
Saat sidang bubar kembali Jumini mengenakan maskernya dan kacamata, setelah mencium tangan kedua orang tua Dahlan.
"Saya mohon maaf sekali lagi, Pak"
"Ya, Jumi," sahut Haji Ali.
"Saya mohon maaf, Bu,"
Hajjah Narimah menyentuh lembut pundak Jumini ,"Ya, Nak, kamu jaga dirimu semoga Allah melindungimu,"
"Ibu juga sekeluarga semoga dapat perlindungan dari Allah,"
"Aamiin," tersenyum Hajjah Narimah, sesungguhnya di dalam hatinya perempuan tua ini sangat menyayangi Jumini, bakal calon mantan menantunya.
Di tempatnya berdiri Dahlan melihat adegan akrab antara ibu dan perempuan yang akan menjadi mantan istrinya, dengan terharu.
Saat melewati Dahlan hsnya tersenyum Jumini, kemudian segera bergabung dengan emak dan bapaknya.
Bukannya dia berkelakuan sombong, tapi rasanya perasaannya tercabik cabik karena akan dicerai atau akan berpisah dalam kehidupan rumah tangganya dengan lelaki tercintanya itu.
Karena banyak yang ingin melihat wajah jelita Jumini, maka terpaksa Zainal meminta perlindungan pada petugas, supaya mereka yang ingin mendekat pada putrinya dihalau.
"Putri saya sedang berduka dan menyesali apa yang telah terjadi, mohon, Pak jangan sampai mereka semua itu membuat Jumini semakin terpuruk," ujar Zainal pada petugas, karena tatapan takjub mereka serta ada pula yang memandang dengan cibiran karena sudah merubah pemberian Allah menurutnya, hanya akan membuat putrinya itu merasa tak nyaman. Wajah yang jadi persoalan dalam hidup putrinya kini.
"Baik, Pak," ujar petugas.
"Jumi ..."
"Jumini jelita amat ..."
"Jumi kayak artis Korea ..."
"Juminiku sayang .."
"Aduh Jumi bertobatlah .."
Banyak para pengunjung sidang yang menunggu di lusr gedung bergerak maju akan mendekat pada Jumini.
Jumini langsung dipeluk oleh ibunya, dan Zainal pun tak tinggal diam, lengannya dibuat untuk membuat batas para pengunjung kearah Jumini yang melangkah dalam pelukan emaknya.
__ADS_1
"Memangnya anakku ini tontonan, apa?!"
Dua orang petugas pun dengan sigap menghalau para pengunjung yang ingin mendekati Jumini untuk sekedar menatap kecantikan perempuan itu.
"Jangan mengganggu mereka yang mau lewat, ya,' ujar si petugas dengan ramah pada pengunjung yang berdesakan itu.
",Aduh Jumi kenapa, sih pakai masker, buka maskernya aku udah mau penggemarmu, nih ..." teriak seorang remaja putri yang sempat mendengar perbincangan tentang kecantikan Jumini.
"Jumi dimana operasinya..." ada juga yang berkomentar demikian
"Jumini pantasmya jadi artis," seru yang lain.
"Karena sudah cantik, ya, makanya minta cerai!" Teriak seorang lelaki yang tak tahu persis penyebab sidang perceraian itu.
"Kalau aku jadi Dahlan kupertahankan istriku, nanti digaet artis lho..." seru seseorang.
Dahlan dan orang tuanya yang melintas di dekat mereka hanya geleng geleng kepala saja.
*
Pada hari ke dua adalah mediasi untuk mendamaikan penggugat dan tergugat. Tapi tampaknya Dahlan tetap pada rencana semula, sebab menurutnya jika dia harus menunggu Jumini untuk operasi wajah kembali pada semula itu tak mungkin.
"Aku akan berjuang untuk mengembalikan wajah asliku" ujar Jumini berharap Dahlan mengerti jika dirinya pun sudah menyadari hal yang dilakukannya itu salah, "Tapi hal ini aku ingin lakukan selain supaya Bang Dahlan tahu bahwa aku ingin betul bahwa rumah tangga kita ini bisa bertahan, juga karena keran pula, namun aku juga mengerti jika keinginanku ini tak mungkin bisa mengubah niatan Bang Dahlan untuk berpisah, aku hanya sekedar memberitahu isi hatiku," setelah berkata cukup panjang, Jumini terdiam..
