
Hari ini menjadi hari terberat bagi Haji Ali dan Hajjah Narimah setelah berada di Jakarta. Betapa tidak, niat hati mereka ingin menengok anak menantu, dan makan oleh oleh bersama secara suka cita, tapi ternyata nestapa yang mereka dapatkan.
Sungguh tak pernah ada dalam bayangan mereka berdua bahwa Dahlan dengan Jumi dalam keadaan renggang serta dalam problem besar.
Sangat diluar nalar mereka apa yang telah terjadi pada Jumini. Perempuan muda datang dari kampung, setelah di Jakarta ternyata telah merubah pemberian Ilahi, demi mengejar wajah jelita.
Dalih ingin membuat suami bangga dan lebih bahagia dengan tampilan barunya, wajar itu keinginan mulia seorang istri menurut Haji Ali serta Hajjah Narimah.
Tapi kalau sampai merubah wajah yang telah dimilikinya sejak lahir, itu sudah diluar kewajajaran dan sangat bertentangan dengan ajaran agama, dan suami Haji Ali serta Hajjah Narimah tak bisa lagi membela inginnya Jumini.
Maka mereka segera menghubungi kedua besan mereka untuk segera berangkat ke Jakarta.Jangan ditanya sesal yang ada di hati Haji Ali, karena sesungguhnya dia tak mau Dahlan mengalami kegagalan rumah tangga.
Begitu pun dengan Hajjah Narimah, hatinya sangat terluka harus memisahkan Dahlan dati Jumini. Sesungguhnya dia sangat menyayangi Jumini. Teramat sayang dan itu tak bisa lagi diragukan. Maka saat ini duka dalam dadanya sangat mempengaruhi fisiknya yang bermuram.
*
Jangan ditanya juga keadaan Jumini saat ini yang masih mendekam dalam kamarnya. Perempuan jelita itu untuk hari ini dia betul betul tak mau menampakkan diri di luar kamar. Seperti ada arus listrik, apa yang terjadi pada kedua mertuanya sangat mengenah di relung hatinya.
Jumini merasakan jika kedua mertuanya pasti sudah tahu keadaan fisiknya. Sudah tak ada lagi yang disembunyikan. Pasti mereka akan kecewa berat.
"Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki, tubuh, wajah. Tak perlu jelita untuk perempuan jika ingin hidup bahagia dan disayangi suami dan keluarga, cukup berprilaku santun dan baik serta penuh sayang sudah merupakan modal utama. Jangan kita hidup dalam kepalsuan, karena yang palsu dan pura pura itu tidak baik. Allah ingin kita jujur serta menjadi manusia yang mensyukuri pemberiannya ..." teringat tausiah singkat bapak mertuanya sehabis sholat magrib bersama di musholah di samping rumah sang mertua, saat menginap di sana setelah tiga hari pernikahannya dengan Dahlan.
Dan saat ini tausiah itu dilanggarnya. Jumini paham jika tak ada ampun lagi. Mereka pasti menolaknya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
Jumini bingung. Haruskah aku muncul di rumah Dahlan dan bersimpuh memohon ampunan pada kedua mertuaku karena telah menjadi manusia ingkar pada anugerah pemberian Tuhan?
"Ah sebaiknya aku menunggu keputusan Emak dan Bapak dulu,"" akhirnya Jumini memutuskan langkah yang akan diambilnya.
Seperti gayung bersambut, tiba tiba datang telepon dari orang tuanya.
"Ya halo Mak," berdebar hati Jumini.
"Jumi kedua mertuamu meminta Emak dan Bapak ke Jakarta untuk merundingkan persoalan rumah tanggamu dengan Dahlan, lalu dirimu berada dimana?" Narsia yang berbicara dengan Jumini, sedangkan Zainal yang sedang murung memikirkan nasib pernikahan putrinya berada di sampingnya.
"Saya kos, Mak, Jumi memang belum bertemu mereka," jawab Jumini sedih, bagaimana pun dia tak sampai hati telah menyakiti hati kedua mertuanya.
"Ya Emak dan Bapak mau ke Jakarta besok, bagaimana ini langsung ke rumah Dahlan atau ke tempatmu, Nak?" Narsia adalah ibu yang melahirkan Jumini, semarah marahnya pasti masih memiliki kasih sayang seorang ibu.
Pembicaraan pun terputus.m Sungguh Jumini tengah mengalami krisis rumah tangga, dan itu bukan persoalan kecil dalam kehidupannya. Besok dia harus membawa kedua orang tuanya ke tempat kosnya ini, atau membawa mereka ke sebuah hotel sederhana saja.
Karena pikirannya kusut, maka Jumini ingin bercakap cakap dengan Deli serta Lia, dua sahabat baru yang sangat perduli pada dirinya.
