
Karena pihak Dahlan tetap pada rencana semula ingin bercerai, dan pihak Jumini sebagai tergugat hanya pasrah menerima keputusan perceraian yang sudah disahkan.
"Kamu baik baik, ya, Dik Jumi," pesan Dahlan sebelum meninggalkan Jumini di ryang sidang pengadilan agama sesaat setelah Hakim Ketua mengetuk palu untuk mensahkan perceraian mereka.
"Ya, Bang Dahlan juga," setelah itu Jumini sungkem pada kedua orang tua Dahlan, begitu pun Dahlan sungkem pada kedua orang tua Jumini.
Jumini dan keluarga merasa lega karena pengunjung sidang yang biasanya berkerumun di depan kantor pengadilan agama sepi. Maka mereka bisa meninggalkan kantor pengadilan agama tanpa harus melewati pengawalan, karena banyak yang ingin menyalami Jumini.
Tapi begitu mereka sudah mendekat ke rumah, ternyata sebagian besar pengunjung sudah berada di depan halaman rumah perempuan yang baru beberapa saat menyandang gelar janda itu.
Jumini langsung panik.Maka segera meminta pada sopir grab supaya putar arah sebelum para penggemar dadakan itu melihat kedatangannya.
"Kita ke hotel saja, Pak," seru Jumini.
"Baik, Mbak," ujar sopir grab yang sebenarnya ingin menatap Jumini terus menerus.
"Ini cewek cantik amat, sih, kayak boneka," seru batinnya.
"Mereka itu kok jadi merepotkan kita, ya," ujar Zainal sesampainya di hotel dan mereka sudah berada di salah satu kamar hotel untuk keluarga yang memiliki dua tempat tidur dengan dua ukuran. Satu tempat tidur ukuran nomer satu, dan satu lagi ukuran single.
"Sampai nanti malam kita istirahat di sini dulu, Mak, sampai dengan malam nanti.
"Ya mereka itu nggak sadar sudah menyulitkan kita," keluh Zainal.
"Saya mohon maaf, Pak, jaren
"Ya kita harus sabar menerima perlakuan mereka, karena ulah saya Bapak dan Emak jadi terganggu,"
"Maubdikata apa lagi, Pak, mereka itu ingin menyalami Jumini," sambung Narsia yang harus bisa menerima keadaan putrinya yang jadi pusat perhatian orang kampungnya.
"Ya Jumi minta maaf ya, Pak, Mak karena telah menimbulkan masalah.' ujar Jumini lirih.
Narsia meraih tangan Jumini menatap anaknya, dalam hati kecilnya merasa canggung dan memang masih tak familiar dengan wajah jelita Jumini. Tapi Narsia menekankan bahkan dibalik wajah asing perempuan muda itu adalah jiwa dan raga Jumini, darah dagingnya, anak yang dilahirkannya dengan susah payah karena dulu lahirnya sungsang, alias sepasang kakinya yang lebih dulu keluar, setelah sampai batas leher, Jumini bayi tak mau segera keluar dari rahim ibunya, maka paniklah semua orang, termasuk bidan yang menolongnya. Dengan berbagai cara akhirnya Jumini bayi bisa keluar dari rahimnya dalam keadaan selamat.
__ADS_1
"Apakah itu pertanda alam jika kamu, Nak akan merubah bentuk mukamu setelah dewas" Seru Narsia dalam hati.
"Mak," panggil Jumini.
"Ya,"
"Jumi mau pesan makan, Mak mau pesan apa?"
"Yang penting ada nasinya, lauknya terserah saja,"
Jumini menoleh pada Zainal.
"Pak,"
"Ya pesan apa saja yang jamu sudah tahu makanan kita sehari hari," ujar Zainal sebelum Jumini bertanya.
Sama dengan Narsia. Zainal pun sebenarnya merasa masih risih bila harus berdekatan dengan Jumini. Wajah boneka putrinya telah membuatnya ada jarak. Kok mau akrab seperti sedang pendekatan dengan perempuan muda yang baru datang ke rumahnya.
Sejak kedatangan Jumini ke rumah mereka dan tinggal bersama selama menjalani masa sidang perceraian yang berjalan hampir tiga minggu ini, sebenarnya hatinya merasa masih canggung kalau harus berdekatan dengan anak kandungannya itu.
