
Jumi sangat sedih karena kedua orang tuanya menolak dirinya.
Polisi wanita membimbing Jumi untuk diantar ke kursinya.
Tapi Jumi yang masih duduk di lantai itu justru berlari ke Narsia. Memeluk kedua betis ibunya.
"Mak ini Jumi, tolong diakui, Mak, sumpah ini Jumi anak Emak yang dulu sering mencuri coklat dimakan di kebun semasa kecil dulu," sesunggukan Jumini menengadah menatap emaknya.
Narsia menatap Jumi yang menangis sesunggukan. Pada riak mata itu Narsia melihat tatap anak perempuannya.
"Suaranya milik Jumi, caranya menatap itu mata Jumi anakku," batin Narsia.
Sebagai Ibu yang melahirkan Jumini jelas ada ikatan batin antara dirinya dengan perempuan cantik yang memang anak kandungnya itu. Walau tak langsung mengakui, tapi ia diam saja tak menolak pelukan Jumi cantik di kedua betisnya.
"Dia menyebut kebiasaan Jumi waktu kecil di kebun coklat," batin Narsia, "Kok aku merasa ibah, ya?"
"Mak suaranya memang suara Jumi anak kita, tapi wajahnya bukan, kulitnya bukan," bisik Zainal pada Narsia istrinya.
"Jangan terpengaruh dia, Mak, dia sudah operasi suara supaya mirip Jumi istriku!" Dahlan langsung memperingati mertuanya.
Terkejut Narsia menatap Dahlan, begitu pun Zainal.
Dahlan mengangguk, "Dia juga mencuri uang Jumi istriku sebanyak satu miliyar dua ratus tujuh puluh Lima puluh juta!"
"Hah?!" Zainal terkejut.
"Ya, Pak saya akan memasukkan dia ke penjara karena tak mau mengaku dimana menyembunyikan Jumi anak Bapak, atau barangkali sudah dibunuhnya sama perempuan itu!"
Mendengar kata bunuh terhadap Jumini anak mereka, mendadak Narsia dan Zainal berang.
"Kau pembohong kau apakah anakku kau bunuh dia?!" Zainal langsung saja menampar Jumi berulang kali.
"Ampun Pak jangan sakiti Jumi!!" Pekik Jumini berusaha menutup mukanya.
Segera polisi memegang Zainal dan menjauhkan dari Jumi.
"Tahan emosi, Pak, serahkan pada Polisi untuk menyelidikinya," seru polisi yang mendampingi rekannya yang bertugas memeriksa Jumi.
"Jangan ada kekerasan, Pak, jangan sampai Bapak justru kena pasal kekerasan terhadap wanita," sambung polisi yang memeriksa Jumini dari kursinya.
Sedangkan Polisi wanita membantu Jumi berdiri dan kembali ke kursinya.
"Mari, Bu,"
__ADS_1
Jumi mengikuti polisi wanita menuju ke kursinya. Wajah cantiknya memerah bekas tampak tamparan Zainal beberapa kali. Pedih dan sakit. Padahal pesan dokter operasi wajahnya sebisa mungkin dalam beberapa bulan ini jangan terkena benturan, karena masih bentuk wajah barunya masih adaptasi dengan kontur kulit serta syaraf syaraf di bagian wajahnya.
Tapi mendadak Narsia menarik Jumi, hingga perempuan yang sangat khawatir dengan operasi plastik wajahnya cidera akibat kekerasan dari bapaknya tadi, menoleh.
"Kau!!" Narsia menjulurkan tangan kanannya yang sudah terbuka ingin mencakar wajah cantik Jumi.
Tapi beruntung polisi wanita dengan sikap menangkap pergelangan tangan Narsia.
"Ibu jangan main kekerasan, ya, sabar dulu, ikuti intruksi dari polisi," ujar polisi wanita itu.
Jumi mengkeret di belakang tubuh polisi wanita. Ia tak membayangkan jika wajahnya yang baru masuk hitungan dua minggu operasi dicakar, wah bisa mengelupas kulitku, serunya.
"Biar kurusak wajah cantiknya tapi hatinya busuk itu!" Hardik Narsia pada Jumi yang memandanginya dengan air mata berlinang.
"Emak maafkan Jumi telah membuat Emak sakit hati mengira Jumi ini palsu dan mengira Jumi menyakiti anak Emak ..." Batin Jumi sedih.
"Cantik cantik berbisa, kau!!" Narsia masih berusaha untuk menjangkau Jumi.
"Sabar Ibu, ya," segera polisi wanita menghalanginya, "Ibu segera kembali ke kursi Ibu," lanjut si polwan dengan lembut.
Dengan bersungut kesal Narsia melangkah ke kursi di sebelah suaminya.
"Dimana si Jum, Pak, bagaimana kalau anak kita betul betul dibunuh sama perempuan jahanam itu, Pak," menangis Narsia membayangkan Jumini anaknya sudah jadi mayat entah dimana sekarang.