"Menurutku ya dirimu memang harus segera muncul di hadapan mereka, menampakkan diri menerima keputusan walau sangat sakit, ikhlas dan berserah saja, Dik Jum, percayalah kerendahan hati serta ketulusan kita untuk minta maaf akan membuat mereka yang terluka akan sedikit terobati, walau tak bisa lagi menyambung rantai yang putus, jika mereka memang ingin menceraikanmu." urai Lia ingin menyemangati Jumini, "Aku sangat paham keadaanmu, Dik Jum, bersabarlah ..."
"Ya, Mbak aku sudah pasrah,"
"Dik Jum jangan lantas menjadi hilang semangat, karena semangat adalah yang utama dalam membangun jiwa kita supaya tidak frustasi dan menuju pada kemunduran cara berpikir. Anggap ini ujian terberat dalam hidupmu, Dik, ini kesalahan terbesar dalam hidupmu, tapi tidak lantas membuat kita mati rasa pada kehidupan ini. Tetaplah menatap ke depan, berdoa dan berusaha untuk hidup lebih baik lagi, dan dapat berpikir dengan dewasa bahwa mereka yang akan menceraikanmu dengan rumah tanggamu itu bukan orang yang yang membencimu, tapi orang yang ingin membuatmu sadar jika apa yang kamu lakukan, Dik, itu bukan sehaluan dengan mereka, dan bukan jalan hidup mereka, dan kita memang harus lapang dada untuk menghormati keputusan mereka." lanjut Deli mereka memang mengadakan hubungan telepon bertiga.
"Ya kami selalu ada untukmu, dan kita tak harus membuang orang yang terlanjur berbuat salah," ujar Lia lagi.
__ADS_1
"Ya, Mbak terima kasih, besok aku akan menghadapi mereka dan akan meminta maaf pada kedua mertuaku karena kesalahan fatal ini ..." lirih dan agak bergetar suara Jumini.
"Ya jangan putus asah, Dik, jadikan semua kesalahan kita sebuah pelajaran," sambung Deli.
"Ya' Mbak," hubungan telepon terputus.
Jumini sangat beruntung kedua sahabatnya yang tengah proses cerai dengan suami mereka itu selalu ada jika dirinya dalam kebingungan dan kesedihan.
"Bang Dahlan akhirnya kita akan berpisah, benarkah kita akan bercerai?" Air mata Jumini mengaliri kedua pipi mulusnya, sungguh penyesalan dalam dan besar tak ada artinya lagi. Besok vonis akan diterimanya dari kedua orang tua Dahlan.
Jauh di lubuk hatinya cinta pada suaminya tak berubah.Walau Dahlan enggan menyentuhnya lagi cinta itu masih utuh. Walau dirinya pergi dari rumah Dahlan bukan berarti dia tak mencintai Dahlan lagi. Tapi dia pergi untuk mencari ketenangan hati dan menghindari sikap suaminya yang merasa terganggu dengan perubahannya, serta mencoba untuk hidup mandiri dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, diluar soal kecantikan wajah.
Ternyata begitu juga dengan Dahlan, dia menjauhi Jumini istrinya bukan karena benci atau tak cinta lagi. Tapi tak bisa menyentuh wajah lain sang istri,karena cintanya hanya pada Jumini yang berwajah asli.
Saat ini di kamarnya dia termenung. Rasanya masih sangat berat untuk menceraikan Jumini karena di relung hatinya memang masih mencintai Jumini. Tapi batinnya tak bisa menerima wajah jelita istrinya,ini yang jadi persoalan pribadinya yang sangat berat.
"Dik Jum haruskah kita bercerai, tapi bagaimana ini karena Abang tak bisa menerima wajah barumu, dan dirimu, dik, sudah mengecewakan orang tuaku yang sangat menghargai pemberian dan anugerah Sang Pencipta bagi umatnya ..." pedih hati Dahlan mengingat jalan terjal yang terhampar di harapannya.
Ponsel Dahlan berdering tanda pesan masuk. Ternyata dari Sajak.
(Bang kemana saja kok telponku nggak diangkat. Tolong apa yang harus aku lakukan, Bang, gadis pujaan yang baru kukenal seakan hilang begitu saja.Hatiku rasanya kok tersiksa)
(Maaf Bro aku sedang dalam persidangan kedua orang tuaku yang menolak Jumi dengan kejelitaannya. Semoga gadis impianmu bisa kau temuin lagi)
Pesan terkirim pada Sajak. Saat ini Dahlan sedang tak mau diganggu oleh apa pun karena bayangan wajah Jumini yang asli tengah menggoda pikirannya ...
__ADS_1