Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab.50 Kembali ke jakarta


__ADS_3

Sajak membuka kedua mata dan menemukan dirinya terjatuh dari tempat tidur.


"Ah hanya mimpi," gumamnya pada diri sendiri.


Dia Langsung bangun dan duduk di pinggiran tempat tidurnya, sambil terus memikirkan arti mimpi indah yang membuatnya sempat merasa begitu bahagia, karena berhadil membuat si jelita gadis impiannya jatuh hati pada dirinya dan mau membalas ungkapan perasaannya.


Tanpa sadar bibirnya tersenyum mengingat kemesraan yang sempat dirasakannya bersama sang pujaan hati.


Namun ternyata hanya mimpi. "Konon kalau mimpi indah itu nanti yang terjadi adalah kebalikannya ..." miris hatinya jika ingat ungkapan tentang arti mimpi indah berakhir duka.


Tapi Sajak pantang menyerah, apalagi hanya karena mitos mimpi indah akan terjadi kebalikannya.


"Jangan percaya mitos," bantah hatinya, mitos kadang sering membuat orang terobsesi, katanya dalam hati. Yang penting usaha dan nikmati serta jalani saja dulu, semoga berhadil pendekatanku nanti ..."


Maka Sajak mengarang kalimat indah untuk mengundang bertemu sang pujaan hati.


Jumini.


Saat Jumini terbangun dari tidurnya yang dilihatnya adalah pesan masuk dari Sajak.


Tersenyum Jumini membaca rangkai kalimat pujian dan rayuan tapi terkesan tak memaksa dari Sajak.


(Selamat sore cantik, datang di mimpiku saja rasa hati ini tersanjung dan begitu melambungkan anganku. Jika ada waktu ingin mengundang minum teh bersama)


Jumini membalas pesan Sajak.


(Terima kasih, tapi jangan menyanjung terlalu tinggi nanti aku kepedean, wah minum teh suka amat, tapi sore ini aku belum bisa)


Pesan terkirim.


Datang lagi balasan dari Sajak.


(Terima kasih pesanku dibalas, Cantik, oke, aku tunggu kapan pun ada waktu untukku ...)


Jumini pun membalas.


(Sama sama)

__ADS_1


Jumini meletakkan ponselnya. Menghela napas panjang. Untuk satu dua hari dirinya memang butuh untuk istirahat total tanpa diganggu dengan kesibukan apa pun, termasuk bertemu dengan orang lain.


Tapi rupanya untuk menghindari Roni dan kawan kawannya di tempat kos terasa sulit, karena mereka melihat aktifitasnya. Tak mungkin Jumini tak membuka pintu dalam waktu seharian, membersihkan ruangan, atau menyalahkan lampu kamarnya.


Orang pertama yang memperhatikan perubahan di kamar Jumini adalah Roni.


Pemuda itu langsung kesemsem senang hatinya melihat cahaya di kamar Jumini.


"Wah Mbak Mini sudah pulang, nih," batin Roni bersorak senang, berharap bisa berjumpa perempuan yang diam diam dia puja dalam hati.


Bukannya Roni tak berusaha untuk memadamkan perasaan yang terlalu memuja Jumini, tapi, entah mengapa bayangan wajah perempuan yang lebih tus lima tahun dari dirinya itu selalu lekat di pelupuk matanya.


Jika Roni sangat bersemangat dengan datangnya Jumini, lain lagi dengan Rini. Gadis yang masih berusaha pendekatan dengsn Roni, merasa ada saingan. Walau berusaha untuk tak cemburu melihat pandangan mata Roni pada Jumini, toh, tetap ada rasa cemas di hatinya, karena sampai saat ini si Roni belum juga menunjukkan jika dia naksir, walau sudah sering bercakap cakap bersama atau mentraktir makan bakso dan es.


Tapi sejauh itu belum ada tanda tanda jika pemuda itu adalah pemuja rahasianya.


Huh kadang gemes juga deh bila ingat begitu. Tapi apa mau dikata dirinya kan perempuan tak mungkin mendului, huh!


Rini hanya sering mengeluh dalam hati saja.


Minati bisa melihat jika sepasang mata Rini menunjukkan rasa cemas jika melihat Roni menatap Jumini.Dan gadis yang sudah cukup dewasa seperti Minati pun bisa merasakan jika ada keterpikatan pada Jumini pada kilatan mata Roni setiap berbicara dengan Jumini.


Minati tak bisa melarang Roni untuk terpikat pada kecantikan Jumini, tapi, tak bisa juga melarang Rini cemas pada pemuda pujaannya.


"Kenapa kok kelihatannya kesel dan cemas gitu, sih?" Minati menggoda Rini yang tatapannya lurus ke arah kamar Jumini. Dan kebetulan rupanya saat itu Roni yang baru pulang dari kampus sempat melongokkan kepalanya kearah pintu kamar Jumini yang sedikit terbuka.


Minati mengikuti arah pandang Roni yang mendadak menghentikan langkah dan mendekat kearah pintu kamar Jumini.


Kebetulan saat itu Jumini ingin keluar dari pintu, rupanya tadi perempuan itu sedang mengepel.


