
Ternyata Jumini semakin lemah tubuhnya. Bahkan dia demam tinggi, makanya langsung dibawa ke rumah sakit menjalani rawat inap.
Bahagia karena terbukti dirinya tak berbohong membuat Jumini tak langsung merasa besar kepala untuk bertemu suami Dan orang tuanya. Namun justru kini ia dihinggapi rasa serba salah dan kebingungan teramat sangat, serta rasa segan dan malu karena telah menjadi perempuan yang Ingin cantik.
Jumini terserang oleh mental yang membuatnya merasa rendah diri dalam situasi keadaannya. Perasaan dan keberaniannya untuk tampil sebagai Jumini yang berwajah baru, ternyata tak seberani sikap dan suaranya yang lantang Di ruang polisi, saat mempertahankan pengakuannya sebagai Jumi istri Dahlan.
Sekarang justru bersikap sebaliknya. Semalam ada rongrongan dalam dirinya yang mengerdilkan keberanian, serta pendiriannya terlihat goyah.
Dokter mengatakan jika Jumi terserang sindrom kurang percaya diri setelah semua yang dialaminya.
"Pasien menderita secara psikisnya," ujar Dokter Andre yang bekerja Sama dengan Psikolog Suciyati yang selalu didatangkan untuk pedampingan pasien yang pikirannya mengalami dipressi dan sejenisnya.
Jumini yang tetap dijaga polisi wanita itu, meminta supaya jangan dibiarkan sendiri.
"Bu Polisi tolong jangan dibesuk orang tua atau suami, saya belum bisa bertemu mereka, saya sekarang kebingungan," pesannya pada polisi wanita yang dengan sabar serta ramah mendampinginya sejak awal perkaranya.
"Baik, Bu, akan saya sampaikan,"
"Terima kasih Bu polisi."
Maka pihak polisian yang berkordinasi dengan pihak dokter yang mendignosa keadaan Jumi memberitahukan pada orang tua pasien.
"Mohon Bapak dan Ibu tidak bertemu Saudari Jumi dulu, saat ini beliau sedang dalam penanganan dokter. Selain itu Saudari Jumi juga berpesan untuk tidak dibesuk orang tua dan suaminya," ujar polisi yang menangani kasusnya Jumini.
Zainab dan Narsia tampak cemas. Walau merasa masih bingung dan belum sepenuhnya bisa menerima keadaan perubahan putri mereka, namun karena pembuktian sudah terlaksana dan benar adanya, toh mereka sangat cemas dengan keadaan Jumini.
Kedatangan Dahlan dari Korea membuat Zainal dan Narsia agak ringan bebannya.
__ADS_1
"Sekarang saya percaya Pak, Mak, dia memang Jumi, saya sudah bertemu dokter yang melakukan tindakan operasi wajah si Jumi. Melihat biodata dan foto asli Jumi sebagai pasien yang kesekian ribu perempuan yang Ingin cantik sempurna," menunduk Dahlan. Jelas suaranya menggambarkan Kekecewaan.
Suami istri Zainal saling tatap."Dahlan pembuktian ini sangat menguncang hatiku dan perasaan emaknya Jumini. Jujur hati kami menolak kenyataan ini, tapi tak bisa dipungkiri. Tes DNA telah membuktikan dia Jumi, dan kamu sendiri sudah pula mencari fakta di klinik tempat operasinya."
"Ya Dahlan, Emak kecewa, kok masih jengah memiliki anak berbeda wajah dan kulit aslinya, Emang terbiasa dengan Jumi Emak yang dulu," tampak rona sedih mewarnai raut muka Narsia
Mereka saling tatap dan hati mereka bahagia karena orang yang mereka cintai dalam keadaan selamat, tak hilang atau dianiaya. Tapi mereka memendam rasa kecewa yang dalam atas perubahan yang membuat mereka jadi merasa asing pada Jumini.
"Saya juga kecewa, Mak, tapi ini masih lebih jauh lebih baik daripada Jumi terbuang, atau teraniayah," ujar Dahlan.
"Bapak dan Emak Minta maaf atas tingkah Dan keluhan Jumi. Bapak nggak nyangkah jika anak Bapak bisa tergoda setelah berada di Jakarta," ujar Zainal.
"Ya Emak nggak menyangkah jika amak Emak bisa kehilangan kendalali dan lupa nasehat orang tua untuk menerima fisik kita dengan Ikhlas dari Yang Maha Kuasa," air mata Narsia mengalir di kedua pipinya yang cekung itu.
Dahlan sangat terharu melihat betapa kedua mertuanya itu sangat terpukul dengan kelakuan istrinya.
