Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab.27 Kecurigaan Seorang Ibu


__ADS_3

Dahlan termenung. Hatinya mulai cemas memikirkan sang istri yang sekarang entah dimana. Walau dia belum bisa menerima perubahan Jumini, dan menawarkan berpisah rumah, itu supaya dia bisa tenang dan berpikir lebih jernih, tanpa terganggu bayang bayang wajah Korea sang istri.


Tapi jika Jumini pergi dengan cara begitu, jelas itu bukan tujuannya. Jika kelak dia memang tak bisa menerima Jumini secara total, dan sudah tak bisa dipertahankan lagi, harus dilakukan secara musyawarah. Berpisah juga harus dibicarakan dengan baik baik, seandainya memang tak bisa dipertahankan.


"Jumi harusnya kamu nggak pergi begitu saja, Dik," keluh Dahlan dengan gemas. Jika istrinya pergi dengan kemauan sendiri, jelas sulit untuk dilacak.


Tiba tiba Dahlan teringat sesuatu. Dan seketika otaknya merasa ringan. Pasti Jumini pulang ke orang tuanya. Tak mungkin berada di Jakarta, karena sang istri tak punya teman di Jakarta ini.


Maka seketika dihubungi ayah mertuanya.


"Assalamu'alaikum Pak ..."


",Wa'alaikum salam Dahlan,bagaimana sehat, dan Jumi istrimu?"


Seketika dada Dahlan berdebar kencang. Pertanyaan ayah mertuanya tentang Jumini sudah memberitahukan bahwa perempuan itu tak ada di kampung halaman.


Lalu dimana?


Dahlan jadi bingung.


"Halo Dahlan .." suara Zainal mengejutkan Dahlan, "Nih Emak mau ngomong ..."


"Assalamu'alaikum Dahlan sehat ya bagaimana si Jumi?"


Aduh Dahlan semakin bingung mendengar suara ibu mertuanya.


"Iy ..yya Mak, bab ... baik ... sehat semua, Emak sama Bapak sehat ..." walau masih berusaha menutupi perasaan galaunya, tapi, rasa gugup tak bisa dihalaunya.


"Alhamdulillah Emak dan Bapak sehat, gimana si Jumi?"


"Sehat, Mak," segera Dahlan menyahut.


"Syukurlah, oh ya mana dia Emak ingin bicara ..."


"Aduh!" Dada Dahlan bagai dilempar batu. Sakit rasanya. Bagaimana ini?


"Dahlan...?"


"Ya, Mak si Dik Jumi lagi ke pasar, katanya pengin makan cumi goreng," spontan Dahlan ingat kalau istrinya itu suka dengan cumi goreng.


"Oh ya sudah nanti kalau istrimu pulang pasar dan sudah masak barulah telepon Emak, ya," ujar Narsia.


"Baik, Mak, " bernapas legah Dahlan setelah hubungan telepon terputus.


Huh untung tak langsung nanya dik Jumi, kalau nggak pasti bikin mereka kebingungan karena anaknya hilang.


Dahlan berjalan mondar mandir di ruang tamu ke ruang tengah. Bingung dan gemas memikirkan Jumini yang menghilang.


"Duh Dik Jumi kamu kok senekat ini, sih?!" Dahlan rupanya lupa jika sikapnya yang telah membuat Jumini merasa harus tahu diri sebagai perempuan yang sudah tak diharapkan lagi.


Dahlan kamu yang memulai menjauhi dan menolak istrimu. Sekarang istrimu pergi kamu yang bingung!


Sebuah suara mengingatkannya.

__ADS_1


"Ya aku memang yang telah menyakiti hatinya,"


*


Zainal mendekati istrinya yang baru saja memutus hubungan telepon dengan menantunya.


"Mak,"


Narsia menoleh pada suaminya yang duduk di sebelahnya.


"Sudah bicara dengan Jumi?"


Narsia menggeleng, "Katanya Jumi ke pasar mau beli cumi, dia ingin makan cumi goreng mungkin, kan kesukaannya sejak kecil," tapi sebenarnya di sudut hstinya dia seperti menyimpan sesuatu. Jawaban gelapan Dahlan sesaat ditanya tentang Jumini, telah membuatnya sangsi.


"Oh ya sudah nanti sore saja kalau mau ngobrol sama anakmu, biarkan dia masak dulu pulang dari pasar. Makan sama suaminya, istirahat sebentar baru kita hubungi dia,"


"Ya," angguk Narsia.


Perempuan itu sengaja menyimpan sendiri kecurigaannya terhadap Jumini. Tak ingin berbagi cerita pada suaminya.


