
Sajak tersenyum tak puas puasnya menatap kecantikan Jumini yang tampak gugup tak bisa menyembunyikan dari pandangannya.
"Begini,"
"Ya," dasar Jumini yang memang termasuk gadis penurut serta sederhana dalam pemikiran masih menunggu keputusan Sajak.
Nih cewek ternyata baik juga masih nunggu, wah cantik dan ramah serta kayaknya, sih, nggak sombong juga, kok paket komplit, ya, tapi udah punya cowok, nggak, ya?
Duh nih cowok bukannya cepat minta ganti apa gitu karena udah aku tabrak, batin Jumini tak berusaha untuk menilai ketampanan Sajak yang memang cukup tampan dengan kulitnya yang tak terlalu gelap, tapi masih termasuk sawo matanh. Tubuh tinggi atletis khas lelaki pelaut yang masih mudah gagah.
"Begini, Anda harus mentraktir aku minum kopi sekarang," ujar Sajak.
"Oh hanya minum kopi, kirain mau mnta apa," batin Jumini.
"Bagaimana?" Sajak mengerling Jumini.
Jumini menghindari pandangan menggoda Sajak dengan pura pura memperbaiki susunan belanjaannya di keranjang yang dipegangnya.
"Aku bayar belanjaan dulu," angguk Jumini tak berani menolak jenis kompensasi yang diajukan lelaki yang tanpa sengaja ditabraknya beberapa menit lalu.
Nih cewek lugu amat, sih, kok mau maunya menerima dendayang kuminta, kan, dia bisa cuek ajah berlalu, batin Sajak, ah. cewek santun, mah memang langkah di Jakarta ini, yang taat pada peraturan untuk memberi ganti rugi pada orang yang telah ditabraknya.Diam diam Sajak merasa salut dan terharu pada Jumini.
"Kalau masih mau belanja biar kutemani nggak apa," rupanya Sajak bermurah hati menawarkan tenaganya untuk menemani Jumini meneruskan belanjaannya.
Tentu saja dengan senang hati akan menemani Jumini belanja. Jarang jarang ada cowok yang mau menolak mendampingi gadis secantik Jumini. Sajak termasuk golongan cowok yang itu.
"Aku sudah selesai," segera Jumini menuju ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran dati belanjaannya.
Sebenarnya Sajak ingin membayarkan jumlah barang yang dipilih Jumini. Tapi hal itu tak dia lakukan, khawatir Jumini menilai dia cari muka dan cari kesempatan, sedangkan permintaannya untuk mentraktirnya minum kopi syukur dituruti.
Setelah selesai dengan urusan kasir, segera Sajak mengambil plastik belanjaan milik Jumini dari tangan pelayan yang mengangsurkannya pada Jumini.
"Biar aku saja," tangan Jumini terulur pada plastik belanjaan yang dipegang Sajak.
"Nggak apa kita berbagi pekerjaan," tersenyum lebar Sajak.
Lagi lagi Jumini pura pura menoleh ke lain tempat untuk menghindari senyum Sajak.
"Wah nih cewek sering menghindari senyum dan pandangan penuh menggoda dariku. Sudah punya pacar jangan jangan. Ah, ngaduh nyali ajah, siapa tahu belum ada yang punya, atau minimal baru putus dari pacarnya.
"Minum kopinya dimana?" Jumini membuyarkan lamunan Sajak.
__ADS_1
"Oh iyy ..ya ... di mal sini ajah, nggak ysah jauh jauh," agak gugup juga Sajak saat menerima tatap dari Jumini.
Hanya memerlukan waktu sekitar tujuh menit untuk menuju ke kedai kopi.
Kini mereka sudah berhadapan menunggu pesanan dua cangkir kopi.Jika Sajak memesan kopi tanpa campuran, alias kopi asli. Jumini memesan kopi susu.
"Terima kasih, ya, sudah mau menemaniku minum kopi," ujar Sajak yang membuat kening Jumini mengertnyit.
"Aku menuruti permintaan orang yang telah kutabrak," ujar Jumini jujur dan segera menyesap kopi susu bagiannya.
"Cewek ini berwajah kota, bahkan cantiknya mirip gadis Korea, tapi masih memiliki jiwa murni dan jujur serta santun," batin Sajak tak habis habisnya memuji kepolosan Jumini yang kecantikannya telah menggoda hatinya itu.
