Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab.38 Sajak Terpikat Jumini Jelita


__ADS_3

Deringan telepon dari Sajak terus menerus membuat pengang kuping Jumini. Beberapa pesan dari lelaki itu punenggan dia buka.


Pikirannya fokus pada hari kedatangan kedua mertuanya. Dia mulai cemas dan takut walau rasa pasrah jika ditalak kedua mertuanya. Namun dengan menghindari pertemuan dengan mereka apa tak menjadi rasa kecewa pada kedua mertuanya?


Tapi harus bagaimana, bukankah dirinya sudah pergi dari rumah Dahlan, karena suaminya itu menolak dirinya?


Karena lelah memikirkan tentang kemungkinan kemungkinan yang terjadi setelah kedua mertuanya datang di rumah suaminya, serta rasa cemas pada kecewa mereka, dan rasa tak sampai hati karena telah menghindar dari pertemuan dengan mereka Jumini pun tertidur.


Karuan dering yang tak henti hentinya dari Sajak membuat Roni yang kebetulan melintas tak jauh dari kamarnya, merasa harus memberitahu si empunya ponsel


"Pasti ketiduran ..." batin pemuda yang memang mengagumi kecantikan Jumini itu.


Roni langsung menuju pintu kamar Jumini.


Berdiri sejenak. Dia merasa ragu. Tapi karena dering ponsel milik Jumini semakin menjadi jadi, maka tangannya mengetuk pintu.


"Mbak Mini ..."


Tak ada sahutan


Derinh ponsel masih tetap berlanjut


"Mbak Mini ..."


Belum ada respon dari dalam.


Tok


Tok


Tok


Ketukan tangan Roni di pintu rupanya berpacu dengan dering telepon dari Sajak.


"Mbak Mini ..."


Jumini terbangun. Siapa yang ngetuk pintu, ya.


"Ya siapa?"


"Maaf, Mbak aku Roni, itu dering ponselnya Mbak Mini dari tadi, mungkin penting, Mbak, maaf aku terpaksa ngetuk pintu, Mbak Mini,"


"Oh ya Dik Roni terima kasih,"

__ADS_1


"Sama sama, Mbak, mari,"


"Ya, Dik,"


Roni berlalu dari kamar Jumini, dan Rini yang kebetulan melihat aksi Roni menjadi curiga dan cemburu.


"Wah udah nggak bisa ditoleransi lagi, nih, Roni, ngetuk kamar mbak Mini mau apa, coba?!"


Sedangkan Jumini di kamar langsung mematikan suara ponselnya, sehingga panggilan dari Sajak yang masih berlangsung itu tak lagi terdengar.


Roni tanpa merasa bersalah bersiul siul mau ke kamarnya.


"He tunggu," terbirit birit langkah Rini mendekat.


Roni menoleh sekaligus menghentikan langkah menatap pada Rini yang berwajah sedikit cemberut.


"Kenapa kamu sakit perut?" Roni menggoda gadis yang sudah dua tahun bergabung di tempat kosnya ini.


"Ya mules tiba tiba melihat kamu ketuk ketuk kamar mbak Mini, ngapain coba, mau nyelinap ke dalam, ya, ih nggak sangkah kalem kalem ternyata gataljuga lihat yang bening kayak mbak Mini, ya ..." celoteh Rini panjang seperti bajaj suaranya berisik di telingah Roni.


"Jangan sembarangan, gini gini masih punya iman, ya, bagaimaba pun kagumnya aku sama kecantikan mbak Mini yang kayak boneka itu" sahut Roni tak mau kalah. Ya nggak terimalah dia disebut gatal.


"Huh itu karena nggak dibukain pintu sama mbak Minu, kan?!" Rini rupanya tak mau menyerah. Rasa curiga yang berlebihan itu dikarenakan cemburu di hatinya sudah mendesak seakan mau menjebol dinding dadanya. Sakit rasanya.


"Udah deh aku nggak mau memperpanjang, intinya aku tuh nggak nyangkah ajah kamu bisa begitu," segera kakinya menjauh dari depan kamar Roni.


Karuan Roni merasa dituduh akan melakukan suatu yang mesum membuatnya meradang. Tak mau tinggal diam menerima tuduhan yang tak sepantasnya, dia menghadang Rini.


"Heh tunggu dulu harus klarifikasi yang jelas,aku tadi ngetuk kamar mbak Mini karena dering ponselnya dari tadi nggak diangkat ..."


"Apa urusanmu?!" Rini tertawa melihat raut muka Roni memerah.


"Ya jelas dong khawatir mbak Mini kenapa napa, makanya aku coba untuk mengetuk pintu, namanya tetangga ya kudu tanggap siapa tahu mbak Mini lagi sakit,"


"Cuma itu?" Rini tertawa.