"Ah muda 2han saja mereka baik baik saja, mungkin cuma kecemasanku saja, semoga saja begitu," batin Narsia berharap anak dan menantunya dalam keadaan harmonis, walau hati kecilnya tetap merasa tak enak.Ya Allah lindungi anak hamba Jumini, maafkan atas khilafnya karena telah merubah captain's, itu semua tak lain karena ingin membuat suaminya semakin cinta dan semakin sayang serta bangga. Ya Allah anak hamba telah menempuh jalan yang tak Engkau ridhoi .


Saat ada dua bulir air mata menuruni kedua pipinya, segera dia hapus dengan punggung tangannya. Jangan sampai suaminya melihat resah dan sedihnya. Walau sebenarnya Zainal tahu jika dirinya selalu saja sedih mengingat apa yang dilakukan putrinya.


Tapi perihal kecurigaannya pada suara Dahlan yang gugup saat dirinya minta bicara dengan Jumini, itu dirahasiakannya. Namun Narsia juga berharap dirimya yang salah menafsirkan suara menantunya.


"Ya Allah semoga mereka baik baik saja. Kembali rukun seperti dulu lagi." batinnya penuh harap dengan perasaan yang resah.


*


Dahlan mendelik menatap Sajak yang bersuara cukup keras, sehingga beberapa pengunjung warung kopi itu menoleh pada mereka.


"Hus lihat mereka pada nengok kita," suara Dahlan merendah.


""Maaf," ujar Sajak nyengir, "Aku terkejut, apa dia punya banyak teman di Jakarta ini?"


Dahlan menggeleng, "Dia kurasa belum menggalang pertemanan di Jakarta ini. Kan masih baru, entahlah, aku juga bingung ..."


"Tapi dia pegang duit, kan?"


"Pegang kurasa dari sisa biaya operasi yang diambilnya dari tabungannya, karena buku dan atm miliknya sudah kublokir,"


"Oh," angguk Sajak, "Kenapa tak Abang telepon ke kampung?"


"Sudah,'


"Apa katanya?"


"Aku yakin dia nggak pulang kampung, karena mereka juga nanya kabarnya Dik Jumi,"


"Oh begitu,"


"Aku jadi cemas jika kedua mertuaku marah karena anak mereka kabur entah kemana," raut muka Dahlan terlihat khawatir.

__ADS_1


"Ya juga, sih, lalu bagaimana tindakan.Abang nanti?"


"Aku harus cari dik Jumi dulu,"


"Semoga segera ketemu, Bang," harap Sajak.


"Ya, ini memang salahku yang tak bisa menerima Jumi. Aku selalu memghindarinya, entah aku merasa sedang berduaan dengan perempuan asing yang membuat bulu kudukku merinding bila memandangnya,"


Sajak mengangguk anggukkan kepala tanda mengerti akan permasalahan yang sedang dihadapi seniornya itu.


"Oh ya sudah ada kabar perusahaan mana yang akan menampungmu?" Dahlan beralih topik.Sekarang dia membicarakan pekerjaan yang akan dijalani Sajak.


"Kemungkinan perusahaan berbendera Singapore, tapi masih tunggu bulan depan, ya runggu crew yang akan pulang ke Indonesia,"


"Bagus gajinya?"


"Lumayanlah,"


"Oke, lanjut saja kalau begitu,"


"Enam bulan di laut, sebulan pulang,"


"Boleh juga, tuh nggak terlalu lama di kapal,"


"Kebetulan dapat yang begitu, kontrak dua tahun langsung,"


"Wah hebat kau.'


"Baru mikirin kawin,"


"Calon?"


"Cari saja nanti," santai suara Sajak.


"Nggak cari di kampung?"


"Waktunua mepet Bro," ujar Sajak tertawa.


"Kita berserah pada jodoh saja," ujar Dahlan tertawa kecil.


"Semoga Tuhan memberikan jodoh yang baik sayang pada orang tuaku, bukan sayang dompetku saja," tertawa Sajak.


"Wajah?"" Merinding Dahlan saat menyebut kata wajah, selintas ingat pada peristiwa yang terjadi pada istrinya, dan otomatis terbayang wajah cantik Jumini yang pantasmya memang bernama Jumini Jelita.


"Jujur saja kita nih lelaki bermata normal ..." tertawa lepas sajak, "Semoga Tuhan mengirim gadis yang berwajah teduh dan kalau boleh cantik ..m"


"Harus gafis?"


Sajak tertegun menatap Dahlan.


"Lupakan hanya bercanda," tertawa kecil Dahlan menepuk pundak Sajak, "Maaf,"


"Santai sajalah ..." sambut Sajak tertawa ramai.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2