
Dahlan segera membayar ongkos, kemudian turun dari grab dan bergegas ke ruangan tunggu atau penjembutan.
Jangan ditanya bagaimana dadanya berdebar. Seperti ada tabujan keras menghujam dadanya.
Setelah seperempat jam menunggu, kelihatan bapak dan ibunya yang mendorong kopor yang pasti berisi oleh oleh, serta satu tas yang berisi pakaian.
"Bapak .." Dahlan langsung menyali Haji Ali dengan mencium tangannya, saat lelaki tua itu melewati line pemeriksaan kedatangan, lalu mengambil tangan ibunya dan sungkem pula."Ibu ..."
"Sehat lau Dahlan, " seru Hajjah Narimah memperhatikan ibunya lalu tersenyum.
"Syukurlah Dahlan," tersenyum senang Hajjah Narima melihat putranya.
"Ibu dan Bapak juga terlihat sehat," ujar Dahlan, mari biar saya yang bawa koper dan tasnya, Pak," tanpa menunggu Dahlan langsung menarik koper dari tangan bapaknya, serta tas yang berisi baju untuk bekal salin mereka yang ada di tangan ibunya.
"Tunggu dulu, Dahlan," ujar Haji Ali menahan langkah Dahlan yang sudah mulai melangkah, hingga langkah Dahlan tertahan.
"Ada apa, Pak?'
"Bu kok Jumi tidak ikut?" Suara Haji Ali pelan pada istrinya.
Hajjah Narimah mengangguk. "Ya istrimu kok tak ikut serta, Dahlan, menantuku kok nggak kamu ajak menjemput kami, Nak,"
"Ya, tapi istrimu sehat, kan?' sambung Haji Ali
Dahlan beberapa detik kebingungan, "Tenang Dahlan jangan panik, " sebuah suara menghiburnya, segera dia memberi tahu dengan santai.
"Oh Jumi mau bersih bersih rumah,"
" Oh begitu ya udah," tersenyum Hajjah Narimah, " yuk kita buruan Pak biar cepat sampai di rumah tangannya menarik tangan Haji Ali, "Supaya oleh oleh yang kita bawa segera dimakan sama anak mantu kita,"
"Ya,Bu," angguk Haji Ali."Dahlan Buras ketan sama buatan Ibumu tetap legit, cobalah nanti kalau sudah sampai di rumahmu,"
"Saya percaya tangan Ibu pasti selalu menghasilkan rasa yang istimewa, " seru Dahlan sambil menyeret koper yang berisi buras ketan, ikan tongkol dan bandeng kering, serta sale pisang kering dan yang basah. Sale pisang kering serupa keripik, karena pisang digoreng tipis dengan tepung, sedangkan sale pisang basah pisang diberi gula tanpa tepung dan diiris besar dan tebal. Tak ketinggalan kue kering coklat.
"Ya untuk kau dan si Jumi, dia kan suka sekali sama sale pisang basah dan sale pisang kering."
Sangat miris hati Dahlan mendengar ibunya mengingat kesukaan Jumini. Dia sendiri tak tahu apakah Jumini bisa hadir di rumah kontrakannya atau tidak.
Dengan grab mereka menuju rumah Dahlan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah segera Ibu dan Bapaknya Dahlan yang raut mukanya berseri seri memasuki rumah yang berukuran sedang.
Dahlan meletakkan koper dan tas pakaian kedua orang tuanya langsung di ruang tengah. Otomatis mereka pun melepas lelah duduk di sofa di ruang tengah
"Pak, Bu saya ambilkan minum dulu, ya," segera Dahlan mengambil air putih serta juice jeruk manis dingin dari kulkas, yang sudah disiapkan sebelum berangkat ke Bandara tadi.
"Ayo, Bapak, Ibu minum dulu es jeruknya supaya melepas dahaga,".
Haji Ali dan Hajjah Narimah segera mengangkat gelas yang sudah berisi juice jeruk, lalu mereka secara bersamaan meneguknya, tak lupa mengakhiri dengan seteguk air putih.
"Mana menantuku, Dahlan" Haji Ali menatap anaknya.
"Ya mana si Jumi, " Hajjah Narimah celingak celinguk mencari keberadaan menantunya.
Dahlan tak mungkin langsung memberikan kabar tak sedap pada orang tuanya yang baru datang.
"Dia keluar beli lauk mungkin," ujar Dahlan tanpa berani membalas tatapan kedua orang tuanya yang teramat sangat ingin bertemu Jumini.
"Tidak masak apa istrimu, Dahlan?" Hajjah Narimah menatap Dahlan.
"Namanya anak muda, Bu, barangkali ingin santai nggak merepotkan, sekali sekali boleh sajalah," bela Haji Ali terhadap menantunya.
