Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab.6 Bertemu Sahabat Lama


__ADS_3

Peneriksaan hari ini untuk Jumini cukup dulu. Perempuan Itu tetap ditahan di kantor polisi menunggu kedatangan ibunya guna tes DNA.


Dahlan meninggalkan kantor polisi dengan perasaan gundah. Sungguh ia masih mencurigai Jumini muka Korea itu sebagai penjahat yang tahu dimana keberadaan Jumini istri tercintanya.


"Aduh aku harus bilang apa kalau nanti Ibu mertuaku datang menanyakan anaknya?" Dahlan mulai cemas.


"Dahlan bagaimana jika kamu nggak usah bawa si Jumi ke Jakarta, toh, nanti si Jumi di sana kamu tinggal belayar pula berbulan bulan baru balik," ujar Ibu Narsia ibunya Jumini.


Saat itu pernikahan mereka baru tiga minggu berjalan, dan Dahlan dikabari temannya jika menunggu kabar lowongan kerja di laut sebaiknya di Jakarta saja, supaya gampang datang ke Kantor yang membutuhkan tenaga pelaut.


Saat berunding dengan Jumini, ternyata istrinya ingin ikut ke Jakarta. Maka Dahlan pun menyambut dengan sangat gembira. Makanya ia pamit minta ijin pada mertuanya untuk ke Jakarta membawa serta istrinya.


"Ibu biar kami menata kehidupan baru kami di rantau, lagipula saya kan nggak langsung belayar, Bu, masih menunggu panggilan. Itu bisa makan waktu tiga sampai empat bulan, Bu," ujar Dahlan berusaha minta ijin Ibu mertuanya supaya memberikan ijin anaknya dibawa ke Jakarta.


Muncul Zainal bapaknya si Jumini. "Bu biarkan si Jumi ikut Dahlan, dia, kan sudah jadi suaminya. Si Jumini. sudah menjadi tanggung jawabnya suaminya. Lagipula mereka masih pengantin baru,"


Dahlan sangat senang dengan dukungan Bapak mertuanya yang mengerti jika pengantin baru itu masih butuh kebersamaan yang manis.


Jumini menatap suaminya dengan tatap penuh bahagia.


"Jum," panggil Narsia memandang anak perempuan satu satunya dengan tatap berat untuk berpisah jauh. Soalnya sejak kecil anaknya itu nempel terus kemana dirinya pergi. Lalu tiba tiba harus dipisahkan jauh.


"Ya, Mak," sahut Jumini yang duduk di samping suaminya.


"Kau mau ikut suami kau ke Jakarta?"


"Ya, Mak," angguk Jumini senyum malu malu.


"Nanti kalau suamimu belayar kau pasti tinggal sendirian. Mana lama pula si Dahlan itu kalau belayar, apa kamu sanggup ditinggal suami, lalu jauh dari orang tua dan sanak saudara?"


"Wah emak mertuaku ini mulai meracuni istriku supaya jangan mau ikut," batin Dahlan waktu itu. Tapi ia tenang saja, semalam Jumini menangis di pelukannya saat ia mengatakan harus ke Jakarta untuk melamar pekerjaan. Dan istrinya itu minta ikut serta.


"Nanti Abang kegoda gadis Jakarta yang cantik cantik itu,"


Berdasarkan tangisan Jumini yang sangat mengkhawatirkannya kawin lagi di Jakarta, ia yakin kalau Jumi tak akan tergoda atau kena pengaruh ucapan emaknya.


"Ya Mak, Jumi ikut Abang Dahlan biar belajar dewasa ngurus rumah tangga," tanpa ragu Jumini atau Jumi mengutarakan tekatnya, "Boleh, kan, Bang jika Abang layar nanti Jum sebulan atau dua bulan pulang kampung lepas rindu sama emak dan Bapak?" Jumini menatap Dahlan dengan senyum manisnya.


"Oh bolehlah, masa nggak boleh," jawab Dahlan cepat tersenyum pada pada istri tercintanya.


"Tuh kan, Mak, kita tetap akan jumpa, kok," ujar Jumini pada Narsia yang masih tampak berat hati melepasnya.


"Ya, Nak, nanti kita akan datang menemanimu jika suamimu belayar," ujar Zainal pada Jumi , lalu menoleh pada Narsia istrinya, "Istri itu tempatnya di sisi suaminya, nanti kita ke Jakarta kalau kangen pada anakmu, Mak,"

__ADS_1


"Ya sudah kalau Jumi maunya ikut Dahlan, pesan Mak hati hati, dan kamu Dahlan jaga istrimu, ya," ujar Narsia akhirnya setuju.


"Oh pasti saya jaga, Mak, kan Jumi ini kesayangan saya, Mak," angguk Dahlan tak menutupi gembiranya.


"Bang," Jumini menatap suaminya penuh mesra.


