Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab.25 Pasrah Dalam Luka


__ADS_3

Jumini menggeleng. Menghapus sisa air matanya.


"Ibu?" Suster lebih mendekat lagi, "Ada yang bisa saya bantu?"


Jumini hanya menggeleng.


"Barangkali Ibu Haus?"


Menggeleng lagi.


"Ibu," suster masih berusaha membujuk dan menenangkan hati Jumini.


"Suster,"


"Ya, Bu,"


"Apa besok pagi ada kunjungan dari Ibu Suciyati?"


"Ada tapi siang, Bu,"


"Oh saya mau bertemu,"


"Ya akan saya sampaikan, Bu,"


"Terima kasih, Sus,"


"Sama sama, Bu,"


Jumini ingin berbicara dari hati ke hati pada Psikolog yang sejak awal sudah menangani kasus yang dialaminya.


Saat Dahlan datang berkunjung justru Jumini yang pura pura tidur nyenyak.


Melihat istrinya nyenyak merupakan keuntungan tersendiri bagi Dahlan. Dengan demikian dia tak perlu berhadapan langsung dengan Jumini.


Jumini seakan ingin membantu Dahlan supaya suaminya tak tersiksa menatap wajahnya, beberapa menit setelah Dahlan duduk di kursi di samping tempat tidurnya, berpura pura pulas dia memiringkan badannya membelakangi suaminya.


Dahlan menoleh dan membiarkan istrinya kini dalam posisi membelakanginya. Dan sesungguhnya Jumini kini sedang menangis tanpa suara.

__ADS_1


"Ya Tuhan ampunkan dosa hamba yang telah merombak wajah asli pemberianMu, kini hamba menerima karma dari perbuatan hamba. Suami hamba menolak hamba. Ya Allah ya Tuhan kami beri kelapangan pada suami hamba, namun jika suami hamba sudah tak cinta lagi pada hamba mohon ya Allah beri hamba ketabahan dan kekuatan serta keikhlasan hati menghapi semuanya ..." seiring dengan permohonan dalam hatinya air mata bergulir di kedua pipi mulusnya.


Tiga puluh menit berlalu ternyata Jumini betul betul ketiduran, sehingga dengkuran halus pertanda dirinya memang nyenyak tertangkap telingah Dahlan.


Tangan Dahlan terulur ke rambut Jumini. Perlahan mengelus sekumpulan helai rambut sang istri yang tak pernah tersentuh tangannya sejak peristiwa operasi wajah Jumini.


"Maafkan Abang ya, Dik Jum," bisik hatinya. Sesungguhnyalah hatinya sedih mengenang kebersamaan yang manis sejak menjadi suami istri. Tapi kini hanya tinggal kenangan. Tak sanggup untuk mengulang karena wajah sang istri pemicunya.


Dahlan bukannya tak mau berusaha untuk mengalah. Untuk memahami demi perasaan Jumini, seperti saran yang disampaikan Suciyati M. Psi. Tapi hatinya belum bisa berdamai. Sudah dicoba saran dari Sajak, bahwa dirinys harus toleransi. Tapi kok sulit mengajak hatinya untuk bisa berdamai dengan situasi dan kondisi Jumini.


Dahlan hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. Merasa kecewa dan membenci hatinya yang tetap tak bisa mau diajak untuk berdamai dengan keadaan Jumini.


"Ya Tuhan bukalah hati hamba supaya mau menerima keadaan istri hamba ..." keluh Dahlan memohon dan meminta bantuan Sang Maha Pemurah dan Pengasih untuk membuat jiwanya bisa menerima keadaan Jumini.


Sementara Dahlan terpuruk dengan jiwa dan hatinya yang tak bisa menerima keadaan Jumini, perempuan itu saat ini sangat menikmati elusan tangan suaminya.


Berpura pura masih pura pura pulas. Bahagia rasanya menikmati sentuhan tulus tangan suaminya, mengingatkannya pada masa indah dulu. Sehingga dalam derai air matanya dia merasakan kesejukan pada perasaannya. Namun juga pilu mengingat kenyataannya mengingat sang suami sudah tak seperri dulu lagi.


Dahlan pun menjerit dalam hati menyadari keadaannya saat ini. Hati tak berubah tetap mencintai Jumini, tapi raga tak bisa mendekat karena menganggap Jumini adalah perempusn asing.


Tiga puluh menit Jumini bertahan dalam posisinya. Membelangi Dahlan dan pura pura tidur.


Maka mereka suami istri saling berdiam diri dengan caranya masing masing untuk menikmati sensasi indah yang menghilang beberapa pekan ini.


"Ya Allah aku pasrah padaMu jika aku harus kehilangan belai lembut dan kasih sayang dari lelaki yang begitu aku cintai ini." Jerit dan kepasrahan Jumini dalam hati. Biarlah kunikmati jika elusan sayang ini adalah yang terakhir, keluh pilu batinnya.


