
Jumini akhirnya minta supaya diijinkan ke kamar untuk mengangkat telepon dari orang tuanya.
"Maafkan Mbak mau ke kamar, ya, mau angkat telepon dari Bapak dak Emak, sekalian mau lanjut istirahat. Terima kasih atas perhatian kalian semua, terima kasih, nanti kalau Mbak sudah enakan kita mengobrol lagi,"
"Oh ya Mbak silahkan," angguk Minati cepat.
"Ya, Mbak memang sebaiknya sekarang istirahat saja," sambung Rini. Separuh hatinya dia bilang begitu supaya Jumini istirahat betulan supaya Jumini cepat sehat, dan separuh hatinya lagi supaya Roni tak melulu berusaha menatapnya. Entah mengapa kok merasa cemburu dengan tatapan Roni yang super duper ful perhatian itu pada Jumini.
"Selamat istirahat, Mbak, semoga segar kembali seperti sebelumnya, supaya kita bisa ngobrol lagi," ujar Roni tersenyum, "Kalau Mbak terlihat lesuh dan banyak mikir gini, kok, kayaknya kita ikutan kurang semangat," lanjutnya.
"Gue nggak,lo kali," sambung Rini, tapi hanya dalam hati saja.
"Ya kalau banyak istirahat itu tenaga dan pikiran cepat pulih, Mbak," ujar Rusman menimpali ucapan teman temannya.
"Terima kasih semuanya," segera Jumini berdiri.
Rini langsung berdiri mengambil anggur di meja untuk dibawanya , jangan sampai si Roni yang membawanya.
"Biar aku saja, Dik Rini, terima kasih, ya, cantik,"
"Sama sama, Mbak," angguk Rini.
"Kalau ada apa apa telepon kami, Mbak," ujar Roni.
",Ya, terima kasih," angguk Jumini tersenyum.
"Huh caper alias cari perhatian!" Rini bersungut tapi hanya dalam hati saja, dia kan tak berani secara terus. terang protes tentang sikap Roni yang dianggapnya over terhadap Jumini, kan, diantara mereka belum ada ikatan pacaran.
Jumini sudah di kamarnya, lalu menghubungi orang tuanya.
"Halo Mak,"
,"Ya Jum, bagaimana ini kedua mertuamu bilang pada Emak mau menerimamu asalkan wajahmu kembali seperti dulu, begitu juga di Dahlan bilang mencintai dirimu yang lama,"
Jumini terdiam sesaat, tiba tiba hatinya bersorak, berarti masih ada harapan untuk kembali pada Dahlan. Tapi apa bisa dirinya operasi kembali ke wajah lamanya.
Jika para dokter ahli operasi plastik bisa merubah wajah perempuan jadi lain, berarti bisa lagi merubah wajah baru kembali ke wajah lama.
__ADS_1
"Mak saya akan berusaha untuk operasi lagi tahun Depan, Mak," ujar Jumini dengan wajah cerah dan suaranya penuh semangat lagi tak lesu seperti saat ini.
"Operasi bagaimana lagi, Jum?!" Narsia terkejut mendengar kesanggupan Jumini untuk operasi ke wajah lamanya
"Ya, Mak, Jumi mau operasi kembali, tapi nggak bisa dadakan begini, selain wajah Jumi ini masih masa masa pemulihan karena baru mengalami pembedahan, biayanya pun tak sedikit, Mak," menyadari soal biaya yang di atas satu miliyar jika ingin membuang total garis wajah lamanya.
"Jum itu dia kalau kamu mau operasi kembali ke wajah lamamu itu berapa biayanya, Nak," cemas Narsia mengingat dirinya tak memiliki cukup harta untuk diberikan pada putrinya, selain rumah yang ditempatinya, itu pun, tak mungkin bisa laku dua ratus juta, sedangkan biaya operasi sangat mahal.
"Mak dosin Jum bisa ngumpuli duit, karena untuk operasi wajah total seperti wajah Jumi ini, bisa mencapai di atas satu miliyar."
"Oh besar sekali, Jumi ...?!" Memekik Narsia, hingga Zainal suaminya mendekat.
"Ada apa, Mak?"
"Si Jumi ingin operasi kembali ke wajah lamanya, tapi biayanya di atas satu miliyar," ujar Narsia lirih
"Ya Allah dari mana uang sebanyak itu, Mak, kita jual rumah ini saja paling ditawar seratus jutaan, kan rumah kita ini rumah lama mana di kampung pula," suara Zainal penuh dengan kecemasan, seperti juga istrinya dia setuju jika putrinya kembali ke wajah lamanya, tapi biayanya darimana mengingat mereka bukan orang kaya yang punya uang sebegitu banyak, dan memiliki harta yang bisa diuangkan.
