
Mau tak mau Jumini dan kedua orang tuanya bertemu juga dengan kedua orang tua Dahlan.
pertemuan Jumini jelita untuk pertama kalinya dengan Haji Ali dan Hajjah Narimah sungguh sangat mendebarkan mereka bertiga.
Jumini menunduk saat dia bersimpuh di kaki Hajjah Narimah ibu mertuanya. Sungguh dia tak berani mengangkat wajahnya. Apalagi di sebelah ayah mertuanya duduk Dahlan dengan gelisah dan membisu.
Dahlan memandang Jumini dengan perasaan tak menentu. Rasa sayang pada perempuan itu, beriringan dengan rasa risih yang memenuhi dadanya.
Hajjah Narimah dan suaminya menatap Jumini dengan mulut terngangah dan mata membelalak, karena merasa menantunya itu seperti orang asing.
Sungguh mereka sangat merasa janggal untuk mengakui jika itu adalah menantunya.
"Jadi kau benar Jumini menantu kami?" Haji Ali merasa harus lebih meyakinkan dirinya mengingat ini pertemuan pertamanya.
"Ya maafkan saya Bapak," angguk Jumini gugup, "Maafkan saya Ibu," sudah tak bisa lagi menahan air matanya, maka menangis perempuan itu terisak
"Sungguh jelita dirimu, Jum, jika saja belum mendapat cerita tentang dirimu, mungkin kami tak percaya," ujar Hajjah Narimah.
"Kami sebagai orang tuanya mohon maaf karena tak bisa membuat putri kami taat dalam kepemilikan wajah aslinya, walau tak cantik," ujar Zainal merasa bersalah karena Jumini putrinya telah melangkah sangat jauh.
"Ya kami juga sangat kecewa, jika bukan darah daging sendiri mungkin saya dan bapaknya Jumi tak bisa mengakui anak sendiri," sambung Narsia.
"Ya sekarang saya dan istri pasrah dengan tindakan Bapak dan Ibu Hajjah terhadap anak saya," pada akhirnya Zainal menyerahkan sepenuhnya kelanjutan rumah tangga putrinya pada pihak menantu dan besannya. Karena untuk mempertahankan rumah tangga putrinya, jelas mereka tak bisa membela diri. Bukti sudah jelas kesalahan di pihak Jumini.
"Ya saya sangat menentang operasi wajah, merubah pemberian Allah secara total macam Jumi, sungguh sangat disayangkan," tegas suara Haji Ali walau bernada serak dan hati sedih. Bagaimana pun tak ada niatan untuk memisahkan anak dan menantunya, namun jika sudah seperti ini kenyataannya, sungguh hati nya tak bisa menerima perubahan menantunya.
"Jumi," panggil Hajjah Narimah menatap Jumini yang masih bersimpuh.
"Ya Ibu," sahut Jumini lirih.
"pandang Ibu," pinta Hajjah Narimah.
__ADS_1
Jumini menurut. Dia mengangkat wajah jelitanya. Bukan hanya Hajjah Narimah, tapi semua yang ada di ruang tamu itu menatap pada Jumini.
"Dik kenapa jadi begini?!" Keluh hati Dahlan yang tak bisa lagi hidup berdampingan dengan wajah baru istrinya itu.
Hajjah Narimah tak sanggup untuk menahan air matanya."Bangun duduklah di samping Emakmu," serunya lirih.
Jumini menurut.
Kini dia duduk di samping Narsia yang merasa tak memiliki kekuatan apa pun untuk mempertahankan Dahlan sebagai menantunya.
Hajjah Narimah menatap Jumini lekat, lalu menggeleng dengan sedih dan hati pilu. Betapa dia harus relah dan mengijinkan Dahlan meninggalkan menantu yang secara batin disayanginya, namun secara fisik tak bisa diterimanya, karena dia sama saja tak mensyukuri pemberian Yang Maha Kuasa, menurutnya begitu
"Ibu menyayangimu sepenuh jiwa, tapi tidak dengan wajah asing yang Ibu tidak kenal ini."Saya mohin maaf, Bu," lirih suara Jumini
"Ibu bukan Tuhan juga Bapak dan suamimu Dahlan, tak berani untuk tidak memaafkan kesalahanmu, karena Tuhan saja akan memaafkan salah manusia jika manusia itu bertaubat dan tidak mengulangi kesalahannya lagi," ujar Hajjah Narimah.
"Ya, memaafkan bukan berarti menerima, kami tetap ridak bisa menerima perubahan wajahmu secara brutal begini, ya kamu memang jelita, tapi itu bukan untuk kami," sambung Haji Ali, lalu menoleh pada Dahlan.
