
Bab.37
Jumini sudah berada kembali di kamar kosnya. Dia hanya tersenyum saat teringat pertemuannya dengan Sajak. Sama sekali tak berharap jika lelaki muda itu akan menjadi sahabatnya, atau bertemu kembali dengannya. Walau dia terpaksa memberikan nomor ponselnya, itu dikarenakan ia ingin segera berlalu dan pulang ke rumah. Makanya dia berikan saja nomornya.
Kalau telepon diangkat saja, toh nggak ada paksaan untuk datang bertemu lelaki itu lagi, pikirnya. Dia tak mau banyak dibuat ruwet oleh suatu yang dapat membuat kondisi keadaannya akan merusak kesehatannya.
Masalah kedatangan kedua mertuanya dia masih belum menemukan titik temu. Apakah akan menemui sang mertua dengan wajah barunya atau masih tetap akan sembunyi di tempat kos barunya ini.
Setelah menatap barang barang yang dibelinya segera Jumini menghubungi orang tuanya dan terpaksa dia mengatakan pada orang tuanya tentang keberadaannya yang tak lagi bersama dengan Dahlan.
“Jadi Emak tolong rahasiakan nomorku ini dulu ya pada Bang Dahlan karena Jumi belum bisa menentukan sikap apalah mau bertemu mertua atau gimana?”
“Jadi kamu tidak serumah dengan Dahlan lagi, Nak?!” Narsia terkejut mendengar pengakuan Jumini tentang Dahlan yang tak bisa menerima perubahan wajahnya.
“Memang salah Jumi, Mak telah membuat Bang Dahlan kecewa dengan perubahan Jumi ini. Bagi Bang Dahlan wajah Jumi ingin sangat asing dan dia belum bisa menerima perubahan, bahkan dia terkesan jijik bila Jumi dekati, Mak,”
“Ya Allah bisa jadi begini pernikahanmu, Nak, dosa apa kiranya yang Emak dan Bapakmu lakukan dulu, hingga membuat rumah tangga satu satunya anak kami ini sampai mengalami hal seperti ini …” dan Narsia pun menangis.
Jumini merasa sangat serba salah, bahkan sangat merasa berdosa karena telah membuat emaknya menderita, “Jumi yang salah, Mak, bukan dosa yang Emak dan Bapak lakukan, ini sama sekali bukan dosa kalian, tapi kelakuan Jumi yang telah membuat rumah tangga Jumi hancur, dan kemungkinan juga akan membuat orang tua Jumi malu jika sampai kedua mertua Jumi datang dan mengetahui semua keadaan Jumi,” mendengar ibunya terisak , Jumini pun ikut menangis, “Maafkan Jumi, maafkan Jumi telah salah melangkah …”
Tentu saja apa yang didengar dari putrinya itu disampaikan pada Zainal suaminya. Tentu saja Zainal sangat terkejut tentang apa yang telah didengar dari istrinya. Maka dia akan ke rumah orang tua Dahlan untuk meminta maaf dan berterus terang saja tentang keadaan putrinya. Tapi ternyata Haji Ali dan Hajjah Narimah sudah berangkat ke Bandara dan mereka pun menyusul ke Bandara, ternyata mereka sudah naik pesawat ke Jakarta.
__ADS_1
“Kita terlambat untuk mengatakan hal yang sesungguhnya, bagaimana ini nanti kita dianggap menutupi kebusukan anak sendiri karena sepulang dari Jakarta kita tak berterus terang tentang kondisi Jumi dan keadaan rumah tangga mereka,” sesal Zainal tak mengatakan terus terang tentang perubaha putrinya pada besannya.
“Ya semua sudah terlambat, Pak,” angguk istri Zainal yang sangat mengerti perasaan bersalah yang sedang bersarang di dada suaminya, bahkan juga di dadanya sendiri.\”Putri kita memang salah, tapi, kita juga tak mungkin akan menyingkirkan Jumini, ya tinggal pasrah saja jika memang Jumi diceraikan dan kita ajak dia pulang kampong,”
Zainal menatap istrinya dan mengangguk. Benar apa yang dilatakan istrinya, bagaimana pun Jumini adalah anak mereka. Yang terjadi pada Jumini memang bentuk kesalahan yang sangat besar. Tindakan yang sangat tak mudah dimaafkan. Tapi, bagaimana pun mereka adalah orang tua Jumini, tak mungkin tak akan kasihan jika putri mereka nanti diceraikan dan terkatung katung di Jakarta.