Suami istri itu terdiam dalam keadaan kebingungan dengan banyaknya uang yang dibutuhkan anak mereka.
Narsia pun demikian
"Pa," suara Jumini memecah hening diantara kedua orang tuanya.
"Ya Jum ..." sahut kedua orang tuanya bersamaan.
"Bapak dan Emak nggak usah bingung dan sedih masalah biaya, biar Jum mau kerja di Jakarta untuk mengumpulkan uang, Mak,"
"Tapi berapa lama, Nak, kamu menfumpulkan uang diatas satu miliyar, sekolahmu pas pasan, bukan sarjana pula," ujar Zainal cemas.
"Dan kerja pun belum pernah pula, selain bantu Emak dan Bapak di kebun coklat dan karet," sambung Narsia, mereka memang bekerja di perkebunan milik Haji Ali mulanya, lalu kini sudah pindah memetik coklat di kebun famili jauh, tapi hanya Zainal yang bekerja, sedangkan Narsia di rumah saja sejak Jumini menikah dan dibawa oleh Dahlan ke Jakarta.
"Pak ini Jakarta semua pekerjaan bisa jadi uang tak perlu di kantoran," terlintas dalam Jumini ucapan Minati bahwa dirinya bisa jadi model. Konon model dan artis itu bayarannya tinggi. Dengan wajah cantiknya tentu dia bisa berkecipung jadi artis. Tapi saat ingat jika dirinya tak memiliki modal dasar akhting, kembali hatinya ciut.
"Ayo Jumini jadi dirimu sendiri. Yang kuat dan bersemangat jika ingin berhasil!" Sebuah suara mengingatkannya.
Ya aku harus bersemangat. Aku masih punya sisa uang, biar kupergunakan untuk kursus akhtung, seru batinnya penuh semangat, dan hal itu kemudian dia sampaikan pada Lua dan Deli saat mereka bertemu malam harinya di sebuah cafe.
__ADS_1
"Segitunya kamu inginkan wajah lamamu, Dik?!" Deli melebarkan mata pada Jumini.
"Untuk apa?!" Lia ikut ikutan menatap lekat Jumini yang mengangguk.
"Semula aku operasi kan ingin membuat bahagia suami, ingin dia bangga punya istri jelita," tersenyum penuh angan Jumini, mengingat keinginannya waktu itu untuk membuat kejutan pada suami tercinta, lalu menunduk, "Tapi nyatanya kan nasibku jadi tragis, aku dihindari, bahkan kini oleh kedia mertuaku akan diceraikan," sepasang matanya mengembang air.
Jumini membiarkan air matanya mengalir. Hal itu membuat kedua sahabatnya meraih tangannya, menggenggamnya.
"Sabar," ujar Deli.
"Yang kuat," angguk Lia.
"Aku mulanya meninggalkan rumah kontrakan, menjauhi suami ingin jadi diriku sendiri. Tapi ternyata aku tak bisa juga jadi orang lain dan jauh dari suamiku,"
"Dik Jum sebegitu cintanya pada Dahlan?"
"Jumini mengangguk atas pertanyaan Deli.
"Mungkin aku memang perempuan kampung yang tak bisa selamanya eksen sendiri," akuh Jumini.
"Lalu mulai kapan kamu mau kursus modeling, Jum?" Lia memberi dukungan pada Jumini, "Biar aku carikan tempat kursus yang sudah menghasilkan model model yang ngetop," ujar Lia.
"Terima kadiht, Mbak," angguk Jumini.
"Oh ya kalau kamu jadi model top dan mungkin juga artis sinetron jangan lupa padaku, ya," goda Deli.
Jumini tersenyum.
"Tapi kan dalam waktu dekat ini Jumi harus bertemu suami dan mertua, bagaimana sudah siap?" Lia menatap Jumini dan kembali menggenggam tangan perempuan muda yang sebenarnya dalam keadaan bimbang dengan pertemuannya nanti.
"Aku bingung, rasanya malu juga sama mertuaku," menubduk Jumini, rupanya wajah jelitanya tak lantas membuatnya penuh percaya diri di hadapan mereka.
Jumini yang ingin menjadi pribadi mandiri, akhirnya tergoda pada cinta sucinya yang ingin dia pertahankan terhadap Dahlan.
Pribadi mandiri pribadi menjadi diri sendiri. Namun diri sendiri yang lama. Artinya Jumini yang asli.
Bersambung
__ADS_1