
Haji Ali dan istrinya sedang berunding tentang keinginan mereka berkunjung ke Jakarta untuk bertemu dan melepas kangen pada Dahlan serta menantu mereka Jumini.
"Sudah Pak kita nekat saja ke Jakarta, tak ada salahnya kita berkunjung kalau mereka tak bisa pulang, yerlebih lagi Dahlan sedang di darat," bujuk sang istri, "Sudah lama juga Ibu tak bertemu anak kita si Dahlan, Pak,"
Mau tak mau Haji Ali tak sampai hati juga melihat raut muka istrinya yang terlihat sendu dan belangan ini sering terlihat melamun. Jelas kerinduan membayang pada bola mata sang istri.
"Bapak mau menghubungi Dahlan dulu, Bu," ujar Haji Ali berusaha membuat damai hati istrinya.
"Ya, Pak, percayalah pasti Dahlan senang hati mendengar kita akan berkunjung ke Jakarta. Pasti hati mereka sangat tersanjung karena setelah kedatangan orang rua Jumi, kita pun mengunjungi mereka," ujar istri Haji Ali yang tak mendapat laporan yang sejujur jujurnya dari suami istri Zainal dan Narsia atas apa yang terjadi pada Jumini.
"Ya benar Juga, masa orang tua Jumi sudah berkunjung kita ini masih anteng di kampung halaman, ya kita akan ke Jakarta," angguk Haji Ali merasa usulan istrinya itu tak ada salahnya. Mereka memang harus datang ke rumah anak dan menantunya.
"Ibu mau masak kue dan ikan kesukaan Dahlan untuk oleh oleh nanti, Pak," sudah tak sabar istri haji Ali untuk berbelanja ke pasar guna keperluan membeli bahan kue serta ikan laut kesukaan Dahlan untuk dikeringkan setelah diberi bumbu, baru digoreng di atas api kecil, bak di panggang. Sisanya akan dibawa mentah untuk persiapan jika Dahlan menginginkannya lagi, hanya tinggal goreng saja, pikirnya.
Maka yang dihubunginya adalah besanmya. Sore itu juga mereka berkunjung ke rumah Narsia dan Zainal.
"Pak Zainal kedatangan saya dan istri mau memberitahu bahwa kami berencana untuk ke Jakarta menengok anak anak kita," ujar Haji Ali dengan muka sumringah memandang Zainal.
Spontan Zainal terkejut dan reflek saling pandang dengan istrinya yang kalah panik dari dirinya.
Tentu saja mereka menjadi panik, karena perubahan wajah Jumini mereka masih merahasiakannya.
Karena mereka suami istri Haji Ali dalam keadaan bahagia,aka kepanikan yang berusaha disembunyikan oleh Narsia dan Zainal, tak terdeteksi, maka mereka pun tetap hanyut oleh impiannya berkunjung pada anak dan menantunya.
"Ya Bu Narsia, saya sudah sangat kangen pada Dahlan, makanya saya ingin berkunjung ke Jakarta, biar saya memanjakan lidah mereka dengan masakan khas kampung kita ini selama saya dan suami berada di rumah mereka," suara istri Haji Ali terdengar begitu bahagia dengan bola mata berbinar binar.
"Ya katanya biar si Jumi istirahat total makan dan tidur saja," sambung Haji Ali.
__ADS_1
"Ya siapa tahu bisa membawa berkah lain, kita segera punya cucu," ujar istri Haji Ali.
"Ya ... ya. ... semoga saja, Pak Haji," angguk Zainal mengikuti irama percakapan kedua besannya.
Sedangkan Narsia masih gelisah, ",Aduh bagaimana ini jika sampai mereka tahu perubahan wajah Jumi anakku. Apa mereka mau menerimanya?" Batinnya, karena tak semua orang bisa menerima perubahan, seperti dirinya dan suami, mulanya sangat menentang keadaan Jumini, walau akhirnya bisa menerima setelah tes DNA membuktikan jika mereka memang orang tua Jumini yang berwajah korea.
Setelah keduanya meninggalkan rumah besannya, maka Haji Ali langsung bertindak menghubungi Dahlan dengan ponselnya, sedangkan istrinya langsung dia antar ke pasar untuk berbelanja bahan keperluan yang akan dioleh menjadi kue serta ikan laut yang dijemur kering berbumbu yang menjadi kesukaan Dahlan anaknya
"Bapak pulang saja untuk menghubungi anak kita, nanti satu iam lagi baru Ibu dijemput, Pak," ujar istri Haji Ali pada suaminya.
