
Bab33 Telepon dari Orang Tua
Jumini sangat legah setelah mengirim surat pada motivator dan mendapat balasan yang sangat menggugah hati dan jiwanya.
Saudariku Jumini yang Dirahmati Allah
Sangat bahagia jika sedikit tulisan dan ulusan saya mengena di hati Anda, dan bisa menggugah semangat Anda untuk bangkit serta bertahan, bahkan menguatkan hati dan jiwa rapuh Anda yang pada akhirnya berusaha untuk kuat menjadi diri sendiri.
Banyak diantara kita yang terpuruk oleh perlakuan orang lain, atau atas kelalaian prilaku kita yang tak bisa diterima oleh orang sekitar kita, sehingga mengantarkan kita menjadi seorang yang selalu bimbang dan diliputi perasaan gagal menjadi manusia.
Saudariku Jumini,
Mari kita kaum terpuruk belajar bangkit dan memotivasi diri kita untuk menjadi lebih baik. Tak ada yang tak tak mungkin jika kita tetap berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan debu debu yang memburamkan mata kita untuk menatap masa depan.
Seberapa besarnya kesalahan dan kekhilapan kita, jika kita bersimpuh keharibaannya, memohon ampun, kiranya Allah akan mengampuni kita. Biarlah orang menghujat, karena kita tak mungkin memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk membungkam bisik bisik tetangga tentang apa yang dia mau.
Mari terus belajar menerima dan menyadari kesalahan yang kita buat. Supaya diri dan perasaan kita terbiasa untuk menjadi orang yang sadar akan kekhilapannya.
Kita tak tahu seberapa kesalahan orang lain, namun kita menyadari seberapa besar kesalahan kita tentunya. Tapi, kita pun tak bisa menghakimi orang lain juga membenci diri kita sendiri. Perlakukanlah diri kita dengan adil. Salah tetaplah salah. Tapi jangan juga menghukum diri ini dengan cara menyakiti fisik, bahkan melakukan kegiatan yang merugikan orang lain, misalnya memaki di sembarang tempat atau berteriak hanya untuk menyalurkan kegundahan di dada.
__ADS_1
Saudariku Jumini,
Saya bukan jaksa yang menuntuk seberapa banyak kesalahan Anda. Dan saya juga tak berhak untuk mengetahui kesalahan yang Anda lakukan. Tapi dari surat Anda tanpaknya Anda memang sedang dalam kesulitan untuk memaafkan diri sendiri akibat dari kesalahan di masa lalu.
Saudariku Jumini,
Kesalahan di masa lalu buatlah cermininan untuk dapat mencegah kembali keburukan yang bisa tercipta dari prilaku Anda yang tak terkontrol. Mari Saudariku, mari, kita mengajak seluruh elemen dalam tubuh kita untuk kuat menyingkirkan rasa lemah dan mensyukuri kekuatan serta kesehatan yang masih menjadi milik kita. Itu semua tak lain karena belas kasih Allah.
Saudariku Jumini,
Jika Allah masih memberikan kita bernapas, walau (barangkali kita pernah menghujatny? Tapi semoga jangan, ya]kita sendiri enggan untuk menghargai kesehatan kita dengan bermalas malasan tanpa melakukan sesuatu. JIka Allah saja berbelas kasih pada kita hingga detik ini kita diberi kesehatan dan napas, itu artinya kita masih harus melanjutkan perjuangan yang sudah terlanjur kita mulai sejak kita keluar dari Rahim ibu kita.
Saudariku Jumini,
Menganggap diri ini seperti terlahir kembali dalam keadaan tanpa noda, itu hanya dalam istilah untuk menandai kebangkitan kita dari keterpurukan yang bisa membinasakan diri kita sendiri. Binasa karena ulah kita yang tak menghargai kesehatan serta napas pemberian Allah, adalah sebuah perbuatan yang tak disukaiNya. Karenanya seyogyanya manusia hidup wajib berusaha untuk melindungi nyawa dan keselamatannya sendiri.