"Nuduh lagi, nih," geleng kepala Roni, "Sumpah aku tuh tak punya niat jelek, hanya ingin tahu apakah Mbak Mini nggak kenapa napa, itu saja!" Roni menekankan pada Rini supaya jangan disebut pemuda berotak mesum. Lagipula tujuannya tadi kan memang untuk memberitahu jika ada telepon, sekaligus ingin tahu bahwa si mbak Mininya baik baik saja.


Melihat Roni sebegitu membela diri membuat Rini diam diam merasa tenang.


"Berarti Roni nggak punya niat macem macem, ya," tiba tiba saja hatinya tenang pemuda impiannya tak berotak mesum. Huh jika Roni punya otak mesum ogah dia jadian kapan kapan.


"Masih nuduh aku otak mesum?!" Kini Roni yang mendesak Rini tak sabar. Ini sangst penting pikirnya. Jangan sampai ada merk mesum pada dirinya. Enak saja jauh jauh merantau, huh!

__ADS_1


"Ya syukur deh kalau gitu, maaf, ya, sebagai teman aku saling mengingatkan saja, udah, ah ..." tanpa menunggu lagi segera saja Rini berlari meninggalkan Roni yang keburu kesal dengan tuduhannya.


Rusman yang sempat menyaksikan percekcokan kedua muda mudi cuma nyengir.


"Ron dia itu kayaknya naksir kamu, deh," goda Rusman.


"Ah Bang Rusman bisa ajah," garuk garuk kepala Roni yang betul betul tak memperhatikan perhatian Rini pada dirinya.


"Udah ah, Bang aku ke kamar dulu," pamit Roni.


"Oke," angguk Rusman dan kepalanya sempat menoleh ke kamar Jumini sebelum melangkah ke kamarnya sendiri.


*


Sajak berjalan mondar mandir dengan gelisah karena panggilan teleponnya sejak tadi tak digubris oleh Jumini.


"Kok nggak diangkat, sih," kesal Saja, "Pesan juga nggak dibalas, ada apa ya, jangan jangan ponselnya jatuh di jalan," tiba tiba saja raut muka Sajak tegang, kalau ponselnya si Mini hilang atau terjatuh aku nggak bisa mgubungi dia, duh kehilangan kesempatan dong untuk bisa ketemu gadis yang sangat menarik hatiku itu, dumel hatinya merasa kalang kabut.


Maka untuk sekedar melepas unek unek yang membuatnya jadi lesuh bagai tak memiliki semangat, segera dia menghubungi Dahlan.


"Halo Sajak kabar apa, nih," sambut Dahlan yang sedang uring uringan karena memikirkan kepergian Jumini dan juga kedatangan kedua orang tuanya. Saat ini dia berada di dalam taksi menuju Bandara untuk menjemput orang tuanya.


"Kabar buruk, Bang, tuh gadis cantik nggak ngangkat panggilanku yang sudah puluhan kali, pesanku juga nggak diangkat," keluh Sajak dalam suara menandakan jika dirinya dalam keadaan genting.


"Wah jangan jangan dia ada suaminya, jadi nggak berani nganfkat ponsel di rumahnya," jawaban Dahlan ngasal saja, karena otaknya saat ini sedang dalam kebuntuan tak bisa memberi kata hiburan atau solusi pada Sajak, karena dia sendiri lagi cari cari alasan jika orang tuanya tanya kenapa istrinya tak ikut menjemput.


"Wah bisa semaput aku Bang," ujar Dahlan dengan rasa hampir seperti kehilangan calin pasangan hidup yang begitu pas dengan dirinya.


Dahlan sempat tertawa mendengar keluhan Sajak.


"Kau baru ketemu sekali langsung jatuh hati ...'


"Entah aku merasa suka dan ingin ngajak ngobrol dan ketemuan lagi, kali kali ajah rejeki" ujar Sajak serius.


"Kayaknya kamu serius,"


"Aku harap dia nggak sedang ada pasangannya, biar sempat kuajak pulang kampung dulu bertemu orang tuaku sebelum aku melaut,"


"Hebat kamu serba kilat, ya ..." goda Dahlan tertawa.


Sungguh mereka tak tahu jika yang jadi topik pembicaraan adalah Jumini perempuan yang sedang dalam permasalahan.


"Pak maaf sudah sampai kita di Bandara .." suara sopir taksi menyadarkan Dahlan kalau tinggal menunggu hitungan menit saja akan menghadapi pertanyaan kedua orang tuanya tentang keberadaan Jumini dimana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2