"Terima kasih karena Anda adalah gadis jujur dan bertanggung jawab yang sulit ditemui saat ini," apa yang dikatakan Sajak memang apa adanya sesuai dengan penilaiannya tentang Jumini yang memiliki sikap santun dan pemikiran polos.
"Aku hanya mencoba untuk bertanggung jawab pada apa yang telah aku lakukan pada Anda,"
"Maaf aku hanya bercanda minta kompensasi, sebenarnya, sih, ingin ngopi ditemani gadis secantik Anda," Sajak akhirnya berterus terang.
Jumini tak terpengaruh ucapan Sajak yang bernada merayu menurutnya.
"Barangkali mau kupesankan kue untuk teman ngopi?" Sajak menatap Jumini.
"Terima kasih, nggak usah," geleng Jumini.
Mereka larut dengan isi cangkir masing masing. Kebetulan Jumini sebelum ke mal memang ingin minum kopi, tapi tak ada kopi, sedangkan air panas tersedia di dispenser di ruang tengah untuk seluruh penghuni kos yang belum dikenal semuanya, selain keempat anak muda yang telah mendatanginya kemarin saat baru beberapa jam menjadi penghuni baru.
Tiba tiba ponsel Sajak berbunyi. Dahlan yang menghubunginya.
"Halo assalamu'alaikum, Bang .."
"Wa'alaikum salam ..." balas Dahlan dari lobby mal, " Lagi dimana aku ngubungi kamu nih untung untungan ajah, siapa tahu rejeki aku, kamu ada di sekitar sini,"
Sajak tertawa, "Kita memang rejeki Bang aku memang ada di mal,"
"Wah yuk ketemuan aku semakin suntuk, nih," suara Dahlan terdengar riang.
"Yuk boleh," lalu Sajak mengirim lokasinya saat ini yang sedang bersama Jumini, "Oke, Bang aku tunggu,"
"Oke Sajak aku langsung ke lokasimu, " hubungan telepon terputus.
Jumini berdiri, "Aku pamit dulu, ya,"
__ADS_1
Sajak ikut berdiri, "Begitu?"
Jumini mengangguk, saat dia menuju kasir, segera Sajak mendului, "Ini urusanku,"
Jumini menatap sajak, "Tapi aku yang nabrak Anda, harusnya aku yang traktir,"
Sajak tersenyum, "Nih cewek polos apa baik amat, sih?"Batinnya.
Jumini akhirnya mengalah membiarkan Sajak membayar harga dua cangkir kopi mereka
"Lain kali boleh deh mentraktir aku," ujar Sajak.
Jumini tersenyum. Memangnya mau ketemuan lagi? Tapi hanya diucapkan dalam hati saja.
"Kalau begitu aku permisi pamit pulang, terima kasih traktir kopinya,"
Sajak menatap Jumini, "Oh ya kita belum kenalan," dia mengulurkan tangannya.
Jumini agak ragu menerima uluran tangan Sajak.
Tapi akhirnya dia membiarkan tangan Sajak meraih tangannya dan mereka saling berhabar tangan.
"Sajak,"
Jumini terdiam sesaat, "Mini," ujarnya sedetik kemudian, sama dengan pengakuan nama untuk Roni cs di tempat kosnya, sengaja memenggal namanya hanya dengan menyebut Mini saja.
"Mini," ulang Sajak tersenyum dengan bola mata tak lepas dari wajah jelita Jumini, membuat yang punya nama langsung menunduk merasa jengah ditatap selekat itu.
"Ya sudah aku pamit," segera Jymini menarik tangannya dari genggaman Sajak.
"Oh ya kurasa pertemuan kita yang tak sengaja ini bukan tanpa kemauan Allah, semua yang terjadi di dunia ini atas restuNya,"
Jumini belum paham arti dari ucapan Sajak. Dia menatap bagai patung pada lelaki di depannya.
"Boleh minta nomor ponselnya?" Sajak berterus terang
Jumini masih ragu.
Sedangkan Dahlan sudah berada di deretan cafe, hanya berjarak sekitsr dya puluh meter dari tempat dimana Jumini sedang menimbang nimbang apakah memberikan nomor ponselnya pada lelakimuda yang tak sengaja dikenalnya ini.
"Memperpanjang silaturahmi itu untuk menyambung tali persaudaraan," rupanya Sajak tak ingin membuang kesempatan, dia memberikan umpan kata kata yang sekiranya bisa mempengaruhi Jumini. Di dalam pikirannya perempuan yang baru dikenalnya ini adalah suatu anugerah untuk dirinya. Maka jangan disia siakan.
__ADS_1
Bersambung l