Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab. 24 Perasaan Dan Hati Bertolak Belakang


__ADS_3

Jumini terpaksa dirawat di rumah sakit karena kondisinya terlalu lemah. Menurut Psikolog yang pernah menanganinya beberapa waktu lalu, perempuan itu perasaannya gampang terpukul dan condong frustasi.


Dahlan sangat merasa bersalah terhadap apa yang dialami Jumini beberapa hari setelah mereka kembali satu rumah.


Jumini merasa tersiksa dengan sikap dirinya sebagai suami yang berusaha untuk menjauh.


"Kita betul betul harus menjaga perasaannya," ujar si Psikolog pada Dahlan.


"Maafkan saya Bu, saya sudah berusaha bisa menerima perubahan yangvterjadi pada istri saya, tapi ..." Dahlan terpekur, "Saya bagai berdua dengan perempuan lain. Saya bagai satu tempat tidur dengan perempuan asing yang tak saya kenal. Jiwa saya berontak. "


"Ya saya mengerti sikap Anda, tapi itu semakin memperburuk keadaan batin Ibu Jumi. Beliau ini merasa sangat bersalah, dikhawatirkan akan meningkat pada rasa tak ada arti lagi dirinya di hadapan suami ..."


Dahlan menghela napas panjang. Mendengar ucapan Psikolog yang sudah berpuluh kali menjadi nara sumber dalam problem depressi masyarakat modern masa kini.


"Bermula untuk menyenangkan hati suami. Bisa dimaklumi jika seorang istri itu begitu memuja suaminya. Apa pun akan diperbuat oleh seorang istri asalkan bisa membuat suaminya bahagia? memuji dan berdampak pada semakin meningkatkan keharmonisan rumah tangga. " Tersenyum perempuan yang sudah berulangkali menghadapi kasus suami atau istri yang depressi karena saling mempertahankan ego.


Berarti aku harus bisa mengimbangi perasaan istriku. Lalu bagaimana dengan perasaanku sendiri? Dahlan protes tapi hanya di dalam hatinya saja.


"Intinya Ibu Jumi sangat membutuhkan dukungan orang terdekatnya untuk mengatasi rasa bersalahnya." Suciyati M.Psi mengerti jika dalam hal ini Dahlan dituntut untuk lebih mengerti, tapi dia tak tahu jika lelaki di depannya itu tak bisa hidup dengan Jumini yang telah bersalin rupa.


Dahlan sendiri merasa berat hati untuk berterus terang dengan perasaannya saat ini. Makanya dia menjadi serba salah saat diminta untuk mendukung perasaan Jumini istri yang tak bisa membuatnya nyaman.


Dahlan tak menyangkal Jumini memang sangat membutuhkan dirinya. Sangat ingin diakui perubahan serta keberadaannya yang sekarang.

__ADS_1


"Mari kita bekerja sama hingga Ibu Jumi bisa keluar dari rasa penyesalan dan bisa berdamai dengan dampak dari perubahan yang terjadi pada beliau." himbau Suciyati M.Psi


Apa yang diharapkan oleh Suciyati M.Psi untuk bisa bekerjasama menghilangkan rasa bersalah di hati sang istri, membuat Dahlan merasa tertekan. Bagaimana mungkin dirinya bisa berpura pura mengimbangi atau menghibur istrinya yang dipenuhi rasa bersalah itu, jika di pada jiwanya sendiri sebuah siksa jika berdekatan dengan Jumini.


Sajak mendengar keluh kesah Dahlan saat mereka bertemu di sebuah warung kopi modern.


Sajak mengerti bagaimana siksanya hati dan jjwa Dahlan tiba tiba harus hidup dengan ujud baru istrinya. Namun begitu dia mencoba untuk memberi kekuatan pada Dahlan.


"Bro hidup ini memang kadang aneh."


Dahlan menatap Sajak setelah sesaat menyesap kopi di cangkirnya


"Dan kemajuan tehknologi telah memacu kaum perempuan untuk berlomba tampil cantik. Ya walau nggak semua berkeinginan begitu. Tentu tujuannya beragam. Ingin lebih percaya diri, dan istrimu sebenarnya punya niat mulia. Perubahan dirinya untuk membuatmu bangga memiliki istri cantik. Sayangnya dia bertindak tanpa kompromi terlebih dulu denganmu, Bang. Yaitu tadi katanya untuk kejutan ..." Rupanya Sajak pun berusaha untuk membuka hati dan pikiran serta perasaan Dahlan supaya lebih peka dan toleransi.