"Hai Roni," sapa Jumini tersenyum sambil melangkah ke luar pintu dan sekaligus menutup pintu.


"Hai kapan balik, Mbak Mini?" Roni yang sudah kepalang kepergok jadi salah tingkah.


"Tadi siang, silahkan duduk aku lagi ngepel, nih, sekalian depan kamar juga," seru Jumini tersenyum pada Roni.


"Silahkan diteruskan ngepelnya, Mbak, maaf mengganggu, aku mau ke kamar dulu," pamit Roni.

__ADS_1


"Wah baru pulang kuliah, tumben kok sore amat," ujar Jumini asal bersuara saja, sesungguhnya dia sendiri tak tahu jadwal kuliah pemuda di depannya.


"Ya, Mbak ada kuliah tambahan tadi, dan mampir ke aula kampus ada tausiah dari Ustads muda Ibrahim yang lulusan Yaman, lagi ngetop, Mbak," ujar Roni jujur dengan apa yang dilakukannya setelah selesai mengikuti kuliah tambahan.


"Ya memang harus sering sering mendengar tausiah, supaya kita tahu mana yang boleh dan pantas kita lakukan dan yang tidak boleh, atau termasuk larangan dari Sang Pencipta bumi dan langit ini," mendadak Jumini terdiam dan merasa malu karena sok mengingatkan orang lain, sedangkan dirinya sendiri saja melakukan laranganNYa dengan merubah wajah pemberianNya.


"Kenapa, Mbak?" Roni rupanya memang sangat perhatian pada Jumini, makanya saat perempuan itu seperti dikejutkan oleh nasehat dan kelakuannya sendiri, langsung saja pemuda itu tahu perubahan wajah idola barunya itu.


"Ah, nggak apa apa Ron, cuma sedikit kena debu tadi mukaku, sekarang sudah nggak lagi mau neruskan kerjaan dulu, nih,"


"Ya, Mbak aku juga mau ke kamar selamat mengepel ria, deh," tertawa Roni lalu melangkah menjauhi kamar Jumini yang langsung meneruskan pekerjaannya mengepel depan kamarnya.


Minati tersenyum dia semakin mengerti kenapa Rini seperti uring uringan, lalu ditepuknya pelan dan lembut pundak gadis itu, "Cemburu atau gimana?"


"Ah, nggak , kok, Mbak ini ada ada saja deh," geleng kepala Rini yang wajahnya langsung memerah saat isi hatinya diketahui oleh Minati.


"Nggak apa apa itu namanya normal kalau kita punya rasa cemburu, tapi, si Roni memang tampan, kok, kamu kan sudah lama kenal dia apa kalian tak saling jatuh hati gitu?" sengaja memang Minati memancing perasaan Rini.


"Ah, mbak Minati ini bisa saja, " tapi wajah Rini merona dan sepasang matanya mengisyaratkan kalau hatinya sedang galau.


"Khawatir Roni naksir Mbak Mini, ya?" Goda Minati lagi langsung menohok ke jantung hati gadis yang mendadak terdiam dan sulit untuk menjawab.


"Mbak Mini nggak selera kali sama yang muda dan belum dewasa kayak Roni, tenang saja dia bukan sainganmu," tersenyum Minati untuk menghibur hati Rini supaya tak terlalu cemas Roni akan digaet Jumini.


"Tapi ..." segera Rini menghentikan suaranya, hampir saja dia kelepasan untuk mengatakan kalau Roni sepertinya menyukai Jumini, atau tengah tergoda dan memuja perempuan itu, atau apalah yang jelas pemuda pujaannya itu memang sering kali bertingkah yang mencurigakan jika di hadapan Jumini.


Minati tersenyum dia semakin mengetahui hati dan perasaan Rini yang memang sedang dilanda cemas jika Roni naksir Jumini.


"Tenang sajalah kamu kan lebih muda dan lebih cocok dengan Roni, paling paling Roni hanya suka saja bercakap cakap dengan Mbak Mini yang ramah ..."


"Dan jelita," sambung Rini dengan suara lirih.


"Kamu juga cantik, kok ," ujar Minati menatap Rini yang memang berwajah manis dengan sepasang mata bening dan hidung mancung serta wajah bersih polos tanpa mike up.


"Tapi nggak sejelita Mbak Mini," ujar Rini membandingkan wajahnya dengan wajah milik Jumini yang memang nyaris sempurna bak blaster Indo Korea.


Minati tersenyum, "Cantik itu telatif untuk yang melihatnya, Rini, kamu juga cantik dan Mbak Mini cantik banget, tapi kalau ada pemuda yang naksir kita tetap saja kita akan lebih cantik dari gadis mana pun, tenang saja, kecantikan seseorang itu akan menemukan pemujanya tersendiri, jika kamu tak dipuja oleh Roni, mungkin pemujamu masih ada di luar sana." ujarnya ingin meringankan pikiran Rini yang kelihatannya memang menyukai Roni dan khawatir pemuda itu memilih Jumini yang diakuinya jelita.

__ADS_1


__ADS_2