Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bsb.48 Supaya Tidak Terobsesi Operasi Wajah


__ADS_3

Saat puluhan berbaur kembali di depan rumah Jumini, yang punya rumah sudah tak di rumah. Demi keamanan Jumini semalam selagi mereka berada di hotel telah berunding supaya Jumini kembali saja ke Jakarta.


"Demi kebaikanmu, Jumi". ujar Zainal yang memberi gagasan supaya anaknya berangkat ke Jakarta setelah sholat subuh. Hal itu dikarenakan orang yang ingin melihat Jumini jelita tak akan kapok walau Jumini tak mau menemui, maka itu Zainal meminta putrinya segera saja ke Jakarta.


"Ya untuk menghindari mereka, kamu ini sangat menarik perhatian mereka, Jumi, ya sudah tak apa segera pesan tiket," sambung Narsia semalam di hotel setelah mereka makan malam bersama.


"Ya, Mak," segera Jumini memesan tiket secara online malam itu juga.


Saat ini mereka yang ingin bisa bertemu Jumini semakin bertambah di depan rumah Zainal. Bukannya pihak keamanan tega tak memberitahu mereka jika Jumini sudah berangkat ke Jakarta, tapi jika diberitakan sekarang khawatir semua akan menyusul ke Bandara, karena pihak keamanan yang sudah diberitahu oleh Zainal tentang keberangkatan Jumini, belum tahu pasti apakah Jumini sudah terbang atau masih dalam menunggu.


Sedangkan Jumini sudah terbang menuju ke Jakarta, dan kedua orang tuanya kini dalam perjalanan pulang dengan grab.


"Mak,"


"Ya,"


"Bapak berharap semoga saja si Jumi bisa menjalani niatnya untuk operasi menjadi Jumini kita lagi seperti dulu," sesungguhnya Zainal pun belum bisa sesantai dulu jika bersama Jumini. Walau raga dan jiwa Jumini sekarang atau Jumini jelita adalah tetap raga dan jiwa putri kandungnya, tetap saja dengan wajah baru yang total berubah itu, membuatnya masih risih seperti berdekatan dengan gadis atau perempuan lain. Zainal sebenarnya tak menyalahkan Dahlan jika menceraikan Jumini.


"Tapi biayanya besar, lagipula apa ya dokter ahli operasi plastik itu bisa mengembalikan wajah Jumi kepada bentuk aslinya," Narsia pun sama seperti suaminya bila dekat dengan Jumini merasa sangat janggal saat menatap putrinya itu. Dia merasa sedang bersama perempuan cantik yang baru dikenalnya. Tapi mau dikata apalagi nasi sudah menjadi bubur.


"Ya kita doakan saja semoga Jumi dapat pekerjaan layak dan bisa mengumpulkan uang untuk niatan mengembalikan wajahnya ke yang asli."


"Ys, Pak, Emak juga berharap demikian," angguk Narsia.


Saat mereka sudah sampai di rumah, segera saja para penggemar dadakan Jumini menyerbu ke dekat grab.


Tapi mereka kecewa saat tak melihat sosok Jumini.


"Jumi Jelita ...?" Panggil salah seorang gadis yang berbinar raut wajahnya mengira ada Jumini menemani kedua orang tuanya di dalam grab.

__ADS_1


"Lha Jumi Jelita kemana, Pak?!" Seru seorang perempuan lainnya memandang ke dalam grab yang kosong lalu beralih pada Zainal.


"Jumini sudah kembali ke Jakarta ..." seru Zainal pada semua yang menunggu anaknya, "Coba ya anakku bukan boneka yang ingin kalian tonton, kalian itu jangan kagum pada yang tidak asli, anakku Jumini saja menyesali nasib yang buat sendiri, bahkan dia akan berjuang di Jakarta untuk mengumpulkan biaya operasi lagi,"


"Wah mau operasi apalagi, Pak?!" hampir serempak mereka memandang Zainal.


"Ingin operasi untuk mengembalikan wajah asli Jumini ..."


Terdengar suara berdengung mirip sekumpulan tawon yang baru keluar dari sarangnya.


"Wajah cantik buatan manusia telah menyiksa Jumini anak kami, karena kecantikan yang dimilikinya itu tidak hakiki, bukan pemberian Allah, ciptaan para dokter yang telah memiliki ilmu canggih," ujar Zainal lagi.