"Kayaknya sidang udah selesai kan, tapi kok mereka belum pulang, ya," seru seorang perempuan muda yang sejak mendengar perubahan Jumini seperti boneka dari korea jadi penasaran. Apalagi sempat melihat penampakan Jumini walau mengenakan masker dan kacamata, membuatnya ingin melihatnya dari dekat dan jelas serta menyalaminya .
"Ya apa masih menangis di pengadilan karena katanya yang kudengar si Jumini itu tidak mau dicerai, tapi suaminya risih sama wajah barunya,"
"Suaminya itu orang yang sederhana mungkin ya tidak mau punya istri cantik jelita karena takut digaet orang, kalau aku sih pasti kupeluk terus menerus," ujar seorang pemuda yang sangat ingin melihat Jumini dan mengenalnya.
"Memang sih sebenarnya tidak boleh itu merubah muka pemberian Allah," seru yang lainnya.
"Lalu bagaimana kalau sudah terlanjur begitu?" Seru yang lainnya.
Ada yang pro dan ada pula yang tak mendukung tentang perubahan Jumini berwajah jelita begitu. Dan percakapan tentang kecantikan Jumini pun terus berlanjut.
Pihak kelamaan kampung bukannya tak datang untuk sekedar memberi arahan pada mereka supaya jangan mengusik kenyananan Jumini dan irang tuanya.
__ADS_1
"Sudah kalian sebaiknya tinggalkan tempat ini, kasihan kan penghuninya sampai tak berani pulang,".
"Wah kami bukan mau menyakiti Jumini, Pak tapi kami ini justru ingin kenal secara langsung pada Jumini Jelita," ujar salah satu pengunjung bersikeras.
"Ya, Pak, yang penting kami tak membuat onar, toh?" Sambung yang lainya.
Mau tak mau pihak keamanan kampung mundur, tapi tetap mengawasi dari jauh, khawatir mereka melakukan hal hal yang tak dinginkan karena Jumini yang mereka ingin temui tak kunjung datang.
Sebenarnya pihak keamanan sudah tahu berada dimana Jumini dan orang tuanya saat ini, karena Zainal sudah memberitahu, dan minta bantuan pihak keamanan kampung untuk memonitor para pengagum anaknya itu, yang berada di depan rumahnya.
Pihak keamanan melaporkan keadaan di rumah itu pada pemiliknya, dan meminta Zainal sekeluarga untuk tenang, karena mereka tak tinggal diam, dan tetap mengawasi para pengunjung.
Detik merambat menjadi menit, akhirnya sudah memasuki hitungan jam membuat mereka yang menunggu Jumini Jelita itu panggilannya sekarang dari orang sekampungnya, mulai berkurang satu persatu, hingga saat magrib tiba mereka yang tersisa, baik perempuan mau pun pria betul betul sudah merasa tak bisa lagi bertahan lagi. Kini rumah Jumini sudah sepi dari para pengunjung yang tak diundang dan tak dikehendaki yang bersangkutan beserta kedua orang tuanya itu.
*
Sedangkan Dahlan yang mendapat laporan tentang keadaan rumah Jumini mantan istrinya itu, merasa prihatin. Walau Jumini bukan lagi istrinya, tapi dia pun meminta keamanan kampung untuk berjaga jaga di sekitar rumah mantan istrinya.
"Tolong dipantau Pak,"
"Ih pasti itu Bang Dahlan," ujar keamanan kampung dengan sigap.
"Terima kasih, Pak, kalau ada apa apa tolong hubungi saya, dan dan sekali lagi terima kasih," ujar Dahlan yang telah memesan makanan dan minuman secara online untuk diantarkan ke posisi para keamanan kampung yang kini berkumpul di sekitar rumah perempuan yang baru beberapa waktu lalu menjadi mantan istri itu
"Jadi Abang sudah lepas betulan dengan istri jelita Abang?" Sajak terkejut saat membaca pesan singkat dari Dahlan.
(Ya kami sudah cerai walau hati Abang masih cinta sama si Jumi, tapi bukan Jumi berwajah Korea, Jak)
Tulis Dahlan pada pesan selanjutnya yang dikirim pada Sajak.
(Aku turut prihatin, tapi juga tak bisa apa apa, yang penting Abang sehatlah) tulis Sajak.
(Ya sekarang giliran kisahmu dengan gadis incaranmu bagaimana)
__ADS_1
Pesan dari Dahlan terkirim. Ah sayangnya Dahlan tak tahu jika gadis jelita yang diincar Sajak adalah Jumini mantan istrinya.
Bersambung