
Jumini pulang ke rumah tanpa menunggu dijemput Dahlan. Tekatnya sudah bulat untuk memulai segalanya dari awal.
Dia yang berbuat dan dirinya pula yang bertanggung jawab.
"Hanya diri kita sendiri yang paling berhak untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Fokuskan pikiran pada kekuatan kita untuk menghadapi segala kemungkinan. Pasrah bujan berarti lemah. Menyerah bukan berarti tak berdaya. Bangkitlah dari keterpurukan Ibu, berjuang dengan semangat. Jangan terpaku kisah masa lalu yang membuat kita tak berarti. Berjuang membuat diri kita berarti itu penting." Terngiang ungkapan memberi penyemangat dari sang Psikilog yang mendampinginya selama terpuruk.
Saat Dahlan datang untuk menjemput disambut oleh suster yang ditugaskan menjaga Jumini.
"Maaf Pak Dahlan Ibu Jumi sudah keluar seham yang lalu," ujar suster ramah.
Dahlan memperhatikan kamar rawat istrinya yang kosong. "Jadi istri saya pulang lebih awal, Suster?"
"Ya Pak,"
Dahlan berjalan meninggalkan ruang rawat Jumini. Sepanjang kakinya melangkah di koridor hatinya terbagi dua. Separuh hatinya merasa ringan tak terbebani harus berhadapan dengan Jumini, tapi separuh hatinya merasa ibah istrinya pulang sendiri.
Dahlan tak langsung pulang ke rumah. Melainkan duduk termenung di lobby rumah sakit. Entah mengapa nasehat Psikolog untuk bisa mengalahkan egonya demi membangun rasa percaya diri Jumini tak bisa dilakukannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Dahlan menjadi buntu pikirannya. Jika mengingat ucapan Suciyati Psikolog supaya lebih bisa meredam emosi penolakannya terhadap Jumini, serta himbauan Sajak supaya dirinya bisa lebih toleransi lagi terhadap Jumini, jelas niat untuk pisah rumah dan meninggalkan Jumini tak bisa dilakukan sesegera mungkin.
Selagi Dahlan masih berkutet dengan kebimbangan hatinya, si Jumini sudah sampai di rumah mereka.
Tak perlu menunggu sajak untuk bisa masuk ke dalam rumah kontrakannya, karena keduanya masing masing memegang kunci duplikat.
Jumini membuka pintu dan langsung menbereskan pakaian miliknya.
"Yang akan menghargai diri dan badan kita apa pun benruknya ya pasti diri kita sendiriĺ. Jangan mengharap dari orang lain," terngiang ucapan Suciyati M. Psi.
"Ya aku memang harus bisa menghargai diri aku sendiri. Harus bisa merawat dan menerima apa pun tanggapan orang lain," gumam Jumini memastikan dirinya bisa hidup dari apa yang sudah terjadi.
Semua baju miliknya baik yang baru dibeli setelah operasi plastik mau pun baju lama yang dibawa dari kampung sudah masuk dalam satu koper.
Duduk dengan dada berdebar menunggu kedatangan Dahlan. Karena hari ini adalah hari dimana dia menerima putusan Dahlan untuk berpisah rumah. Jumini tahu dari berpisah rumah akan lebih meruncing pada perceraian, jika Dahlan tetap pada pendiriannya tak bisa menerimanya. Dan menganggapnya orang asing.
Karena hingga sore hari Dahlan tak kunjung pulang. Maka Jumini hanya meninggalkan sehelai kertas pamitan yang ditinggalkannya diatas meja di ruang tamu.
__ADS_1
(Abang Dahlan,
Maafkan Jumi terpaksa pergi meninggalkan rumah kita. Jumi tak mau meresahkan Abang lagi.
Jika umur panjang kita akan berjumpa lagi.
Jumini)
*
"Maafkan hamba ya Allah yang telah khilaf merubah anugerah wajah pemberianmu. Hamba berjanji untuk berjuang mengembalikan wajah ridhomu yang lama," air mata Jumini berlinang.
Di sebuah tempat kos sederhana kini Jumini bertempat tinggal. Masih ada sisa uang di dompetnya untuk bertagan hidup di Jakarta beberapa bulan. Sisa uang di buku tabungan sudah berada di tangan Dahlan saat dirinya dipolisikan.