"Ya Allah bahagianya jika keadaan begini bisa berlangsung lama ..." batin Dahlan yang mengerti jika elusannya yang tulus pada Jumini tak bisa dia pertahankan.


Jerit batin Dahlan dan Jumini sama sama tersiksa dalam bahagia yang mereka nikmati saat ini.


"Jumi Abang pulang dulu ..." lirih suara Dahlan mendekat ke telingah istrinya.


Jumini menahan napas saat merasakan hembusan napas Dahlan di telingahnya. Dia bagai terhipnotis. Tercekat sesaat merasakan sensasi hangat yang kerap dia nikmati bersama suami tercintanya.


"Aku tak ingin terlena lagi. Aku harus berusaha untuk melupakan masa lalu. Aku harus terbiasa tanpa belai kasih Bang Dahlan," walau berat untuk dipikul tapi Jumini harus bisa melakukannya.


Dahlan merundukkan kepala tapi terhenti saat raut mukanya hanya berjarak sekian senti dari rambut Jumini, seketika niat untuk mencium helai rambut perempuan yang sebenarnya sulit untuk dihapus dari kalbunya terhenti.

__ADS_1


Jumini nekat sebelah matanya melirik ke atas, seakan terhenti napasnya melihat Dahlan yang terpejam berada tepat di atas wajahnya. Kemudian dia langsung memejamkan sebelah mata yang dibuat melirik tadi. Dada bertalu talu tak tenang. Napas suaminya masih terasa menyapu sebelah wajahnya.


Ada gejolak yang melambung tinggi dalam keadaan demikian, tapi segera ditepisnya. Dahlan sudah tak menginginkannya.


"Maafkan Jum, aku tak bisa," keluh Dahlan menarik mukanya dari dekat wajah Jumini.


Setelah itu berdiri. Sikapnya penuh kebimbangan.


"Jum Abang balik dulu, ya," pamit Dahlan dengan suara lirih.


Jumini hanya menjerit dalam hati. Tapi berusaha tabah dengan sikap yang harus tetap dimaklumi dari suaminya.


*


Dengan penampilan yang segar walau kedua sinar matanya memendam luka. Mengenakan setelan celana panjang dan tak lupa kerudung penutup rambutnya yang dicat kecoklatan itu, Jumini duduk di hadapan Suciyati M. Psi.


Perempuan yang sehari hari berhadapan dengan problem pribadi pasien yang datang padanya itu, menatap Jumini dengan tersenyum.


Karena Jumini masih diam, maka Suciyati M Psi menunggi dengsn sabar. Kesabaran inilah yang menjadi pendukung utama profesinya. Sebagai seorang yang bertugas untuk menjadi pendamping mereka yang memiliki gangguan pikiran serta hal hal yang membuat seseorang tak bisa hidup tenang itu, Suciyati M. Psi memang sangat berjiwa tinggi serta hati yang lapang. Sehingga bisa menampung keluhan demi keluhan pasiennya.


"Ibu ..." Jumini menatap perempuan di depannya.


"Ya Ibu Jumi." Suciyati tersenyum, "Ayo katakan saja apa yang Ibu rasakan tanpa ragu, munfkin kita bisa sharing bersama. Nggak perlu ragu." bujuknya dengan suara lembut.


Jumi terpekur sejenal. Benarkah dirinya akan melepas Dahlan?"


Ada luka yang mengangah dan menimbulkan perih di ulu hatinya. Tapi biar dia akan menanggumg semua duka lara yang diciptakannya sendiri itu.


"Bu ...." Jumini menguatkan hatinya.


"Bagaimana perasaan Ibu? Ayo jangan ragu untuk menjadi kuat. Walau secara fisik terlihat beda, tapi kita itu diberi jiwa untuk dipelihara supaya tetap sehat dan kuat. Bukan untuk orang lain, tapi untuk melindungi perasaan kita sendiri. Bagaimana kita akan bangkit dari keterpurukan jika jiwa pemberian Tuhan tidak kita rawat ..."


"Ya Ibu saya sudah bisa berdamai dengan diri saya sendiri ...." Jumini menunduk. Di dadanya ada debar yang harus dinormalkan, makanya dia kini terdiam.


Suciyati M. Psi mengerti jika pasien di depannya itu sedang menghadapi pergolakan dalam jiwanya. Tapi melihat sinar mata dan gestur tubuhnya, tampaknya perasaannya terkalahkan oleh pikiran yang kini mendominasi pasiennya itu.


"Saya sudah siap menghadapi semuanya. Ibu benar saya tidak boleh terus menerus dengan perasaan bersalah. Sudah terlanjur, dan saya harus menerima kekalahan itu ..." Tekat sudah bulat bagi Jumini untuk memulai hidup baru ...

__ADS_1


bersambung


.


__ADS_2