Saudariku Jumin,
Sangat panjang surat yang saya ketik untuk Anda, semoga Anda tak bosan mebacanya. Akhir kata saya hanya berpesan bersabar adalah kunci utama dari usaha memperbaiki diri. Tekun dan tawakal adalah sebuah upaya kita untuk tetap berada di jalur yang dikehendaki Sang Pencipta alam semesta ini.
__ADS_1
Salam kasih dan salah sehat Saudariku Jumini.
Jumini tersenyum dan membalas surat itu dengan singkat.
Saya mengerti dan saya sangat paham jika kita memang harus menghargai nyawa pemberiannya. Ada pun bentuk kesalahan serta kekhilapan yang saya perbuat biarlah Allah semata yang mengadili dan menakarnya. Tugas saya saat ini adalah minta pengampunan serta berusaha untuk keluar dari rasa terpuruk dan berusaha untuk hidup di atas kaki sendiri dengan segala keterbatasan serta upaya yang saya lakukan.
Karena sudah memiliki kekuatan yang mengaliri pikiran dan jiwanya, maka saat mendengar kabar dari emaknya bahwa kedua mertuanya akan berkunjung ke Jakarta Jumini tak panik, bahkan dia berusaha untuk menenangkan 0rang tuanya pula.
“Mak, jangan panic, coba santai saja dan biarlah apa yang sudah terjadi ini menjadi pelajaran bagi saya, namun begitu saya juga mohon maaf pada Emak dan Bapak jika keadaan saya ini nanti menjadi kendala dalam rumah tangga saya dalam pandangan kedua mertua saya …”
Zainal yang turut mendengarkan suara Jumini di ponsel karena mereka memang mempergunakan head set supaya bisa didengar bersama, sangat terkejut mendengar uraian dari putrinya.
“Bagaimana pun saya tak bisa lari dari kenyataan, cepat atau lambat saya akan berhadapan dengan mereka. Dan saya paham mertua Jumi tak akan bisa menerima keadaan Jumi yang sekarang. Saya tak bisa memaksa mereka untuk menyukai tampilan saya, Pak, seperti halnya Bang Dahlan yang juga masih menolak sosok dan wajah saya. Saya terimah itu sebagai imbas dari apa yang saya lakukan. Emak dan Bapak jangan panic, ya, mohon doakan Jumi dari jauh supaya Jumi bisa tetap tabah dan kuat menghadapi gelombang kehidupan yang Jumi ciptakan sendiri dan pada akhirnya Jumi juga yang harus menghadapinya.”
Narsiah hanya menangis mendengar suara Jumini yang tegar, tak lagi mendayu dan terisak seperti saat di kantor polisi yang memohon belas kasihan minta untuk diakui sebagai Jumi anak mereka.
“Ya si Jumi sudah cukup dewasa menghadapi kasusnya, biarlah dia sendiri yang menghadapi persoalannya, dia dari caranya bicara sudah cukup tahu akibat dari perbuatannya dan sudah cukup mental untuk menerima akibatnya terburuknya,” ujar Zainal pada Narsiah sang istri setelah hubungan dengan Jumini berakhir,
“Tapi bagaimana jika mereka suami isteri Haji Ali murka dan meminta Dahlan menceraikan anak kita, Pak?” Narsiah cemas dengan raut muka seperti orang mau menangis.
__ADS_1
“Ya bukannya saya tak mikir, Mak, tapi mau apa lagi jika keputusan mereka sudah final nanti . Semua sudah takdirnya Jumini jika harus mengakhiri perkawinannya dengan Dahlan, walau kita tak menginginkan perceraian yang sebenarnya dimurkai Allah, walau pun bercerai itu sah saja jika sudah taka da saling kecocokan, terlebih lagi anak kita berada di posisi yang salah,”
“Jumi … Jumi … kenapa jadi begini, Nak …” Narsiah tak dapat lagi membendung air matanya membayangkan jika Jumini tak lagi mendapat tempat di hati kedua mertuanya. Apalagi Dahlan sebagai suami pun tak bisa membelanya dan tak bisa melindunginya. Haruskah pernikahan mereka berakhir?