Dahlan segera menjalankan apa yang dikatakan bapaknya. Maka segera dia membuka koper dan mengambil wadah untuk tempat oleh oleh.
Dahlan agak terbantu. Untuk sementara pertanyaan tentang adanya Jumini tak terdengar, karena mereka sibuk dengan menempatkan masing masing oleh oleh ke wadah yang telah disiapkan Dahlan.
"Istrimu pasti senang dengan oleh oleh ini," tersenyum ibunya Dahlan yang sangat ingin menantunya segera datang dan melihat oleh oleh yang dibawa.
Setengah jam waktu dilewatkan untuk mengatur oleh oleh ke tempatnya, dan kini sudah ditaruh di atas meja, yang mereka tunggu si Jumini tak datang juga.
"Beli lauk dimana mantuku itu, Dahlan kok lama belum pulang," ujar Hajjah Narimah.
"Ya coba kamu susul, jangan tenang hati jika istri di luar rumah lama begini, khawatir ada apa apa," sambung Haji Ali.
Dahlan merasa serba salah, dia terdiam bingung harus bicara apa pada kedua orang tuanya yang baru datang dari kampung itu.
Melihat anaknya terdiam membuat Haji Ali heran, apalahi raut muka Dahlan seperti menunjukkan orang kebingungan.
"Dahlan," panggil Haji Ali
__ADS_1
"Ya, Pak," mau tak mau Dahlan mengangkat mukanya dan memandang kedua orang tuanya. Duh bagaimana ini, rasanya sudah tak bisa ditutupi lagi tentang Jumini, bisik hatinya.
"Ada apa?" Haji Ali merasa tak enak hati melihat gugup pada Dahlan.
"Saya ..." Dahlan diam.
"Dahlan ada apa?" Hajjah Narimah merasakan hal yang sama dengan suaminya, ada yang disembunyikan anaknya.
Dahlan tiba tiba turun dari tempat duduknya dan memeluk dengkul ibunya sambil menangis.
"Bu maafkan saya, maafkan Dahlan ..." sudah tak bisa menahan perasaannya lelaki itu terisak isak seperti anak kecil.
"Ada apa, Nak?" Hajjah Narimah terkejut melihat Dahlan menangis sambil memeluk lututnya.
"Pak Dahlan minta maaf karena tak bisa menjadi pemimpin rumah tangga yang baik," tangis Dahlan menoleh pada Haji Ali yang duduk di sebelah ibunya. Karena bagaimana pun yang terjadi pada Jumini adalah bentuk kelalaian atau lemahnya dirinya sebagai seorang suami, hingga istrinya berani bertindak diluar nalarnya.
Haji Ali dan istrinya saling tatap dengan muka kebingungan.
"Dahlan ada apa kok kamu bilang tak bisa jadi pemimpin rumah tangga yang baik. Memangnya apa yang terjadi dengan rumah tanggamu?" Raut muka Hajjah Narimah merasa cemas, khawatir terjadi sesuatu antara anaknya dengan sang menantu, "Kemana sebenarnya si Jumi itu, Dahlan, ada apa dengan dirimu ..." perasaan dan hati Hajjah Narima merasa tak enak. Khawatir terjadi sesuatu antara Dahlan dan menantunya.
"Ya Dahlan ada apa sebenarnya, apa kamu bertengkar dengan Jumi?" Sambung Haji Ali merasa cemas.
Dahlan menyeka air matanya. Jika selama ini dia hanya bersedih dengan apa yang menimpa rumah tangganya, tapi di depan kedua orang tuanya tak mampu membendung air matanya.
Haji Ali berdiri lalu membimbing Dahlan untuk duduk di kursi.
Dahlan menurut duduk di sofa di hadapan kedua orang tuanya. Tapi tak langsung bersuara, hal itu membuat perasaan kedua orang tuanya tak tenang .
"Dahlan ceritakan pada kami apa yang terjadi," seru Haji Ali pelan .
"Ya, Nak, kemana si Jumi, apa kalian ada masalah karena tak mungkin menantuku itu tak menyambutku, katakanlah Dahlan ada apa ini?" bujuk Hajjah Narimah khawatir terjadi pertengkaran dengan anak dan menantunya, namun hati kecilnya berharap mereka baik baik saja.
"Tingkah laku istri dulu Ibu bilang cerminan suami yang pandai membimbing ... dan Dahlan gagal membimbing Jumi, Bu ..."
"Maksudmu?!" Hajjah Narimah terkejut.
"Maksudmu Dahlan?!" Begitu pun dengan Haji Ali.
Suami istri itu tegang menunggu Dahlan berkata terus terang dan jujur apa maksud dari ucapannya, walau secara simbolis mereka sudah dapat menangkap arti dari ungkapan anak mereka, tapi tetap menunggu penjelasan dari Dahlan .
__ADS_1