunya turun dari kursi roda. Setelah itu Bu Retno pun naik ke atas ranjang.


Semenjak sakit, Bu Retno jadi kesulitan untuk jalan. Kata dokter, Bu Retno sudah terkena stroke ringan. Sehingga ke dua kakinya sulit untuk digerakkan.


"Ibu istirahat aja di sini. Kalau ibu butuh apa-apa, ibu bisa panggil aku atau Mbak Sulis," ucap Adnan sebelum pergi.


Bu Retno mengangguk.


"Iya Adnan."


Adnan keluar dari kamar Bu Retno. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya. Namun di dalam kamar, tak nampak Monika ada di sana. Sepertinya Monika sedang pergi.


"Sore-sore gini, pergi ke mana si Monika itu. Ibu pulang bukannya di rumah malah keluyuran," geram Adnan.


Adnan sudah tidak mau memperdulikan Monika lagi. Dia lebih memilih untuk beristirahat.


Adnan mengambil handuk. Setelah itu dia pun melangkah untuk ke kamar mandi. Adnan akan mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka lebar. Monika masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian duduk di sisi ranjangnya.


Gemericik air sudah terdengar dari dalam kamar mandi. Monika tahu, kalau itu pasti suaminya.


"Mas Adnan sudah pulang. Kapan dia pulang. Kok aku nggak tahu kalau dia pulang," ucap Monika.


Beberapa saat kemudian, Adnan keluar dari kamar mandi. Dia kemudian menatap Monika tajam.


"Dari mana aja kamu?"


"Aku baru pulang Mas. Tadi aku keluar sebentar beli makanan. Kamu kok tiba-tiba sudah ada di rumah aja. Ibu juga sudah pulang?"


"Iya. Ibu sudah pulang."


"Terus sekarang dia di mana?"


"Dia ada di kamarnya. Lagi istirahat."


***

__ADS_1


__ADS_2