"Kita ini bisa saja berambisi apa pun, tspi harus menyadari bahwa wajahmu bukan boneka, Dik yang bisa dirombak sana sini untuk mendapatkan hasil yang diinginkan pembuatnya. Hanya Tuhan yang memiliki segala kuasa atas wajahmu," tegas Dahlan dengan suara lirih.
Karena mediasi tak juga mendapat titik temu untuk mendamaikan mereka, karena dari pihak Dahlan tetap ingin bercerai, dan pihak Jumini walau sempat mengutarakan isi hatinya bahwa masih sanggup untuk merombak wajahnya pada yang asli, toh, tetap menyerah pada inginnya Dahlan.
Maka sidang lanjutan perceraian mereka akan dilakukan pada minggu berikutnya.
Selama menunggu masa sidang lanjutan, Jumini melakukan interaksi telepon dengan Deli dan Lia, Dia menceritakan tentang perceraian yang tetap akan dilakukan oleh Dahlan.
"Ya aku kan pihak perempuan yang bersalah, ya harus menurut pada maunya dia, lagipula tak enak juga rumah tangga jika pihak suami sudah merasa tak nyaman dengan istrinya,"
"Ya, Dik, bagaimana pun salahmu, kamu juga harus punya harga diri," ujar Lia.
"Ya, sekarang tetapkan hatimu, tetaplah menjadi dirimu sendiri terlepas dari salah yang kau lakukan, Dik," sambung Deli, "Semoga saja keinginmu terkabul jika benar kamu mau merubah dirimu seperti dulu lagi, itu juga tidak salah jika sudah Dik Jumi utarakan pada Dahlan,"
"Ya, Mbak terima kasih,"
__ADS_1
Lain Lia dan Deli, lain pula anak anak kos yang menghubungi Jumini, mereka ingin Jumini kembali segera ke Jakarta.
"Ya Ampun Mbak Mini baru juga kenal udah kabur ke kampung ajah, mana lama lagi baru balik Jakarta," seru Minati.
"Ya Minati karena keluarga pada nahan supaya jangan buru buru pulang dulu," ujar Jumini memberi alasan yang bukan sesungguhnya.
"Ya Mbak Mini rasanya kok ada yang hilang sejak Mbak Mini pulkam alias pulang kampung, jangan lama lama dong ..." rsjuk Roni yang memang merasa begitu bersemangat jika berada di dekat Jumini. Wajah jelita perempuan itu betul betul telah merekrut hatinya
"Hai Roni, doakan saja Mbak sehat dan lancar urusannya di kampung supaya kita bisa jumps lagi," tertawa kecil Jumini bila ingat betapa antusiasnya pemuda dua puluhan tahun itu jika bercakap cakap dengannya.
"Oh pastinya aku kan ingin Mbak Mini segera balik ke kosan, biar aku nggak ngerasa kehilangan seperti begini," ujar Roni. Sebenarnya apa yang dikatakannya itu adalah bentuk penyaluran suara hatinya bahwa seorang Jumini sudah menghipnotisnya.
"Ya aku juga, Ron," balas Jumini.
"Benar, Mbak?" Sungguh sangat antusias respon si Roni ini.
"Ya dong,"
"Jadi kangen Mbak Mini .." ujar Roni.
"Jangan ngangeni aku .."
"Wah itu namanya membatasi rindu seseorang, dong .." Rini merajuk.
Jumini tertawa.
"Terima kasih sudah ngangeni aku, Ron," tertawa kecil Jumini, ya lumayan percakapan dengan Roni bisa sedikit menghibur hatinya yang sesungguhnya sangat lara itu.
Namun hanya panggilan dari Sajak yang tak berani dibalas atau dilayani oleh Jumini. Namun supaya panggilan dari lelaki itu tsk terus menerus, maka Jumini mengirim pesan singkat.
(Maaf sedang ada urusan dengan keluarga jadi belum bisa interaksi, ya, maaf).
Pesan terkirim.
Sajak rupanya langsung membalas pesan yang diterimanya dari Jumini.
(Ya ampun rasanya jantung mau copot menunggu responmu Dewi, sungguh sebuah kekuatan untuk aku jadi semangat lagi menerima pesanmu ini Dewiku ... oke semiga semua lancar, maaf aku terus menerus menerormu dengan dering telepon, karena sumpah aku tak tenang ingat kamu terus. Berjumpa denganmu bagai mendapat karunia tak ternilai. Salam kangeeenn ...)
Tak lupa gambar hati tiga berjejer.
__ADS_1
Bersambung
.