"Baik kalau begitu, Bu," sambut Haji Ali setuju.
Maka saat ini lelaki itu sedang menunggu panggilan ponselnya diangkat oleh Dahlan.
Sedangkan Dahlan baru saja masuk ke dalam rumahnya setelah bertemu dengan Delia, saat ponselnya berdering.
Dahlan segera menerima panggilan itu setelah melihat tulisan 'Bapakku' di layar ponselnya.
"Wa'alaikum salam, " suara Haji Ali sangat cerah, maka mulailah mengalir percakapannya dengan sang anak yang sudah sangat dirindukannya..
"Bagaimana kabar Bapak sama Ibu, baik baikkah, sehat semuanya ya, Pak?" Dahlan yang sedang galau merasa terhibur mendengar suara bapaknya, "Ibu dimana ada di samping ?Bapakkah?"
"Oh keadaan Bapak dan Ibu baik baik saja, Nak jangan khawatir," sahut Haji Ali dengan logat daerah yang kental., "Ibumu sekarang sedang berbelanja ke pasar, Nak, dia ingin membuat kue untuk anak dan menantunya, mau membuat ikan berbumbu yang dikeringkan kesukaanmu, Nak, untuk dibawa ke Jakarta ..."
"Ke Jakarta?!" Dahlan terkejut spontan b
melontarkan kata tanya.
__ADS_1
"Ya kami mau ke Jakarta menengok kalian, wah belum sampai kami ke rumahmu kamu sudah terkejut karena senang pastinya ..." tertawa Haji Ali mengira ucapan yang bernada terkejut dari Dahlan karena anak lelakinya itu merasa mendapat kejutan dari dirinya.
Dahlan terdiam.
Panik.
"Bagaimana kabar istrimu, katakan pada Jumi jika Ibumu akan membuatnya senang selama ibumu berada di rumahmu. Ibumu akan masak ikan kesukaan Jumi, kata ibumu biar Jumi gemuk tak apa, siapa tahu dia nanti hamil cucuku ..." suara Haji Ali mewakili pikiran dan harapannya yang mengawang awang indah tentang seorang cucu yang begitu diinginkannya.
Sedangkan Dahlan masih tegang bercampur cemas dan lemas duduk di sofa bagai orang tanpa tulang meringkuk lesuh.
Bagaimana tak mau lesuh dan khawatir atas niat kedatangan kedua orang tuanya,.sedangkan rumah tangganya dengan Jumini bermasalah besar, dan tentang perubahan wajah Jumini pun adalah suatu yang membuatnya mendadak sesak napas, karena kedua orang tuanya belum dia kabari.
"Aduh nahaya ini ..." gumam hati Dahlan merasa tak memiliki keberanian untuk berterus terang pada orang tuanya perihal perubahan wajah Jumini istrinya.. Jika kedua orang tuanya datang ke rumahnya jelas akan terjadi sesuatu yang sulit diprediksinya. Maukah mereka menerima perubahan yang terjadi pada diri menantu mereka?
Apalagi orang tuanya, terutama bapaknya termasuk orang yang taat beragama serta fanatik. Bukankah merubah wajah itu perbuatan yang bertentangan dengan agama?
Aduh bagaimana ini?
Dahlan serasa tercekat tenggorokannya. Tak berani mengiyakan atau menolak rencana kedatangan kedua iramtg tuanya.
"Dahlan ...?!" Haji Ali memanggil anaknya yang sejak beberapa menit tak ada suaranya.
"Iyya .. Pak," sebisa mungkin Dahlan menutupi galau dan gugup yang tiba tiba melanda pikiran dan perasaannya.
"Katakan pada istrimu, kemungkinan tiga hari lagi kami mau datang. Satu dua hari ini kami pwrsiapan dulu. Ya terutama persiapan untuk ibumu membuat kue dan ikan laut yang berbumbuyang dikeringkan ..." karena sedang dalam suasana hati bergembira mau bertemu anak dan menantunya, membuat Haji Dahlan jadi tak peka dalam menangkap rasa gugup pada suara Dahlan yang juga cemas itu
Kalau sudah begini Dahlan bisa apa?
__ADS_1
Menolak kedatangan orang tuanya?
Atau membiarkan mereka mengetahui rahasia berat pada rumah tangganya, yang dipicu oleh wajah Korea menantu tersayang mereka?