"Aku tahu itu. Tapi jika kejutan yang diberikannya padaku dalam hal lain, tak seberat ini mungkin aku sangat toleransi. Tapi yang Jumi lakukan adalah yang begitu fatal. Jumi merubah bukan saja penampilan dia berpakaian. Tapi merubah wajahnya hingga aku merasa berdampingan dengan perempuan lain. Aku seperti mau tidur dengan perempuan bukan istriku. Bayangkan itu!" Tekanan suara Dahlan serta raut mukanya menunjukkan betapa suasana hatinya begitu tersiksa.


"Aku paham, Bang, dirimu ini gerah dan sudah tak bisa lagi bertahan dengan wajah asing istrimu. Tapi jika Abang tinggalkan dia dakam keadaan diri istri Bang Dahlan yang sedang dalam keadaan begini, apa tak makin hancur dia, Bang?"


Dahlan menunduk tatapan Sajak seakan menuduh dirinya tak mau tahu lagi tentang Jumini. Padahal dirinya hanya tak bisa berdampingan dengan istrinya karena perubahan total wajah Jumini. Tentang yang lainnya tetap tak berubah. Bahkan sekuruh keperluan istrinya itu tetap menjadi tanggung jawabnya sebagai suami.


"Jak, aku ini bisa stress kalau dipaksa berhadapan dengan Jumi yang sekarang, lalu harus bagaimana lagi untuk menolong diriku?"


"Bang ingat dulu kalian saling cinta. Dua hati satu rasa saling memiliki dan ketergantungan. Mbak Jumi ikut denganmu ke Jakarta ini demi cintanya padamu. Sekarang dia bersalah dan kesalahan itu Abang anggap sangat fatal karena merubah wajah, tapi bukan berkhianat main api dengan lelaki lain, Bang, bagaimana itu?"

__ADS_1


Dahlan menatap lekat Sajak.


"Aku bukan membela. Di sini aku tak memiliki kapasitas untuk membela istrimu. Apalagi diantara kami tak saling kenal. Aku berbicara atas dasar pertolongan untuk orang yang sudah menyerahkan jiwa dan raganya untuk kita ... ya walau aku sendiri juga belum merasakan rumah tangga, pacaran sudah tapi hati tak bisa meneruskan." Nyengir sajak, "Maaf Bro bukan menggurui senior, hanya sekedar kasih pandangan saja, tapi semua keputusan kan terserah Anda," lalu mengangkat cangkir berisi kopi hitam, menyeruput dengan sekali tarikan napas setengah dari sisa kopi sudah pindah ke lambungnya.


Dahlan kini berpikir keras. Antara hati dan perasaan sudah saling bertabrakan tentang Jumini. Perasaannya ibah dan tak sampai hati untuk bertindak tak menghiraukan istrinya. Hatinya mengatakan kecewa pada Jumini. Pikirannya sudah bulat untuk hidup pisah rumah. Tapi dengan himbauan Suciyati M. Psi dan kini ditambah lagi Sajak yang memintanya untuk bisa toleransi pada keadaan Jumini, membuat pikirannya kacau.


*


Jumini duduk terpekur di tepi tempat tidur di kamar rawatnya. Ini sudah tengah malam. Dia mengelilingi ruangan dengan ekor matanya tapi tak menemukan bayangan Dahlan sang suami. Yang ada hanya sosok suster jaga yang duduk di sudut ruangan dengan posisi sebelah tangan di atas meja menyangga kepalanya yang tertunduk.


Beberapa saat menunggu suaminya muncul. Dia berharap lelaki itu hanya keluar menghirup udara segar. Tapi sampai dua puluh menit yang ditunggu tak juga datang.


Paras cantiknya diwarnai kecewa yang dalam. Dan sesuatu seakan menerjang dadanya menimbulkan sakit tak terkira.


"Bang Dahlan betul betul tak perduli lagi padaku ..." gumam batinnya sedih.


Hati Jumini bergemuruh oleh rasa yang menyesakkan dadanya. Sehingga tiba tiba saja tangisnya hampir pecah. Tapi sekuat tenaga dia menahan supaya tak terdengar isak tangis keluar dari bibirnya.


Air matanya berderai bak anak sungai mengalir di kedua pipinya yang licin. Dadanya semakin terasa sesak seakan mau meledak. Hal itu membuat tangis yang ditahan terlepas mengeluarkan suara.


Suster yang dirugaskan menjaga Jumini tersentak dari kantuk yang tanpa bisa ditagan baru saja dia lelapkan. Berdiri dan langsung mendekat pada Jumini.


"Ibu apa yang dirasakan, ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


Suara suster lembut menyapa membuat Jumini mengangkat muka. Dari balik derai air matanya dia melihat senyum suster yang siaga .


__ADS_2