“Ya, kita harus bersiap siap menjemput Jumi jika terjadi sesuatu dengan rumah tangga mereka,” ujar Zainal. Sang istri mengangguk pasrah.
“Ayo kita pulang, Mak,” ajaknya pada istrinya. Dan di perjalanan dia memberitahu Jumini bahwa kedua mertua putrinya itu sudah berangkat ke Jakarta.
Jumini terkejut.
“Ya, Pak,” jawab Jumini berusaha untuk menguatkan hatinya.
Jumini tak keluar dari kamarnya. Bahkan telepon dari Sajak sudah puluhan kali tak diangkatnya. Perasaan dan pikirannya masih focus pada kedatangan kedua mertuanya yang tanpa sambutannya. Bahkan ketukan pintu dari Roni serta Minta dan juga dia hiraukan.
Tentu saja Sajak uring uringan karena puluhan kali panggilannya tak digubris oleh Jumini. Bahkan beberapa pesan singkatnya juga tak mendapat balasan. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak oleh Jumini.
“Kenapa ya, kok teleponku nggak diterima dan pesanku tak dibaca? Sajak sangat cemas dan itu membuatnya jadi semakin cemas, jangan jangan perempuan yang dikaguminya itu sudah punya pacar atau punya suami, kan, bisa runyam jadinya. Bisa patah hati aku nanti sebelum jadian, keluhnya.
Jumini memang sengaja tak mau membuka pesan dari Sajak yang berderet itu. Pikirannya sendang tak mau diganggu. Dia lagi bingung. Sedih dan gusar karena tak bisa mengambil sikap atas kedatangan kedua mertuanya.
__ADS_1
Untuk muncul ke hadapan mereka jelas tak punya keberanian dengan perubahan wajah yang sangt menyolok ini. Terlebih lagi sikap Dahlan yang menunjukkan tak akan ada pembelaan dari sang suami jika ada kritikan dari kedua mertuanya. Jumini cemas jika kedua mertua tak bisa menerima perubahan wajahnya, karena dia tahu jika mertuanya adalah seorang yang sangat disiplin soal apa yang menjadi pemikirannya.
“Bapak dan Ibu tak menginginkan wajah cantik dari seorang menantu dan istri Dahlan, yang kami inginkan budi pkerja serta cinta kasih dan pengabdian Jumi pada suami, itu yang tertuang dalam kerukunan berumah tangga. Jadi boleh nanti modern tapi jangan berlebihan, tetap berpegang pada agama, bahwa seorang wanita itu tidak boleh berpenampilan berlebihan, baik dalam berpakaian, mau pun dalam bersolek. “ ujar Haji Ali mertua lelakinya.
“Ya Jumi kamu ini sudah sangat cantik bagi kami dan pasangan yang cocok untuk Dahlan anak kami, cintai suamimu dan tetaplah menjadi dirimu sendiiri seandainya nanti kalian hidup berkecukupan di kota besar …” sambung Hajjah Narimah ibu mertuanya merangkul pundaknya dan mencium dahinya sepenuh sayang.
Jumini jadi sangat terharu dan sedih mengingat hal itu.
“Maafkan saya Bapak, ampunkan saya Ibu …” serunya tak bisa menahan air mata penyesalan atas apa yang telah diperbuatnya. Dan bisa dibayangkan bagaimana kecewanya mereka. Dengan demikian maka dirinya sangat merasa berdosa pada kedua mertua yang begitu mengasihinya itu.
“Mbak Mini sakit?” Seru Minati khwatir karena Jumini tak juga mu membukakan pintu.
“Oh nggak Dik aku hanya sedang mempersiapkan sesuatu sehubungan dengan kedatangan keluarga Mbak yang akan memberikan Mbak Mini pekerjaan, maaf ya jika belum bisa bersama kalian,” ujar Jumini tanpa membuka pintu.
“Ya, Mbak nggak apa asal Mbak Mini sehat kami juga senang,” itu suara Roni.
“TErima kasih atas perhatian kalian semuanya …” ujar Jumini lega karena teman teman barunya sangat pengertian.
Sesungguhnya dia tak ingin diganggu karena ingin sendirian merenung dan mengenang masa masa indah dan manis bersama Dahlan serta kebersamaannya dengan kedua mertuanya yang begitu mengharapkan pernikahannya dengan Dahlan bisa seumur hidup.
bersambung
__ADS_1