Jumini menatap Dahlan sekilas, aku mengumpulkan uang, Bang untuk kembali jadi Jumini yang asli supaya bisa merebut hatimu lagi," tapi itu hanya diucapkan dalam hati oleh Jumini. Dia tak berani untuk mengeluarkan sepata kata di ruang pertemuan ini, walau sesungguhnya niatnya itu baik, telah membuang wajah jelitanya demi meraih cinta sang suami.
"Maafkan Abang, Dik," ujar Dahlan.
"Ya maafkan saya dan istri Pak Zainal tak bisa menerima putri kalian yang jelita begini," seru Haji Ali pada Zainal.
"Saya mau bilang apa lagi jika sudah demikian?" Zainal menunduk.
"Baiklah saya dan istri serta Dahlan sudah berunding untuk pulang ke kampung halaman guna mengurus perceraian Dahlan dan Jumini, mumpung Dahlan belum belayar, " ujar Haji Ali langsung berterus terang.
"Ya maafkan kami, Pak, Bu, maafkan Ibu Jumi," perempuan yang merasa dikecewakan Jumini itu menatap sekilas pada menantunya.
Jumini menunduk dengan dada terluka.
__ADS_1
"Saya sangat memohon maaf terhadap Bapak dan Ibu karena tidak bisa meneruskan pernikahan dengan Dik Jumi dalam situasi seperti begini," pelan suara Dahlan mamandang pada mertuanya, tanpa mau menatap Jumini.Bukan membenci istrinya, justru dia merasa tak sampai hati jika menatap sepasang mata Jumini yang asli milik istrinya seperti sebelum operasi wajah.
"Ya Nak Dahlan Bapak dan Ibu pasrah saja dengan keputusanmu dan keluarga, karena Jumini memang sangat bersalah pada persoalan ini," ujar Zainal lirih.
Maka pertemuan pun berakhir, Jumini membawa pergi kedua orang tuanya untuk menginap di sebuah hotel.
Sepanjang malam Jumini tak bisa tidur. Pikirannya hanya pada proses perceraian yang sedang dipersiapkan suami yang didampingi kedua orang tuanya
"Sudah begini pikirkan kesehatanmu, Jum," bagaimana pun Narsia tak ingin putrinya akan jatuh sakit.
"Ya, Mak," angguk Jumini yang tidur berdampingan dengan emaknya, sedangkan bapaknya tidur di tempat tidur lainnya dalam satu kamar.
Jumini memilih kamar untuk keluarga, sehingga mendapat satu tempat tidur untuk bisa menampung dua orang lebih, dan satunya lagi tempat tidur ukuran single.
Baik Jumini mau pun Zainal dan Narsia sebenarnya tak bisa tidur. Mereka sama sama dalam gelisah jelang pulang ke kampung esok hari untuk persiapan perceraian di Pengadilan Agama di kampung halaman mereka, mengingat pernikahan Jumini dengan Dahlan dilaksanakan di kampung halaman. Otomatis perceraian pun akan didaftarkan di pengadilan agama setempat.
"Mak rasanya kok saya khawatir jadi tontonan orang dengan perubahan wajah saya," bisik Jumini di samping ibunya. Dia tahu ibunya juga tak bisa tidur karena gelisah dan sedih.
"Emak yang akan mengusir mereka jika nanti kamu diolok olok di kampung," bagaimana pun Narsia harus melindungi jiwa anaknya.
Walau anaknya bersalah, tapi tak harus jadi tontonan orang banyak. Mereka tak boleh membuat jiwa putrinya tertekan, karena sesungguhnya Jumini sudah menerima tekanan mental dari suami dan mertuanya.
Sesalah salahnya Jumini sebagai orang tua, terlebih seorang ibu yang mengandung dan melahirkan Jumini, dirinya harus melindungi putrinya apa pun yang terjadi nanti di kampung halamannya.
"Mak," panggil Jumini lemah.
"Kuatkan dirimu. Jadilah Jumini yang kuat dan bertanggung jawab,"
Tiba tiba Jumini teringat pesan motivator yang diikutinya di media
"Jika kita merasa bersalah, tak harus menghukum diri kita dengan hal yang akan menjurus pada lemahnya mental kita. Bangkit dan bersemangat dengsn tujuan untuk memperbaiki diri jauh lebih baik lagi,"
__ADS_1
Dan Jumini memang harus menyusun hati dan perasaan supaya kembali kuat seperti saat pertama kali mendengar motivasi sang motivator.