
Dahlan berdiri lalu mengambil ponsel di atas meja. Dibukanya galeri ponselnya lalu dicarinya sosok dan wajah Jumini Jelita.
"Bapak dan Ibu kenal, tidak dengan perempuan cantik jelita ini?"
Haji Ali dan Hajjah Narimah mengambil ponsel Dahlan bersamaan, tapi Haji Ali mengalah, membiarkan ponsel di tangan istrinya.
"Ini siapa Dahlan?" Hajjah Narimah menatap Dahlan, lalu menunjuk foto Jumini pada suaminya.
"Ya foto siapa ini Dahlan?!" Haji Ali mukanya tegang menatap Dahlan. Ada kecurigaan di hatinya terhadap anaknya.
"Ya kenapa kamu menyimpan foto perempuan jelita ini?" kejar Hajjah Narimah menuntut jawab dari anaknya."Jangan bilang kamu tertarik pada perempuan ini makanya Jumi ngambek tak mau menemui kami?" lanjut Hajjah Narimah cemas jika anaknya sudah mulai selingkuh dengan lain perempuan sehingga rumah tangganya goyah.
"Dahlan ini perempuan memang jelita, lelaki muda yang normal akan berduyun duyun untuk mendapatkannya, tapi bagaimana pun aku dan Ibu tak menginginkan jika rumah tanggamu harus retak karena perempuan ini, Nak," menfhibah suara Haji Ali.
"Ya Dahlan walau Jumi tak secantik perempuan ini, tapi Ibu tetap memilih Jumini, Nak," himbau Hajjah Narimah pada Dahlan dengan raut muka bercampur cemas dan gusar.Bagaimana mungkin hati anaknya berpaling pada perempuan cantik dan menyakiti istri sendiri yan dibawanya dari kampung?
"Ya tinggalkan perempuan ini, bagaimana pun Bapak tak bisa menerima dia jadi menantu!"
"Pak dengar saya dulu,"
"Tak bisa cari Jumi tinggalkan perempuan yang telah menyakiti mantuku!" Haji Ali yang salah mengartikan foto jelita Jumini karena belum tahu persoalan sebenarnya itu menatap Dahlan marah.
"Ya perempuan ini racun tak sudih oleh oleh kami kamu berikan pada perempuan cantik tapi berhari jahat ini!"Sambung Hajjah Narimah.
"Bapak dan Ibu dengar dulu penjelasanku, jangan justru berbalik menuduh anak sendiri. Kalian tidak tahu bukan siapa perempuan jelita ini, kalau kalian tahu pasti terkejut ..."
Haji Ali dan istrinya saling tatap."Oh kami tidak perduli siapa pun perempuan ini, yang jelas putuskan hubunganmu dengan dia atau kami balik ke kampung saat ini juga!" Ancam Hajjah Narimah.
"Dan jangan coba coba bawa pulang kampung perempuan jelita tapi berduri ini,kami tak mau membuka pintu untuk dia!"
"Bapak dengar dulu penjelasan saya,"
__ADS_1
"Bapak sudah tidak bisa lagi untuk mendengar alasan apa pun darimu, Dahlan!" Tolak Haji Ali.
"Ya pilih perempuan jurik ini apa kami orang tuamu itu saja!" Hajjah Narimah semakin sengit.
"Aduh kenapa jadi ruwet begini urusannya, dengar dulu keterangan saya, Bu, Bapak ..."
"Takbara waktu untuk mendengarkan perselingkuhan!" Sergah Hajjah Narimah.
"Ya cari menantu kami sekarang juga mau kami bawa pulang, Dahlan!" Haji Ali pun tak mau memberi kesempatan Dahlan sama sekali tak untuk memberi keterangan. Hatinya terlanjur marah.
"Ya jangan mentang mentang sudah bisa menghasilkan uang puluhan juta setiap bulan lalu kau berunah tak setia, itu bukan keturunanku, Nak ..." hampir menangis Hajjah Narimah menatap Dahlan dengan kecewa.
"Saya tidak selingkuh dengan siapan Bapak, Ibu ..." Dahlan bersuara agak keras membuat kedua orang tuanya saling pandang, lalu menatap Dahlan tak mengerti.
"Itu justru foto Jumi istri Dahlan, menantu Bapak dan Ibu," ujar Dahlan membuat kedua orang tuanya mengangah kebingungan.
"Jangan membohongi orangtua Dahlan ..." Hajjah Narimah meminta penjelasan lewat tatap matanya.
"Saya tidak bohong," angguk Dahlan.
"Maka dengar dulu saya ceritakan pada Bapak dan Ibu kenapa Jumini jadi sejelita ini?'
