Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab 49 Mimpi Indah Perjaka Jatuh Cinta


__ADS_3

Jika Jumini kembali ke Jakarta dengan beban sesal di dadanya karena ternyata cantik tak dapat membuatnya bahagia. Derita batin diceraikan suami, serta obsesi untuk bekerja keras demi mengumpulkan uang bisa mengembalikan wajah aslinya kembali. Untuk meraih cinta Dahlan, serta menjalani perintah agamanya untuk taat dan mensyukuri semua yang diberikan Sang Pencipta.


Lalu kedua orang tuanya yang sibuk memberikan wejangan pada penggemarnya, yang begitu antusias ingin bertemu dengan dirinya karena kejelitaannya.


Tapi ternyata di keluarga Dahlan pun dalam suasana berduka.


Dahlan bukannya dalam keadaan senang hati saat ini setelah perceraiannya dikabulkan oleh Pengadilan Agama setempat.Justru sebuah hantaman memukul dadanya telak.


Pertama dia merasa sebagai suami sudah gagal. Kedua harus kehilangan istri yang sesungguhnya begitu dicintainya. Maka kini dia merasa dirinya menjadi lelaki yang tak berhasil membimbing istrinya ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi Sang Pencipta.


"Jumi kamu telah menghancurkan hatiku. Kamu telah merusak rumah tanggaku, sungguh kamu sangat kejam padaku, Jumi!" Keluh hatinya.


"Pada awalnya memang berat berpisah dengan orang yang kita sayangi, Nak," ujar Haji Ali mengerti perasaan anaknya.


"Ya tak ada yang ingin bercerai, Nak, tapi ini sudah takdir perjalananmu dengan Jumini, takdir rumah tangga kalian rupanya sampai di sini, sabar dan banyak berdoa minta ketenangan hatimu ..." sambung Hajjah Narimah panjang lebar demi untuk membantu Dahlan supaya mengikhlaskan semua yang terjadi dengan rumah tangganya.


"Ya perjalanan hidup manusia kedepannya kita tidak tahu. Jodoh, rejeki dan maut hanta Dia Yang Maha Segalanya yang tahu, karena Dialah yang telah mengatur semua di dunia ini," lanjut Haji Ali dengan bijak.


"Sekarang Nak fokus pada pekerjaanmu, lupakan semuanya, dan nanti kamu akan bisa melupakan Jumini,"


Dahlan hanya terdiam.


"Jika diberi kesempatan aku ingin merubah wajahku kembali ke asliku ..." terngiang ucapan Jumini saat mediasi.


"Jumi bukan Abang tak percaya pada janji dan keinginanmu, tapi, sungguh Abang tak bisa hidup berdampingan dengan orang asing, lagipula sekali pun tim dokter itu orang pintar, aku tak takin dia bisa mengembalikan wajahmu yang asli, dia bukan Tuhan, mereka hanya manusia biasa," ujar Dahlan tak menggubris ucapan Jumini yang berisi bujukan dengan janji bisa mengembalikan wajah aslinya itu.


"Ah kita sekarang sudah tak lagi bisa bersama Dik Jumi, terpaksa aku menceraikanmu, hanya Tuhan yang tahu bagaimana perjalanan cintamu dan cintaku selanjutnya ..." akhirnya hanya kata kata pasrah yang kini berada dalam hati dan jiwanya.


"Istirahat saja dulu beberapa hari di sini, Dahlan," usul Haji Ali yang mengetahui jika rumah mantan menantunya dikerumuni para kaum muda yang ingin melihat dan berkenakan dengan Jumini jelita .

__ADS_1


"Ya supaya kamu tenang dulu, baru ke Jakarta lagi, kan masih ada jeda waktu toh dirimu naik kapal lagi," sambung Hajjah Narimah sambil membawakan teh panas manis lalu di letakkan di atas meja di hadapan Dahlan yang tampak suntuk.


"Terima kasih, Bu,"


"Minumlah supaya agak tenang perasaanmu, Dahlan," batin Haji Ali merasakan gejolak hati anaknya.


Beliau tahu jika Dahlan sangat menderita atas perpisahannya dengan Jumini, tapi beliau bangga karena ternyata Dahlan tak tergila gila pada kejelitaan Jumini. Walau sesungguhnya hati kecilnya pun tak menginginkan perpisahan antara Dahlan dan Jumini, tapi, perceraian itu memang harus dilaksanakan, menurutnya Jumini sudah melanggar perjanjian dalam pernikahan, yang paling parah adalah melanggar larangan untuk merubah apa yang telah diberikan Tuhan pada umatnya.