"Emak ini Jumi," batinnya tak berani bersuara. Hatinya pedih melihat kenyataan emaknya menangis memikirkan dirinya.
Dahlan mendekat pada kedua mertuanya. Lalu berjongkok di depan mereka.
"Maafkan Dahlan, Mak, tak berterus terang sejak dari rumah sama Emak dan Bapak soal hilangnya Jumi. Itu dikarenakan Dahlan takut, Mak, Dahlan tak sampai hati pada Emak dan Bapak," air mata Dahlan berlinang, ia menunduk tak berani membalas tatapan kedua mertuanya itu.
"Dahlan, Bapak sangat kecewa padamu karena begitu Jumi kau ketahui menghilang tak langsung memberi kabar pada kami!" Suara Zainal mewakili perasaannya. Sedih dan marah menyadari nasib anaknya yang belum jelas.
"Dahlan panik dan takut, Pak, makanya Dahlan langsung melaporkan perempuan itu ke kantor polisi," lirih suara Dahlan, "Sungguh Dahlan tak mengira pulang belayar istri tak di rumah, Pak," menunduk lagi Dahlan.
"Sudah sudah kita akan memulai lagi, akan melanjutkan pemeriksaan terhadap Saudari Jumini atau Jumi," ujar polisi yang bertugas memeriksa Jumini.
"Perempuan Itu bukan Jumi anak kami, Pak Polisi!" Zainal tak sudih nama anaknya dipakai oleh Jumi cantik.
"Ya saya mengerti, Pak, tapi Saudari di depan saya ini mengaku bernama Jumini atau Jumi panggilannya katanya. Ya untuk itu kami memanggil Nama itu," ujar polisi memberi penjelasan pada Zainal yang terpaksa harus menerima nama anaknya sama dengan nama perempuan yang dibencinya itu.
Jumini yang merasa pedih pada kulit wajahnya berbisik pada polisi wanita Di sebelahnya.
"Bu Polisi,"
__ADS_1
"Ada apa, Bu,"
"Muka saya pedih, kulitnya mungkin iritasi karena tamparan tadi,"
"Lalu mau diapain?" Polisi wanita itu menatap Jumini, "Atau Ibu cuci muka dulu, ya?"
"Saya mau memoles krim ke kulit saya, Bu Polisi," dokter operasinya memang membekali krim jika kulit wajah bekas operasi mengalami iritasi, selain krim wajah untuk dipergunakan sehari hari.
"Ibu punya krimnya?"
"Ada, Bu Polisi," mengangguk Jumini.
Polisi wanita itu melapor pada atasannya, polisi yang bertugas memeriksa Jumini.
"Lapor, Pak, Ibu Jum mau ke kamar mandi,"
"Silahkan tapi jangan lama lama," angguk polisi memberi ijin.
"Terima kasih, Pak," ujar Jumi segera berdiri.
Di depan cermin kamar mandi Jumi memoles wajahnya yang memerah bekas tamparan.
"Ohk!" Desis Jumi merasa perih saat krim obat iritasi dioleskan ke bagian kulit wajahnya yang terkena tamparan itu.
"Sudah, Bu?" Polisi wanita mendekat.
Jumi mengangguk, "Ya, Bu Polisi,"
Beruntung polisi memberi ijin Jumi mengipas wajahnya yang perih dengan sehelai karton untuk beberapa saat. Rupanya polisi wanita itu ibah melihat Jumi yang merasakan perih di kulit wajahnya, makanya ia mencari karton yang tak terpakai.
"Nah sekarang kita mulai lagi untuk melanjutkan kasus hilangnya istri Pak Dahlan dengan tertuduh sementara Ibu Jumi," ujar polisi memulai tugasnya.
Jumi duduk dengan Tertip dan menghentikan tangannya yang mengipaskan karton ke kulit wajahnya yang masih sangat perih.
"Begini Bapak Zainal dan ..." Polisi menatap Narsia yang memerah matanya karena sejak tadi menangis.
"Istri saya Narsia," ujar Zainal.
"Ya Ibu Narsia," lanjut polisi."Silahkan Bapak dan Ibu berpindah duduk di sini," seru polisi menunjuk dua kursi kursi kosong yang berdekatan dengan kursi yang diduduki Jumi, "Tapi ingat Bapak dan Ibu dilarang melakukan kekerasan terhadap si tertuduh, kalau sampai dilanggar Bapak dan Ibu akan kena sangsi."
Polisi pendamping segera mendekat pada Zainal dan Narsia untuk diajak duduk di kursi yang ditunjuk.
Jelas terlihat Zainal dan istri enggan berdekatan dengan Jumi. Sedangkan Jumi begitu terlihat senang saat kedua orang tuanya berada di dekatnya.
__ADS_1
Bersambung.