"Kita akan selalu bersama, Dik," lupa dimana mereka berada saking gembiranya karena Ibu mertua telah mengijinkan membawa istri tercinta, Dahlan langsung merangkul Jumini.


Mereka berpelukan meluapkan Rasa bahagia disaksikan Zainal Dan Narsia yang diam diam meninggalkan mereka.


Dahlan terhenyak ingat akan hal itu. Besok Ibu mertuanya akan datang, apa yang akan dikatakannya jika mereka tiba tentang Jumini yang tak ada di rumah.


Pasti mertuanya marah dan kecewa pada dirinya yang telah ingkar janji. Tak bisa menjaga anak kesayangan mertuanya.


"Payah aku ini!" Dahlan galau.


"Eh!"


Dahlan terkejut saat disadarinya ia menabrak seseorang di depannya.


"Oh maaf nggak sengaja .." Dahlan menyatukan kedua telapak tangannya dengan posisi agak menundukkan punggungnya.


"Hai Dahlan kau?!" Seru lelaki yang ditabraknya.


Dahlan langsung menatap lelaki yang menyapanya dengan familiar itu.


Keduanya lalu berpelukan."Hai lama juga kita nggak ketemu, ya, sejak lulus sekolah, sudah hampir empat tahun, ya," ujar Dahlan pada teman sekolah lanjutan atasnya di kampung halamannya.


"Wah kayaknya kau sudah tampang Bos, nih!" Seru Sajak memperhatikan tubuh Dahlan yang tak lagi kurus seperti masa sekolah, tapi gempal berisi.


"Ya mungkin kebanyakan angin laut," ujar Dahlan tertawa melupakan sejenak galau hatinya.


"Wah sudah jadi Sailor rupanya kawan kita ini, ya," Sajak tertawa lepas.


"Mau jadi apalagi, kau?"


"Sajalah,"


"Oh kau juga belayar rupanya?" Dahlan sangat antusias.


"Ya hanya aku ini bukan Sarjana kelautan, sekolah secara ketenganlah, tahu sendiri kan, kau, orang tuaku di kampung dulu kurang mampu untuk memasukkan aku sekolah pelayaran, namanya cita cita ingin jadi pelaut seperti Nenek moyangku, jadilah aku kursus lalu belayar, ada duit kursus lagi, layar lagi,"


"Ya sudah intinya kau berhasil juga jadi pelaut," ujar Dahlan merangkul Sajak karib sekolahnya dulu.

__ADS_1


"Kita ngopi kek atau minum apalah dulu untuk merayakan pertemuan ini," ajak Sajak pada Dahlan.


Mereka pun sudah duduk di warkop atau warung kopi.


Dua gelas kopi panas menemani obralan mereka.


"Eh tadi kau ke Kantor polisi ngurus apa?" Dahlan menatap Sajak, lalu menghirup kopinya. Sesaat ia ingat Jumini istrinya yang tak pernah lalai membuatkan kopi untuk dirinya.


"Ngurus surat berkelakuan baik, kalau tak ada aral melintang seminggu lagi aku dikirim ke Srilangka."


"Wah hebat juga kau, sudah berapa lama belayar, Bos?" Goda Dahlan.


"Tiga tahunan,"


"Wah lamaran kau denganku, aku baru dua tahun kurang,"


"Ya iyalah, aku kan nggak kuliah macam kau, Dahlan. kursus saja, lalu belayar, ada duit kursus lagi supaya ada kenaikan pangkat. Ya susah aku awal naik kapal jadi oiler belepotan olie, tapi Aku enjoy saja, namanya perjuangan ya harus dari bawah," cerita Sajak lancar disertai tawanya.


Dahlan tertawa, "Itulah hidup penuh daya juang, yang penting kita menikmati pekerjaan kita itu saja,"


"Ya aku nikmati saja kebetulan mereka semua yang jadi atasanku baik dan membimbingku," angguk Sajak.


"Sudah kawin kau kawan?" Dahlan menatap Sajak.


"Belum lagi nabung, untuk kawin, tahun lalu sudah ada calon, tapi nggak tahunya kalau aku belayar dia dengan yang lain pacaran. Payah!" Sungut Sajak.


"Bersabarkan belum jodohnya, kali,"


"Kudengar kau sudah kawin sama orang sekampung, heh?"


"Ya dengan anaknya Pak Zainal,"


"Wah berarti di Jakarta ini dengan istri?"


Tiba tiba Dahlan menunduk. Muka cerianya berganti dengan kabut tebak.


"Musibah, Bro," ujarnya lirih.


"Musibah?"


"Ya," angguk Dahlan, "Istriku ada yang mencekakai," sambungnya lirih.


"Istrimu dicelakai siapa?!" Sajak pun mendadak hilang cerianya, berganti dengan tegang.

__ADS_1


"Istriku kemungkinan dianiaya lalu dia hilang," memerah mata Dahlan.


Bersambung.


__ADS_2