"Saya juga turut bersalah, Mak, karena saya tak memberi nasehat pada Jumi untuk menjadi diri kita sendiri. Dan saya juga sangat menyayangkan perubahan drastis itu. Sungguh sangat tragis rasanya," sungguh Dahlan tak bisa menahan gejolak sesal atas apa yang dilakukan istrinya.
"Perempuan itu memang istri saya Jumini atau Jumi, Pak Polisi," ujar Dahlan dengan Lesuh, perasaan dan hatinya tetap kecewa, karena ia sangat tak setuju dengan apa yang dilakukan Jumini.
"Ya akhirnya semua terungkap. Saya ikut bahagia ternyata istri Pak Dahlan tak hilang, dan tak dianiaya" ujar polisi.
"Terima kasih atas semua waktu Dan tenaga yang telah Bapak sekalian korbankan atas persoalan keluarga dan istri saya, Pak," tetap dengan raut muka tak bahagia Dahlan menatap pada beberapa polisi yang telah bekerja dengan baik, menyelidiki laporannya.
"Itu sudah kewajiban kami mengedepankan kepentingan masyarakat. Jika Kami bisa membantu masyarakat adalah kepuasan kami, Pak Dahlan," ujar Polisi.
"Ya, Pak,"
__ADS_1
"Melihat situasi begini kami hanya bisa mengatakan bahwa masih jauh lebih bagus istri Anda tak mengalami peristiwa tragis pembunuhan atau penganiayaan," ujar polisi yang mengerti kecewa hati Dahlan.
"Ya, Pak," angguk Dahlan membenarkan ucapan polisi karena istrinya luput dari yang mengerutkan seperti yang dibayangkannya selama proses dan pemeriksaan.
"Istri Anda belum mau ditemui kedua orang tuanya, termasuk juga oleh Anda," ijar polisi.
Dahlan terkejut memandang pada polisi, lalu menoleh pada kedua mertuanya.
"Ya, Bapak dan Emak belum bertemu Jumi, Bapak dan Emak bingung, Lan, sudah menyakiti Jumi, sudah murka sama dia, rasanya kok sangat bersalah,"
"Itu Bapak lakukan karena Bapak tak tahu yang sebenarnya." Bela Dahlan.
"Istri Anda mengalami perasaan sangat tertekan dan memerlukan waktu untuk memilihkan perasaan yang mempengaruhi pikirannya. Maaf, Pak terpaksa kami mengikuti permintaan pasien untuk tidak bertemu dengan Anda dan kedua orang tuanya," ujar Psikolog Suciyati yang menangani pemulihan keadaan semangat serta mental Jumi yang mengalami permasalahan dengan keadaan yang telah dilewatinya.
"Karena faktor pikiran dan semangatnya yang sangat lemah, maka membuat kesehatannya menurun serta tekanan darahnya sangat rendah," ujar Dokter Andre.
"Baik, Dok, saya percayakan.kesembuhan istri saya pada Dokter dan Tim medis di sini, terima kasih,"
"Sama sama, Pak," angguk dokter Andre.
Dahlan dan Zainal serta Narsia meninggalkan rumah sakit dengan gembira, namun hati yang melompong kosong serta sedih.
Bahagia dan gembira Karena kenyataannya Jumini tidak terbunuh, dan tak teraniayah. Namun kecewa merambati hati mereka, Karena kenyataannya Jumi yang mereka kenal. Jumini yang mereka cintai telah merubah tampilan raut wajahnya. Dari Jumini yang mereka kenal sudah akrab tak asing lagi, menjadi Jumini yang cantik, tapi sungguh tak mereka kenal, bahkan terasa asing dan membuat mereka riskan untuk menganggapnya sebagai Jumini, atau Jumi tercinta.
Jumini yang berwajah secantik Artis Korea itu memang tetap memiliki raga Jumini asli, dan sukma yang ada pada perempuan itu pun tetap sukma milik Jumini. Tapi bagaina pun wajah yang berubah tetap menjadikan Dahlan, beserta Zainal dan Narsia seperti berhadapan orang asing nantinya.
Itulah yang ada dalam pikiran mereka saat ini. Sama sama memendan rasa gusar, amarah dan kecewa yang terpaksa mereka tekan untuk menerima kehadiran Jumi dengan wajah barunya.
__ADS_1
Dahlan sangat merasakan jika jiwanya merontah belum bisa menerima keadaan Jumini. Ia sangat tertekan Karena harus terbiasa dengan wajah baru istrinya.
"Bisakah aku sebahagia bersama Jumiku yang dulu?!" Batin Dahlan dengan hati gelisah.