Untuk menyetujui dan mendukung perceraian Dahlan beliau juga tersiksa. Tapi setelah berunding dengan istrinya, jika tak menolak Jumini sama saja mereka mendukung manusia yang telah mengingkari pemberian Tuhannya.


Memang terasa pahit dan menderita, tapi menurutnya itu lebih Baik daripada harus berada di jajaran orang seperti Jumini yang telah melanggar aturan yang dilarang dalam agamanya.


Sedangkan Hajjah Narimah yang semula masih ingin menerima Jumini sebagai menantu itu, hanya bisa pasrah pada perundingan dan keputusan Dahlan dan Haji Ali suaminya untuk melakukan perpisahan. Dan sebenarnya walau merasa risih berdekatan dengan wajah Jumini yang baru, masih berharap Jumini bisa membuktikan diri untuk merubah kembali wajahnya menjadi Jumini lama. Walau untuk memenuhi keinginan itu teramat sulit


Hajjah Narimah mencoba untuk mengusir pikiran yang berkecamuk tentang Jumini dalam benaknya, termasuk harapan pada Jumini supaya bisa menjadi Jumini yang dulu lagi.


Walau enggan merangkul dan memberikan ciuman perpisahan di pipi mantan menantunya saat perempuan itu pamitan, tapi setidaknya sempat berpesan pada mantan istri anaknya supaya baik baik menjalani hidup, dan jangan salah jalan lagi.


*


Istirahat dengan menyerahkan tubuh lelahnya di tempat tidur. Mencoba untuk menghalau semua kejadian yang baru dialaminya.


Setelah memberi kabar pada orang tuanya,ponselnya dimatikan supaya tak ada yang ada menghubunginya.


*


Mendapat balasan dari Jumini bahwa perempuan yang tiga minggu ini menghiasi benak dan pikirannya, bukan main semangnya hati Sajak.


"Di Mini hari ini sudah di Jakarta lagi," gumam batinnya. Dadanya berdebar. Jantungnya berdetak lebih kencang lagi. Dan bibirnya menyungging senyum dengan pandangan mata menggambarkan sebuah harapan teramat Indah.

__ADS_1


"Semoga dua belum punya kekasih, atau kudoakan putus saha kalau memang punya suami,"


Sajak terkejut dengan harapannya. Dosa nggak, ya, ngedoai dia putus sama pacarnya?" Ternyata si Sajak masih ingat akan dosa.


Sebenarnya Sajak ingin memberi kabar pada Dahlan yang masih di kampung halamannya setelah perceraiannya, bahwa gadis impiannya sudah kembali ke Jakarta.


Tapi Sajak sadar bahwa berita bahagia untuk dirinya itu biar saja disimpan sendiri, karena Dahlan masih dalam suasana berduka.


"Mini semoga kamu jodohku, dan semoga pula jika aku belayar untuk mengumpulkan biaya kita menikah dirimu setia padaku," ujar Sajak berkomat kamit seperti seorang dukun tengah mengucap mantra untuk pasien yang datang padanya.


"Mini .." dan nama itu terbawa ke dalam mimpinya.


Sajak bertemu kembali dengan gadis pujaannya, lalu mereka menfucap janji setia sehidup semati.


"Aku mencintaimu, aku melamarmu aku tak bisa hidup tanpa dirimu, Mini sayang ..." ukar Sajak berlutut di hadapan Jumini yang menatapnya penuh rasa bahagia.


"Aku juga mencintaimu, hanya engkau pelindung diriku, nadi hidupku, Sajak ..." balas Jumini dengan sinar mata berbinar dan bibir tersenyum, sehingga wajah jelitanya semakin bersinar.


Sajak terkesima menatap perempuan pujaannya.


"Sungguhkah?"


"Sungguh,"


"Kau menerima lamaranku?"


"Menerimamu untuk menjadi pelindungku seumur hidupku keserahkan padamu," jawaban yang membuat Sajak bagai mendapat dukungan semua dewa cinta.


Maka segera diraihnya tangan Jumini dan dikecupnya dengan mesra, saking bahagianya dia mendekat Jumini dalam rangkulannya. Dan saat dia ingin membawa sang gadis mengitari taman bunga untuk menikmati udara segar, tiba tiba dia terkejut.

__ADS_1


Bruuuk ...


__ADS_2