Hanya ada sebuah kasur ukuran single. Satu lemari pakaian dan sebuah meja kecil di sudut ruangan.
Di sinilah hari hari sepi akan dijalaninya sambil mencari pekerjaan. Jumini tahu walau sudah hitungan setahun lebih di Jakarta, tapi dia tak tahu harus cari kerja dimana, karena selagi hidup harmonis dengan Dahlan dirinya tak pernah keluar rumah.
"Aku harus tenang jangan tergesa gesa. Jangan sampai ada orang luar yang tahu jika aku resah. Siapa pun tak boleh tahu masa laluku." Jumini bukannya tak ibgin mengenang masa dirinya berwajah Jumini lama. Tapi biar saja kisah pedih itu akan disimpannya sendiri. Biarlah orang tahu tentang dirinya yang sekarang ini,"
Biarlah dia dan Tuhannya yang tahu tentang dirinya. Tentang keinginannya untuk tampil cantik demi suami, tentang penolakan lelaki yang berpangkat suami yang begitu dicintainya.
Makanya Jumini sudah bertekat untuk tidak akrab dengan siapa pun di tempat barunya yang sederhana, tapi cukup bersih dan sejuk.
Beberapa penghuni lain yang kebetulan melihatnya memandang kagum pada kecantikannya.
"Cantik ala korea, Euy ..." seru Minati melirik Jumini yang tak menyadari jika kecantikannya menjadi sorotan.
"Wah di Mbak Bidadari rupanya ..." Roni pemuda 22 tahun terpesona pada Jumini.
"Kalau yang ini sih pasti mahal biayanya, mana cukup gaji aku sebagai kasir supermarket," Rusman nyengir.
"Tapi kalau dia mau sama aku pasti aku akan cari kerja yang bagus setelah lulus kuliah." timpal Roni senyum senyum.
"Kelamaan keburu disambar yang berduit!" Tertawa ngakak Rusman.
__ADS_1
Roni hanya nyengir. Ucapan Rusman walau hanya bercanda memang benar. Jaman sekarang tidak ada uang merana.
Jumini di kamarnya termenung.
"Apa langkah yang kuambil salah?!"
Terdiam mencari jawaban dari pertanyaannya.
"Kamu salah meninggalkan rumah tanpa pamit!" Tuding sebuah suara di dasar hatinya.
"Kamu tak menyusahkan suamimu yang tak menyukaimu lagi dengan hidup terpisah begini. Jadilah perempuan yang punya harga diri!" seru suara lain mendukung tindakannya.
"Betul Ibu Jumi sudah siap jika suatu hari betul betul berpisah dengan Pak Dahlan?" Teringat pertanyaan Suciyati yang berulangkali ditanyakan pada dirinya saat mengutarakan keputusan hatinya untuk menjauh dari Dahlan.
"Sudah saya putuskan," ada keluh dalam hatinya. Sesungguhnya kata hati dan perasaannnya sangat berbeda. Perasaan ingin tetap bersabar menunggu hati Dahlan bisa berdamai dan menerima dirinya dengan keadaannya.
Tapi hatinya ingin berusaha tegar dan menghadapi semua yang terjadi dengan resiko apa pun.
"Aku harus kuat," pikirnya yang tak ingin membuat Dahlan kebingungan mengambil keputusan.
"Karena sikap suami saya membuat diri saya ini begitu asing dan lagipula saya tak ingin dia jatuh sakit karena menanggung beban pikiran yang sulit dia putuskan antara menerima saya apa adanya, atau terang terangan menolak saya," walau sebenarnya sikap Dahlan telah menunjukkan penolakannya.
Jumini sudah memantapkan hati untuk berjuang sendiri dari nol di ibukota.
*
Dahlan terkejut saat membaca surat yang diringgalkan Jumini.
"Dik Jumi pergi?!" Lembar kertas yang ada di tangannya perlahan lepas.
Dahlan terduduk di kursi. Walau tak bisa menerima Jumini dalam penampilan barunya, tapi dia juga tak bisa membiarkan perempuan yang masih istri sahnya itu pergi entah kemana.
Terbayang murka Zainal saat mendengar Jumini pergi, serta tangis sedih Narsia emaknya Jumini, mertua yang sangat mengharapkan dirinya bisa menerima Jumini apa adanya.
bersambung
__ADS_1