"Namanya juga usaha ingin cantik, Pak," seru seseorang


"Usaha ingin cantik boleh, tapi tidak harus merubah pemberian yang Kuasa, akibatnya yang terjadi justru sangat fatal. Jumini dicerai suami yang begitu mencintainya ..."


zainal perlu menerangkan dan memberi pemahaman yang jelas pada penggemar Jumini, supaya mereka tak terobsesi ingin cantik ala Jumini.


"Begini, dengar, ya," batuk batuk Zainal.


Segera Narsia mengulurkan botol air mineral pada suaminya.


Zainal meneguk beberapa kali isi air dari botol, setelah itu air yang masih tersisa separuh botol plastik bening itu diberikan pada istrinya.


"Seorang perempuan memang selalu ingin cantik. Dan kecantikannya akan membuat suaminya senang dan bangga, betul apa salah?"


"Betuuuulll ..." sambut anak anak muda mayoritas perempuan muda itu antusias.


"Nah yang dinamakan cantik itu relatif, bisa kecantikan yang terpancar dari hati, sehingga membuat aura wajahnya bercahaya dan berseri seri. Karena jika kalian memiliki hati yang tulus dan cinta tulus, percayalah wajah kalian akan selalu bersinar, bibir tampak selaku tersenyum," ujar Zainal seperti memberikan mata pelajaran ketulusan hati. "Tapi bagi yang ingin menambah kecantikannya dari luar, artinya memoles wajah dan mike up, boleh saja asal tidak berlebihan, sehingga bukannya cantik yang didapat, tapi seperti memakai topeng ..."

__ADS_1


Terdengar gemuruh suara dari mereka para penggemar Jumini.


"Boleh perawatan di rumah atau ke salon tak mengapa asal mampu membayar ongkos salon," lanjut Zainal, "Nah itu cara cantik yang alami, Tapi jangan terpikat untuk operasi seperti Jumini yang berakhir dengan penyesalan,"


"Huuuu ..."


"Dahlan menceraikan Jumini karena dia tak bisa menerima istri yang telah lancang melakukan perubahan wajah tanpa iin .."


"Karena kalau minta ijin takut tak direstui suaminya ..." seru seorang pemuda dengan suara cukup lantang.


"Jelas Dahlan tak bisa menerima perempuan yang sudah merubah pemberian Ilahi, dan dampaknya sangat parah, Dahlan merasa tersiksa setiap melihat Jumini di rumahnya, karena dia risih dengan wajah jelita jumini yang sangat asing baginya. Dahlan merasa seperti sedang bersama perempuan lain yang bukan istrinya, setiap berdekatan dengan Jumini. Itulah dia tak bisa melakukan tugasmya sebagai suami untuk memberikan kasih sayang pada sang istri karena risih dan merasa akan melakukannya dengan perempuan lain. Begitu pun sebaliknya Dahlan tak bisa menerima kasih sayang dari Jumini, karena dia merasa sedang bersama perempuan yang dibeli untuk sesaat ..." apa yang disampaikan Zainal sesuai dengan ungkapan Dahlan saat ditanya kenapa ingin menceraikan istrinya.


"Oooohhh ...!!!"


"Menyedihkan juga, ya?"


"Wah jadi saling tersiksa,"


Celutukan bergantian terdengar dari mereka yang menyimak ungkapan Zainal tentang dampak operasi plastik yang dilakukan Jumini.


"Jadi sia sia belaka," ujar Zainal.


Mereka yang mendengar cerita Zainal tercekam dengan pikiran masing masing.


"Anak kami memendam sedih dan kecewa di lubuk hatinya harus kehilangan sui yang dicintainya, berarti operasi plastik itu bagi Jumini membawa kemodaratan ..." kali ini raut muka Zainal menjadi sedih. Begitu juga dengan Narsia.


Suami istri itu sangat merasakan kesedihan yang terpancar dari sepasang mata Jumini yang memendam luka dan kecewa serta marah pada diri sendiri.


"Ya begitulah cerita tentang operasi plastik Jumini berakhir kelam, semoga kalian tidak memiliki keinginan untuk terlihat cantik jelita. Berbesar hatilah karena kita ini diciptakan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna. Sekarang silahkan istirahat dirumah masing masing karena Jumini juga sudah kembali ke Jakarta membawa penderitaan batin akibat ulah sendiri ..." sambung Narsia dengan air mata berlinang mengingat luka batin putrinya.

__ADS_1


__ADS_2