Lagi lagi Hajjah Narimah dan Haji Ali saling tatap dengan bola mata seperti orang linglung.
"Begini ceritanya," lalu Dahlan memulai ceritanya tentang Jumini.
"Jumini operasi plastik dengan biaya diatas satu miliyar di Korea tanpa berunding atau ijin pada saya ..."
"Hah?!!" Pekik Haji Ali dan Hajjah Narimah bersamaan. Kedua pasang mata mereka melebar dengan mulut terngangah menandakan betapa terguncangnya jiwa mereka mendengar jika perempuan cantiknitu Jumini, menantu kesayangan mereka.
"Kau tak sedang berbohong, Nak ...?" Bergetar suara Hajjah Narimah.
__ADS_1
"Betul, Bu, sumpah demi Allah ..." Dahlan terpaksa mengucap sumpah demi kedua orang ruanya percaya.
Hajjah Narimah mendadak jadi lesu dan keringat dingin membasahi baju yang dikenakan. Berita Jumini operasi plastik sangat menghujam jantungnya.
"Ya Allah kenapa menantuku jadi gelap mata dan nekat tanpa berpikir dari segi agama ...?" Air mata Hajjah Narimah sudah mengaliri kedua pipinya yang mulai kendur dimakan usia.
Begitu pun dengan Haji Ali tak alang kepalang kecewa hatinya sampai menantunya melakukan operasi kecantikan merombak total raut wajah dan warna kulitnya.
Bagaimana mungkin dia busa menerima kondisi Jumini yang sudah tak lagi sebagai Jumini yang dikenalnya?
Walau pun jiwa yang ada dalam Jumini jelita adalah jiwa menantunya yang lama, sangat sulit untuk ditoleransi. Karena dia rudak bisa menerima perubahan yang melanggar akidah agamanya itu.
"Saya tak bisa menerima Jumi, sudah mencoba, sampai konsultasi dengan Psikolog, tetap jiwa saya berontak dan tak bisa gidup berdampingan dengan Jumi berwajah baru itu, saya risih, makanya saya meminta pada Jumi untuk sementara hidup terpisah rumah dulu, sambil terus sata mencoba untuk bisa menerimanya ..."
Sepi semua terdiam.
"Tapi nampaknya saya tak bisa menerima secara permanen perubahan si Jumi, maafkan saya, Pak,"
"Kamu pikir Bapak bisa dan setuju dengan apa yang dilakukan istrimu itu, sangat bertetrntangan dengan ajaran agama kita, dimana kita dilarang merubah apa apa tang telah diberikan Sang Pencipta pada kita," ujar Haji Ali dengan gusar, tapi dalam hatinya merasa sedih atas apa yang telah diperbuat oleh Jumini.
"Lalu Jumi sekarang dimana, Nak?"Hajjah Narimah menjadi serba salah. Walau kecewa dan gusar, tapi sama dengan suaminya, dalam hati merasa tak tega jika harus memisahkan Jumini dari Dahlan.
"Saya sudah mencarinya, setelah dirawat di rumah sakit dia pergi entah kemana," geleng kepala Dahlan.
"Kita harus temukan Jumi dulu, lalu kita adakan pertemuan keluarga, kita undang irang tuanya untuk menentukan nasib rumah tangga kalian," usul Haji Ali yang berusaha untuk mencari jalan damai berunding dengan orang rua Jumini untuk menyelesaikan urusan kemelut rumah tangga anak anak mereka.
"Ya carilah Jumini sampai ketemu, Nak, bagaimana pun dia masih sah istrimu." sambung Hajjah Narimah.
"Kita harus meminta Pak Zainal dan Ibu Narsia datang ke Jakarta, kita bicara di sini saja secara kekeluargaan. Jangan sampai ada permusuhan diantara kami, tak enak satu kampung ..." ujar Haji Ali yang sudah memastikan tak bisa menerima menantu yang telah dengan lancang merubah wajah pemberian Tuhannya.
"Muda mudahan saja Jumi dalam keadaan baik dan tak melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri, dan menyusahkan kita," harap Hajjah Narimah.
__ADS_1
Dahlan hanya terdiam saat kedua orang tuanya memberikan pandangan tentang operasi merombak total wajah dalam segi agama, mau pun tindakan yang akan mereka lakukan pada Jumini dalam hubungan rumah tangga dengan dirinya.
"Tak menyangkah Dik Jum hubungan kita hanya sampai di sini," batin Dahlan yang sebebarnya berat menceraikan Jumini, tapi batinnya sudah menolak istrinya.